Krisis di AS Mengancam Stabilitas Inflasi Indonesia
   
Satuan Keamanan PBB Diterjunkan
 -->  Selasa, 22 januari 2008 | 03:08 WIB   Ancaman krisis di Amerika Serikat 
tampaknya sudah di depan mata. Memang tak ada yang tahu akan separah apa krisis 
tersebut.
   
  Namun, banyak pihak memperkirakan bentuk gejolak yang bakal terjadi akan 
menjelma sebagai perlambatan pertumbuhan ekonomi negara superpower ini.
  Tanggal 10 Januari 2008, Gubernur The Federal Reserve Ben Bernanke sudah 
mengonfirmasikan kepada senat bahwa perlambatan ekonomi negara itu telah 
semakin mendekat.
   
  Bernanke menggambarkan perekonomian AS akan memburuk pada 2008 akibat gejolak 
di pasar perumahan, kenaikan harga minyak, dan melemahnya pasar saham.
  Para ekonom dari Goldman Sach mendefinisikannya sebagai tanda-tanda awal 
terjadinya resesi ekonomi di AS. Tinggal menunggu waktunya saja.
   
  Di dalam negeri, kalangan pemerintah sebenarnya sudah mulai sadar pada 
kondisi itu. Jauh- jauh hari, pada pertengahan November 2007, Menteri 
Koordinator Perekonomian Boediono kerap menjelaskan bakal adanya gejolak 
perekonomian di AS pada 2008.
  Namun, Boediono masih percaya tak akan ada resesi, hanya perlambatan 
pertumbuhan ekonomi. Perlambatan ekonomi bisa berarti banyak hal. Salah satu 
yang dipercaya akan terjadi adalah melemahnya daya beli penduduk Amerika.
   
  Apa dampaknya bagi Indonesia? Ekspor Indonesia akan terpengaruh, industri 
dalam negeri akan meradang, yang pada ujungnya akan meningkatkan angka 
pengangguran.
  Jika permintaan luar negeri berkurang, industri akan melakukan penyesuaian, 
antara lain mengurangi produksi. Jika produksi dikurangi, bisa jadi tenaga 
kerja pun akan dikurangi. Penganggur akan lebih banyak lagi, kemiskinan bisa 
melonjak. Artinya, jika AS sakit, Indonesia bisa langsung terkena getahnya.
   
  Coba tengok angka-angka ekspor nonmigas Indonesia ke AS selama ini yang 
tercatat di Badan Pusat Statistik dan diolah kembali oleh Departemen 
Perdagangan.
  Sekilas terlihat betapa produk Indonesia sangat bergantung pada pasar Amerika 
karena ekspor Indonesia ke negara itu menduduki peringkat kedua terbesar 
setelah Jepang.
  Ekspor nonmigas Indonesia ke AS meningkat dari 7,17 miliar dollar AS pada 
2002 menjadi 10,68 miliar dollar AS pada 2006 atau meningkat 11,74 persen.
   
  Selama Januari-Agustus 2007, ekspor ke AS sudah mencapai 7,48 miliar dollar 
AS atau meningkat 5,14 persen daripada periode yang sama tahun 2006.
  Itu artinya, peran ekspor ke AS terhadap total ekspor nonmigas Indonesia 
mencapai 12,45 persen, setingkat di bawah ekspor ke Jepang yang mencapai 15,36 
persen.
  Pemerintah menyarankan para eksportir agar secepatnya mencari pasar baru di 
luar AS. Arahkan ke pasar Asia, terutama negara-negara berkembangnya, yang 
diperkirakan perekonomiannya masih bisa tumbuh.
   
  Coba lihat inflasi
  Di lihat dari sisi harga barang, Indonesia pun belum aman dari potensi 
tekanan inflasi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito 
Abimanyu dalam sebuah tulisannya mengungkapkan, adanya beberapa risiko yang 
mungkin menyebabkan tekanan terhadap laju inflasi tahun 2008.
  Risiko itu, pertama, proses konsolidasi pasar finansial global terkait dampak 
krisis subprime mortgage masih belum dapat dipastikan mereda. Kedua, risiko 
terkait kenaikan harga minyak dunia.
   
  Ketiga, potensi peningkatan permintaan konsumsi minyak domestik di atas 
asumsi, terutama yang dipicu tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dengan 
BBM nonsubsidi maupun harga BBM di negara tetangga.
   
  Keempat, kemampuan produksi minyak domestik yang tidak sesuai target. Kelima, 
persepsi pelaku ekonomi terhadap prospek kesinambungan fiskal dan prospek 
perekonomian secara keseluruhan terkait dampak kenaikan harga minyak dunia.
  Kelima risiko itu merupakan ancaman yang bisa membebani pencapaian target 
inflasi pada 2008 yang ditetapkan 5 persen dengan deviasi 1 persen. Namun, itu 
ada obat pencegahnya.
  Obat pencegah laju inflasi itu pada dasarnya ada lima. Pertama, kemampuan 
dalam menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap). Kedua, menjaga 
kestabilan nilai tukar rupiah. Ketiga, menjaga agar ekspektasi inflasi berada 
pada level yang rendah. Keempat, meminimalisasikan dampak administered price. 
Kelima, menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi volatile food.
   
  Obat ini hanya bisa diterapkan jika pemerintah dan Bank Indonesia benar-benar 
satu kata dan bekerja sama menekan laju inflasi.
   
  Ingat, beberapa saat setelah Forum Pengendali Inflasi yang dikomandani Menko 
Perekonomian dibentuk 3 Januari 2008 (termasuk menetapkan target inflasi tahun 
ini 5 plus minus satu), BI malah melihat ada kemungkinan inflasi melonjak di 
atas 6 persen pada akhir 2008.
   
  Inflasi harus menjadi perhatian utama karena merupakan potret yang terjadi di 
tengah masyarakat. Semakin tinggi laju inflasi, maka semakin rendah 
kesejahteraan masyarakat karena nilai setiap sen uang yang dipegang orang terus 
menurun.
  Daya beli melorot. Jadi, jika ekonomi dunia meradang, orang miskin Indonesia 
pun bisa jadi semakin miskin. (Orin Basuki)



"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
  pustaka tani
  kampusku
  nuraulia

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke