Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dewasa ini banyak sekali para calon pemimpin daerah yang memiliki ambisi untuk memiliki jabatan didaerahnya. Namun dari sebagian Pilkada yang ada yang membuat miris hati ini adalah kasus dua pilkada terakhir bisa menjadi contoh bahasan. Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan dan Maluku Utara. Di Sulawesi Selatan, walaupun sempat ribut dan meresahkan, akhirnya pihak-pihak yang bertikai mengakui kemenangan dan kekalahan.
Di Maluku Utara tidak demikian. Pertikaian antara dua pasangan yang sama-sama merasa menang berlanjut sampai sekarang. Bahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat harus mengambil alih kewenangan penetapan pemenang, setelah proses itu di daerah selalu buntu. Mereka berkelahi tidak henti-hentinya. Perkelahian berlanjut di Jakarta sehingga KPU harus menunda penetapan pemenang satu minggu kemudian. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan panggung pilkada kita? Apakah telah terjadi krisis kelembagaan? Ternyata tidak. Lembaga-lembaga yang mendukung transparansi, *check and balance,* bebas, dan rahasia telah ada. Panwas, saksi, pemantau independen, KPUD yang tidak menjadi subordinat pemerintah, undang-undang, pengadilan sengketa pemilu, semuanya ada dan berperan. Bahkan pilkada di Indonesia melangkah lebih demokratis dengan memasukkan survei lembaga independen serta penghitungan cepat sebagai bagian dari kelengkapan demokrasi yang organik. Kalau demikian adanya, apa yang kurang dari sistem telah baik ini, sehingga pilkada menjadi panggung yang meresahkan dan menakutkan? Jawabnya, yang kurang, bahkan sangat kurang, adalah *trust* atau kepercayaan. *Trust* pada lembaga maupun proses yang berlangsung. Kemudian juga sang Calon Pejabat yang tidak mau kalah atau mengalah dalam menyikapi perhitungan suara apalagi hingga membuat partisipannya berbuat anarkis. Padahal Allah berfirman: Allah Ta'ala berfirman : "Negeri akhirat itu, Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." *(Al-Qashash : 83)* Dan Rasulullah bersabda: Dari Abu Sa'id Abdurrahman bin Samurah Radhiallahu'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda : "Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kamu diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Apabila kamu bersumpah terhadap suatu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan lain yang lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu dan tebuslah sumpahmu." *(HR. Bukhari dan Muslim)* Pesan Rasulullah Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya kalian berambisi memegang suatu jabatan, tetapi pada hari kiamat jabatan itu menjadi penyesalan." *(HR. Bukhari)* Abud Dzar adalah seorang Sahabat Rasulullah yang dipandang lemah oleh beliau sholallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana sabdanya Dari Abu Dzar Radhiallahu'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda : "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihatmu seorang yang lemah, dan aku mencintai kamu sebagaimana aku mencintai diriku. Janganlah kamu menjadi pejabat, walau terhadap dua orang, dan janganlah kamu mengelola harta anak yatim.". *(HR. Muslim)* Dari Abu Dzar Radhiallahu'anhu, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah : "Mengapa beliau tidak memberi jabatan kepada saya ?" Maka beliau menepuk bahu saya, kemudian bersabda : "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu seorang yang lemah, sedangkan jabatan adalah suatu kepercayaan, yang pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan. Kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan hak dan menunaikan kewajiban sebaik-baiknya." *(HR. Muslim)* Kecintaan Rasulullah kepada Abu Dzar sangatlah mendasar karena khawatirnya Rasulullah yang mungkin akan terjadi fitnah kepadanya jika Abu Dzar menjadi seorang pejabat. Dalam hadist diatas ada pengecualian dari sabda Rasulullah *"Kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan hak dan menunaikan kewajiban sebaik-baiknya.""* Sekarang pertanyaannya bisakah pejabat kita seperti yang dicirikan oleh Rasulullah tersebut diatas? Hadist-hadist tersebut diambil dari Kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam An Nawawi pada bab ke-81 -- Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, A Dani Permana http://adanipermana.000webhost.info [Non-text portions of this message have been removed]

