Assalamualaikukm wrwb , silahkan anda punya jawaban sendiri... ini cuma 
sedikit pandangan seorang ulama..

dari 
http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/8301223809-film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-film-maksiat.htm


Film Ayat-Ayat Cinta Lebih Berbahaya dari Film Maksiat?

Senin, 3 Mar 08 08:47 WIB


Assalamualaikum wr.wb

Yang saya hormati bpk ust. H. ahmad sarwat, Lc yang semoga dimulyakan 
allah...

Menyikapi masalh film ayat-ayat cinta yang sekarang sedang booming yang 
diangkat dari novel ayat-ayat cinta pada awalnya saya tidak punya 
penilaian apa-apa tentang film tersebut tapi setelah saya buka wordpess

Http://tanfidz.wordpress.com/2008/02/23/film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-dari
 
film-maksiat-sebuah-analisa-dari-ustad-lukaman

Sungguh membuat saya heran dengan kapasitas pengetahuan saya yang kurang 
tentang film tersebut

Tolong kepada bapak ustad memberikan saran atau pendapat tentang masalah 
ini karena kalu memang benar saya berencana menjadikan topik tersebut 
dibahas dalam forum pemuda-pemudi Islam...diwilayah saya...sebelumnya 
terimaksih saya mohon jawaban secepatnya dari bapak ustad agar masalah 
ini dapat diselesaikan dengan cepat pula...

Wassalamualaikum wr. wb

Asep Buqhari Al-fahrizy
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap kali ada film yang mengangkat tema Islam atau dakwah, biasanya 
memang selalu diiringi dengan kontroversi di kalangan umat Islam sendiri.

Kontroversi itu bisa dilatar-belakangi karena cara pandang umat Islam 
memang berbeda-beda tentang hukum dan manfaat film untuk dakwah, namun 
terkadang 'kesalahan' memang terletak dari si pembuat film.

Untuk kasus kontroversi hukum film dalam pandangan agama ISlam, contoh 
kasusnya adalah film The Message karya Mustafa Aqqad. Perdebatan terjadi 
antara kalangan sufi dan bukan sufi. Kalangan 'sufi' (suka film) dari 
umat Islam memandang film ini bagus dan fenomenal dan layak dijadikan 
film dakwah yang ideal.

Sebaliknya, kalangan bukan 'sufi' yaitu kalangan 'tifi' alias anti film, 
karena sejak awal memang tidak suka film, tetap saja mereka tidak suka. 
Meski sudah sangat menggambarkan bagaimana hebatnya perjuangan umat 
Islam. Dan mereka tidak pernah kehabisan akal untuk mencacat sebuah film 
yang digelari film dakwah.

Dan itulah yang menyebabkan film The Message gagal shuting di Maroko 
lalu pindah ke Libya. Konon para ulama di negeri Maroko berdemo dan 
berfatwa bahwa haram hukumnya memfilmkan nabi Muhammad SAW dan para 
shahabatnya. Fatwa itu konon menyebar di dunia Islam, sehingga menurut 
cerita dari para pengamat film, penjualan film itu di Timur Tengah malah 
anjlok alias rugi.

Sebaliknya, di Barat tempat film itu diproduksi, konon cukup fenomenal 
baik dari segi penjualan dan juga penyebaran dakwah. Sosok Muhammad SAW 
yang selama ini dilecehkan, perlahan-lahan dapat dikembalikan dan 
ditempatkan sesuai posisinya.

Kesimpulan sederhananya, orang Arab (Timur Tengah) adalah anti film, 
jadi percuma berdakwah kepada mereka dengan menggunakan film. Belum 
apa-apa mereka sudah bikin fatwa sesat dan haram, tanpa pernah melihat 
filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari 
awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah.

Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan 
perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang 
perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah 
film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati.

Kalangan Suka Film

Sebaliknya, buat umat Islam yang pada dasarnya sudah suka film, 
kecenderungan mereka selalu memandang positif bila ada film yang sedikit 
saja agak tidak terlalu hedonis. Bahkan meski sama sekali bukan film 
dakwah atau agama.

Film-film yang bersifat humanis, penegakan keadilan, atau yang berlatar 
belakang sejarah, cinta yang murni dan sejenisnya, mereka masukkan ke 
dalam daftar film layak tonton. Apalagi bila film itusudah bicara 
tentang agama Islam, atau pelajar Indonesia yang kuliah di Cairo, tentu 
buat mereka sudah lebih dari cukup layak untuk ditonton.

Dan hujjah mereka pun sudah sering kita dengar. Misalnya, mereka 
mengatakan bahwa yang perlu mendapat siraman dakwah itu bukan hanya 
jamaah masjid saja, tapi mereka yang tiap hari kerjanya nonton film, 
kalau dibuatkan film yang lain dari biasanya, akan tetap bermanfaat bagi 
mereka.

Setidaknya film yang agak kental mengangkat masalah agama seperti itu, 
untuk kapasitas dunia film yang selama ini melulu hedonis dan 
materialis, bahkan cenderung pornografis, makaharus ditanggapi positif, 
bukan malah dicela atau dimaki. Juga jangan dibilang lebih berbahaya 
dari film porno.

Buat mereka, cara pandang seperti ini adalah cara pandang pesimistis, 
bahkan cenderung nihilis. Tidak berpihak kepada realita bahwa sebagian 
besar masyarakat itu sufi, alias suka (nonton) film.

Mengharamkan film sama saja mengharamkan televisi. Tapi mereka yang 
mengharamkan televisi tetap saja tidak mendirikan sendiri sebuah stasiun 
televisi tandingan yang ideal sesuai dengan selera mereka. Jadi masih 
terbatas baru bisa mengharamkan, tanpa bisa memberikan solusi.

Kekurangan Pembuat Film

Pembuatan film bertema dakwah memang agak unik dan bikin pusing, apalagi 
kalau film itu dikerjakan oleh mereka yang kurang banyak berkecimpung di 
dunia dakwah.

Boleh jadi dakwahnya malah menjadi sekedar pemanis, atau orang bilang 
'manis-manis jambu'. Atau yang paling apes, dakwahnya malah kalah dengan 
masalah lainnya, seperti masalah cinta dan seterusnya. Film-film Rhoma 
Irama misalnya, seringkali terkotori dengan tema cinta agak vulgar, 
meski kemudian agak lebih dikoreksi.

Tapi di awal-awal produksinya, film-film itu malah menggambarkan 
pacaran, berduaan, berpelukan lain jenis yang bukan mahram, walau pun 
bintangnya fasih mengutip ayat-ayat Quran. Ini kan malah jadi 
kontradiksi dan sangat mengganggu, setidaknya buat mereka yang sudah 
punya wawasan agama lebih dalam.

Mungkin akan lain ceritanya kalau film itu digarap oleh tokoh sekelas 
Deddy Mizwar yang memang konsern terhadap dunia dakwah. Meski tidak sepi 
dari kritik, namun beberapa film besutan pak haji ini banyak yang memujinya.

Ayat ayat Cinta Tidak Islami?

Orang yang pernah baca novel karya Habiburrahman ini, lalu nonton 
filmnya, akan berkomentar bahwa film itu tidak Islami. Lho kok tidak Islami?

Wah, jangan tanya saya, tapi tanya saja kepada yang bilang ungkapan itu. 
Dan yang bilang begitu bukan siapa-siapa, tapi sutradaranya sendiri, si 
Hanung. Jadi sejak awal si sutradara sudah mengaku bahwa filmnya ini 
tidak Islami.

Jadi itu saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah penilaian, tanpa harus 
diskusi panjang-panjang. Lha wong yang bikin film itu saja sudah bilang 
bahwa filmnya tidak Islami. Masak kita mau paksa bilang bahwa itu adalah 
film Islami?

Begitu banyak memang reduksi dari novel yang sarat isitlah syariah, 
ketika jadi film malah hilang begitu saja, dibuang oleh pembuat film. 
Sehingga begitu banyak pesan agama malah raib, berganti dengan adegan 
konyol, aneh dan memang tidak Islami. Dan itu sejak awal sudah diakui 
oleh si pembuat film.

Kami tidak tahu apa reaksi akhinal fadhil Habiburrahman tentang film 
ini. Silahkan tanya beliau.Tapi memang sangat beda antara apa yang 
ditulis oleh seorang lulusan Al-Azhar dalam novelnya dengan hasil 
besutan orang film yang bukan lulusan fakultas syariah. Nuansa dan 
touch-nya beda banget.

Terlambat Tayang Karena Dianggap Mempengaruhi Keimanan Agama Lain

Yang menarik dari berita tentang kenapa film ini terlambat ditayangkan, 
konon ada ganjalan di LSF. Lembaga ini mengatakan bahwa film ini 
dikhawatirkan akan mempengaruhi keyakinan agama lain, karena ada 
tokohnya yang beragama kristen tapi suka dengan Al-Quran. Malahan masuk 
Islam karena terpesona dengan sosok seorang laki-laki muslim.

Dan rasanya titik ini menarik untuk dikaji, penulis novel memang ingin 
menggambarkan hubungan yang harmonis antara muslim dan kristen, di mana 
pada hakikatnya keduanya memang sangat dekat. Bahkan wanita kristen 
memang halal dinikahi oleh laki-laki muslim. Demikian juga dengan 
sembelihannya.

Dan memang berbeda antara kristen di negeri kita dengan kristen di 
Mesir. Kristen di Mesir mewakili gereja timur yang berbeda dengan 
kristen Eropa yang lebih sesat serta bercampur dengan berbagai 
sinkritisme Eropa yang teramat paganis.

Aneh juga memang, biasanya LFS meloloskan semua materi film yang 
melecehkan agama, seperti pornografi, pelecehan seksual, kekerasan 
sampai lesibianisme dan homoseksual. Tapi giliran ada film yang 
mengangkat masalah agama Islam, tiba-tiba bisa gagah untuk menghalangi.

Kira-kira ada apa ya dengan lembaga yang satu ini, sehingga bisa kayak 
Amerika yang punya standar ganda?

Lokasi Mesir

Lepas dari kontroversi apakah film ini Islami atau tidak Islami, tapi 
sebagai orang yang pernah ke Mesir dan bahkan lahir di Mesir, film ini 
menurut hemat kami kurang bisa menampilkan setting kejadian yang 
sebagian besar di Mesir.

Ketika baca novelnya, suasana Mesir, orang-orang, kebudayaan dan 
kebiasaan mereka sangat kental. Wajar, karena Habiburrahman kuliah di 
sana beberapa tahun.

Tapi ketika divisualisasikan, mulai dari yang bikin film, yang main, 
bahkan para team kreatifnya, mungkin malah belum pernah tinggal di 
Mesir. Jadi kalau kesan 'bukan Mesir' nya terlalu menonjol, sejak awal 
memang sudah bisa ditebak. India dan Mesir kan tetap berbeda, biar 
bagaimana pun juga.

Ketika dahulu produksi film itu belum memutuskan siapa yang jadi 
sutradara, mas Chaerul Umam pernah bilang bahwa beliau sempat ditawarkan 
untuk menggarapnya. Kami katakan kepada beliau, "Mas, kalau memang jadi 
membuat film itu, mbok sampeyan 'nyantri' dulu di Mesir barang tiga 
bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana."

Dan permintaan itu sudah dijadikan syarat oleh penulis novelnya, agar 
lokasi syuting harus di Mesir betulan. Namun sayangnya, sutradara film 
itu, Hanung, katanya'diperas' oleh PH di Mesir, sehingga cita-cita 
mengangkat suasana kota Cairo dalam film ini jadi gatot alias gagal total.

Walhasil, dari sudut pandang ini, film itu kurang mengangkat 
ke-Mesiran-nya, Tapi apa itu penting buat penonton di negeri ini?

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim email ke