14/01/2008 09:14 WIB
Kolma (Kolom Lima Alinea) 
Memburu Ilmu Soeharto
Oleh
Didik Supriyanto, diks - detikcom


Jakarta - Banyaknya pejabat yang menjenguk Soeharto
yang sakit di RSPP, sangat bisa dimengerti. Soeharto
pernah menjadi presiden selama 32 tahun sehingga
hampir semua pejabat saat ini adalah bekas anak
buahnya. Hubungan senior-yunior atau bapak-anak itu
mesti dijaga karena tanpa senior/bapak, yunior/anak
tak mungkin menjadi seperti sekarang. Inilah mungkin
kesempatan terakhir untuk bertemu dan memberi hormat. 

Dalam perspektif Jawa, menjenguk orang hebat yang
hendak menemui ajal, bukanlah sekadar memberi hormat.
Lebih dari itu, para penjenguk bisa berharap akan
kejatuhan ilmu yang dimiliki orang yang dijenguknya.
Sebab, bagi orang Jawa, tidak ada orang kuat, tidak
ada pemimpin hebat, tanpa ilmu yang kuat dan hebat
pula. Dan ilmu-ilmu itu akan lepas bersamaan dengan
lepasnya nyawa dari yang empunya.

Berbeda dengan konsep Barat, ilmu dalam khasanah Jawa
adalah sesuatu yang konkret. Jika di Barat ilmu
berarti kemampuan otak manusia dalam menampung dan
mengolah informasi dan pengetahuan; dalam tradisi
Jawa, ilmu adalah hasil dari laku prihatin, misalnya
lewat puasa dan bertapa, yang mewujud dalam bentuk
benda-benda, seperti cincin, ikat kepala, keris yang
memiliki bahkan merasuk dalam tubuh yang empunya.
Itulah kasekten. Sesuatu yang membuat orang menjadi
sakti, berilmu. 

Demikian juga dalam soal kekuasaan. Orang Barat
melihat kekuasaan adalah sesuatu yang abstrak:
kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam
mempengaruhi, menggerakkan atau memaksa orang lain.
Sementara menurut orang Jawa, kekuasaan adalah sesuatu
yang dijatuhkan dari atas kepada orang-orang tertentu.
Kekuasaan adalah wahyu, yang hanya diperoleh
orang-orang terpilih. Wahyu selalu manjing dalam raga,
juga diikuti oleh benda-benda sakti lainnya.

Nah, dalam konteks demikian, maka bisa dimengerti bila
Soeharto sakit dan kritis, maka para pejabat datang
berduyun. Ya, mereka hendak memberi penghormatan
terakhir, tapi dalam hatinya mungkin juga berharap
akan mendapatkan ilmu dan wahyu yang pernah dimiliki
Soeharto. Tak ada yang salah, sebab dalam tardisi Jawa
tindakan praktis itu juga kerap dilakukan para
pendahulu. Artinya, tanpa laku prihatin, tanpa puasa
dan pertapa, jika ilmu atau wakhyu itu mau jatuh ke
seseorang, ya jatuhlah. 

Oleh karena itu pula, siapapun sesungguhnya punya
peluang untuk kejatuhan ilmu dan wahyu yang sempat
dimiliki Soeharto. Makannya jangan heran, setiap
Soeharto sakit, pada radius 500 meter dari RSPP banyak
orang pintar berkumpul. Mereka datang dari pelosok
Jawa bahkan penjuru tanah air. Mereka berharap bisa
menangkap atau kejatuhan ilmu atau wahyunya Soeharto
yang hendak terbang dari raga. Mereka punya peluang
yang sama dengan para pajabat yang keluar masuk rumah
sakit. ( diks )

Sumber:
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/16/time/095549/idnews/879563/idkanal/10


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke