Tulisan bagus seorang kawan dari Nanggroe Aceh Darussalam.
Semoga kita terpelihara dari perbuatan murtad.

------




Mengingat Mati

Sehalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercerabutnya kedekatan kita dari 
sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari 
meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak 
bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah, bahkan justru 
maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa 
rugi.
Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama Allah Azza wa 
Jalla. 
 
Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan 
terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa 
terasa habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang 
tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah 
permainkan nikmat iman di hati ini. 
 
Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah 
yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu tampak begitu 
rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun 
tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke 
masjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. 
Karenanya, di antara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya 
segera terlunasi. Selang beberapa lama, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya 
dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan 
tersebut. Sayangnya, begitu utang terlunasi, doanya mulai jarang, hilang pula 
motivasinya untuk beribadah. 
 
Biasanya, ketika kehilangan shalat tahajud, dia menangis tersedu-sedu, “Mengapa 
Engkau tidak membangunkan aku, ya Allah?!”, ujarnya seakan menyesali diri. 
Tapi, lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadwal 
tidur menjadi cukup. Bahkan, sebelum azan biasanya sudah menuju masjid, tapi 
akhir-akhir ini datang ke masjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika 
azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan 
selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat 
di rumah saja. 
 
Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk masjid shalat sunat 
tahiyatul masjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat 
rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri 
menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu 
shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya 
ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, 
dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. “Kalau datang terlambat, maka 
ketika pulang aku tidak Boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!” pikirnya. 
 
Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di 
rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari 
atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. 
Bahkan pergi ke majlis ta’lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di 
mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang. 
 
Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang 
diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. 
Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan 
tanpa kesadaran, sering kali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. 
Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan kekuatan ruhiah, 
tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras. 
 
Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu per satu, maka inilah 
tanda-tanda sudah tercerabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah 
ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, 
mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. 
 
Apalagi, ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan 
munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah 
yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meninggallah dia dalam 
keadaan hilang keyakinannya kepada Allah. Inilah yang disebut suul khatimah 
(jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti 
ini. 
 
Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya 
ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan 
lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah ke 
mana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta 
tolong kepada seorang pemuda masjid. Ditolonglah dia untuk bisa melakukan 
persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. 
Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari 
seorang bayi mungil. 
 
Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh 
lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati 
pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si 
wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung 
jawab. Lalu ditolonglah dia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si 
orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus 
pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya “Toh 
hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi”. 
Tapi, ternyata Allah menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat 
Izrail datang menjemput, meninggallah si wanita dalam keadaan murtad, 
naudzhubillah. 
 
Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al 
Ghazali. Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di 
sebuah menara tinggi di samping masjid. Kebetulan di samping masjid itu ada 
pula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga nonmuslim, di antara 
anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang 
berangkat remaja. 
Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin 
selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. 
Seperti pepatah mengatakan “dari mata turun ke hati”, begitulah saking 
seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak 
gadis ini. Bahkan, saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, 
tapi hatinya malah khusyuk memikirkan anak gadis itu. Karena sudah tidak tahan 
lagi, maka sang muazin ini pun nekat mendatangi rumah si anak gadis tersebut 
dengan tujuan untuk melamarnya. 
 
Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi 
jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang 
muazin yang beragama Islam itu. “Selama engkau masih memeluk Islam sebagai 
agamamu, tidak akan pernah aku izinkan anakku menjadi istrimu” ujar si Bapak, 
seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya 
terlebih dulu. 
 
Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis 
ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya 
di hatinya tebersit suatu niat, “Ya Allah saya ini telah bertahun-tahun azan 
untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah 
menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi 
saat ini aku mohon beberapa saat saja ya Allah, aku akan berpura-pura masuk 
agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali 
masuk Islam”. 
 
Baru saja dalam hatinya tebersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari 
tangga menara masjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya, sang muazin pun meninggal 
dalam keadaan murtad dan suul khatimah. 
 
Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, tampaklah bahwa 
salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang 
berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya 
adalah dengan ‘mengingat mati’. 
 
Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, 
zalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. 
 
Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar 
kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal 
dalam keadaan husnul khatimah, maka selalulah ingat mati. 
 
Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu 
mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju masjid. 
Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yang sedang mengobrol dan tertawa. Maka 
beliau bersabda, “Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam 
kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan 
tertawa sedikit dan banyak menangis.” 
 
Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh 
dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya, di mana saja dan kapan saja kita akan 
senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. 
 
Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang 
didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau 
bahkan bacaan Alquran yang mengingatkan kita kepada Allah Azza wa Jalla. 
Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, Alhamdulillah kita 
sedang dalam kondisi ingat kepada Allah. Inilah khusnul khatimah. Bahkan, kalau 
kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, 
seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak 
pernah melupakan janji kekasihnya. 
 
Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia 
berkata, “Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang 
menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku 
sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih 
aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku 
menemui-Mu.” 
 
Akhirnya, semoga kita digolongkan Allah SWT menjadi orang yang beroleh karunia 
husnul khatimah. Amin!


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke