Dunia Menyongsong Resesi Global
  Kamis, 24 januari 2008 | 03:44 WIB 
  Sri Hartati Samhadi
  Meski tidak sedigdaya dan seadidaya dulu, Amerika Serikat yang menyumbang 
sekitar 30 persen dari produk domestik bruto dunia harus diakui masih merupakan 
perekonomian terbesar. AS sekaligus juga pusat keuangan dunia. Dengan demikian, 
analogi ”AS bersin, seluruh dunia ikut demam” masih berlaku. Kekhawatiran akan 
terjadinya resesi pada perekonomian terbesar itu kembali mengguncang seluruh 
pasar saham global pekan ini.
  Sejak menyeruaknya kasus kredit macet perumahan (subprime mortgage) di AS, 
Agustus 2007, kekhawatiran akan terjadinya resesi di AS—yang berisiko menyeret 
seluruh perekonomian dunia dan kemungkinan dibarengi dengan kejatuhan dollar 
AS—memicu gejolak liar pasar uang seperti roller coaster di berbagai belahan 
dunia. Beberapa indeks saham mengalami pemangkasan dan terpuruk ke titik 
terendah dalam sejarah.
   
  Para pakar menggambarkan krisis yang sekarang ini sebagai yang ”terburuk 
sejak krisis finansial Asia 1997”, ”lebih buruk dari krisis LTCM” (Long Term 
Capital Management, raksasa hedge fund AS yang kolaps September 1998), bahkan 
”terburuk sejak Perang Dunia II”.
   
  Sejauh ini belum ada konsensus di kalangan pakar mengenai seberapa besar 
probabilitas untuk terjadinya resesi. Namun, dengan dampak krisis subprime yang 
semakin melebar ke mana-mana dan adanya data terbaru yang semakin memperkuat 
indikasi terpuruknya ekonomi AS, pertanyaan yang muncul kini bukan lagi apakah 
AS akan mengalami soft landing (perlambatan ekonomi) atau hard landing 
(perlambatan ekonomi secara mendadak sehingga mengakibatkan guncangan).
   
  Namun, seberapa keras hard landing akan terjadi dan seberapa dalam serta 
berapa lama resesi akan berlangsung. Per definisi, resesi adalah penurunan 
pertumbuhan PDB selama dua kuartal berturut-turut. Indikator lainnya adalah 
pendapatan riil masyarakat, lapangan kerja, tingkat produksi industri, 
perdagangan skala besar, dan penjualan eceran. Dari definisi ini, beberapa 
pakar mengatakan, resesi sebenarnya sudah terjadi.
   
  Berbeda dengan soft landing, IMF yakin tidak akan ada decoupling jika yang 
terjadi adalah hard landing. Artinya, semua negara akan merasakan imbasnya 
kendati dalam skala berbeda.
   
  Krisis utang
  Beberapa analis mengidentikkan krisis subprime di AS ini dengan krisis utang. 
Bedanya, kali ini dialami oleh negara maju dan perekonomian terbesar pula. 
Selain perekonomian terbesar, AS juga negara pengutang terbesar. Dengan total 
utang 43 triliun dollar AS, setiap warga negara memikul beban utang 145.000 
dollar AS dan setiap pekerja yang bekerja penuh menanggung 350.000 dollar AS. 
Ini belum termasuk utang pribadi, seperti utang kartu kredit.
   
  Selama ini Pemerintah AS membiayai utang tersebut dengan memelihara defisit 
perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan yang angkanya terus 
membengkak. Tak berlebihan mengatakan, menggelembungnya ekonomi AS banyak 
ditopang oleh utang dan konsumtivisme masyarakatnya.
   
  Perekonomian AS bergerak dari bubble (gelembung satu) ke bubble (gelembung 
lainnya), dan setiap kali bubble itu semakin besar. Jadi, ibarat bom waktu, 
hanya menunggu meledak.
   
  Bagi AS sendiri, ini resesi kedua dalam tujuh tahun terakhir atau selama 
pemerintahan George W Bush. Banyak yang menuding kebijakan penurunan suku bunga 
secara agresif oleh Fed sebagai pemicu terciptanya bubble di sektor perumahan 
dan kredit yang meledak sekarang ini. Namun, beberapa analis lain, seperti 
ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, menuding kapitalisme pasar bebas ala wild 
west di AS sebagai biang kerok.
   
  Mereka melihat, tiga resesi terakhir (tahun 1990, 2001, dan sekarang ini) tak 
bisa dilepaskan dari tidak adanya regulasi dan pengawasan pemerintah terhadap 
lembaga finansial. Salah satu contohnya adalah maraknya praktik pemberian 
kredit yang ugal-ugalan, melanggar aturan kehati-hatian, dan penuh jebakan bagi 
konsumen (abusive, fraud and predatory lending) yang kemudian macet, seperti 
terjadi dalam kasus subprime mortgage. Sementara intervensi preventif Fed dan 
pemerintah hampir tidak ada.
   
  Sejauh mana paket stimulus fiskal senilai sekitar 145 miliar dollar AS 
(setara sekitar 1 persen dari PDB AS) yang disiapkan Bush akan mampu membendung 
resesi? Pasar menanggapi dingin karena kalaupun mulus dalam pembahasan di 
Kongres, dampak paket diperkirakan marjinal. Pengalaman sebelumnya, ada time 
lag 1-2 tahun sebelum efek terlihat di lapangan.
   
  Banyak yang meyakini resesi kali ini akan lebih dalam dan lebih lama dari 
krisis sebelumnya karena magnitude yang sedemikian luas menyeret sistem 
perbankan dan lembaga keuangan dalam spiral kebangkrutan yang tak tahu kapan 
berhenti.
  Perkembangan terakhir, krisis subprime sudah merembet ke segmen pasar 
mortgage dan kredit konsumen lain, bahkan ke segmen kredit dengan kualitas 
lebih baik.
   
  Dampak ke Indonesia
  Resesi global, menurut PBB, akan sangat memukul negara-negara miskin, 
memperlambat pertumbuhan perdagangan dunia, dan ada kemungkinan mengakhiri 
booming harga komoditas yang sedang berlangsung. Bank Dunia dan Bank 
Pembangunan Asia memperkirakan emerging market Asia, termasuk Indonesia, 
relatif tak akan terlalu terpukul oleh resesi AS, meski juga tak sepenuhnya 
terbebas dari dampaknya.
   
  Keyakinan ini didasari pada kokohnya fundamental makroekonomi, solidnya 
posisi neraca eksternal (neraca transaksi berjalan/neraca perdagangan), 
kebijakan prudensial di sektor perbankan dan keuangan, serta relatif sudah 
berkurangnya ketergantungan pada pasar AS.
  Singkatnya, Asia sekarang ini bukan Asia sebelum krisis 1997/1998. Survei 
Nielsen Company juga menunjukkan masih sangat kuatnya optimisme konsumen Asia 
bahwa resesi tidak akan terjadi. Kendati demikian, ADB dan Bank Dunia 
mengingatkan, resesi dan gejolak pasar uang global masih berpotensi memunculkan 
guncangan dan turbulensi di pasar regional.
   
  Ada beberapa saluran transmisi dampak resesi ekonomi AS ke perekonomian dalam 
negeri. Pertama, lewat perdagangan. Meski ketergantungan terhadap AS sudah tak 
sebesar dulu, AS sekarang ini masih pasar utama ekspor Asia, termasuk 
Indonesia. Sekitar 60 persen ekspor emerging economies Asia tertuju pada AS, 
negara-negara di zona euro Eropa dan Jepang (G3) yang seluruhnya terkena imbas 
resesi AS. Untuk Indonesia, sumbangan pasar AS terhadap ekspor 13-14 persen. 
Bappenas memperkirakan resesi AS akan mengurangi ekspor Indonesia ke AS 2 
miliar dollar AS tahun ini.
   
  Turunnya permintaan negara maju juga akan membawa konsekuensi lain, yakni 
meningkatnya sentimen proteksionisme di AS dan semakin membanjirnya produk 
murah China di pasar Indonesia. Ini pukulan baru bagi industri manufaktur kita.
  Kedua, lewat pasar uang. Meningkatnya persepsi risiko investasi di emerging 
markets bisa memicu perubahan mendadak sentimen pasar dan penarikan modal oleh 
investor. Apalagi dengan sudah adanya indikasi asset bubble, ditandai oleh 
naiknya harga saham dan properti di atas kewajaran.
   
  Jadi, ada risiko terjadinya koreksi tajam yang mengakibatkan guncangan di 
pasar uang atau perekonomian. Arus modal jangka pendek sekarang ini menyumbang 
sekitar 60 persen dari total arus modal masuk ke Asia. Kemungkinan pembalikan 
mendadak arus modal secara besar-besaran, ditambah melemahnya dollar AS seiring 
resesi AS, akan semakin menekan rupiah.
   
  Resesi global menambah ketidakpastian baru bagi perekonomian Indonesia yang 
tengah dihadapkan pada banyak tekanan, seperti lonjakan harga minyak mentah dan 
kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang kian menekan daya beli/ konsumsi 
masyarakat. Target pertumbuhan 6,8 persen terancam tidak tercapai sebagaimana 
target pertumbuhan tiga tahun pertama. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan 
penciptaan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
   
  Dari sisi kebijakan moneter, tampaknya tidak ada lagi ruang manuver untuk 
menurunkan suku bunga guna mendorong perekonomian di tengah meningkatnya 
tekanan inflasi dan kecenderungan naik atau stabilnya suku bunga global. Oleh 
karena itu, kita hanya bisa berharap pada instrumen fiskal (APBN) yang kini 
sudah menanggung beban berat berbagai subsidi untuk menggerakkan ekonomi.
   
  Harus ada terobosan di tengah lautan ketidakpastian yang mengungkung kita 
sekarang ini. Istilahnya, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Sense of 
crisis, ketegasan, dan skala prioritas menjadi kunci penting di sini.
  
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.24.03440843&channel=2&mn=2&idx=2
   


"Manusia  yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW).
  pustaka tani
  kampusku
  nuraulia

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke