Seruan ditutupnya pintu ijtihad pada abad ke-4 Hijri adalah tragedi. Umat Islam terperosok dalam kejumudan berpikir yang parah. Di sisi lain, seruan dibukanya kembali ijtihad pada masa selanjutnya, terutama sekarang ini ternyata menimbulkan tragedi juga. Bukan terutama karena seruan itu, melainkan karena penjualan kata 'ijtihad' yang terlampau murah. Atas nama ijtihad, seolah orang bebas berpendapat apa saja, melakukan dekonstruksi jenis apa pun terhadap ajaran-ajaran agama.
Ijtihad itu ada syarat-syaratnya. Ijtihad dengan memenuhi syarat-syaratnya itulah yang telah memakmurkan cakrawala keilmuan Islam. Sayang, masa kini, yang celat membaca Alquran pun, yang bahasa Arabnya masih plegak-pleguk --seperti saya-- pun sok-sokan mau berijtihad. Padahal sejatinya, ijtihad memang selalu tertutup bagi para juhala, namun senantiasa terbuka bagi para ulama. Demikian tutur Qadhi al-Nabhani kira-kira. http://ibnushobirin.blogs.friendster.com/my_blog/sekilas_pikirku/index.html -- Wala' untuk Islam Amhar [Non-text portions of this message have been removed]

