Sekadar sharing, berita dari teman ...
salam,
satriyo
---------- Forwarded message ----------
MEWASPADAI ORIENTALISME*
Oleh : KH.M. Shiddiq Al-Jawi
*Pengantar*
Orang yang berpikiran liberal-sekular umumnya tidak kritis terhadap
orientalisme. Di satu sisi mereka memang bisa sangat kritis (dan liar)
terhadap doktrin-doktrin Islam yang sebetulnya sudah baku dan mapan
(ma'luumun min al-din bi al-dharurah), seperti kenabian Muhammad SAW,
otentisitas Al-Qur`an, wajibnya Khilafah, dan wajibnya formalisasi syariah
oleh negara. Namun anehnya, di sisi lain daya kritis ini tiba-tiba menjadi
tumpul dan bebal ketika berhadapan dengan karya-karya kaum orientalis yang
kafir.
Sebagai contoh, lihat saja sikap Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya *Islam
Benar Versus Islam Salah* (2007). Dalam salah satu refleksinya berjudul
Islam Perdana [baca : asal-usul agama Islam], Luthfi memuji habis-habisan
para orientalis yang menjelaskan asal-usul agama Islam dari berbagai
aspeknya. Misalnya, Arthur Jeffrey (1905-1969) dari aspek sejarah Muhammad
SAW, Theodore Noldeke (1836-1930) dari aspek sejarah Al-Quran, Nabia Abott
dari aspek sejarah hadis, dan Joseph Schacht (1902-1969) dari aspek sejarah
fikih. Tak lupa Luthfi mempropagandakan karya Montgomery Watt berjudul The
Formative Period of Islamic Thought, yang dipuja dan dipuji oleh Luthfi
sebagai,"Buku yang agak komprehensif tentang Islam perdana." (Luthfi, 2007:
41). (Lihat Qosim Nursheha Dzulhadi, "Islam Perdana" atawa Islam ala
Orientalis?", www.hidayatullah.com).
Tulisan ini tidak bertujuan secara khusus mengkritisi Luthfi Asy-Syaukanie,
namun bertujuan lebih umum, yaitu untuk menjelaskan seputar orientalisme itu
sendiri, walau pun serba singkat. Harapannya, agar kita dapat bersikap
kritis dan waspada terhadap orientalisme. Sebab orientalisme walaupun
terkesan ilmiah dan objektif, namun menurut Ahmad Abdul Hamid dalam kitabnya
Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq (hal. 7), tujuannya sangatlah jahat, yaitu
antara lain :
Pertama, menjelek-jelekkan Islam serta membuat umat Islam ragu dan sesat
terhadap ajaran Islam;
Kedua, memaksakan dominasi Barat atas umat Islam dan melegitimasi dominasi
ini dengan studi-studi dan teori-teori yang diklaim ilmiah dan objektif; dan
Ketiga, mendesakkan klaim bahwa Barat yang Kristen memiliki keunggulan ras
dan budaya di atas umat Islam. (Lihat Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal. 4).
*Pengertian Orientalisme
*Banyak definisi orientalisme di kalangan para pakar dan ulama. Menurut Dr.
Muthabaqani, pakar orientalisme dari Fakultas Dakwah Universitas Imam
Muhammad Ibnu Sa'ud Madinah, istilah orientalisme mulai muncul sejak dua
abad yang lalu [abad ke-18 M], meski aktivitas kajian bahasa dan sastra
ketimuran (khususnya Islam) telah terjadi jauh sebelumnya.
Muthabaqani menyatakan bahwa istilah orientalis muncul lebih dulu daripada
istilah orientalisme. A.J. Arberry (1905-1969) dalam kajiannya menyebutkan
istilah orientalis muncul tahun 1638, yang digunakan oleh seorang anggota
gereja Timur (Yunani). Pada tahun 1691, istilah orientalis digunakan oleh
Anthony Wood untuk menyebut Samuel Clarke sebagai "orientalis yang cerdas",
karena mengetahui beberapa bahasa Timur. (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.
2-3).
Menurut Rudi Paret (orientalis Jerman, lahir 1901) orientalisme adalah "ilmu
ketimuran ('ilmu al-syarq) atau ilmu tentang dunia timur ('ilmu al-'alam
al-syarqiy)." Sementara A.J. Arberry menggunakan Kamus Oxford untuk
mendefinisikan orientalis, yaitu "orang yang mendalami berbagai bahasa dan
sastra dunia timur." (Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).
Sementara itu Maxime Rodinson (orientalis Perancis, lahir 1915) menerangkan
bahwa istilah orientalisme muncul dalam bahasa Perancis tahun 1799 dan dalam
bahasa Inggris tahun 1838. Orientalisme ini, menurut Rodinson, lahir untuk
memenuhi kebutuhan "mewujudkan satu cabang pengetahuan khusus untuk mengkaji
dunia timur." Rodinson menambahkan bahwa kebutuhan ini amat mendesak, agar
terwujud orang-orang spesialis yang siap untuk menerbitkan berbagai majalah,
mendirikan berbagai universitas, dan berbagai departemen ilmiah."
(Muthabaqani, Al-Istisyraq, hal.3).
Muthabaqani juga menjelaskan definisi orientalisme menurut kritikus
orientalisme yang terkenal, yaitu Edward Sa`id dalam bukunya Orientalism
(New York : Vintage Books, 1979). Edward Sa`id dalam Orientalism hal. 92
menyatakan,"Orientalisme adalah bidang pengetahuan atau ilmu yang
mengantarkan pada [pemahaman] dunia timur secara sistematis sebagai suatu
objek yang dapat dipelajari, diungkap, dan diaplikasikan." (Muthabaqani,
ibid., h.4).
Definisi lain yang lebih ideologis dikutip juga oleh Muthabaqani dari
pendapat Ahmad Abdul Hamid, dalam kitabnya Ru`yah Islamiyah li Al-Istisyraq
(hal. 7). Menurut Ahmad Abdul Hamid, orientalisme adalah "studi-studi
akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat yang kafir khususnya Ahli
Kitab terhadap Islam dan kaum muslimin, dari berbagai aspeknya : aqidah,
syariah, budaya (tsaqafah), peradaban (hadharah), sejarah, sistem-sistem
kehidupanya (nuzhum), kekayaaan alam, dan potensi-potensinya
" (Muthabaqani,
ibid., h.4).
Dari berbagai definisi orientalisme di atas, Dr. Muthabaqani sendiri
akhirnya mendefinisikan orientalisme secara cukup komprehensif.
Orientalisme, menurut Muthabaqani, adalah "segala sesuatu yang bersumber
dari orang-orang Barat, yaitu dari orang-orang Eropa (baik Eropa Barat
maupun Timur, termasuk Soviet) dan orang-orang Amerika, berupa studi-studi
akademis yang membahas masalah-masalah Islam dan kaum muslimin, di bidang
aqidah, syariah, sosial, politik, pemikiran, dan seni." (ibid., h. 4).
Termasuk juga dalam orientalisme, kata Muthabaqani, adalah :
(1) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh media massa Barat baik dengan
bahasa mereka maupun bahasa Arab, melalui koran, radio, televisi, film,
kartun, dan saluran-saluran luar angkasa, yang menyangkut Islam dan kaum
muslimin;
(2) segala sesuatu yang ditetapkan oleh para peneliti dan politisi Barat
dalam berbagai konferensi dan seminar mereka, baik yang terbuka maupun yang
rahasia;
(3) segala sesuatu yang ditulis oleh orang Arab Kristen, seperti kaum
Maronit, yang memandang Islam dengan kacamata Barat;
(4) segala sesuatu yang disebarluaskan oleh para peneliti muslim, yang
belajar kepada para orientalis dan mengadopsi banyak pikiran kaum
orientalis, hingga sebagian murid orientalis itu bahkan melampaui
guru-gurunya dalam hal penggunaan teknik dan metode yang lazim dalam
orientalisme. (Muthabaqani, ibid., h.4).
Namun meski sering terkait dengan Islam dan kaum muslimin, Muthabaqani
segera menambahkan, orientalisme tetap mengkaji bangsa-bangsa timur secara
umum, seperti bangsa India, Asia Timur, Cina, Jepang dan Korea. Jadi,
orientalisme memang tidak hanya mengkaji Islam dan kaum muslimin.
Yang menarik dari definisi orientalisme Muthabaqani di atas, beliau
memasukkan karya intelektual muslim yang dipengaruhi oleh orientalis,
sebagai kegiatan orientalisme. Karena itu, Fazlurahman boleh juga disebut
seorang orientalis, karena dia mengadopsi pikiran Joseph Schahcht tentang
sejarah hukum Islam. Harun Nasution, juga seorang orientalis, karena
memandang sunnah (hadits) dengan cara pandang orientalis, seperti Schacht
dan Ignaz Goldziher. Nurcholish Madjid (murid Fazlurahman) juga tiada lain
seorang orientalis, karena banyak mengadopsi pikiran sekuler dari Harvey Cox
dalam bukunya The Secular City (1967). Walhasil, Luthfi Asy-Syaukanie juga
hakikatnya seorang orientalis, karena banyak mengadopsi ide kaum orientalis
seperti Arthur Jeffrey, Theodore Noldeke, dan Joseph Schacht.
Seorang pemikir muda yang brilian, Adnin Armas MA, bahkan menulis buku
khusus yang membuktikan adanya pengaruh kristen-orientalis itu terhadap kaum
liberal di Indonesia. Bacalah bukunya yang berjudul *Pengaruh
Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal : Dialog Interaktif dengan Aktivis
Jaringan Islam Liberal*, (Jakarta : Gema Insani Press, 2003), juga bukunya
yang lain Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an: Kajian Kritis, (Jakarta :
Gema Insani Press, 2005).
Inilah nampaknya yang dapat menjelaskan mengapa orang liberal-sekular tidak
mampu bersikap kritis terhadap orientalisme. Bagaimana bisa kritis, wong
orang liberal itu sebenarnya juga orientalis. Sesama orientalis, sudah
selayaknya saling menghormati dan memuji, bukan?
*Munculnya Orientalisme
*Kapan munculnya orientalisme dalam lintasan sejarah umat Islam? Nampaknya
tidak mudah menjawab pertanyaan ini, karena para ahli berbeda pendapat.
Sebagian ahli berpendapat, munculnya orientalisme berbarengan dengan
kemunculan Islam itu sendiri. Barangkali argumennya adalah perhatian para
pemuka agama Kristen terhadap Islam di Habasyah ketika sebagian kaum
muslimin berhijrah ke sana. Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah
mengirimkan surat kepada raja-raja di sekitar Jazirah Arab, termasuk kepada
Heraklius raja Romawi yang Kristen. Perang Mu`tah juga dipandang sebagai
konflik militer pertama antara umat Islam dan umat Kristen. Ada juga yang
berpendapat, orientalisme bermula pasca Perang Salib (abad ke-11 sampai
ke-13 M), setelah bangsa Eropa yang Kristen mengalami kekalahan dari kaum
muslimin, khususnya kekalahan Louis IX di kota Al-Manshurah tahun 1290-an
(Muthabaqani, ibid., h. 6).
Pendapat yang lain menyatakan, orientalisme bermula dari keputusan Gereja
Wina yang menyerukan dibentuknya lembaga studi untuk mempelajari bahasa
Arab, Iberani, dan Suryani di sejumlah kota Eropa seperti Paris, Oxford, dan
lain-lain. Namun peneliti Inggris bernama P.M. Holt menolak peristiwa itu
sebagai awal orientalisme, karena keputusan gereja itu ternyata tidak
dilaksanakan secara semestinya. (ibid.)
Masih ada pendapat lain lagi. Pendapat ini mengatakan bahwa awal
oreintalisme adalah konflik antara kaum muslimin dan Kristen di Andalusia
(Spanyol) sekitar abad ke-15 M. Syaikh Musthafa As-Siba'iy cenderung pada
pendapat ini (ibid.).
Dari sekian pendapat ini, mana yang lebih mendekati kebenaran? Muthabaqani
mengutip pendapat Dr. Ali an-Namlah dalam kitabnya Al-Istisyraq wa
Al-Adabiyat Al-'Arabiyah hal. 31-33 yang berkata,"Bahwa semua
peristiwa-peristiwa itu hanyalah tanda-tanda awal (irhashat) bagi
orientalisme. Apa yang datang setelah itu dapat dianggap sebagai pendalaman
ide tentang orientalisme, perluasan orientalisme, dan peningkatan perhatian
terhadap orientalisme." Jadi, titik awal yang sesungguhnya dari orientalisme
adalah sejak abad ke-16 M, yakni suatu masa di mana Eropa tengah mengalami
kebangkitan dengan aktivitas Reformasi Gereja, Renaissance, dan Humanisme.
Sejak abad ke-16 itulah di Eropa mulai banyak karya cetak berbahasa Arab,
juga mulai banyak lembaga-lembaga kajian yang mengeluarkan berbagai karya
berupa buku. Pada tahun 1632 telah terbentuk lembaga studi bahasa Arab di
Cambridge, dan pada tahun 1638 terbentuk pula di Oxford. (Muthabaqani,
ibid.)
*Tujuan-Tujuan Orientalisme*
Apa yang menjadi tujuan kaum orientalis dalam melakukan kegiatannya? Jelas,
tujuan-tujuan orientalis ini beraneka ragam (li al-istisyraq ahdaf
muta'addidah) (Ash-Shanqary, Al-Islam wa Al-Gharb, hal. 28-29). Secara lebih
terperinci, Muthabaqani dalam al-Istisyraq (h. 6-11) menerangkan
tujuan-tujuan utama orientalisme, yaitu :
1. Tujuan Agama : Tak diragukan lagi, tujuan ini merupakan salah satu tujuan
terpenting orientalisme. Mengapa? Karena para pemuka Kristen melihat agama
Islam mempunyai kekuatan dan magnet yang besar untuk dapat dianut orang
Kristen. Maka karena kedengkiannya, para pemuka Kristen melancarkan
orientalisme guna menjelek-jelekkan Islam (tasywih al-Islam) agar
orang-orang Kristen menjauhkan diri dari Islam (tanfir al-nashara min
al-islam).
2. Tujuan Ilmiah : Orang-orang Eropa yang mulai bangkit di abad ke-16
membutuhkan banyak inspirasi untuk kebangkitannya. Karena itulah, mereka
mengkaji berbagai penemuan ilmiah yang ditemukan kaum muslimin dalam
berbagai bidang pengetahuan. Ketika orang-orang Barat mengkaji suatu bidang
ilmu yang sudah lebih dulu diterjuni intelektual muslim, dapat dipastikan
mereka lalu menerjemahkan kitab-kitab kaum muslimin itu, dan mengadopsi
kandungannya. Francis Bacon yang menulis Novum Organum (Alat Berpikir Baru)
di abad ke-16, mendapatkan inspirasi cara berpikir yang empiris (induktif)
dari karya-karya kaum muslimin dari masa Khilafah Abbasiyah. Sebelum itu, di
Abad Pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15 M), cara berpikir yang dominan di
Barat adalah logika Aristotelian yang deduktif, yang meremehkan pengamatan
empiris.
3. Tujuan Ekonomi : Pada saat Eropa mengalami kebangkitan ilmiah, pemikiran,
dan industri, mereka membutuhkan bahan-bahan mentah bagi industrinya dan
sekaligus membutuhkan pasar-pasar baru untuk menjual produksinya yang
melimpah. Dari sinilah, negeri-negeri Islam seperti negeri-negeri Arab,
Afrika Utara, dan Asia, merupakan sasaran empuk bagi mereka. Karena itulah,
mereka harus mempelajari negeri-negeri Islam ini dengan mempelajari agama
penduduknya, politiknya, budayanya, perekonomiannya, dan lain-lain, agar
Barat tahu bagaimana cara berinteraksi (baca : menjajah) umat Islam.
4. Tujuan Politik : Orientalisme tidak dapat secara polos kita anggap
terpisah dari imperialisme Barat. Bahkan keduanya saling menunjang satu sama
lain. Orientalisme adalah pelayan imperialisme. Para orientalis memasok
berbagai informasi kepada para penjajah berupa informasi keagamaan, bahasa,
politik, ekonomi, sejarah, budaya, kekayaan alam, dan sebagainya dari negeri
yang hendak dijajah.
5. Tujuan Budaya : Penyebaran budaya Barat (ats-tsaqafah al-gharbiyah)
merupakan salah satu tujuan utama orientalisme. Di negeri-negeri Arab,
misalnya, kaum orientalis berusaha menyebarkan bahasa-bahasa Eropa, seperti
bahasa Inggris dan Perancis. Sebaliknya, mereka berusaha memusnahkan bahasa
Arab yang fasih (fush-hah). Orientalis juga menyebarkan berbagai paham
Barat, seperti nasionalisme dan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan)
di negeri-negeri Islam. (Lihat Muthabaqani, al-Istisyraq, h. 6-11; lihat
juga An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, hal. 85-92, bab Al-Ghazw
At-Tabsyiri dan bab Al-'Ada` Ash-Shalibi).
*Pengaruh-Pengaruh Orientalisme
*Aktivitas orientalisme yang dilakukan di negeri-negeri Islam tentu saja
menimbulkan berbagai dampak atau pengaruh yang sangat buruk dan mengerikan.
Di antaranya :
1. Pengaruh Aqidah : di antara pengaruh orientalisme, adalah pengaruh di
bidang aqidah, yaitu lahirnya generasi sekuler, baik di kalangan
intelektual, pemerintah, militer, maupun orang awam di Dunia Islam. Mereka
semuanya menjadi satu arus dan trend yang meneriakkan pemisahan agama dari
kehidupan, atau yang dalam bahasa Arab disebut al-'ilmaniyah (tepatnya :
as-sikulariyah). Padahal aqidah ini sangat bertolak belakang dengan Aqidah
Islam, sebab Aqidah Islam terikat (bukan terpisah) dengan segala bidang
kehidupan, dengan seperangkat hukum-hukum Syariahnya.
Pengaruh lainnya, adalah merebaknya kecenderungan terhadap ide-ide marjinal
yang menyimpang dari Aqidah Islam, seperti tashawwuf Ibnu 'Arabiy (Wihdatul
Wujud) yang mendapat perhatian khusus dari kalangan orientalis.
2. Pengaruh Sosial : Kaum orientalis karena didorong kebenciannya terhadap
Islam dan umat Islam, berusaha mencari faktor yang dapat merusak soliditas
masyarakat muslim. Contohnya, di Aljazair, orientalis menghapuskan
kepemilikan umum (atas tanah publik) yang akhirnya membuat terpecah belahnya
beberapa kabilah. Padahal sebelumnya mereka hidup rukun dan damai dengan
konsep kepemilikan umum yang ada dalam ajaran Islam. Pengaruh sosial
lainnya adalah terancamnya keutuhan keluarga, karena kaum orientalis
menaruh perhatian besar pada ide-ide gender dan feminisme yang membodohi
sekaligus memprovokasi kaum muslimah untuk memberontak terhadap hukum-hukum
Islam tetang pengaturan keluarga (misalnya masalah ketaatan kepada suami,
nafkah, dan hak cerai).
3. Pengaruh Politik-Ekonomi : Orientalis misalnya mempropagandakan sistem
demokrasi dan dikatakannya sebagai sistem politik paling ideal untuk umat
manusia. Pada saat yang sama, mereka menyerang dan menjelek-jelekkan sistem
politik Islam, yaitu Khilafah. Thomas W. Arnold, misalnya, dalam bukunya
Caliphate (Lahore: 1966) hal. 25, menuding bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan
Umar bin Khaththab dapat menjadi khalifah, lantaran keduanya telah melakukan
suatu persekongkolan. Orientalis lain, Bernard Lewis, menyatakan bahwa
sistem politik Islam adalah sistem diktator yang memaksakan ketundukan dan
kehinaan atas bangsa-bangsa muslim. Bahkan lebih dari itu, Bernard Lewis
menganggap sistem politik Islam menyerupai sistem komunis dalam hal
kediktatoran dan kesewenang-wenangannya (Lihat B. Lewis,"Communism and
Islam," dalam International Affairs, Vol. 30, 1954.pp 1-12).
Sementara itu dalam bidang ekonomi, orientalis mempropagandakan sistem
ekonomi kapitalis dan sosialis. Pada saat yang sama, mereka menyerang sistem
ekonomi Islam. Muhammad Khalifah mengatakan,"Kaum orientalis dalam aksi
mereka mempropagandakan sistem ekonomi Barat, melakukan penafsiran ulang
terhadap sejarah ekonomi Islam dengan perspektif kapitalisme dan komunisme
sebagai dasar untuk kedua sistem tersebut
" (Muthabaqani, ibid, h. 16)
4. Pengaruh Budaya-Pemikiran (tsaqofiyah-fikriyah) : Sungguh kaum orientalis
telah memetik kemenangan besar di bidang budaya dan pemikiran di Dunia
Islam. Buktinya, cara pandang atau perspektif orientalis telah menjadi
sumber pemahaman bagi umat untuk memahami Islam, setelah sebelumnya umat
Islam hanya menggunakan cara pandang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, menurut
tuntunan para ulama muslim. Umat Islam kini meyakini demokrasi, sebagai
ganti dari keyakinan terhadap sistem politik Islam (Khilafah). Umat Islam
lebih meyakini sistem ekonomi kapitalisme, daripada sistem ekonomi Islam.
Demikian pula cara pandang orientalis di bidang ilmu sosiologi, psikologi,
sejarah, dan sebagainya telah mengisi, memenuhi, sekaligus meracuni otak
generasi muda Islam, yang sebelumnya terisi dengan pemikiran-pemikiran Islam
yang cemerlang. (Muthabaqani, ibid, h. 17).
*Penutup
*Itulah sekilas tentang orientalisme. Yang kami tulis ini tentu hanya
sekelumit saja, di tengah sekian banyak literatur cerdas yang menerangkan
bahaya orientalisme yang sudah semestinya kita waspadai. Janganlah terlalu
polos dan lugu, dengan menganggap kajian orientalis adalah objektif dan
ilmiah. Perluaslah wawasan! Bersikap kritislah terhadap orientalisme!
Bibliografi yang kami tulis di bawah ini barangkali dapat sedikit memberikan
inspirasi mengenai apa yang kiranya perlu dibaca untuk mendalami masalah
ini.
Kami ingin menutup uraian sederhana ini dengan mengutip ayat dan hadits yang
memberi pedoman kepada umat Islam, hendaknya mereka tidak mengikuti kaum
orientalis yang kafir. Allah SWT berfirman (artinya) :
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka." (QS Al-Baqarah [2] : 120)
Rasulullah SAW bersabda :
"Sungguh kamu akan mengikuti jalan-jalan [hidup] orang-orang sebelum kamu,
sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga kalau mereka masuk ke
lubang biawak, niscaya kamu pun akan mengikuti mereka. Para sahabat
bertanya,"Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?" Rasul SAW menjawab,"Siapa
lagi?" (HR Bukhari dan Muslim). [ ]
= = = =
*Disampaikan dalam Kajian Selasa Pagi, 12 Pebruari 2008, di Masjid UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
BIBLIOGRAFI
A'zami, M.M., The History of The Qur`anic Text From Revelation to
Compilation : A Comparative Study with the Old and New Testaments (Sejarah
Teks Al-Qur`an dari Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan dengan
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), Penerjemah Sohirin Solihin dkk,
(Jakarta : Gema Insani Press), 2005.
----------, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Studies in Early Hadith
Literature), Penerjemah Ali Mustafa Ya'kub, (Jakarta : Pustaka Firdaus),
Cetakan III, 2006.
Armas, Adnin, Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal : Dialog
Interaktif dengan Aktivis Jaringan Islam Liberal, (Jakarta : Gema Insani
Press), 2003.
----------, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an: Kajian Kritis, (Jakarta
: Gema Insani Press), 2005.
Ash-Shalih, Subhi, Mabahits fi Ulum al-Qur`an, (Beirut : Darul 'Ilmi lil
Malayin), 1988.
----------, 'Ulumul Hadits wa Mustholahuhu, (Beirut : Darul 'Ilmi lil
Malayin), 1988.
Ash-Shanqary, Nashr bin Muhammad, Al-Islam wa Al-Gharb : Syiqaaq am Wifaq, (
www.saaid.net)
An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyah, (Beirut : Darul Umah), 1994
Baharun, Muhammad, Isu Zionisme Internasional, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar), 1997
Husaini, Adian, Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi
Sekular-Liberal, (Jakarta : Gema Insani Press), 2005
Dzulhadi, Qosim Nursheha, "Islam Perdana" atawa Islam ala Orientalis?", (
www.hidayatullah.com)
Khalidi, Mustafa & Farrukh, Umar, At-Tabsyir wa Al-Isti'mar fi Al-Bilad
Al-'Arabiyah, (Beirut : Al-Maktabah Al-'Ashriyah), 1986
Muthabaqani, Mazin bin Shalah, Al-Istisyraq, (www.saaid.net)
----------, Al-Istisyraq wa Makanatuhu Bayna Al-Madzahib Al-Fikriyah
Al-Mu'ashirah, (www.saaid.net)
----------, Buhuts fi Al-Istisyraq Al-Amiriki al-Mu'ashir, 1999, (
www.saaid.net)
----------, Ad-Dirasat al-'Arabiyah Al-Islamiyah (Al-Istisyraq) fi
Al-Intarnat, 2000, (www.saaid.net)
Syahin, Abdush Shabur, Tarikh Al-Qur`an, (Kairo : Darul Qalam), 1966
Tha'imah, Shabir, Akhthar Al-Ghazw Al-Fikri 'ala Al-'Alam Al-Islami, (Beirut
: 'Alam Al-Kutub), 1984
Zanaty, Anwar Muhammad, Mu'jam Iftira`at Al-Gharb 'Ala Al-Islam, (
www.saaid.net)
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
[Non-text portions of this message have been removed]
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/