FYI

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rahman Apriyanto
Sent: Tuesday, December 18, 2007 11:44 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [MotivasiIndonesia] Oleh-oleh dari Jepang

 

Sekedar sharing.

-Rahman

 -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of pksmumb
Sent: Tuesday, December 18, 2007 7:31 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kelas Karyawan UMB] Oleh-oleh dari Jepang

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu 
kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini 
berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi 
keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang 
sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik 
untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. 


Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan 
beberapa kawan dekat kami di Jepang. 

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik 

Anda pernah m eli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira 
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang 
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor 
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut 
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang 
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-
jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di 
kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi 
para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, 
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah 
tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf 
teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa m 
eli hat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan 
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi 
dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani 
masyarakat. 

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi 
pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-
dalam dengan pola serius utuh dis eli ngi dengan senyuman. Saya 
hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari 
system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" 
tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard 
upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki 
kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi 
penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain. 

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan 
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan 
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau 
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas 
Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan 
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan 
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal 
bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak 
hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya 
atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, 
Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu 
mensyaratkan kejujuran. 

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, 
sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang 
asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya 
mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus 
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri 
saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah 
mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka 
semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya 
membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang 
lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-
orang yang kurang beruntung. 

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai 
di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya 
diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan 
bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang 
sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah 
seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat 
tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak 
tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut 
akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen 
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana . 

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah 
yang saya jumpai di Jepang. 

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami 
sempat terkejut m eli hat tagihan listrik bulanan yang melonjak 
hingga 10 kali lipat. 

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada 
kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan 
yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon 
perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan 
tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) 
keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah 
selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak 
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, 
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk 
meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam 
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas 
petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah 
saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi 
sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas 
tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat 
yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kek eli ruan dalam 
bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini. 

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di 
Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan 
anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya 
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda 
melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di 
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. 

Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun 
kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua 
memiliki niat bekerja - versi Jepang. 

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian 

Suatu kali pernah kami memb eli sebungkus buah-buahan dengan bandrol 
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya 
sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) 
pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang 
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, 
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi 
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali 
memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja 
kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), 

karena kami sudah m eli hatnya dari awal. Beberapa kawan kami 
mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup 
mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli 
oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah 
prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup 
untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan 
pelanggan. 

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu 
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang 
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen 
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima 
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan 
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem 
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang 
dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero 

Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian 
terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pemb eli 
terhadap transaksi jual-b eli . 

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan 
karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau 
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur 
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli 
batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas 
supermarket m eli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut 
dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah 
untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah 
kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah 
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua 
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket 
menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa). 

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia 
untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas 
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan 
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada 
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang 
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah 
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa 
jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga 
mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat 
besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan 
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah 
toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi 
komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar 
serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang 
anda b eli . 

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi 

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di 
Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih 
gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan 
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) 
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. 
Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis 
di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di 
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau 
bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya 
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. 
Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek 
terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - 
mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak 
atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya m eli 
hat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di 
negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda 
lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri 
anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini 
lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision 
maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus 
berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda 
berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya 
perlu m eli hat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, 
sistem yang akan bekerja. 

04.Lingkungan hidup dan transportasi 

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini 
hampir separuh populasi Republik tercinta. 

Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang 
sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya 
menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan 
melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar 
dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan 
berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya 
dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan 
dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan 
menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-
jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda 
akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang 
meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun 
dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang 
mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. 
Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk 
digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan 
karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai 
hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang 
sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan 
anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan 
kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan 
saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi 
pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya. 


Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, 
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat 
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di 
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki 
kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang 
tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen 
(kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di 
Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan 
lalu lintas kereta di Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di 
Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal 
ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik 
diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama 
energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada 
rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2. 

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" 
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang 
di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu 
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda 
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan 
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, 
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir 
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota 
ini. 

05.Kesehatan dan rumah sakit 

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih 
mampu memajukan bangsa dan negaranya. 

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan 
pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan 
di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai 
orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program 
asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu 
membayar 30% dari biaya berobat. 

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan 
mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun 
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan 
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih 
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang 
dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa 
ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi 
yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi 
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi 
menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan 
membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan 
memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu 
asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus 
keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan 
keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama 
sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-
benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar 
dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri 
melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori 
formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak 
menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan 
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. 
Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari 
Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit 
tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah 
dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan 
kemudian. 

Saling percaya adalah kuncinya. 

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke