"Orang Pintar"<http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/02/03/orang-pintar/>
*Oleh: Buletin Jum'at Al-Atsariyyah*

Manusia zaman modern memang aneh, teknologi semakin maju, namun kepercayaan
terkadang terbelakang. Mereka masih mempercayai para dukun untuk menentukan
nasibnya. Tak terbatas pada orang awam dan primitif saja, namun juga artis
pengusaha, pejabat, bahkan orang akademik yang setiap hari melahap ilmu
pengetahuan pun ikut-ikutan. Padahal si dukun sendiri kehidupannya
biasa-biasa saja. Anehnya si dukun sering disebut "*Orang Pintar*". Dia
memang orang pintar, tapi pintar *membohongi orang*. Inilah yang
diistilahkan dengan "*Pintar-pintar Bodoh*"

Dalam keseharian, banyak para gadis yang ingin mendapatkan jodoh datang
meminta petuah dukun yang kebetulan "buka praktek". Banyak pula yang justru
ditipu oleh dukun, ada yang direnggut kegadisannya; harta bendanya diperas,
bahkan ada yang dibunuh dengan dalih menyempurnakan ilmu sang dukun. Orang
sakit parah, orang yang ingin cepat naik pangkat, cepat kaya, ingin
mencelakakan orang atau ingin selamat dari gangguan orang lain, eh juga
datang ke *orang pintar* ini. Seolah-olah orang yang disebut "*orang pintar*"
alias dukun itu adalah orang yang serba bisa dan serba mampu mengatasi
segala persoalan.

Seorang muslim *dilarang keras* untuk mendatangi para normal alias dukun
sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah -*Shollallahu 'alaihi wasallam*
-,

*"Barang siapa yang mendatangi peramal, kemudian menanyakan kepadanya
tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama emapat puluh
hari."* [HR. Muslim (2230)

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -*rahimahullah*- berkata, "Adapun arrof
(peramal), sungguh telah lewat penjelasannya, dan bahwa ia adalah termasuk
golongan para dukun". [Lihat *Al- Minhaj Syarh Shohih Muslim* (14/227)]

Bahkan Rasulullah -*Shollallahu 'alaihi wasallam*- bersabda,

*"Barang siapa yang mendatangi dukun atau arraf (peramal) lalu membenarkan
apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada
Muhammad."* [HR. Ahmad dalam *Musnad*-nya (2/429/no.9532), Al-Hakim dalam *
Al-Mustadrok* (1/8/no.15), *Al Baihaqi* (7/198/no.16274), dan di-*shahih*-kan
oleh Syaikh Al Albaniy dalam *Shohih At-Targhib* (3047)

Maksudnya, ia telah mengingkari ayat yang diturunkan kepada Muhammad
-*Shollallahu
'alaihi wasallam*- berikut ini,

"*Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka
akan dibangkitkan."* (QS. *An-Naml*: 65) [Lihat *Al-Qaul Al- Mufid* (hal.33),
cet. Darul Aqidah].

Hadits ini menunjukkan kafirnya orang yang membenarkan para dukun dan
peramal, jika ia meyakini bahwa dukun atau peramal mengetahui perkara ghaib.
Adapun hadits yang sebelumnya, menunjukkan tidak kafirnya orang yang
membenarkan dukun atau peramal, jika ia tidak meyakini demikian, tapi ia
meyakini bahwa itu adalah berita dari jin yang dicuri dengar dari malaikat.
Perlu diketahui bahwa sekalipun ia tak kafir, namun membenarkan dukun adalah
dosa besar yang menyebabkan pahala sholat tertolak !!

Abdur Ra'uf Al-Munawiy -*rahimahullah*- berkata, "Hadits ini dengan hadits
yang sebelumnya tak ada kontradiksi, karena maksudnya, orang yang
membenarkan dukun jika ia meyakini bahwa si dukun mengetahui perkara ghaib,
maka ia kafir; jika ia meyakini bahwa jin membisikkan kepada si dukun
sesuatu yang ia curi dengar dari malaikat, dan bahwa hal itu melalui wangsit
(dari jin), lalu ia (orang yang datang ke dukun) membenarkan dukun dari cara
seperti ini, maka ia tak kafir." [Lihat *Faidhul Qodir* (6/23/no.10883)]

Sebagian besar masyarakat kita yang tidak berpegang teguh kepada aqidah
islam yang benar, selalu menjadikan "orang pintar" alias para normal dan
dukun sebagai tempat bertanya, mengadu, tempat mencurahkan segala keluh
kesah, dan tempat bersandar. Fenomena ini nampak jelas, saat pemilu,
pertandingan sepak bola, pembangunan rumah dan gedung bertingkat, saat
turunnya bala', pernikahan, kehamilan, baca-baca (kenduren) dan sebagainya.
Bahkan ketika Orde Baru digulirkan dan reformasi ditegakkan, para dukun atau
para normal naik daun. Muncullah sejumlah ramalan tentang masa depan bangsa
dan negara dikemukakan. Media masa dan televisi pun menjadikan mereka
sebagai pengamat politik dan ekonomi. Mereka lebih mempercayai ucapannya
para dukun dari pada ucapan Allah dan Rasul-Nya. Padahal tidak ada satu pun
ucapan yang dilontarkan oleh sang dukun, kecuali ia campurkan dengan seratus
kebohongan. Masih segar dalam benak kita peristiwa meluapnya lumpur panas
dan ganas *Lapindo* sehingga memaksa masyarakat berkerut dahi sampai mereka
melibatkan dukun dan para normal yang tidak mendatangkan hasil. Ini adalah
musibah dan kejahilan !! La haula walaa *quwwata illa billah*.

Para dukun dan para normal tidaklah mengabarkan perkara *ghaib*, kecuali ia
akan berdusta. Jika ia benar -tapi ini jarang-, maka mungkin itu hanya
kebetulan atau mendapatkan wangsit dari jin yang dicuri dari para malaikat.

A'isyah -*radhiyallahu 'anhu*- berkata,

"Orang-orang bertanya kepada Rasulullah -*Shollallahu 'alaihi wasallam*-
tentang dukun (para normal). Beliau bersabda, *"Mereka tidak ada
apa-apanya."* Para sahabat bertanya,"Wahai Rasulullah, mereka terkadang
mengucapkan sesuatu yang kemudian betul-betul terjadi? Beliau -*Shollallahu
'alaihi wasallam*- menjawab, *"Itu adalah kata-kata yang benar, dicuri oleh
jin (dari langit), lalu dibisikkan kepada wali-walinya (para dukun), lalu
para dukun itu memcampurkannya dengan seratus kebohongan."* [HR. Al Bukhariy
dalam *Shohih*-nya (5762), Muslim (2228)].

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy -*rahimahullah*- berkata, "Para dukun
itu sebagaimana yang diketahui berdasarkan fakta eksperimen adalah kaum yang
memiliki perasaan yang peka, hati yang buruk, dan tabiat yang panas. Mereka
selalu meminta bantuan kepada jin dalam segala urusannya, dan bertanya
kepada jin tentang kejadian-kejadian. Lalu jin pun membisikkan
wangsit-wangsit kepada si dukun." [Lihat *Fath Al-Bari* (10/219), cet. Darul
Ma'rifah]

Trik-trik kalimat yang sering mereka gunakan seperti: *"inikan hanya
ikhtiar, yang menentukan kan Tuhan."* Trik-trik itu sangat "jitu" dan sangat
"efektif" untuk menipu orang-orang awam muslim yang jahil (bodoh). Cukuplah
bukti-bukti yang terjadi di sekitar kita menjadi pelajaran yang
berharga. *Berapa
banyak wanita-wanita yang dicabuli*, berapa banyak orang yang dikuras
hartanya, berapa banyak orang yang sakit, justru bertambah parah setelah
mendatangi dukun tersebut?

Dengan fakta seperti ini, masihkah kita mau mendatangi dan mempercayai para
dukun? Padahal kebutuhan dirinya sendiri saja tidak dapat dia penuhi,
apalagi kebutuhan orang lain. *Andaikata mereka (para dukun itu) mengetahui
hal-hal yang ghaib, niscaya mereka akan mengambil harta yang tersimpan di
dalam perut bumi ini, sehingga mereka tidak lagi menjadi orang fakir yang
kerjanya meminta-minta dan mengelabui orang lain, karena hanya sekedar
mencari sesuap nasi dengan cara yang batil*.

Namun kini paradukun sudah ganti wajah. Mereka tidak mau lagi disebut "*
dukun*". Padahal mereka tetap melakukan perdukunan, namun bersembunyi di
balik sorban atau jubah mereka. Maka bertebaranlah dukun-dukun yang berkedok
sebagai "kiyai" atau "*ustadz*", dan "orang pintar" sehingga muncullah
istilah "*dukun islami*". Sungguh mereka adalah racun di dalam Islam. Mereka
mengelabui kaum muslimin dengan lahiriah mereka, sehingga masyarakat
menyangka hal itu termasuk bagian dari *syariat islam*. Padahal Islam sangat
jauh dari hal tersebut.

Bagaimana mungkin kita mempercayai orang-orang seperti ini; dia mengaku
mengetahui perkara *ghaib* dan mampu menolak bala, padahal orang yang paling
mulia di muka bumi ini, sekaligus Rasul yang paling mulia tidak mengetahui
perkara tersebut. Apakah mereka (para dukun) lebih baik daripada Rasulullah
-*Shollallahu 'alaihi wasallam*-? Allah -*Ta'ala*- memerintahkan Rasul-Nya
untuk menyatakan kepada ummatnya,

*"Katakanlah, "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak
(pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya
aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya
dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi
peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman."* (QS.
*Al A'raf*: 188)

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -*rahimahullah*-
berkata, "Allah -*Ta'ala*- memerintahkan Nabi -*Shallallahu 'alaihi wa
sallam*- untuk mengembalikan segala urusan kepada-Nya, dan mengabarkan
tentang dirinya bahwa ia (Nabi -*Shallallahu 'alaihi wa sallam*-) tidaklah
mengetahui perkara ghaib di masa akan datang. Nabi -*Shallallahu 'alaihi wa
sallam*- tidaklah mengetahui sedikitpun diantara hal ghaib itu, selain
perkara yang Allah singkapkan baginya." [Lihat *Tafsir Al-Qur'an
Al-Azhim*(2/363)]

Allah -*Ta'ala*- telah menyatakan bahwa tidak semua para rasul Allah
perlihatkan kepadanya perkara ghaib, tapi Allah memilih sebagian rasul-rasul
yang diridhoi-Nya saja. Allah -*Tabaraka wa Ta'ala*- berfirman,

*"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada
Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya."* (QS. *Al Jin*: 26-27)

Jadi para dukun yang mengaku mengetahui perkara ghaib telah bersikap lancang
terhadap Allah Yang Maha Mengetahui Perkara Ghaib. Hanyalah Allah yang
mengetahui perkara ghaib. Tak ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib,
baik ia malaikat ataupun nabi, apalagi selain keduanya. Kalaupun ada nabi
atau malaikat yang tahu perkara ghaib, maka itu hanyalah setitik diantara
perkara ghaib yang Allah wahyukan kepada mereka. Jadi, pada asalnya mereka
tak tahu perkara ghaib!! Nah, tentunya paranormal dan dukun lebih tidak
mungkin lagi mengetahui perkara ghaib. *Fa'tabiruu ya ulil albab…*

Kami menasihatkan kepada kaum muslimin agar jangan mau tertipu oleh para
dukun. Tuntutlah ilmu syar'i dan kokohkanlah aqidah kalian, karena sebab
utama tersesatnya seseorang dan tertipunya dengan para dukun, karena tauhid
kita kepada Allah -*Ta'ala*- masih belum benar, belum mantap atau *belum ada
sama sekali!!*

Ingatlah! Allah -*Azza wa Jalla*- telah memperingatkan kita dalam ayat-ayat
di atas dan hadits-hadits nabi -*Shollallahu 'alaihi wasallam*- agar kita
jangan mendatangi dukun.

Namun jika kita tetap melanggarnya maka bacalah firman Allah -T*a'ala*-,

*"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang
mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.. Dan
barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta".. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau
menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang
yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, Telah datang kepadamu
ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini
kamupun dilupakan."* (QS. *Thohaa*: 123-126).

Demikianlah tulisan ini kami tulis sebagai bentuk kepedulian kami terhadap
ummat Islam di Indonesia Raya, karena melihat maraknya perdukunan, ramalan,
dan paranormal dekade terakhir ini. Mudah-mudahan risalah ini bisa
menyadarkan ummat.

Sumber: Buletin Jum'at Al-Atsariyyah edisi 39 Tahun I. Penerbit: Pustaka
Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te'ne No. 58, Kel.
Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP: 08124173512 (a/n Ust. Abu
Fa'izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab: Ust. Abu Fa'izah Abdul Qadir Al
Atsary, Lc. Dewan Redaksi: Santri Ma'had Tanwirus Sunnah - Gowa.
Editor/Pengasuh: Ust. Abu Fa'izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout: Abu
Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi: Ilham Al-Atsary
(085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber: http://www.almakassari.com/?p=187


[Non-text portions of this message have been removed]



===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke