--- In [EMAIL PROTECTED], "qurrata ayuni" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Petaka Liberalisme Bagian mana dari liberalisme yang baik untuk umat manusia? Pertama, liberalisme ekonomi telah membuat negara-negara berkembang di dunia mengalami kemiskinan dan kehilangan kedaulatan. Kedua, liberalisme budaya pada masyarakat telah menghilangkan identitas masyarakat dan membuat punah kebudayaan maupun tradisi banyak bangsa. Ketiga, liberalisme hukum juga membuat siapapun yang kuat menjadi berhak untuk membuat mengatur kehidupan semua orang. Inilah petaka liberalisme yang sudah sekiranya sudah bisa dirasakan oleh kebanyakan orang, namun masih enggan untuk mengakuinya. Jelas sudah, liberalisme telah meraup kesukesan dalam menumbuhkan tingkat kemiskinan, kematian manusia, penyengsaraan, penghilangan identitas dan ketidakadilan. Usia sukses dengan istilah liberalisme ekonomi, liberalisme budaya, liberalisme nilai dan macam liberalisme lainnya, kini frase liberalisme juga berusaha dijejalkan pada sebuah filosofi hidup bernama "Islam". Jadilah ia disebut "Islam Liberal". Namun, perkawinan campur beda arah ini merupakan sebuah kecerobohan dan kesesatan. Istilah 'Islam Liberal' agaknya benar-benar berseberangan bahkan seperti mengawinkan antara malaikat dengan iblis. Coba dibayangkan, bagaimana mungkin konsep liberalisme yang penuh dengan masalah, yang memiskinkan manusia, yang menghilangkan identitas masyarakat dan telah menimbulkan 1001 macam masalah didunia ini tiba-tiba disandingkan dengan sebuah terminologi agung yang bersumber dari nilai kebaikan bernama Islam? Berbeda dengan liberalisme yang telah menimbulkan petaka tidak terbilang, Islam justru telah menjadi "tren" tersendiri pada beberapa dekade ini. Islam telah menjadi agama paling cepat berkembang diseluruh dunia, telah menjadi agama alternative bagi masyarakat eropa karena memberikan konsep paling mapan tentang ketenangan dunia akhirat. Islam telah memberikan nuansa kehidupan hakiki atas gersangnya kehidupan masyarakat barat. Secara kasat mata, kehadiran islam sebagai tren di masyarakat barat merupakan sebuah realita yang tidak terbantahkan. Dalam berbagai riset telah dibuktikan bahwa populasi orang-orang Muslim di Barat khususnya di Eropa dan Amerika mengalami perkembangan yang cukup pesat. Diana L Eck, seorang professor pebandingan agama di Harvard secara ekstrim mengatakan bahwa Amerika bisa disebut sebagai "Dunia Islam" karena besarnya peningkatan jumlah umat Muslim dari tahun ketahun. Jumlah ini pun semakin meledak pasca tragedi 9/11. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta dan dewasa ini angka tersebut meledak hingga 1,5 milyar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam setiap empat penduduk dunia terdapat seorang beragama Islam. Anehnya, perkembangan paling ekstrim soal peningkatan jumlah umat Islam justru terjadi pada negara-negara yang tidak kental dengan budaya arab. Misalnya di Prancis, muallaf yang memeluk Islam di Prancis bahkan dapat mencapai 30 sampai 40 ribu tiap tahunnya. Fenomena ini kemudian dibahas dalam tayangan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul "Islam adalah agama yang berkembang pesat di Eropa". Secara faktual Islam telah menjadi agama yang terbukti secara empiris menjadi alternative bagi seperempat masyarakat dunia dan telah pula menjadi agama paling besar kedua di dunia. Kebalikan dengan rahmat Islam bagi dunia, liberalisme justru telah membawa permasalahan bagi dunia. Sehingga bagi mustahil keduanya dikawinkan untuk kemudian menghasilkan keturuanan yang cantik jelita. Pada akhirnya, bagian mana yang hendak ditawarkan dari Islam Liberal yang tidak mencelakakan penggunanya? Alih-alih mendapatkan pencerahan tentang sebuah arahan hidup yang dinikmati orang jutaan muallaf di barat, islam liberal malah menyesatkan dan menggelapkan orang-orang timur seperti di Indonesia. Buktinya, dengan bangga yang berlebihan islam liberal (pada salah satu situsnya di Indonesia) menyatakan: "*Mempercayai* *kebenaran yang relatif, terbuka dan plural*" dan "* Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik*". Kedua frase tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bahwa islam liberal adalah relatif dan sekular. "Relatif" merupakan sebuah kamuflase dari penghilangan identitas keislaman untuk menerima kebenaran yang tidak pernah berhasil didefinisikan. Sedangkan "sekular" merupakan konsep yang berupaya memisahkan antara agama dan dunia, sebagaimana dahulu kala sekularisasi merusak agama kristen. Bagi negara-negara yang mayoritas penduduk muslim seperti Indonesia, kedua konsep (relative dan sekular) dianggap sebagai terminologi segar yang mencerahkan warna islam untuk menjadi lebih ramah. Padahal, bagi barat yakni masyarakat dengan negara-negara mayoritas bukan berpenduduk muslim, kedua konsep ini (relative dan sekular) telah lama gagal menentramkan diri, masyarakat dan dunia. Perlahan barat telah meninggalkan relativisme yang semakin tidak punya jati diri karena selalu gagal menunjukkan jalan kebenaran. Adapun sekularisme telah menjadikan masyarakat barat sukses menciptakan generasi-generasi matrealistis, liar dan hampa yang menghancurkan peradaban barat maupun dunia. Singkat kata, masyarakat barat telah sadar bahwa liberalisme adalah petaka dan islam adalah jalan alternative. Namun bagi beberapa masyarakat islam, kondisi ini malah menjadi terbalik; islam dianggap petaka dan liberalisme dianggap sebagai alternative. Namun saya yakin bahwa siapapun yang benci dengan penjajahan ekonomi liberal, liberalisme budaya dan segala *entah-berantah* liberalisme lainnya (baik anda adalah muslim yang taat ataupun bukan) pasti juga akan membenci konsep liberalisme islam (atau islam liberal). Karena kesemuanya akan berujung pada penjajahan, pemiskinan, penghilangan identitas dan jutaan kesengsaraan umat manusia seperti segala ketimpangan yang dunia alami saat ini. Fuih, dengan demikian akhirnya rampung sudah memo saya untuk menyatakan bahwa keberadaan frase "islam" dalam kata "islam liberal" adalah sebuah pemerkosaan yang hendak menjajah umat islam untuk selalu tertinggal ketika masyarakat barat sudah muak dengan liberalisme itu sendiri. Liberalisme itu petaka, sayang! Qurrata Ayuni Mahasiswa Program Master Pemikiran Islam UIKA-Bogor Jakarta, 11 Februari 2008 --- End forwarded message ---

