----- Forwarded Message ----
From: Radik Ts <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, November 28, 2007 5:40:26 PM
Subject: [kariramanah] Makna Jihad
by: riza almanfaluthi
Jihad dewasa ini berkembang menjadi suatu topik yang banyak dibicarakan dan
ditulis oleh orang-orang yang bahkan belum pernah melewatkan waktu mereka
satu menitpun di medan perang. Berbagai individu Muslim ini menjabarkan apa
yang dimaksud dengan jihad dan apa yang bukan. Di antara yang mereka
sebutkan adalah bahwa memelihara dan membesarkan anak adalah jihad,
berdakwah adalah jihad, mengajak orang lain untuk pergi ke masjid adalah
jihad, merendahkan pandangan adalah jihad, dan lain sebagainya. Hanya
sedikit ulama yang menjelaskan makna jihad sebagaimana yang dipahami dan
dijelaskan oleh ulama dari mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi'I, dan
Hambali, yaitu jihad dalam pengertian linguistik berarti "berusaha/berjuang
dengan sungguh-sungguh" dan dalam pengertian syari'ah berarti "berperang
menghadapi musuh Allah". Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah Shahih Bukhari,
menyatakan bahwa setiap kali kata "fi sabilillah" di sebut dalam Al-Qur'an
dan Sunnah, maka hal itu berarti Jihad.
Hanya sedikit ulama yang benar-benar menunaikan kewajibannya mengajak orang
lain untuk menyembah Alloh SWT dan mematuhi perintah-Nya. Hanya sedikit
ulama yang menerangkan kewajiban jihad dalam Islam dengan semestinya. Dan
para ulama ini adalah mereka yang pernah terjun langsung dalam jihad.
Mereka
telah mencium bau mesiu, mereka telah merasakan kepulan debu peperangan,
keringat mereka mengucur deras di bawah hujan tembakan dan bom musuh. Tidak
seorang ulama pun yang pernah terjun langsung ke medan perang yang
mengatakan bahwa bangun menegakkan shalat shubuh atau memelihara dan
membesarkan anak di lingkungan sekuler dan kafir adalah jihad.
Pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa jihad adalah seperti apa yang
disebutkan di atas, adalah pendapat mereka yang sudah kalah sebelum
berperang menghadapi musuh orang kafir, pendapat mereka yang bersedia untuk
tunduk pada kemauan musuh, yang setuju atas perbuatan orang kafir, yang
malu
untuk pergi berjihad, yang berusaha untuk menyenangkan hati orang kafir
dengan memenuhi tuntutan mereka untuk tidak mengakui jihad sebagai suatu
peperangan.
Bertentangan dengan apa yang dikatakan individu muslim ini, salah satu
definisi tepat apa yang digunakan orang-orang non-muslim, dalam mengartikan
jihad adalah "Perang Suci" (Holy War). Jihad adalah suatu perbuatan yang
dilakukan dalam bentuk peperangan secara fisik, yang dilakukan karena
sebab-sebab yang agung, suci, dan mulia, yaitu dalam rangka menegakkan
Kalimatullah SWT. Kebanyakan orang non-muslim telah memahami jihad dalam
definisi ini, namun berbagai individu muslim ini selalu menentang dan
menyatakan ketidaksetujuannya jika jihad diartikan sebagai Holy War. (Azzam
Publication, 8: 2002).
Tulisan ini tidak akan membicarakan tentang hukum berjihad (fardu 'ain atau
fardhu kifayah) yang sudah jelas dalam Kitabullah, dan Hadits-hadits Nabi,
dan telah disepakati oleh para imam mazhab fuqoha salaf maupun khalaf.
Namun
disini akan diuraikan tentang suatu perkataan bahwa jihad memerangi musuh
adalah jihad kecil atau seringkali dianggap sebagai jihad dalam arti
sempit., dan ini banyak diungkapkan oleh mereka yang merasa cendekiawan
muslim di tanah air ini.
Banyak disinyalir bahwa jihad memerangi musuh agama adalah termasuk jihad
kecil (jihadul ashghar). Sedang yang dikatakan sebagai jihad besar (jihadul
akbar), adalah memerangi hawa nafsu.
Pendapat tersebut didasarkan pada sebuah riwayat:
"Kita telah melaksanakan jihad kecil, dan akan menuju jihad besar". Para
sahabat bertanya: "Apakah jihad akbar itu wahai Rasulullah?" Rasul
menjawab:
"Yaitu jihad melawan hawa nafsu."
Sebagian umat Islam berupaya mengalihkan pandangan umat Islam terhadap
pentingnya jihad, mempersiapkan diri, berniat melaksanakan dan
mengmalkannya. Tetapi pada kenyataannya, dalil yang digunakan tersebut
bukanlah sebuah hadits, demikianlah kata Ibnu Hajar Al-Asqalany di dalam
Tasdidul Qaus. Tetapi yang benar adalah perkataan Ibrahim bin 'Ailah.
Memang
ungkapan tersebut sangat populer di kalangan umat Islam, sehingga tampak
sebagai hadits.
Al-'Iraqy di dalam Takhriju Ahaditsil Ihya' mengatakan: "Hadits tersebut
oleh Imam Baihaqy dengan sanad dhaif, dari Jabir. Al-Khatib juga
meriwayatkan hadtis tersebut di dalam buku sejarahnya, dari Jabir.
Andaikan hadits ini shahih, makna yang dikandung bukan berarti
mengenyampingkan persoalan jihad. Sebab, jihad itu dilakukan di dalam
rangka
melakukan penyelamatan terhadap negara Islam atau menolak serangan musuh
dari wilayah Islam. Tetapi yang terkandung dalam hadits tersebut ialah
wajib
melawan hawa nafsu, sehingga sikap hati menjadi ikhlas hanya karena Alloh.
(Imam Hasan Al Banna, 81)
Dalam sebuah buku lain disebutkan:
Perkataan: "Kita kembali dari jihad kecil (peperangan) menuju jihad besar",
yang oleh sementara orang disebut sebagai hadits, secara fakta adalah
salah,
dan merupakan karangan belaka yang tidak memiliki dasar. Sebenarnya
perkatan
ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang generasi penerus dan
bertentangan antara isi dan realita.
Ibnu Taimiyah di dalam Al-Furqan PP.44-45 menulis: Hadits ini tidak
mempunyai sumber yang shahih dan tidak seorang ahli hadits dan ulama pun
yang diketahui pernah meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah
perbuatan yang paling mulia dan yang lebih penting lagi, jihad adalah
perbuatan yang paling penting demi kemanusiaan.
Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa hadits ini adalah hadits dhaif
(lemah) karena sumbernya adalah Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al-Khiyam .
AlHakim berkata, "Hadits riwayat orang ini tidak dapt dipercaya". Abu Ya'la
Al-Khalili berkata: "Orang ini sering memalsukan hadits, seorang yang
sangat
lemah dan meriwayatkan hadits yang tidak dikenal" (Masyari-ul- Asywaq, Ibnu
Nuhas (1/31).
Perawai lainnya adalah Yahya bin Al-Ula, seorang yang dikenal sebagai
pendusta dan pemalsu hadits (Ahmad). Amru bin Ali, An-Nasa'I, dan
Ad -Daraqutni menyatakan, "Haditsriwayat orang ini tidak diakui". Ibnu Adi
menyatakan, "Hadits riwayat orang ini adalah palsu" (Tahzibut-Tahzib
11/261-262). Ibnu Hajar berkata, "Dia dituduh telah memalsukan hadits".
(At-Taghrib) . Ad-Dhahabi mengatakan , "Abu Hatim berkomentar bahwa orang
ini
bukanlah seorang perawi hadits, Ibnu Ma'in menggolongkannya sebagai seorang
yang lemah, dan Ad-Daraqutni berkata bahwa orang tersebut dapat diabaikan".
(Syeikh Abdullah Azzam, 75: 2002).
Mengapa pula perlu diuraikan derajat perkataan tersebut di sini adalah
karena banyak dari kaum muslimin yang mendasari dirinya untuk tidak ikut
berjihad hanya karena hadits palsu ini. Dengan ini pula beragam makna
tentang jihad muncul ke permukaan. Kalangan yang mengaku 'aliran Islam yang
santun' menekankan konsep jihad demikian dengan gencarnya. Golongan
intelektual tak ketinggalan mengatakan, menuntut ilmu termasuk jihad, dan
lain sebagainya. Bahkan saking takutnya dengan segala yang berbau jihad,
maka mereka yang getol menyeru jihad ditangkapi, dan ada ide untuk menutup
pondok pesantren dan lembaga yang diduga keras mengajarkan jihad dalam
kurikulum pendidikannya. Bahkan tidak mungkin yang menulis artikel inipun
dicap sebagai FUNDAMENTALIS ISLAM, ISLAM RADIKAL, PENGIKUT ABU BAKAR
BA'ASYIR,
dan lain sebagainya.
Sekalipun masih banyak lagi hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai jihad
diantaranya ialah amar ma'ruf nahi munkar, tetapi pada prinsipnya, bagi
para
pelakunya tidak akan mendapatkan syahadah kubra dan pahala sebagai mujahid.
Sebab pahala ini sangat dikhususkan kepada mereka yang gugur di medan
pertempuran fi sabilillah.
Sebagaimana pula disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan
dari Mu'adz bin Jabal (Shahih Al-Jami' no. 2828) bahwa "Ibadah yang paling
tinggi nilainya adalah jihad".
Sungguh beda nilainya antara tembaga, perak , emas, platina, alumunium,
yang
kesemuanya adalah logam. Dan sungguh beda imbalan yang akan di dapat oleh
orang yang mengucurkan keringatnya dan darahnya di medan peperangan bila ia
ikhlas dengan orang yang mengucurkan keringatnya karena mengetik artikel
ini
saking ruangannya tak ber-AC.
Joserizal Jurnalis pun berjihad dengan pisau bedahnya, Dyah Risang Ayu pun
berjihad dengan penanya, Neno Warisman pun berjihad dengan seminarnya,
Hidayat Nur Wahid pun berjihad dengan partainya, Tamsil Linrung pun
berjihad
dengan dananya untuk mewujudkan penerapan syari'at Islam di Sulawesi
Selatan, semuanya berjihad -sekali lagi-dengan keahliannya. Namun sungguh
berbeda pahala yang akan diterima oleh tukang becak asal Tegal yang sudah
berada di tanah jihad di Palestina dan telah menjadi syahid di sana atau
dengan Habib Rizieq Syihab yang tidak hanya berkoar menyerukan dan membuka
posko pendaftaran jihad namun sudah berangkat ke Iraq melalui Yordania
untuk
membunuh tentara agresor Amirikiyyah wal Britaniyyah.
Sekali lagi sungguh amat berbeda pahala yang akan mereka terima, karena ini
berbanding lurus dengan segala kesusahan dan kengerian di medan perang,
yang
juga berbanding lurus pula dengan azab yang akan mereka (para mujahiddin)
terima bila ia tidak ikhlas berjihad karena-Nya semata namun hanya karena
mengharap pujian manusia belaka.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. Al-baqoroh: 216).
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu
mati;bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki,
mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya
kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal
di
belakang yang belum menyusul mereka.(Q.S. Ali Imron: 169).
Allohu a'lam bishowab.
Rujukan:
1. Al-Qur'an yang mulia;
2. Join the Caravan, Syeikh Abdullah Azzam, Azzam Publication, 2001;
3. Laa Izzata illa bil Jihad, Imam Hasan Al-Banna, Generasi Kita Press.
Sumber: Rujukan di atas
____________________________________________________________________________________
Be a better pen pal.
Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
http://overview.mail.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]