--- In [EMAIL PROTECTED], "suhana032003" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
hehehehe..betulllll..Hak Toko Gramedia untuk menolak buku yg mengcounter pemikiran nasr hamid untuk berada di tokonya. dan hak umat islam untuk menolak nasr hamid menginjak wilayah negaranya. Gus Dur tuch aneh..kalau ngomong juga asal ngejeplak, membicarakan mengenai hak berekspresinya Nasr Hamid untuk berbicara, tapi melupakan hak Presiden dan MUI yg nda mau mendengar pembicaraan Nasr Hamid?? Hak Nasr Hamid untuk naik pesawat menuju Indonesia, dan Hak Presiden juga untuk menolak kedatangan Nasr Hamid di wilayah kekuasaannya dong?? Hak Nasr Hamid untuk membuat kekerasan intelektual, tapi Hak Presiden dan MUI juga untuk menghalangi dan meredam keresahan umat dan rakyatnya dong?? kalau tidak mau diganggu hak berekspresinya, tolong lakukan ditempat2 yg orang juga punya hak untuk tidak mau melihat ekspresinya dan terganggu dengan ekspresinya itu dong?? mending Nasr Hamid lakukan presentasinya di kamar mandi rumahnya aja, biar nda ada yg larang dia untuk presentasi. Gus Dur..Gus Dur..lupa pernah jadi presiden apa??memprotes kebijakan presiden sesudahnya, tapi di protes kebijakannya selama jadi presiden juga emohhhh..curangggggggggg..rakyat dah nda inginkan dia jadi presiden tapi tetap ngototttt..itu yg salahhhhhhhhh.. kalau Gus Dur membela kebebasan Nasr Hamid dan tokoh liberal untuk berekspresi di indonesia, maka hak kita juga untuk membela Presiden dan MUI yg menolak ekspresinya Gus Dur dan Nasr Hamid donggggg..? fair kan..??? salam hana --- In [EMAIL PROTECTED], "nuim hidayat" <nuimhidayat@> wrote: > > Tapi yang ramai di televisi ---karena reporter tv rata2 nggak ngerti > nasr hamid-- yang berkembang adalah percekcokan antara presiden SBY > dan Gus Dur. Gara2 Gus Dur nuduh SBY ikut campur dalam pembebasan > kasus Adelin Lis. SBY membantahnya (wawancara wartawan dilakukan > setelah acara jumpa pers itu). Kasihan dia malah musuhan sama presiden > he he he... Mestinya untuk kebebasan berfikir itu, ia tegur dulu toko2 > gramedia yg melarang buku yang mengkritik Nasr Hamid (Al-Qur'an > Dihujat). Hak toko Gramedia untuk melarang buku itu masuk di tokonya, > hak umat Islam untuk melarang Nasr Hamid ceramah di wilayahnya. Atau > pembisik2nya kurang info ... > > 000 > > http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/603/52/ > > Jumpa Pers Pencekalan Abu Zayd > Mencekal Orang Berpendapat Menag Langgar Konstitusi > > > Jakarta, wahidinstitute.org > Pencekalan yang menimpa Nasr Hamid Abu Zayd adalah salah satu akibat > dari wewenang MUI yang dianggap tinggi oleh Presiden RI. > > "Presiden kok ngaku akan nuruti keputusan MUI. Masak, MUI ditinggikan > posisinya sederajat dengan Mahkamah Agung." > > Demikian pernyataan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam > konferensi pers dan diskusi tentang Islam dan Kebebasan Berfikir > bersama Nasr Hamid Abu Zayd di kantor the WAHID Institute, Senin > (26/10/07) sore. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah tokoh agama dan > pro demokrasi. > > Acara itu digelar untuk mensikapi keputusan Menteri Agama Maftuh > Basyuni lewat Dirjen Diktti Depag Abdurrahman Mas'ud yang melarang > intelektual muslim asal Mesir Nasr hamid Abu Zayd menjadi pembicara > pada Seminar Internasional Islam di Malang oleh yang akan digelar, > Selasa (27/11/2007). > > MUI sebenarnya cuma sebatas ormas sebagaimana riset beberapa peneliti > dengan wewenang yang terbatas. Dengan demikian, bertambah besarnya > kekuasaan MUI merupakan kesalahan presiden. Imbas dari hal ini adalah > posisi presiden yang inferior. > > Ditinggikannya wewenang MUI ini akhirnya menabrak konstitusi negeri > ini. "Akibatnya semua aturan ditilap hanya karena mbelani (membela, > red) MUI. Padahal MUI itu minoritas yang tidak mencerminkan > keseluruhan umat," rinci Gus Dur. > > Kritik yang sama ditujukan Gus Dur kepada Menteri Agama RI ( Menag > RI), Maftuh Basyuni. "Konstitusi menjamin adanya kemerdekaan berpikir > dan kebebasan berbicara. Dan itu dilanggar Menag," tutur Gus Dur > dengan berapi-api. > > Keberanian Menag ini, menurut Gus Dur, karena presidennya penakut. > "Fakta ini tidak usah ditutup-tutupi," tegas Gus Dur. > > Gus Dur juga menyatakan bahwa cara MUI yang serba institusional dalam > menyelesaikan beberapa persoalan dalam masyarakat adalah pelestarian > gaya Orde Baru tempo dulu. > > "Pak Harto itu militer. Tidak pernah mengenal kebudayaan. Yang ada > kelembagaan. Jadinya enggak karu-karuan. Ini diteruskan oleh MUI," > urai Gus Dur. > > Ketika ditanya wartawan apakah Gus Dur setuju dengan semua pemikiran > Abu Zayd, Gus Dur mengakui banyak berbeda dengan Abu Zayd. > > "Meskipun saya dan dia banyak bertentangan, tapi saya tak harus > melarangnya. Itu haknya Abu Zayd," tegas Gus Dur. > > Mahkamah Internasional > Dalam kesempatan itu Nasr hamid Abu Zayd menyesalkan tindakan Menag RI > Maftuh Basyuni, yang mencekalnya ketika akan menyampaikan pikirannya > dalam kajian ke-Islam-an di sebuah seminar yang sudah mendapat restu > dari pemerintah enam bulan sebelumnya. > > Dalih pencekalan itu adalah penolakan kelompok Islam tertentu terhadap > pemikiran Abu Zayd yang kemudian ditindaklanjuti dengan fatwa MUI > Riau. > > "Saya tidak bisa terima dengan alasan apapun pencekalan ini. Itu > sesuatu yang tidak bertanggung jawab," katanya . > > Apalagi, ungkap Abu Zayd, pencekalan hanya diinfokan via layanan pesan > singkat (SMS) dari Dirjen Dikti Departemen Agama, Depag RI, kepada > dirinya pada Minggu, (25/10/07). SMS, bukan surat resmi seperti > lazimnya sebuah birokrasi, itu yang membuat penulis buku Hermenuetika > Islam ini heran. > > "Ada seseorang yang sangat powerful di sini. Sehingga melalui SMS saja > dia bisa mencekal seseorang untuk berbicara," ujarnya kesal. > > Karena keberatan itulah, Abu Zayd mengatakan bukan tidak mungkin > dirinya mengajukan soal pencekalannya kepada Mahkamah International di > Denhaag. > > Sebab, bagi Abu Zayd, pikiran adalah suaranya sehingga wajib > dipertahankan. Dia tidak akan memberikan kesempatan kepada siapapun > untuk mengambil itu darinya. > > Abu Zayd juga menyatakan bahwa kekuasaan yang besar yang berada di > tangan aparat negara semacam Menag ini berbahaya bagi kelangsungan > masa depan Islam sekaligus membahayakan eksistensi negara Indonesia. > > "Jika pemerintah melalui kekuasaannya tidak bisa leading dalam > memberikan pelajaran kepada rakyatnya untuk menghormati kebebasan > berekspresi. Lalu dari mana rakyat bisa belajar soal hal itu?" tanya > Abu Zayd. > > Ini, bagi Abu Zayd, mencerminkan sistem pemerintah Indonesia yang lemah. > > Namun dia tetap berharap Indonesia tetap menjadi cermin bagi penguatan > civil society yang kuat. " Indonesia masih punya peluang ke sana," > pungkasnya. > > Abu Zayd adalah pemikir Islam asal Mesir yang memperkenalkan metode > pengkajian Al Quran dengan pendekatan hermeneutika. Karena > pemikirannya itu, Abu Zayd di fatwa sesat Mufti Mesir. Lahir di > Tantra, Mesir 7 Oktober 1943, Abu Zayd menamatkan Pendidikan tinggi, > dari S1 sampai S3, jurusan sastra Arab di Universitas Kairo, tempatnya > mengabdi sebagai dosen sejak 1972. > > Pada 14 Juni 1995, dua minggu setelah Universitas Kairo mengeluarkan > surat pengangkatannya sebagai profesor, Mahkamah al-Isti'naf Kairo > memfatwa Abu Zayd telah keluar dari Islam alias murtad dan, karena > itu, perkawinannya dibatalkan. Bahkan ia diharuskan bercerai dari > istrinya (Dr. Ebtehal Yunis), karena seorang yang murtad tidak boleh > menikahi wanita muslimah. Abu Zayd mengajukan banding. > > Pada 23 Juli 1995, bersama istrinya, Abu Zayd terbang pergi ke Madrid, > Spanyol, sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober > 1995 sampai sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 > mengeluarkan keputusan: Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya > dibatalkan. > > (NN, GF) > > > > -- > "berbuat adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." > "(ulil albab) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik." > --- End forwarded message ---

