Selasa, 22 Januari 2008
Tiap tahun, ratusan santri di pesantren diboyong ke luar negeri. Dengan
dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke pesantren terus gencar.
[bagian kedua]
Lanjutan artikel sebelumnya
Hidayatullah.com--Proyek besar penyebaran liberal ke pesantren disinyalir
didanai oleh LSM asing yang cabangnya berada di Indonesia, yaitu The Asia
Foundation (TAF). Lembaga donor yang disponsori Barat ini telah beroperasi di
Indonesia sejak tahun 1955. Beberapa ormas dan lembaga Islam menjadi mitra
utama mereka.
Dalam situs resminya www.asiafoundation.org lembaga yang menjadi
perpanjangan tangan para saudagar Yahudi ini banyak membantu LSM Indonesia yang
giat menyosialisasikan sekularisme, pluralisme dan liberalisme (baca; SePiLis).
Sebut saja, misalnya, Jaringan Islam Liberal (JIL), P3M, International Center
for Islam and Pluralism (ICIP), Wahid Insitute, Maarif Institue, MADIA, dan
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
Laporan tahunan TAF 2006 menyebutkan, sejak tahun 2000 mereka telah
membuat kurikulum kewarganegaraan yang mendukung nilai-nilai demokrasi,
mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu-isu demokrasi, HAM, dan pluralisme
agama. Untuk mewujudkan ini mereka menggandeng CCE Indonesia (pusat pendidikan
kewarganegaraan).
Kurikulum itu kini telah menjadi materi wajib di seluruh UIN dan IAIN di
seantero Indonesia. Bahkan, mereka tengah berupaya mengembangkan kurikulum
serupa untuk diterapkan di universitas Islam swasta.
Para mitra TAF telah memberikan pelatihan kurikulum baru ini kepada 90
dosen kewarganegaraan dari 66 universitas Islam swasta pada tahun 2006. Para
dosen tadi sudah mulai mengajarkan kurikulum tersebut kepada sekitar 20.000
mahasiswa mereka.
Pasca 11/9
Proyek liberalisasi pendidikan Islam semakin deras arusnya setelah
peristiwa 11 September. Workshop-workshop bertema liberal banyak digelar atas
dukungan TAF dan ICIP.
Berapa dollar AS yang digelontorkan kedua organisasi ini untuk proyek
liberalisasi Indonesia? Robin Bush, Deputy Country Representative TAF untuk
Indonesia, saat ditanya Suara Hidayatullah tentang itu tidak bersedia
menjawabnya. Begitu juga Elfiqa D Siregar, salah satu staf ICIP, saat ditemui
di kantornya di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, juga tidak menyebutkan
jumlah pasti. Ia cuma menyebut salah satu nama lembaga pemasok dana, Ford
Foundation.
Namun, Robin menolak anggapan bahwa lembaganya disebut membawa misi
liberalisasi. Kami di TAF sama sekali tidak punya program liberalisasi,
ujarnya saat ditemui di kantor TAF, jl Adityawarman no 40, Jakarta Selatan.
Kami bekerja sama dengan pesantren karena tahu lembaga pendidikan ini
erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Ini sesuai dengan apa yang
menjadi benang merah dari semua misi TAF, yaitu good governence, serta
meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia, terangnya lagi.
Menurut Bush, TAF tidak pernah menawarkan sesuatu kepada pesantren atau
lembaga-lembaga Islam. Semua program yang dijalankan TAF adalah inisiatif
mitra kami. Mereka datang ke kami dengan ide, bukan kami datang ke mereka
dengan ide, kata bule yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.
Hal senada juga disampaikan Elfiqa. Saya pribadi melihat tuduhan itu
nggak benar. Saya turun langsung ke lapangan, saya lihat tidak ada. Tidak ada
doktrin-doktrin itu, jelasnya.
Apa pun perkataan mereka, faktanya, TAF dan ICIP telah banyak
menggelontorkan program liberalisasi. Bahkan, kalau melihat visi dan misinya,
jelas tujuan ICIP adalah mempromosikan pluralisme. Apalagi jika melihat daftar
orang-orang yang duduk di jajaran dewan direktur. Di sana ada Moeslim
Abdurrahman, Musdah Mulia, dan Ulil Abshar Abdalla. Siapa mereka? Pembaca pasti
sudah tahu. [diambil dari majalah Suara Hidayatullah, edisi Januari
2008/www.hidayatullah.com]
___________________________
BOX:
Diajak Dansa, Jilbab Dibuka
Hidayatullah.com--Saat mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika
Serikat, David Adam Al Rasyid merasakan betapa bebas pergaulan di sana. Saking
bebasnya, ada peserta dari negara lain yang tak tahan.
Peserta dari Saudi dan Jerman pulang sebelum program selesai, ujar
santri Pondok Pesantren As-Salam, Surakarta, itu.
Bagaimana dengan pelajar dari Indonesia? Banyak juga teman-teman yang
ikutan dugem, jawab David. Dugem adalah singkatan dari dunia gemerlap, yaitu
kehidupan malam di diskotik dan cafe. David sendiri mengaku tak pernah
ikut-ikutan.
Ironisnya, ada salah satu peserta Muslimah yang rela melepas jilbab saat
diajak berdansa. Supaya tidak malu, ia lepas jilbabnya. Tapi, dia dari SMU
luar (bukan pesantren), kenangnya. Nau'zubillah minzalik! [diambil dari
Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2008/www.hidayatullah.com]
[Non-text portions of this message have been removed]
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/