hmm..tulisan ruzbihan hamazani mencerminkan sosok orang yg sombong dan
yakin sekali pencampuradukan akidah yg dilakukannya selama ini tidak
akan menggerogoti keimanan dan akidahnya sebagai seorang muslim.

hmm..aku teringat dengan marahnya Rasulullah saat melihat sahabat Umar
ra, sedang membaca taurat. Jika Umar ra. yg selalu dalam didikan
Rasulullah dilarang untuk membaca Taurat dan Rasulullah dengan
marahnya meminta Umar untuk melemparkannya, karena Rasulullah tahu
sekali bahwa isinya sudah banyak yg menyimpang dari ajaran Tauhid.
lha..kita ini siapa??apakah keimanan kita sudah spt Umar ra yg PD
sekali mengikuti  ritual agama lain dan yakin tidak akan terpengaruh?? 

yg menarik perhatianku adalah, mengapa Rasulullah marah sekali dan
mengapa Rasulullah harus hati2 sekali menjaga akidah sahabatnya??
bukankah seharusnya Rasulullah yakin akan keimanan sahabatnya karena
sudah mendapat jaminan syurga dari Allah??karena mustahil orang masuk
syurga jika masih meninggalkan dosa syirik. lha..sedangkan kita ini
siapa??yg dengan sombong dan yakinnya bahwa orang kafir dan musyrik
tidak akan mampu mempengaruhi akidah kita dengan berbagai upaya
pendekatan yg secara nyata maupun tersamar??

hmm..andai benar pencampuran seremoni keyakinan tidak mampu
mempengaruhi akidah, rasanya orang pertama kali yg akan melegalkannya
adalah Rasulullah, saat pertama kali mendapat tawaran dari orang kafir
quraish untuk mengikuti seremoni mereka, kemudian mereka mengikuti
seremoni Rasulullah. namun dengan tegas Rasul menolak dan mengatakan
bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Toleransi yg diajarkan oleh Rasul
adalah cukup dengan tidak mengganggu saat mereka melakukan seremoni
keyakinannya, dan pada saat mereka meminta agar kita mengikuti ritual
keyakinan mereka, maka itu sudah keluar dari batas toleransi.

kalau anda yg kualitas imannya jauh dibawah imam syafei saja sudah
terlalu yakin nda terpengaruh dengan propaganda pendekatan yg mereka
lakukan selama ini, itu sudah mencerminkan kesombongan. karena
mustahil Allah mewanti2 kita dalam firman2nya untuk tidak menjadikan
orang2 kafir sebagai pemimpin2 kita, or sabda Rasul yg meminta kita
untuk memilih teman bergaul dan lingkungan bergaul, maupun lingkungan
tempat tinggal yg notabene tidak didominasi oleh orang2 kafir dan musyrik.

hmm..bagiku hukum pergaulan adalah saling mempengaruhi or dipengaruhi,
dimana yg lebih kuat dan telaten akan mudah mempengaruhi teman
bergaulnya, namun dari itu semua, kadang ada rasa solideritas antar
teman, dimana kadang kita yg harus mengikuti keinginannya dan  kadang
dia yg harus ikuti keinginan kita. Namun kadang kita lupa dan
kebablasan tanpa filter, bahwa ada point2 dimana kita tetap dengan
keyakinan kita dan saling menghormati untuk tidak saling mempengaruhi
or memaksakan yg sudah menjadi prinsip masing2.

dan seharusnya sebagai teman yg baik, sudah selayaknya mengetahui
prinsip temannya yg tidak mungkin disatukan dengan apa yg menjadi
prinsip kita, hingga kita tidak perlu mencari2 celah untk selalu
disamakan, hingga membuat perasaan teman kita menjadi tidak nyaman dan
merasa bersalah bila tidak memenuhi keinginan kita. spt yg selama ini
dilakukan oleh kaum nasrani yg selalu mencari celah dan mengiba dengan
pendekatan secara nyata maupun tersamar, agar kita melakukan bias
keyakinan dan mengatasnamakan toleransi dan solideritas antar teman,
dan tidak perduli apakah keinginannya itu akan membuat perasaan kita
tidak nyaman or sulit memutuskan permintaanya dengan argumentasi2nya
yg seolah2 benar dimata awam kita.

hmm..aku setuju dengan argumentasi Imam Al Ghazali pada Plato mengenai
ketegasan prinsip kebenaran yg harus didahulukan ketimbang pertemanan
yg disampaikan pada diskusi sabtuan insist oleh pak Adnin Armas,
hmm..yg kira2 perkataan imam ghazali adalah sbb 

"Plato adalah temanku dan kebenaranpun adalah temanku, jika aku
diminta untuk memilih antara plato dan kebenaran, maka aku akan
memilih kebenaran ketimbang plato." 

tapi saat ini, sudah banyak sekali orang yg mengaku muslim namun
beramai2 gadaikan kebenaran demi 'temannya' itu.

wallahu a'lam bisowab


salam
hana



--- In [EMAIL PROTECTED], "Mahir Moh.Soleh" <maher_thea@>
wrote:
>
> Salam, 
> Ini ada tulisan yang mengkritisi tulisan MPNB
> yang bernama Ruzbihan Hamazani yang mengitirafkan 
> diri sebagai periset independen yang mengkaji Islam.
> dari: http://minhaj-al-aqilin.blogspot.com/
>   Salam, 
> MMS
> 
> Nota Buat Adian Husaini
>   
>   Oleh Ruzbihan Hamazani
>   
>   Adian Husaini adalah salah satu penulis yang sangat digemari banyak
>   kalangan Islam. Ia menulis rutin setiap minggu di Majalah
>   Hidayatullah. Kolom-kolom mingguannya dibahas di Radio Dakta. Sebagai
>   bekas wartawan, ia memang memiliki ketrampilan menulis yang cukup
>   baik, enak dibaca, dan renyah. Kelemahan Adian hanya satu: sering
>   memeragakan logika yang janggal. Ala kulli hal, salut untuk Adian
Husaini.
>   
>   Baru-baru ini, ia menulis sebuah kolom di situs Hidayatullah,
>   "Mitos-Mitos tentang Perayaan Natal Bersama". Tulisan ini beredar di
>   banyak milis. Dalam tulisannya itu, ia mengkritik Prof. Din Syamsuddin
>   yang menghadiri Perayaan Natal Bersama. Tulisan pendek ini ingin
>   sekedar memberikan catatan pada kolomnya itu.
>   
>   Tokoh kerukunan?
>   
>   Saya ingin mulai dengan hal yang  sederhana. Adian mengenalkan dirinya
>   di ujung tulisan sebagai Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama
>   MUI Pusat. Saya berteriak dalam hati: What? Bagaimana orang seperti
>   Adian menjadi seorang pejabat penting di MUI pusat untuk mengurus soal
>   kerukunan umat beragama? Apakah saya tak salah? Apakah kata
>   "kerukunan" mempunyai arti lain di sini? Kata "kerukunan" berasal dari
>   akar kata "rukun" yang artinya kira-kira laras, harmonis, serasi,
>   damai, dsb. Kata rukun berlawanan dengan sejumlah kata lain: tengkar,
>   cekcok, curiga, dst.
>   
>   Setahu saya, tulisan-tulisan Adian Husaini selama ini penuh dengan
>   rasa curiga pada agama lain, terutama Kristen, nyinyir pada
>   kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan dialog antaragama dan
>   pluralisme, dst. Dia dulu juga pernah menjadi salah satu pengurus
>   Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), lembaga Islam yang kita kenal
>   membenci orang Kristen, dan selalu dengan mudah  menuduh pihak "lawan
>   debat" dengan istilah antek Yahudi (seperti terjadi pada Cak Nur).
>   Bagaimana orang dengan rekam jejak seperti ini diserahi tugas untuk
>   mengurus kerukunan antar umat beragama? Apakah ini tidak sama dengan
>   meminta seorang koruptor menjadi anggota KPK? Apakah mungkin sapu
>   kotor membersihkan lantai? Bukankah faqid al-shai' la yu'thihi, kata
>   pepatah Arab (orang yang tak punya sesuatu, tak akan bisa memberikan
>   sesuatu itu)?
>   
>   Nada tulisan Adian soal mitos-mitos perayaan Natal bersama itu
>   sendiri, seperti anda bisa baca, kuat sekali diwarnai dengan nada
>   eksklusivisme, curiga pada kelompok lain, dan sama sekali antidialog.
>   
>   Jika MUI memang benar-benar memiliki komitmen untuk membangun
>   kerukunan antaragama di Indonesia, tampaknya lembaga itu perlu
>   berpikir ulang untuk mempertahankan Adian Husaini dalam komisi
>   kerukunan tersebut. Alih-alih memperjuangkan kerukunan, orang seperti
>    Adian ini hanya akan mempertahankan kecurigaan dan kebencian. Kecuali
>   jika MUI memang niatnya sejak awal adalah mendirikan Komisi Kecurigaan
>   Umat Beragama. Jika benar demikian, tentu saya seratus persen
>   mendukung Adian Husaini bertahan selama-lamanya di sana.
>   
>   Mitos Adian atau mitos sungguhan?
>   
>   1. Adian mengemukakan sejumlah mitos di sekitar perayaan natal bersama
>   (PNB). Sekarang marilah kita memeriksa satu per satu mitos-mitos yang
>   dikemukakan oleh Adian.
>   
>   Pertama, dia mengatakan bahwa ada mitos tentang keharusan mengikuti
>   PNB. "Mitos ini seperti sudah begitu berurat berakar, bahwa PNB adalah
>   enak dan perlu," ujarnya. Saya sungguh tak tahu, dari manakah Adian
>   memetik mitos ini: Apakah dari pohon mangga di belakang rumahnya, atau
>   dari kebun milik temannya? Tak ada seorang pun mewajibkan ikut
>   perayaan Natal bersama. Orang boleh ikut, boleh tidak. Tak ada
>   undang-udang yang  mengharuskan, juga tak ada kewajiban sosial untuk
>   melakukannya. Teman-teman saya yang beragama Kristen sama sekali
>   mengerti jika saya tak ikut perayaan Natal, karena khawatir dianggap
>   memaksakan iman. Tetangga saya yang Kristen yang hampir setiap tahun
>   mengucapkan Selamat Idul Fitri tak pernah meminta "balas jasa" kepada
>   saya untuk mengucapkan Selamat Natal setiap bulan Desember tiba.
>   
>   Jadi, dari mana Adian dengan begitu cemerlangnya menemukan mitos ini?
>   Jika mitos ini benar-benar ada, tentu Adian layak mendapat
>   pernghargaan yang setinggi-tingginya atas penemuan yang cerdas ini.
>   Mungkin ia layak dimasukkan di musium rekor Indonesia (MURI). Yang
>   sungguh menakjubkan, Adian mengatakan bahwa mitos ini telah berurat
>   berakar dalam masyarakat. Saya tak tahu, masyarakat mana yang sedang
>   dibicarakan Adian.
>   
>   Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat?
>   
>   Istilah Perayaan Natal Bersama  sebetulnya mudah ditelusuri
>   asal-usulnya. Masyarakat kita mengenal adat-bertetangga yang bentuknya
>   macam-macam. Kalau anda hidup di desa, adalah hal yang lumrah jika
>   tetangga anda sedang punya perhelatan, anda diundang untuk datang
>   dalam acara itu. Adat seperti ini berlaku tanpa mengenal perbedaan
>   agama. Kalau tetangga saya yang Kristen sedang "mantu" dia akan
>   mengundang saya. Saat saya mengadakan pertemuan RT di rumah yang
>   kadang disertai dengan membaca ratib, barzanji atau yasinan, saya juga
>   akan mengudang tetangga saya yang Kristen itu.
>   
>   Adat ini yang kemudian diteruskan pada tingkat yang lebih besar lagi.
>   Saat Idul Fitri, umat Islam mengadakan acara halal bihalal di kantor
>   atau perusahaan tempat mereka kerja. Tentu tak enak kalau acara ini
>   hanya dihadiri karyawan yang Muslim saja. Lalu, diundanglah karyawan
>   lain yang beragama Kristen. Bagus. Rukun. Begitu juga sebaliknya, saat
>   Natal tiba,  karyawan yang Kristen mengadakan natalan. Yang Muslim
>   diundang pula. Ini berlaku pula untuk agama-agama yang lain.
>   
>   Kebiasaan ini dilanjutkan pada level kenegaraan. Karena negara kita
>   bukan hanya milik orang Islam saja, tetapi milik semuanya, maka setiap
>   ada hari raya agama tertentu, diadakanlah upacara. Ada halal bihalal,
>   mauludan, rajaban, dst. Ada acara natalan, waisakan, nyepi, imlek,
>   dst. Tentu sudah selayaknya jika pejabat publik yang menjadi milik
>   semua bangsa Indonesia datang dalam acara-acara seperti itu. Kalau
>   presiden dikritik karena mendatangi acara natalan, padahal dia seorang
>   Muslim, maka hanya ada dua kemungkinan: mungkin si pengkritik itu
>   adalah orang a-sosial yang tak mengerti adat bertetangga dalam
>   masyarakat, orang kuper yang hanya tahu dirinya sendiri saja; atau dia
>   sedang terkena "sihir" ideologi tertentu yang membuatnya berpikir aneh
>   seperti itu.
>   
>   2.Mitos kedua  yang disebut oleh Adian adalah bahwa PNB adalah sarana
>   untuk memupuk kerukunan antar umat beragama. Nada tulisan Adian ingin
>   menggiring kita untuk percaya bahwa PNB sama sekali tak akan memupuk
>   kerukunan. Saya tak tahu, apakah Adian juga menghendaki agar kita
>   percaya bahwa bukan hanya tak memupuk kerukunan, tetapi PNB bisa
>   menimbulkan pertikaian antar agama? Kalau yang terakhir ini benar,
>   saya tak tahu lagi, sistem logika mana yang dipakai oleh anggota
>   Komisi "Kerukunan" ini. Maksud saya tentu kerukunan dalam tanda kutip.
>   
>   Tentu jalan untuk memupuk kerukunan banyak sekali, antara lain lewat
>   pertukaran kunjungan saat hari raya. Kalau kita kembali ke contoh
>   mikro dalam kehidupan sehari-hari, maka saya akan mengatakan bahwa ada
>   banyak cara yang bisa saya tempuh untuk menjadi tetangga yang baik
>   bagi tetangga saya yang beragama Kristen, Budha, Konghucu, atau
>   lainnya. Cara itu meliputi banyak hal. Misalnya:  kalau tetangga saya
>   sedang selamatan untuk promosi jabatan baru, saya akan datang. Kalau
>   saya mengadakan selamatan walimatus safar untuk pergi haji, dia saya
>   undang. Begitulah seterusnya.
>   
>   Ini juga berlaku pada level kenegaraan. Sudah tentu, jika presiden
>   atau menteri yang beragama Muslim datang dalam acara natalan,
>   masyarakat Kristen akan merasa lega, sebagaimana saya akan lega jika
>   melihat tokoh Kristen datang ke acara-acara Islam. Sebagaimana umat
>   Islam di Amerika merasa senang saat Presiden Bush mengadakan ifthar
>   atau buka bersama di Gedung Putih, begitu pula umat Kristen di
>   Indonesia akan merasa senang jika Pak Presiden yang Muslim dan berpeci
>   datang di acara natalan. Inilah yang dalam studi-studi mengenai
>   multikulturalisme disebut sebagai "the politics of recognition" ,
>   politik pengakuan. Apakah kita akan mengatakan kepada Presiden Bush
>   bahwa anda salah melakukan buka bersama di Gedung Putih,  sebab itu
>   sama saja anda mengakui kebenaran agama Islam? Inikah logika yang
>   hendak dipakai oleh Pak Wakil Komisi Kerukunan MUI?
>   
>   Dalam politik pengakuan, simbol dan budaya memainkan peran penting.
>   Begitu pula Simbol memainkan peran yang sangat penting dalam
>   masyarakat plural. Karena itu, tak salah, bahkan penting sekali
>   memainkan simbol untuk memupuk kerukunan antaragama. Salah satu simbol
>   yang sangat penting di mata masyarakat adalah simbol-simbol yang
>   berkaitan dengan agama. Upacara-upacara keagamaan memiliki makna yang
>   penting. Dengan memainkan simbol ini secara tepat, kerukunan dalam
>   masyarakat bisa dipupuk dan diperkokoh. Ini hal sederhana yang bisa
>   diketahui oleh semua orang awam. Saya tak tahu, bagaimana seorang
>   anggota Komisi Kerukunan MUI bisa tak mengerti hal yang simpel seperti
>   ini.
>   
>   Adian menyebut bahwa dalam PNB ditegaskan keyakinan Kristen tentang
>   Yesus sebagai anak Tuhan.  Pertanyaan awam yang harus diajukan adalah:
>   Apakah jika seseorang datang ke perayaan Natal dengan sendirinya
>   percaya pada doktrin dan akidah Kristen? Saat Presiden Bush mengadakan
>   buka bersama di Gedung Putih, apakah dia serta merta percaya pada
>   dasar akidah Islam yaitu tauhid/monoteisme? Saat tetangga saya yang
>   Kristen datang ke rumah untuk menghadiri acara yasinan, apakah dia
>   kemudian berubah iman?
>   
>   Kalau orang Islam takut dengan histeris datang ke perayaan Natal
>   karena khawatir "tertular" akidah Kristen, ini sungguh mengherankan:
>   Betapa lemahnya akidah umat Islam? Di mana dakwah ulama selama ini?
>   Apakah dakwah Islam gagal mencetak Muslim dengan akidah yang kokoh?
>   Ataukah yang bermasalah sebetulnya para "elit" agama yang tak
>   mempercayai kualitas iman umat Islam yang sebetulnya tak sekeropos
>   yang mereka kira?
>   
>   Adian juga menyebut sejumlah ayat dalam Injil serta dokumen Kristen
>   tentang  keselamatan tunggal melalui Yesus. Apakah Adian lupa bahwa
>   dalam Islam juga ada doktrin serupa, bahwa agama satu-satunya yang
>   benar adalah Islam (inna al-dina 'inda 'l-Lahi al-Islam)? Jadi di mana
>   letak soalnya? Saat orang Kristen datang ke kantor Muhammdiyah atau
>   PBNU untuk menghadiri acara keagamaan, tentu tidak dengan sendirinya
>   ia meninggalkan doktrin keselamatan tunggal lewat Yesus dan
>   mempercayai "keselamatan" lewat Islam. Dia datang sebagai bagian dari
>   etiket sosial.
>   
>   Kalau kemudian ia dapat hikmah dari kehadirannya di acara itu,
>   alhamdulillah. Begitu juga sebaliknya, kalau seorang Muslim datang ke
>   acara natalan, dan mendapatkan hikmah dari acara di sana, tentu sangat
>   baik. Bukankah tidak semua hal dalam Kristen salah dalam pandangan
>   Islam? Banyak sekali ajaran kebenaran dalam agama Kristen. Bukankah
>   "al-hikmah dhallat al-mu'min, ainama wajadaha akhadzaha"
>   (kebijaksanaan adalah barang hilang  milik seorang beriman; di manapun
>   ia menjumpainya, sudah selayaknya ia memungutnya) ? Jadi apatah yang
>   ditakutkan, wahai Adian?
>   
>   3.Mitos ketiga: Adian menyebut bahwa dalam PNB, seorang Muslim hanya
>   menghadiri upacara non-ritual. Menurut Adian, ini adalah mitos.
>   Seorang yang menghadiri natalan sekaligus menghadiri upacara ibadah
>   atau misa. Alasan yang dikemukakan Adian sungguh menarik sekali: bahwa
>   dalam Kristen tak ada beda yang tegas antara aspek ritual dan
>   non-ritual. Definisi ibadah dalam Kristen berbeda-beda dari satu sekte
>   ke sekte yang lain.
>   
>   Harap diketahui, Adian bukanlah pakar mengenai agama Kristen. Jadi,
>   apa yang ia katakan mengenai agama Kristen tak perlu didengarkan
>   dengan serius. Kalau kita ingin tahu mengenai agama Kristen dan
>   batas-batas antara aspek-aspek ritual dan non-ritual dalam acara
>   natalan, sebaiknya tanya langsung kepada pakar Kristen. Sementara itu,
>    kita ikuti saja cara berpikir anggota Komisi "Kerukunan" MUI ini.
>   
>   Adian mengutip pendapat Huston Smith, pakar mengenai perbandingan
>   agama, seperti berikut ini: "Christianity, is basically a historical
>   religion. It is founded not in abstract principles, but in concrete
>   events, actual historical happenings." Saya tak tahu, apa kaitan
>   antara kutipan ini dengan apa yang sedang ia bicarakan. Kutipan itu
>   menegaskan bahwa Kristen adalah agama yang bersifat historis, bukan
>   agama yang ditegakkan atas prinsip-prinsip abstrak. So? Apa kaitannya?
>   Saya tahu apa yang mau dituju oleh Adian: karena agama Kristen adalah
>   agama historis, maka dia akan menyesuaikan diri dengan perkembangan
>   sejarah; tak mengenal doktrin dan ritual yang tetap, selalu berubah.
>   Kalau benar ini yang dimaksud, saya ragu apakah benar semua hal dalam
>   Kristen berubah terus. Dalam setiap agama, selalu ada aspek yang
>   tetap, permanen, dan ada hal yang  bisa diubah. Agama yang baik adalah
>   yang bisa memainkan keseimbangan antara hal-hal yang permanen dan
>   berubah. Seberapa jauh agama mampu menyesuaikan diri dengan
>   perkembangan zaman, atau "aggiornamento" dalam istilah Katolik, sangat
>   menentukan nasib agama itu. Secara umum, makin agama mampu berubah dan
>   menyesuaikan diri, tanpa kehilangan jati diri tentunya, makin baik.
>   
>   Yang menarik adalah Adian mengutip dari Prof. Huston Smith, seorang
>   sarjana yang memiliki simpati luar biasa pada Islam, juga pada
>   agama-agama yang lain. Buku Smith, "The World's Religion" dipuji di
>   mana-mana sebagai salah satu buku yang membantu kita memahami dengan
>   simpatik agama-agama besar di dunia saat ini. Pendekatan Smith dalam
>   buku itu adalah mencoba mengembangkan simpati pada semua agama, sebab
>   pada intinya semua agama membawa "benih" yang sama, yakni jalan menuju
>   kepada yang transenden. Semangat seperti dikembangkan Smith  inilah
>   yang layak dihayati oleh orang-orang yang hendak memupuk kerukunan
>   antaragama.
>   
>   Betapa jauhnya semangat Prof. Smith ini dengan nada hampir sebagian
>   besar tulisan Adian yang apologetik, curiga pada agama lain, curiga
>   pada wacana pluralisme, dan tak nyaman dengan dialog antaragama.
>   
>   Yang menarik lagi adalah Adian mengutip tulisan Remi Silado yang
>   mengkritik ritual natalan. Menurut Remi, tradisi Natal merupakan
>   kelanjutan dari tradisi pagan dan istiadat kafir. Kita semua tahu,
>   walau dikenal dengan puisi-puisi mbeling dulu pada dekade 70an, tetapi
>   Remi tetaplah seorang Kristen yang taat. Dia kritis pada tradisi dalam
>   Kristen sendiri, tetapi tak kehilangan komitmen pada agama itu. Kritik
>   atas Natal yang diungkapkan oleh Remi ini sudah diketahui luas oleh
>   kalangan Kristen sendiri. Pihak Kristen tidak kalang kabut dengan
>   kritik seperti itu. Betapa bedanya semangat seperti ini dengan
>    semangat tulisan-tulisan Adian selama ini yang apologetik dan
defensif
>   saat ada orang-orang yang mengkritik tradisi tertentu dalam Islam.
>   Bisakah Adian bersikap seperti Remi Silado yang dikutipnya itu?
>   
>   4.Mitos terakhir: dalam perayaan natalan, menurut Adian, terselip misi
>   kristenisasi. Di sini terbuka kedok sesungguhnya yang dikenakan Adian.
>   Dia sama sekali bukanlah orang yang menghayati semangat dialog
>   ataragama dan tugas membangun kerukunan antaragama. Mindset Adian
>   adalah selalu mencurigai agama lain sebagai agama yang akan melakukan
>   ekspansi. Acara natalan dicurigainya sebagai alat untuk kristenisasi.
>   Sebagai bekas pengurus DDII tentu kita tak perlu kaget dengan watak
>   Adian seperti ini. Tetapi, sungguh amat kita sayangkan orang seperti
>   ini diserahi tugas membina kerukunan umat beragama di Indonesia.
>   Kerukunan seperti apakah yang akan lahir dari orang seperti ini?
>   
>   Mendakwahkan agama  adalah tugas mulia setiap agama. Umat Islam sudah
>   seharusnya mendakwahkan agamanya. Umat Kristen idem ditto. Begitu pula
>   umat agama-agama lain. Asal dakwah dijalankan dengan beradab dan fair,
>   tentu kita dukung. Dakwah yang menggunakan cara-cara yang curang,
>   tentu kita tentang. Membujuk orang Islam agar masuk Kristen dengan
>   diiming-imingi materi, misalnya, tentu kita tentang. Kalangan Krsiten
>   sendiri mencela cara-cara culas seperti itu.
>   
>   Tetapi ini semua tentu beda dengan sikap paranoid yang mencurigai
>   setiap kegiatan sosial umat Kristen sebagai alat kristenisasi.
>   Mencurigai acara natalan sebagai sebagai alat kristenisasi tak lain
>   adalah bentuk dari paranoia. Kenapa kita tak bisa menggunakan
>   pendekatan "positive thinking", bahwa acara natalan, lebaran,
>   mauludan, dan sebagainya, adalah sarana untuk memupuk kerukunan dan
>   solidaritas kebangsaan?
>   
>   Membina kerukunan antaragama membutuhkan positive  thinking, bukan
>   negative thinking seperti diperagakan oleh Wakil Ketua Komisi
>   Kerukunan MUI itu.
>   
>   Wa 'l-Lahu a'lam bi 'l-shawab.
>   
>  Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

--- End forwarded message ---


Kirim email ke