Kemana Dana-dana Palestina Mengalir?
Sabtu, 17 November 2007
var sburl5914 = window.location.href; var sbtitle5914 =
document.title;var sbtitle5914=encodeURIComponent("Kemana Dana-dana Palestina
Mengalir?"); var
sburl5914=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5789");
sburl5914=sburl5914.replace(/amp;/g,
"");sburl5914=encodeURIComponent(sburl5914); Laporan Langsung dari arena
Konferensi Internasional Al-Quds di Istanbul, 15-17 Nopember 2007
Dzikrullah W Pramudya and Santi Soekanto
Istanbul
Hidayatullah.com--Mufti besar Al-Quds Syeikh Mohammed Hussein, kemarin di
Konferensi Internasional Al-Quds yang sedang berlangsung di kota Istanbul
menyampaikan keluhan, ''dana dikumpulkan untuk Al-Quds dan Palestina di
mana-mana, tapi kami tak tahu apa-apa. Kami tidak menerima uang itu. ''
Hidayatullah.commengumpulkan komentar dari beberapa peserta pameran di arena
konferensi. Ada 103 organisasi wakaf untuk Palestina dari seluruh dunia yang
mengikuti pameran tersebut. Ada yang mengkhususkan untuk membantu pendidikan,
kesehatan, ekonomi dan lain-lain.
Ketika ditanya komentarnya tentang pernyataan Mufti Al-Quds, Sameer B.
Alkhateeb, direktur Perhimpunan Insinyur Yordania yang menjadi peserta pameran
di arena konferensi itu tersenyum dan menjawab, ''Tentu saja beliau tidak
melihat uang kami, karena kami bekerja dengan para insinyur Palestina.
Bagaimana kami menyalurkan dana-dana itu? Rahasia.''
Perhimpunan Insinyur Yordania telah sejak tahun 1958 menggencarkan usaha
bantuan untuk merehabilitasi dan melestarikan ratusan bangunan di Al-Quds dan
Palestina.
Menurut Sameer, sejak berdiri organisasinya telah menyalurkan bantuan
bernilai jutaan dollar AS dalam bentuk pembangunan rumah, sekolah, rumah sakit
dan lain-lain yang dihancurkan Zionis Israel.
Stand pameran organisasi Sameer sangat menarik perhatian karena pengunjung
karena menyajikan miniatur komplek Al-Quds yang sangat detil, termasuk
rumah-rumah tua di sekitar Masjidil Aqsa. Sameer mengaku sudah tiga kali
berhasil memasuki Masjidil Aqsa namun sekarang ia tak pernah mendapatkan izin
dari Zionis Israel.
Sebagai seorang insinyur sipil, ia menjelaskan secara detil mengenai
bagaimana Zionis Israel membangun berbagai terowongan persis di bawah Masjidil
Aqsa. Sementara itu mereka menyebarluaskan kepada dunia bahwa Qubatusy Syaqr,
bangunan mirip masjid dengan kubah berwarna emas, itu seakan-akan adalah
Masjidil Aqsa.
''Dengan begitu, jika suatu saat nanti Masjidil Aqsa roboh karena pondasinya
sudah bertahun-tahun digerogoti oleh Israel, umat Islam tidak akan marah karena
mereka mengira Masjidil Aqsa adalah yang berkumah emas, padahal bukan,''
jelasnya.
Komentar lain datang dari Hassan Othman, petugas humas di stand FIDDER,
Perhimpunan Solidaritas Turki Palestina. Menurutnya, ''Mufti Al-Quds
berafiliasi dengan pemerintahan Mahmoud Abbas, sedangkan organisasi kami tidak
mau menyalurkan bantuan dana kepada pemerintah, dari faksi manapun mereka
berasal. '' Ia melanjutkan, ''Dulu kami selalu menyalurkan dana kepada
pemerintah langsung kepada Yasser Arafat, sekarang kami langsung menyalurkannya
kepada organisasi-organisasi rakyat Palestina di lapangan.''
Petugas FIDDER yang lain, Hasan Bereket, asal Palestina menjelaskan bahwa
LSM-LSM dari dalam Palestina biasanya mengajukan berbagai proposal untuk proyek
kemanusiaan dan pendidikan, lalu organisasinya mengumpulkan dana dari
masyarakat Turki. Sejak berdirinya tahun lalu, FIDDER telah menyalurkan dana
sekitar 7,5 miliar rupiah.
Komentar dari Indonesia berasal dari Ferry Nur, Sekjen KISPA, Komite
Indonesia untuk Solidaritas Palestina yang dibentuk oleh Majelis Ulama. ''KISPA
menyalurkan dana lewat dua cara, pertama lewat Al-Quds Institute yang bermarkas
di Beirut dan diantaranya tokohnya adalah Syeikh Yusuf Qaradhawi. Cara kedua
adalah dengan langsung memberikannya kepada tamu-tamu Palestina yang berkunjung
ke Indonesia, '' jelas Ferry.
Diantara tamu yang baru-baru ini dititipi dana rakyat Indonesia untuk
Palestina adalah Dr Nawwaf Takruri, Ketua Perhimpunan Ulama Palestina yang
datang ke Indonesia atas undangan Gema Insani Press, dalam rangka peluncuran
bukunya Dahsyatnya Jihad Harta di Masjid Agung Al-Azhar beberapa pekan silam.
Meskipun tak punya stand di arena pameran, Ferry dengan penuh semangat
'bergerilya' membagikan kalender KISPA kepada para peserta konferensi yang
hadir dari 70 negara. Untuk dapat memasuki arena pameran di gedung Feshane di
kawasan Eyup itu, setiap orang harus mendaftarkan namanya di beberapa loket
yang disediakan di depan pintu masuk.
Sesudah menyerahkan nama, alamat, dan identitasnya panitia akan memberikan
sebuah tanda pengenal lengkap dengan barcode seperti harga barang di
supermarket. Jika barcode yang Anda kenakan terdaftar pintu masuk pameran akan
otomatis terbuka. [www.hidayatullah.com]
---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]