Jangan Terpikat dengan
Dunia<http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/02/10/jangan-terpikat-dengan-dunia/>

*Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah*

Allah *Subhanahu wa Ta'ala* berfirman:

ÇÚúáóãõæÇ ÃóäøóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ áóÚöÈñ æóáóåúæñ æóÒöíäóÉñ
æóÊóÝóÇÎõÑñ Èóíúäóßõãú æóÊóßóÇËõÑñ Ýöí ÇúáÃóãúæóÇáö æóÇúáÃóæúáÇóÏö ßóãóËóáö
ÛóíúËò ÃóÚúÌóÈó ÇáúßõÝøóÇÑó äóÈóÇÊõåõ Ëõãøó íóåöíúÌõ ÝóÊóÑóÇåõ ãõÕúÝóÑøðÇ
Ëõãøó íóßõæúäõ ÍõØóÇãðÇ æóÝöí ÇúáÂÎöÑóÉö ÚóÐóÇÈñ ÔóÏöíúÏñ æóãóÛúÝöÑóÉñ ãöäó
Çááåö æóÑöÖúæóÇäñ æóãóÇ ÇáúÍóíóÇÉõ ÇáÏøõäúíóÇ ÅöáÇøó ãóÊóÇÚõ ÇáúÛõÑõæúÑö

*"Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah
permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di
antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak,
seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para
petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu."* (*Al-Hadid*: 20)

Bacalah berulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut maknanya…
Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia? Masihkah dunia
membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? Masihkah
engkau tertipu dengan kesenangannya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di *rahimahullahu* dalam Tafsir-nya,
*"Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang
ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala terangkan akhir kesudahannya dan
kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan.
Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan
terjadi pada anak-anak dunia1. Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu
dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari
berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun janji (pahala dan surga,
-pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, -pent.) yang ada di hadapan, engkau
lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan
belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal
untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali
dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan
amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya
untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit."*

Asy-Syaikh *rahimahullahu* melanjutkan, "Kemudian Allah *Subhanahu wa Ta'ala
* memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi.
Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan.
Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para
penanamnya, yang cita-cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun
terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah *Subhanahu wa
Ta'ala*yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur.
Bumi kembali
kepada keadaannya semula, seakan-akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau
di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan
dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh.
Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka.
Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari
tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan
tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan…." (*Taisir
Al-Karimirir Rahman*, hal. 841)

Jabir bin Abdillah *radhiyallahu 'anhuma* berkisah, "Rasulullah *Shallallahu
'alaihi wa sallam* melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar
beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau
terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya
berkata:

Ãóíøõßõãú íõÍöÈøõ Ãóäøó åóÐóÇ áóåõ ÈöÏöÑúåóãò¿ ÝóÞóÇáõæÇ: ãóÇ äõÍöÈøõ
Ãóäøóåõ áóäóÇ ÈöÔóíúÁò æóãóÇ äóÕúäóÚõ Èöåö¿ ÞóÇáó: ÃóÊõÍöÈøõæúäó Ãóäøóåõ
áóßõãú¿ ÞóÇáõæÇ: æóÇááåö¡ áóæú ßóÇäó ÍóíøðÇ ßóÇäó ÚóíúÈðÇ Ýöíúåö áöÃóäøóåõ
ÃóÓóßøõ ÝóßóíúÝó æóåõæó ãóíøöÊñ¿ ÝóÞóÇáó: ÝóæóÇááåö áóáÏøõäúíóÇ Ãóåúæóäõ
Úóáóì Çááåö ãöäú åóÐóÇ Úóáóíúßõãú

*"Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar
seharga satu dirham?"* Mereka menjawab, "Kami tidak ingin memilikinya dengan
harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?"
Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa sallam* kemudian berkata, *"Apakah kalian
suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?"* "Demi Allah,
seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat,
kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,"
jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, *"Demi Allah, sungguh dunia
ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi
kalian."* (HR. Muslim no.7344)

Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa sallam* pun pernah bersabda:

áóæú ßóÇäóÊö ÇáÏøõäúíóÇ ÊóÚúÏöáõ ÚöäúÏó Çááåö ÌóäóÇÍó ÈóÚõæúÖóÉò ãóÇ ÓóÞóì
ßóÇÝöÑðÇ ãöäúåóÇ ÔóÑúÈóÉó ãóÇÁò

*"Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai
sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang
kafir seteguk airpun."* (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh
Al-Albani *rahimahullahu* dalam *Ash-Shahihah* no. 686)

Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa
Allah *Subhanahu
wa Ta'ala* telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam
kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka *Shallallahu
'alaihi wa sallam* hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para
shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan
mengeluarkannya di jalan Allah *Subhanahu wa Ta'ala* sebanyak-banyaknya.
Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.

Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa sallam* pernah berpesan kepada Abdullah
bin Umar *radhiyallahu 'anhuma*, sambil memegang pundak iparnya ini:

ßõäú Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ßóÃóäøóßó ÛóÑöíúÈñ Ãóæú ÚóÇÈöÑõ ÓóÈöíúáò

*"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang
yang sekedar lewat (musafir)."* (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Abdullah bin Umar *radhiyallahu 'anhuma* pun memegang teguh wasiat Nabinya
baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah
menyampaikan hadits Rasul *Shallallahu 'alaihi wa sallam* di atas, *"Bila
engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi.
Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore.
Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu.
Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu."*

Adapun dalam perbuatan, beliau *radhiyallahu 'anhuma* merupakan shahabat
yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana'ahnya (merasa cukup walau
dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas'ud *radhiyallahu 'anhu* pernah
berkata, "Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah
Abdullah bin Umar *radhiyallahu 'anhuma*." (*Siyar A'lamin Nubala`*, hal.
3/211)

Ibnu Baththal *rahimahullahu* menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar
*radhiyallahu 'anhuma* di atas, "Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk
mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan
secukupnya. S*ebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang
dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di
dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke
tempat akhirnya.*" (*Fathul Bari*, 11/282)

Al-Imam An-Nawawi *rahimahullahu* berkata memberikan penjelasan terhadap
hadits ini, "Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan
dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di
jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia
kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana
ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada
keluarganya." (*Syarhu Al-Arba'in An-Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah
An-Nabawiyyah*, hal. 105)

Suatu ketika Ibnu Mas'ud *radhiyallahu 'anhu* melihat Rasulullah *Shallallahu
'alaihi wa sallam* tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari
tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah
para shahabat yang menyaksikan hal itu, "Wahai Rasulullah, seandainya boleh
kami siapkan untukmu kasur yang empuk!" Beliau menjawab:

ãóÇ áöí æóãóÇ áöáÏøõäúíóÇ¡ ãóÇ ÃóäóÇ Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ ÅöáÇøó ßóÑóÇßöÈò
ÇÓúÊóÙóáøó ÊóÍúÊó ÔóÌóÑóÉò Ëõãøó ÑóÇÍó æóÊóÑóßóåóÇ

*"Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali
seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu
beristirahat, kemudian meninggalkannya."* (HR. At-Tirmidzi no. 2377,
dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani *rahimahullahu* dalam *Shahih At-Tirmidzi*)

Umar ibnul Khaththab *radhiyallahu 'anhu* pernah menangis melihat kesahajaan
Rasulullah *Shallallahu 'alaihi wa sallam* sampai beliau hanya tidur di atas
selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar *radhiyallahu 'anhu* berkata:

ÝóÑóÃóíúÊõ ÃóËóÑó ÇáúÍóÕöíúÑö Ýöí ÌóäúÈöåö ÝóÈóßóíúÊõ. ÝóÞóÇáó: ãóÇ
íõÈúßöíúßó¿ ÝóÞõáúÊõ: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö¡ Åöäøó ßöÓúÑóì æóÞóíúÕóÑó ÝöíúãóÇ
åõãóÇ Ýöíúåö æóÃóäúÊó ÑóÓõæúáõ Çááåö. ÝóÞóÇáó: ÃóãóÇ ÊóÑúÖóì Ãóäú Êóßõæúäó
áóåõãõ ÇáÏøõäúíóÇ æóáóäóÇ ÇúáÂÎöÑóÉõ¿

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis,
hingga mengundang tanya beliau, "Apa yang membuatmu menangis?" Aku menjawab,
"Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, -pent.) dan Kaisar (raja
Romawi -pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan
Allah2." Beliau menjawab, *"Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia
sedangkan kita mendapatkan akhirat?"* (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim
no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab *radhiyallahu
'anhu*berkata kepada Nabinya:

ÇÏúÚõ Çááåó ÝóáúíõæóÓøöÚú Úóáóì ÃõãøóÊößó ÝóÅöäøó ÝóÇÑöÓó æóÇáÑøõæúãó
æõÓøöÚó Úóáóíúåöãú æóÃõÚúØõæÇ ÇáÏøõäúíóÇ æóåõãú áÇó íóÚúÈõÏõæúäó Çááåó.
æóßóÇäó ãõÊøóßöÆðÇ ÝóÞóÇáó: ÃóæóÝöí Ôóßøò ÃóäúÊó íóÇ ÇÈúäó ÇáúÎóØøóÇÈö¡
ÃõæáóÆößó Þóæúãñ ÚõÌøöáóÊú áóåõãú ØóíøöÈóÇÊõåõãú Ýöí ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ

"Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan
kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi
kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada
Allah *Subhanahu wa Ta'ala*." Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian
berkata, *"Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka
itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki
yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia3?"* (HR. Al-Bukhari no. 5191
dan Muslim no. 3679)

Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana
orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka
enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat
penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya
tiada terbandingi dengan dunia.

Al-Mustaurid bin Syaddad *radhiyallahu 'anhu* berkata, "Rasulullah *Shallallahu
'alaihi wa sallam* bersabda:

ãóÇ ÇáÏøõäúíóÇ Ýöí ÇúáÂÎöÑóÉö ÅöáÇøó ãöËúáõ ãóÇ íóÌúÚóáõ ÃóÍóÏõßõãú
ÅöÕúÈóÚóåõ Ýöí Çáúíóãøö ÝóáúíóäúÙõÑú Èöãó ÊóÑúÌöÚõ

*"Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal
salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka
hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika
diangkat?"*(HR. Muslim no. 7126)

Al-Imam An-Nawawi *rahimahullahu* menerangkan, "Makna hadits di atas adalah
pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan
kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali
seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih
tersisa di lautan." (*Al-Minhaj*, 17/190)

Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan
akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir,
karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (*Bahjatun
Nazhirin*, 1/531)

*Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.*

Footnote:

1 Mereka yang tertipu dengan dunia.
2 Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675)
disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab *radhiyallahu 'anhu*:
ÝóÇÈúÊóÏóÑóÊú ÚóíúäóÇíó. ÞóÇáó: ãóÇ íõÈúßöíúßó¡ íóÇ ÇÈúäó ÇáúÎóØøóÇÈö¿
ÞõáúÊõ: íóÇ äóÈöíøó Çááåö æóãóÇ áöí áÇó ÃóÈúßöí æóåóÐóÇ ÇáúÍóÕöíúÑõ ÞóÏú
ÃóËøóÑó Ýöí ÌóäúÈößó æóåóÐöåö ÎöÒóÇäóÊõßó áÇó ÃóÑóì ÝöíúåóÇ ÅöáÇøó ãóÇ
ÃóÑóì¡ æóÐóÇßó ÞóíúÕóÑõ æóßöÓúÑóì Ýöí ÇáËøöãóÇÑö æóÇúáÃóäúåóÇÑö æóÃóäúÊó
ÑóÓõæúáõ Çááåö æóÕóÝúæóÊõåõ æóåóÐöåö ÎöÒóÇäóÊõßó
"Maka bercucuranlah air mataku." Melihat hal itu beliau bertanya, *"Apa yang
membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?"* Aku menjawab, "Wahai
Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas
pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku
lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan
buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih
mulia daripada mereka, -pent.) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya,
dalam keadaan lemarimu hanya begini."
3 Adapun di akhirat kelak, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Allah *Subhanahu
wa Ta'ala* berfirman:
æóíóæúãó íõÚúÑóÖõ ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæÇ Úóáóì ÇáäøóÇÑö ÃóÐúåóÈúÊõãú
ØóíøöÈóÇÊößõãú Ýöí ÍóíóÇÊößõãõ ÇáÏøõäúíóÇ æóÇÓúÊóãúÊóÚúÊõãú ÈöåóÇ
ÝóÇáúíóæúãó ÊõÌúÒóæúäó ÚóÐóÇÈó Çáúåõæúäö ÈöãóÇ ßõäúÊõãú ÊóÓúÊóßúÈöÑõæúäó Ýöí
ÇúáÃóÑúÖö ÈöÛóíúÑö ÇáúÍóÞøö æóÈöãóÇ ßõäúÊõãú ÊóÝúÓõÞõæúäó
*"Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada
mereka dikatakan, 'Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang
baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah
bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab
yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa
haq dan karena kalian berbuat kefasikan'."* (*Al-Ahqaf*: 20)

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=587


[Non-text portions of this message have been removed]



===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke