Saudara2 yth,
Ada baiknya kita buat list bangunan perkantoran  dan bangunan publik lainnya 
seperti mal  & pusat perbelanjaan lainnya  yang mempunyai tempat sholat yang 
wajar ( kira2 tdk jauh berbeda dengan apa yang di Plaza Senayan ,PIM II), 
kemudian list tersebut kita  infokan ke saudara2 kita yang  banyak waktu berada 
di gedung tsb,.  tks
wass.
bachtiar
  ----- Original Message ----- 
  From: adji ekawarman 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, February 12, 2008 9:30 AM
  Subject: [syiar-islam] Re:FW: Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan


  biasanya..
  yang namanya mushollah itu HANYA pelengkap dari sebuah gedung,
  jadi ya cukup di satu ruang/ sudut TERSISA dari suatu gedung/ lantai bangunan 
aja..
  karena mana ada sih MUSHOLLAH yang bisa menjadi nilai tambah suatu gedung 
komerisl utk menghasilkan uang..???

  Alhamdulillah..
  di Plaza Senayan mushollahnya bersih dan sejuk,
  saya senang sekali utk shollat di sana,
  tapi sayangnya blom bisa utk shollat dhuha,
  karena baru dibuka menjelang shollat Dzuhur..

  di PIM juga disediakan mushollah,
  tapi sangat sempit dan tempatnya tersembunyi..
  jadi kalo pas maghrib bisa terjadi antrian beberapa gelombang utk shollat..

  di ITC BSD juga ada mushollah,
  tapi sepertinya masih perlu dibuat lebih nyaman,
  apalagi tempatnya juga mojok di area perparkiran mobil..! 

  semoga nantinya setiap gedung perkantoran/ pertokoan menyediakan tempat 
ibadah yang baik..

  wassalam..

  adji

  --------

  Posted by: "Mulyono" [EMAIL PROTECTED] 
  Mon Feb 11, 2008 1:31 am (PST) 

  Dari tetangga sebelah, semoga bermanfaat........amin.

  -----Original Message-----
  From: Idam Gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  Sent: Friday, February 08, 2008 2:49 PM
  To: Aco Bro; Adeku; Ayu; Bahri Humaidi; [EMAIL PROTECTED]; Fajar.
  Lukman; Izza, Ishmatul (EXT); Jana Priyadi; Mulyono; Nurman; sherly
  julainti; Tamar Hartio Sambas; teguh; Yamaha / Yamin
  Subject: Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

  Semoga bermanfaat teman2, selamat membaca..

  Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan

  Katagori : Hikmah
  Oleh : Redaksi 04 Jan 2008 - 5:00 pm

  Oleh Sabrul Jamil
  Sebuah e-mail tiba di PC saya. Isinya tentang pengalaman seorang pekerja
  asing. Ceritanya, pekerja asing itu tiba untuk pertama kalinya di salah satu
  perkantoran megah di kawasan Jakarta. Usai memarkirkan mobilnya di basement,
  ia melihat sekelompok orang, laki dan perempuan, tengah melakukan suatu
  kegiatan yang aneh di matanya, di salah satu ruangan di basement tersebut.
  Ruang tersebut kecil dan pengap, dengan tembok rendah mengelilinginya.

  Sesampainya di atas, orang asing ini bertanya tentang apa yang dilihatnya
  barusan. Orang Indonesia yang kebetulan muslim menjelaskan bahwa orang-orang
  di basement tersebut sedang sholat, menyembah Allah, Tuhan umat Islam.
  Sholat adalah kewajiban yang dilaksanakan sehari lima kali. Dengan takjub
  orang asing itu menjawab, betapa rendahnya apresiasi umat Islam terhadap
  Tuhan mereka.

  Jika terhadap ia yang cuma manusia bisa disediakan tempat kerja yang lapang
  dan nyaman, mengapa untuk Tuhan mereka hanya tersisa sebuah ruangan pengap
  di basement?

  Pembaca, tidakkah keheranan orang asing itu menjadi keheranan kita juga?

  Suatu sore, di salah satu gedung tinggi di kawasan matraman. Setelah
  menyelesaikan suatu urusan, saya bertanya ke salah satu karyawan di gedung
  megah tersebut letak musholla. Sudah lewat pukul empat sore. Karyawan tadi,
  penuh semangat, menunjukkan letak musholla. Dengan berterima kasih, saya
  bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan. Saya melewati areal parkir yang
  pengap, suatu kantor yang saya perkirakan markas satpam (banyak satpam yang
  duduk-duduk di depan kantor tersebut, dengan uniform berantakan), dan
  sampailah saya ke gedung mungil, dengan tulisan kusam tertempel di salah
  satu temboknya: MUSHOLLA.

  Musholla ini terletak persis di belakang gedung tinggi yang baru saja saya
  tinggalkan. Ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah saya. Temboknya
  setengah terbuka, dan dimanfaatkan untuk meletakkan sajadah-sajadah, dan...
  Helm!

  Di ruang yang sempit itu ada seseorang yang tertidur pulas. Tempat wudhu
  terletak tak jauh dari situ. Ada dua kran. Akhirnya, di naungi suasana
  pengap dan beraroma kurang sedap, saya menunaikan kewajiban saya kepada Rabb
  Penguasa Jagat. Ada rasa malu yang tak terkatakan, hanya sebegini apresiasi
  saya kepada Mu, ya Allah.

  Saya pulang, meliuk-liuk melewati kemacetan pinggiran kota, dengan setumpuk
  pikiran di kepala. Sudah berapa kali saya dapatkan, sebuah gedung
  perkantoran megah, dengan tempat sholat yang mirip dengan gudang?

  Karena tuntutan pekerjaan, saya sering keluar masuk kampus dan perkantoran.
  Dan situasi seperti ini sudah seperti typical: gedung megah, tinggi, dengan
  lobby dan ruang kerja yang nyaman, namun tak menyisakan satu ruangan pun
  untuk sholat, suatu ibadah yang nabi katakan sebagai tiang agama. Sebagai
  gantinya, pihak perkantoran menyediakan tempat sholat di basement, di
  sela-sela parkir kendaraan. Atau sebaliknya, tempat sholat sering diletakkan
  di bagian tertinggi gedung, seperti di kantor saya. Ini masih lumayan,
  karena tempatnya terbuka, sehingga angin dan debu jalan leluasa menerobos.
  Setidaknya, sholat tidak dilakukan dalam keadaan pengap.

  Tentu ada juga gedung-gedung perkantoran yang menyiapkan tempat sholat yang
  memadai, meski tidak harus mewah. Gedungnya terawat. Sajadah dan mukena
  secara teratur dibersihkan. Majalah dindingnya secara berkala diupdate.

  Pembaca yang baik, sholat adalah sejenis ibadah yang menuntut konsentrasi
  tinggi. Konsentrasi ini adalah awal kekhusyuan. Dengan khusyu'-lah kualitas
  sholat diperoleh.

  Nah, konsentrasi tentunya memerlukan daya dukung lingkungan. Lingkungan yang
  bising, pengap, beraroma kurang sedap, secara sunnatullah, akan mengurangi
  konsentrasi. Rasulullah pernah menolak sajadah yang bergambar, karena
  khawatir akan mengganggu konsentrasi beliau. Beliau juga memerintahkan imam
  untuk menyegerakan sholat apabila terdengar suara anak menangis, karena
  khawatir si ibu akan merasa resah dalam sholatnya.
  Selain itu, beliau juga secara optimal membersihkan diri. Salah satu sunnah
  beliau sebelum sholat adalah bersiwak (menggosok gigi), dan memakai
  harum-haruman.

  Dari situ kita simpulkan, salah satu syarat khusyu' diperoleh dari situasi
  dan kondisi ketika sholat. Dilakukan. Terlalu arogan kalau kita menganggap
  situasi dan kondisi tidak mempengaruhi kekhusyuan sholat kita.

  Bagaimana sholat yang dilakukan di tempat-tempat seperti yang saya gambarkan
  di awal tulisan ini? Saya khawatir pelaksanaan sholat tersebut hanya sekedar
  untuk menggugurkan kewajiban.

  Sesungguhnya, yang bertanggung jawab memakmurkan masjid adalah seluruh orang
  beriman yang berada di wilayah masjid tersebut. Bagaimana cara mewujudkan
  tanggung jawab tersebut?

  Mungkin, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran. Kesadaran
  diperoleh setelah adanya informasi, bahwa Masjid bukanlah sekedar bangunan
  pelengkap.

  Siapa yang harus memulai?

  Setidaknya, Anda, setelah membaca tulisan ini, mulai menyusun gagasan
  praktis, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi di tempat Anda
  (kecuali kalau Masjid di tempat Anda sudah representatif untuk beribadah).
  Jadikan ini sebagai peluang amal. Siapa tahu dapat menjadi jalan lain bagi
  kita untuk bertemu dengan senyumNya. (eramuslim)

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke