--- In [EMAIL PROTECTED], "Murid Salik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ini hanyalah urun rembuk dan sebuah analisis. Wallahu a'lam, kita bisa
melihat ini dari beberapa sisi. Reaksi Nabi Musa as ketika melihat
perubahan umatnya, menunjukkan betapa besar kecintaan dan kepedulian
serta  kepedihan hatinya akan perubahan yang dialami umatnya, begitu
hebat pukulan yang dialami hatinya hingga ia pun melempar lauhnya dan
menuju ke saudaranya, ini menunjukkan Rahmatnya yang luar biasa dan
ketidakrelaannya melihat Bani Israel tersesat sedemikian jauhnya dari
jalan yang lurus, dan yang pertama beliau lakukan adalah bertanya
kepada saudaranya Nabi Harun as.

Dan kita justru bisa betul-betul menyelami besarnya rahmat Nabi Musa
kepada ummatnya melalui kisah ini. Seorang yang tak peduli tak akan
begitu tergerak emosinya, begitu kuat golakan hati sang Nabi,
menunjukkan begitu kuat pula rahmat beliau alaihissalam.   

Dan Nabi Musa alaihissalam menarik rambut dan jenggot saudaranya
alaiahissalam, bukan yang lainnya dari kaumnya. Ini menunjukkan betapa
berbeda perlakuan beliau, dan kelugasan ekspresi beliau alaihissalam,
antara saudaranya, yang juga seorang Nabi Rasul dan Da'i, yang
ditinggali tanggung jawab membimbing umatnya sepeninggal beliau dengan
perlakuannya terhadap kaumnya yang cenderung lebih lembut.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwasanya Nabi Musa alaihissalam
ketika mengekspresikan kepedihan hatinya kepada saudaranya sendiri,
saudaranya adalah seorang Nabi pula, yang berarti memiliki hati yg
suci, yang tak akan menyimpan dendam, tak memiliki ego, sehingga
apapun yg dilakukan oleh seseorang kepadanya, apalagi Nabi Musa yg
karenanya Nabi Harun mencapai derajat kenabian, tak akan memiliki
dampak negatif seperti perpecahan antar saudara atau antar Nabi atau
antar da'i, berbeda dengan sesama kita sendiri, yang penuh penyakit
hati, perilaku semacam ini akan menyulut Nafsu dan berakibat pada
perpecahan). 

Hati para Nabi adalah suci, kemarahan mereka adalah karena Allah,
sebagaimana tidak sempurna iman sesorang kecuali bila dia mencinta
karena Allah dan membenci karena Allah. Tentu saja dalam hal ini yg
dibenci oleh Nabi Musa alaihissalam bukanlah kaumnya, tapi Perbuatan
Syirik kaumnya. Sedangkan kemarahan kita, maka harus kita koreksi diri
kita sendiri, apakah benar-benar murni karena Allah, ataukah di
dalamnya bercampur pula dengan Nafsu kita.

Jadi bisa jadi kemarahan beliau adalah sebuah rasa menyesal yang luar
biasa, setelah susah payahnya upaya beliau menggiring umat. Kita harus
ingat, betapa berat dan panjang perjalanan Nabi Musa. Mulai dari
bertempur dengan para tukang sihir, 9 bencana berturut-turut, hingga
mukjizat luar biasa membelah laut. Berbagai mukjizat yang sangat
Dhohir ini bagaimana mungkin bisa membuat orang berpaling dari
kebenaran? ini benar-benar sebuah suul adab yang luar biasa dari umat
Nabi Musa. Padahal, satu mukjizat saja dari Nabi Isa, yakni Turunnya
Hidangan dari Langit utk beliau dan murid-murid telah disertai ancaman
dahsyat dari Allah Ta'ala, bahwa barang siapa yg ingkar setelah ini
maka akan diazab dengan azab yang tak prenah ditimpakan kepada
seorangpun. Apatah lagi kaum Nabi Musa yang sudah berkali-kali melihat
berbagai Mukjizat, Mulai dari Tongkat Nabi Musa, Tangan Bercahaya,
Mengalahkan Tukang Sihir Firaun, 9 Bencana berturut-turut yang setiap
kali dihentikan dengan Do'a Nabi Musa, Terpancarnya 12 mata air dari
12 batu untuk setiap kabilah Bani Israel, Terbelahnya Laut, Turunnya
Manna dari Surga untuk mekanan, dst, tapi meskipun begitu Bani Israel
tetap saja melakukan berbagai pembangkangan yang berulang-ulang.  

Dan puncaknya tentu saja: Syirik dengan menyembah sapi. Ini tentu saja
sangat menggoncangkan hati Nabi Musa dan khawatir akan terhapusnya
pengampunan Allah Ta'ala bagi kaum yg sudah berkali-kal menerima
pertolongan dan pengampunanNya, tapi tak juga sadar? berbagai mukjizat
sudah dilihat dengan mata kepala sendiri, lalu kurang apalagi supaya
mereka ini tetap beriman? baru ditinggal sebentar saja sudah berpaling? 

Dan dalam peristiwa ini yang menjadi obyek kemarahan sang Nabi adalah
masalah yang paling prinsip: Akidah. 

Jadi beberapa kesimpulan sementara: 
0. Besarnya rahmat seorang da'i kepada kaumnya.
1. Nabi Musa berhati suci, kemarahannya sudah pasti tidak muncul dari
hawa nafsu tapi murni karena Allah. Kemurnian yang terbebas sama
sekali dari berbagai penyakit hati dan hawa nafsu.
2. Nabi Musa mengekspresikan kepedihan hatinya kepada sang saudara yg
juga berhati suci, sehingga tak dikhawatirkan terjadinya perpecahan
ataupun akibat buruk dalam ukhuwwah di belakang hari antara keduanya
(antar saudara, antar da'i).
3. Yang menjadi obyek kemarahan adalah masalah yang paling asasi:
penyimpangan akidah secara terang-terangan dan secara berjamaah

Wallahu a'lam,
al aqol, Hany Abdulrahman Baagil.


  ----- Original Message ----- 
  From: Naufal bin Muhammad Alaydrus 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, December 10, 2007 6:48 PM
  Subject: [Zawiya] Tanya


  Ass Wr Wb,

  Ada yang bisa menjelaskan kepada kami ndak ya, kenapa Nabi Musa,
seorang Rasul yang pasti berakhlak mulia, diceritakan oleh Allah di
dalam Al-Quran, beliau melemparkan taurat dan menarik kepala dan
jenggot nabi Harun yang merupakan kakak kandung beliau, ketika melihat
umatnya menyembah sapi?

  Bagaimana cara menggabungkan ketegasan Nabi Musa ini dengan sifat
rahmat (yang pasti dimiliki oleh setiap Nabi) dalam berdakwah sehari-hari?

  Kapan kita boleh tegas seperti Nabi Musa, dan kapan kita harus
bersikap lembut?

  Saya butuh jawaban dari hati yang tidak terbawa emosi....tapi dari
jiwa yang mengalirkan air sejuk yang menentramkan nurani dan
mendinginkan alam ini.

  Makasih

  Penuntut ilmu, Naufal bin Muhammad Alaydrus

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---


Kirim email ke