MUI: Pernyataan Ahmadiyah Cuma Retorika!                                  
                                                            Selasa, 15 Januari 
2008                       var sburl9643 = window.location.href; var 
sbtitle9643 = document.title;var sbtitle9643=encodeURIComponent("MUI: 
Pernyataan Ahmadiyah Cuma Retorika!"); var 
sburl9643=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6180";);
 sburl9643=sburl9643.replace(/amp;/g, 
"");sburl9643=encodeURIComponent(sburl9643);  Hati-hatilah, pernyataan 
Ahmadiyah hanyalah retorika!. Tidak perlu banyak-banyak, tulis saja Mirza 
Ghulam Ahmad itu bukan Nabi, tapi tak ada. Demikian ujar MUI! 
  
    Hidayatullah.com--Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai 12 butir pernyataan 
sikap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) cuma retorika belaka. Menurut Ketua 
Komisi Fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin, dari 12 pernyataan tersebut tidak ada yang 
poin tegas yang menyatakan Ahmadiyah telah berubah.
“Tidak perlu banyak-banyak. Tulis saja pernyataan bahwa Ahmadiyah menyakini 
bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu bukan nabi dan buka rasul. Itu saja.  Itu saja 
yang diperlukan,” kata Ma’ruf kepada www.hidayatullah.com  (15/1) siang tadi.
Dari ke 12 butir tersebut memang tidak ada pernyataan yang menyebutkan 
pengingkaran JAI terhadap pengakuan kenabian Mirza Gulam. Dua poin krusial yang 
ditulis JAI, adalah: poin ke 2, sejak semulam JAI meyakini bahwa Muhammad 
Rasulullah adalah Khataman Nabiyyin (nabi penutup).
Dan poin ke 3, Mirza Ghulam hanya disebut seorang guru, mursyid, pembawa berita 
gembira dan peringatan serta pengemban mubasyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat 
Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwan dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi 
Muhammad SAW. 
"Yang penting itu adalah pengakuan mereka bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukanlah 
seorang Nabi dan Rasul. Kalau sekadar pernyataan bahwa Mirza adalah guru dan 
lain-lain percuma saja. Pernyataan itu interpretable," kata Ma'ruf Amin di 
Jakarta. 
Pernyataan JAI bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi penutup, menurut Ma'ruf, 
belum bisa disebut sebagai pengakuan bahwa tidak ada lagi nabi setelah Nabi 
Muhammad, karena dalam keyakinan Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi 
pembawa non syariat sementara Muhammad adalah Nabi pembawa syariat.
Ma’ruf mengaku sudah melihat ke 12 pernyataan JAI yang dilansir di Kantor 
Balibang Depag pagi tadi. Ma’ruf mengatakan, MUI tidak akan mencabut fatwanya 
terhadap alirah Ahmadiyah.
Tapi dirinya juga menyayangkan keputusan Badan Koordinasi Pengawas Aliran 
Kepercayan Masyarakat (Bakor PAKEM) yang tidak melarang aliran Ahmadiyah di 
Indonesia. Dalam waktu dekat ini, MUI akan meminta PAKEM untuk meninjau ulang 
keputusannya tersebut. [surya/www.hidayatullah.com]
  

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke