*Surat Abi buat Annisa*

Annisa anakku,


Saat Abi menulis surat ini, Abi tak tahu apakah kelak kamu akan membacanya
atau tidak. Sengaja Abi tuliskan hal ini karena Abi yakin bahwa diantara
manusia yang banyak ada orang-orang yang akan dapat mengambil pelajaran dari
kita. Walaupun pilihan Allah terhadap kita sudah jelas, tetap saja Abi
berharap semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sombong dan takabur.


Ketika Abi memutuskan untuk membantu kerja nabi kita, Abi menyadari bahwa
cepat atau lambat kamu akan mendapatkan bahwa Abi tidak cukup punya waktu
untuk membantumu belajar, bermain atau bersenda gurau sebagaimana yang dulu
pernah kita lakukan. Selepas itu barangkali orang yang tidak tahu akan
menyangka bahwa Abi adalah orang yang tidak peduli lagi dengan keluarganya
sendiri.


Dalam keadaan seperti ini, Abi tetap merasa bahwa kamu tahu betapa Abi
sayang padamu. Ketika Abi mengurusmu, Abi tidak tahu apakah Abi termasuk
orang tua yang tegar atau tidak. Saat kamu demam, Abi takut Allah segera
memanggilmu pulang ke haribaan-Nya. Selepas berdoa untuk kesembuhanmu, Abi
justru merasa malu karena tak kuasa membendung air mata yang gugur.


Pada banyak hari yang telah lalu kamu dapati bahwa Abi belum pulang saat
kantuk mengusaimu. Dan ketika kamu bangun, kita pun hanya punya sedikit masa
untuk buat persiapan, yakni saat Abi pergi kerja dan kamu pergi ke sekolah.
Kalau saja bukan karena Ummi yang sering mendesak Abi dengan 'ancamannya'
barangkali Abi tidak punya waktu meskipun satu malam untuk berbual denganmu.


Maafkan Abi bila sampai saat ini Abi tidak memberimu waktu lapang
sebagaimana kebanyakan anak sebayamu mendapatkannya. Bila Abi tidak sedang
keluar di tempat lain atau di negeri lain, kamu dapati Abi sibuk dengan
urusan dakwah di kampung kita atau sekitarnya. Meskipun demikian Ummi
biasanya tahu kemana Abi pergi.


Barangkali kamu menyangka bahwa Abi terlalu keras dalam mendidikmu lewat
Ummi. Sebagaimana saudara2-mu yang lain, kamu harus cukup merasa puas dengan
cerita kawan2-mu di sekolah tentang tayangan televisi kegemaran anak2
sebayamu. Kamu juga belajar merasa puas dengan sedikitnya bekal ketika
sekolah. Akan tetapi barangkali inilah yang terbaik yang dapat Abi berikan
untuk menjadikanmu tegar dan mandiri pada satu hari nanti dengan ijin Allah.


Abi yakin bahwa Allah selalu menepati janji-Nya. Dia terlalu agung untuk
mengingkari janji2-Nya sendiri. Dia robb kita yang maha pemelihara, maha
kaya lagi maha memberi. Dan bila Abi memutuskan bahwa dakwah adalah kerja
utama kita, itupun karena Abi yakin dengan ketetapan-Nya yang sempurna. Dan
bila abi tetap bekerja sebagai buruh, itupun karena Abi yakin bahwa dengan
cara inilah dakwah boleh diusahakan mengikuti kemampuan kita. Allah
'menghantar' kita ke tempat kita tinggal saat ini sebagaimana Dia mengutus
nabi dan rasul-Nya kepada kaumnya.


Barangkali kamu memendam banyak cerita tentang kesulitan yang timbul di
dalam keluarga kita akibat kerja ini. Barangkali juga kamu merekam banyak
kejadian yang menyedihkanmu karena bertambahnya kesibukan yang berhubungan
dengan dakwah. Namun demikian, hendaknya kamu selalu ingat bahwa Allah swt
selalu memberikan kesusahan kepada orang2 yang dicintai-Nya. Dengannya Allah
swt menurunkan sifat2 yang bila seseorang memilikinya maka dapat dipastikan
bahwa Allah bersamanya. Bukankah Allah bersama orang yang sabar, Allah
bersama orang yang takwa, Allah bersama orang yang ikhlas? Sifat2 seperti
inilah yang Dia hendak turunkan kepada kita dan para da'i-Nya di seluruh
alam.


Pagi ini, setelah pulang dari mengantarkanmu ke madrasah hafidzah selama 7
hari di tempat yang jauh, Abi berkesempatan meneleponmu. Sungguh, dari
suaramu Abi tidak lagi khawatir akan kebaikanmu. Kamu tertawa bersama
kawan2-mu yang ikut 'nimbrung' di telepon. Kamu telah mendapatkan tempat
yang cocok untuk masa depanmu. Semua ini adalah karunia dari Allah yang maha
pengasih dan maha penyayang.


Annisa, jaga dirimu baik2 nak. Abi tidak melupakan kerja besar yang telah
kamu buat beberapa tahun yang lalu atas Son Lie, kawan sebayamu, justru pada
saat Abi tidak bersamamu. Abi tidak tahu hikmah yang bagaimana yang telah
Allah berikan kepadamu sehingga dalam beberapa bulan saja Son Lie beserta
mamah-papahnya (yang datang dari Beijing) dapat memeluk Islam di tanganmu.
Kamu belum lagi akil baligh, namun Allah telah memberimu satu cahaya yang
dapat menerangi orang yang ada dalam kegelapan. Abi bersyukur kepada Allah
atas karunia ini. Abi bangga memilikimu, nak.


Maka bila kamu susah, janganlah kamu mengadukannya kepada siapapun sebelum
kamu datang kepada Allah. Bila kamu sakit, janganlah kamu berobat sebelum
kamu 'menanyakan' sakitmu kepada robb-mu. Bila kamu dalam kekurangan,
perbaikilah amal2-mu, dengan demikian Allah akan mencukupkanmu bahkan
melebihkanmu dengan apa saja yang disukai-Nya bagimu.


Selalulah berdoa agar Allah melimpahkan kekuatan dan bantuan-Nya bagi Abi
dalam menolong agama-Nya. Insya Allah Abi terus belajar dalam mengikuti
contoh teladan kita, nabi Muhammad saw. Doakan juga kebaikan bagi Ummi.
Semoga Allah mencatatmu sebagai anak yang berbakti kepada kedua orangtuamu
hingga Dia sendiri ridho kepadamu dan ridho kepada Abi dan Ummi, orangtuamu.
Subhanallah.


Wassalam,
Abi dan Ummi
Pattaya, 10/06/2003

kebunhikmah.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke