MEWASPADAI BERBAGAI BENTUK SYUBHAT [image:
Cetak]<http://muslim.or.id/index2.php?option=com_content&task=view&id=624&pop=1&page=0&Itemid=2>
[image:
E-mail]<http://muslim.or.id/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=624&itemid=2>
  Kamis,
03 Januari 2008

Kata syubhat tampaknya sudah menjadi kata yang akrab dengan telinga
salafiyyin, khususnya dikalangan thalabul 'ilmi (pencari ilmu). Hal itu
terjadi karena memang sering di sebut-sebut di dalam majelis ilmu, terutama
tatkala membahas akidah. Adapun kata syubhat biasa untuk menamai suatu dalil
dengan alasan yang di pakai untuk suatu hal yang menyelisihi Al Haq.

Syubhat biasa di pakai oleh kalangan yang ingin melegalisasi pendapat
mereka, meskipun sesungguhnya pendapatnya jelas-jelas menyelisihi al haq.
Oleh karena itu banyak cara yang bisa ditempuh untuk tercapainya tujuan
tersebut. Tentunya yang menjadi korban adalah kalangan awam atau mereka yang
kurang waspada akan hal tersebut. Hingga kemudian mereka berpegang dengan
syubhat tersebut. Bahkan terkadang ikut pula memopulerkannya, dalam keadaan
merasa berpegang kepada dalil atau alasan yang jelas.

Dengan melihat kasus tersebut di atas, maka tahulah kita bahwa syubhat tidak
hanya muncul dari orang-orang yang memang ada kepentingan dengan syubhat
tersebut untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok, akan tetapi
bisa juga muncul dari orang-orang yang ikhlas dalam berdalil dikarenakan
ketidaktahuannya. Dengan kata lain, mereka telah terperangkap dalam suatu
syubhat tetapi tidak menyadarinya!

Dalam rangka *nushil ummah* (memberi nasihat kepada umat) supaya terbebas
dari berbagai syubhat (*bitaufiqillah*) insya Allah akan penulis paparkan
bentuk-bentuk syubhat yang menurut hemat penulis banyak memakan korban.
Adapun kalau kemudian ada yang merasa menjadi korban dari syubhat tersebut,
sudah semestinya untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan yang haq dan
tidak selayaknya untuk tenggelam dalam penyesalan diri, kemudian mencari
kambing hitam atau bahkan justru tersinggung dan sakit hati. Sikap yang
terakhir ini tentulah bukan sikap seorang muslim yang baik.

Berikut ini berbagai bentuk cara yang di tempuh oleh ahlul Hawa (pengikut
hawa nafsu) beserta contoh-contohnya (diterangkan dari berbagai referensi):

*1. Berdalil dengan ayat atau hadits mutasyabihat* (Lihat *Kasyfu
asy-Syubhat* hal. 34)
Allah *ta'ala* berfirman:

åõæó ÇáøóÐöí ÃóäÒóáó Úóáóíúßó ÇáúßöÊóÇÈó ãöäúåõ ÁóÇíóÇÊõõ ãøõÍúßóãóÇÊñ åõäøó
Ãõãøõ ÇáúßöÊóÇÈö æóÃõÎóÑõ ãõÊóÔóÇÈöåóÇÊõõ ÝóÃóãøóÇ ÇáøóÐöíäó Ýöí ÞõáõæÈöåöãú
ÒóíúÛõõ ÝóíóÊøóÈöÚõæäó ãóÇÊóÔóÇÈóåó ãöäúåõ ÇÈúÊöÛóÂÁó ÇáúÝöÊúäóÉö
æóÇÈúÊöÛóÂÁó ÊóÃúæöíáöåö
*"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)
nya ada ayat-ayat yang muhkamat (yang terang dan tegas maksudnya, dapat
dipahami dengan mudah), itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang
mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari
ta'wilnya."* (QS. Ali Imran: 7)

Ibnu Katsir berkata: Muhkamat, yaitu jelas dan terang maksudnya, serta tidak
ada yang samar terhadap maksudnya. Mutasyabihat, yaitu di dalamnya tidak ada
kesamaran akan maksudnya bagi kebanyakan orang atau sebagian orang. Jadi
firman-Nya:

óÃóãøóÇ ÇáøóÐöíäó Ýöí ÞõáõæÈöåöãú ÒóíúÛõõ
*"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan."
*
Maksudnya keluar dari al-Haq menuju kebatilan. Maka mereka mengikuti
ayat-ayat mutasyabihat di mana memungkinkan bagi mereka untuk
memalingkannya/membelokkannya sesuai dengan tujuan mereka yang batil, karena
memang kandungan lafaznya memungkinkan untuk di palingkan.

Rasulullah bersabda berkaitan dengan masalah ini:

ÝóÅöÐóÇ ÑóÃóíúÊó ÇáøóÐöíúäó íóÊøóÈöÚõæúäó ãóÇ ÊóÔóÇÈóåó ãöäúåõ ÝóÃõæúáÆößó
ÇáøóÐöíúäó Óóãøóí Çááåõ ÝóÇÍúÐóÑõæåõãú ( ÑæÇå ÇáÈÎÇÑì æ ãÓáã )
*"Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang samar
daripadanya, maka merekalah orang-orang yang dimasksudkan oleh Alloh. Maka
waspadalah."* (*Tafsir Ibnu Katsir* 1/460)

Salah satu contohnya, Ahlul Bid'ah berdalil dengan ayat:

áóíúÓó ßóãöËúáöåö ÔóìúÁõõ
*"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia."* (QS As Syura: 11)

Untuk menyatakan bahwasanya Alloh tidak mempunyai sifat, karena mereka
beranggapan kalau menetapkan sifat berarti menyerupakan Alloh dengan
makhluk-Nya, sehingga akan bertentangan dengan ayat tersebut. Pernyataan
tersebut adalah batil, karena lanjutan ayat tersebut jelas menyatakan:

æóåõæó ÇáÓøóãöíÚõ ÇáúÈóÕöíÑõ

*"Dan Dia Maha mendengar lagi Maha Melihat."*

Maka sesungguhnya maksud ayat tersebut, bahwasanya Alloh memiliki
sifat-sifat, akan tetapi sifat-sifatNya seluruhnya berbeda dengan
sifat-sifat Makhluk. (Lihat *Syarh Aqidah Ath-Thawiyah* hal. 98 dan 117)

*2. Berdalil dengan ayat atau hadits secara sembarangan.*
Maksudnya mereka dalam berdalil sama sekali tidak memperhatikan
kaidah-kaidah istidlal (penggunaan dalil). Biasanya dilakukan untuk membela
pendapat yang sudah terlanjur diucapkan atau diyakini, tanpa dalil. Sikap
seperti ini jelas sikap Ahlu Batil (orang-orang yang mengikuti kebatilan).
Maka barang siapa berbicara tentang agama ini tanpa ilmu, sungguh dia adalah
pengikut hawa (nafsu). Allah *ta'ala* berfirman:

æóãóäú ÃóÖóáøõ ãöãøóäö ÇÊøóÈóÚó åóæóÇåõ ÈöÛóíúÑö åõÏðì ãøöäó Çááåö

*"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun."* (QS Al-Qashash: 50)
Dan firman-Nya:

Þõáú ÅöäøóãóÇ ÍóÑøóãó ÑóÈøöíó ÇáúÝóæóÇÍöÔó ãóÇÙóåóÑó ãöäúåóÇ æóãóÇÈóØóäó
æóÇúáÅöËúãó æóÇáúÈóÛúìó ÈöÛóíúÑö ÇáúÍóÞøö æóÃóä ÊõÔúÑößõæÇ ÈöÇááåö ãóÇáóãú
íõäóÒøöáú Èöåö ÓõáúØóÇäðÇ æóÃóäú ÊóÞõæáõæÇ Úóáóì Çááåö ãóÇáÇóÊóÚúáóãõæäó
*Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang
nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia
tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu
yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."* (QS Al A'raaf :
33)

Umar berkata: "As sunnah adalah apa-apa yang telah disunahkan oleh Allah dan
Rasulnya. janganlah kalian menjadikan kesalahan pendapat sebagai sunnah bagi
umat".
Abu Bakar Ash Shiddiq berkata: "Bumi mana tempat aku berpijak dan langit
mana tempat aku berlindung jika aku berkata tentang ayat dari kitabullah
dengan pendapatku semata atau apa-apa yang aku tidak mengetahuinya?" (Lihat
*Aqidah Ath-Thahawiyyah* hal. 385)

Sebagai contoh syubhat di dalam model ini. Allah berfirman:

ãóÑóÌó ÇáúÈóÍúÑóíúäö íóáúÊóÞöíóÇäö

*"Dia membiarkan kedua lautan mengalir, yang keduanya kemudian
bertemu."*(QS. Ar-Rahman: 19)

Syiah Rafidhah mengatakan bahwa maksudnya dua lautan tersebut adalah 'Ali
dan Fathimah, hal ini terjadi disebabkan oleh sikap keterlaluan mereka dalam
memuji 'Ali dan keluarganya. Sementara mereka memaksudkan ayat-ayat Al Quran
tentang pohon yang terlaknat adalah Bani Umayyah, disebabkan oleh kebencian
mereka kepada Muawiyyah dan keluarganya. (Lihat *Syarh Muqoddimah Tafsir
Ibnu Taimiyyah*, karya syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

*3. Berdalil dengan hadits dhaif atau palsu.*
Termasuk perkara yang menimbulkan bid'ah-bid'ah adalah adanya hadits-hadits
yang tidak shahih. Al-Hafidz Abul Khattab bin Dahyah berkata: *"Waspadalah
wahai hamba-hamba Allah dari pendusta yang meriwayatkan hadits kepada
kalian, yang di bawakan untuk menampakkan kebenaran (Al Khair). Karena yang
namanya Al Khair semestinya apa-apa yang disyariatkan oleh Rasululloh. Maka
apabila ternyata merupakan kedustaan, berarti bukan yang disyariatkan. Dan
dengan sikap menampilkannya merupakan sikap membantu syaitan."*

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menerima berita yang
dinisbatkan kepada Rasulullah atau kepada salafush shalih. Kita seleksi mana
yang shahih dan mana yang dhaif (lemah). Untuk kemudian kita terima yang
shahih saja dan kita buang yang dhaif. Siapa pun harus takut bila termasuk
yang di sabdakan oleh Rasulullah:

ãóäú ÍóÏøóËó Úóäíøö ÈöÍóÏöíúËò íóÑóí Ãóäøóåõ ßóÐöÈñ Ýóåõæó ÃóÍóÏõ
ÇáúßóÇÐöÈöíúäó

*"Barang siapa yang berbicara atas namaku, padahal dia tahu itu dusta, maka
dia termasuk pendusta."* (Lihat *'Ilmu Ushul Bida'* hal. 135-57)

Contoh-contoh hadits dhaif yang banyak diamalkan orang yaitu hadits tentang
talqin mayat setelah di kubur. Hadits tersebut telah didhaifkan (dilemahkan)
oleh para ulama, bahkan di antara mereka ada yang berpendapat atas bid'ahnya
mengamalkan hadits-hadits tersebut. Juga hadits-hadits tentang perayaan hari
'As Syura (tanggal 10 Muharram), tentang memuliakan ayam jago putih, adalah
hadits-hadits yang maudhu' (palsu).

*4. Mendahulukan akal atas naql (wahyu).*
Menjadi keimanan setiap muslim yang beriman untuk menerima (pasrah) terhadap
naql (wahyu/Al Kitab dan As Sunnah) dan tidak mempertentangkannya dengan
akal, atau menyatakan bahwa akal bertentangan dengan apa yang ditunjukkan
oleh naql (wahyu). Sesungguhnya kondisi seperti ini tidak akan pernah
terjadi . Artinya selama naql benar-benar shahih (dari Allah dan Rasul-Nya),
tidak mungkin akan bertentangan dengan akal yang sehat. Apa sebabnya? karena
akal telah menunjukkan benarnya naql dan menunjukkan wajibnya menerima apa
yang diberitakan oleh Rasulullah. Maka apabila kita menolak naql, berarti
kita telah menolak apa yang telah di tunjukkan oleh akal. Dan kalau kita
menolak apa yang telah di tunjukkan akal, berarti akal tidak bisa di pakai
untuk menentang naql, sehingga mendahulukan akal atas naql pada hakikatnya
merusak akal itu sendiri. Dan orang-orang yang mempertentangkan naql dengan
akal sungguh menyerupai iblis tatkala dia menolak perintah Allah dengan
mengatakan:

ÃóäóÇÎóíúÑñ ãøöäúåõ ÎóáóÞúÊóäöí ãöä äøóÇÑò æóÎóáóÞúÊóåõ ãöä Øöíäò

*"Sesungguhnya aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." *(QS. Al A'raaf: 12)

Adapun contoh-contoh seperti ini banyak kita dapatkan pada 'Ahlul Bida'
(orang-orang yang suka melakukan Bid'ah) dari kalangan Bathiniyah, Filosof,
Mu'tazilah dan orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran mereka. Kita
harus waspada, sebab mereka sering menamakan tindakannya dalam
mempertentangkan antara naql dengan akal dengan istilah takwil (tafsir).
Padahal mengubah hakikatnya adalah Tahrif (mengubah lafal atau makna) dalam
rangka mengelabui orang jahil (awam).

Misalnya, mereka mentahrif (menyimpangkan) dalil-dalil tentang ru'yah Allah
(melihat Allah pada hari kiamat) dengan alasan akal menyatakan mustahilnya.
Perkataan mereka jelas menyelisihi orang-orang yang berakal sehat. Sebab
menurut akal sehat, sesuatu yang berdiri sendiri mustahil kalau tidak bisa
di lihat.(*Syarh Aqidah Ath-Thawiyah* hal. 199-211)

*5. Berlindung di balik zallah (terpelesatnya) para ulama.*
Kita meyakini bahwa individu umat ini tidak ada yang ma'sum (terjaga dari
kesalahan) selain Rosululloh. Tanpa terkecuali termasuk para ulama. Kita
meyakini bahwa mereka dapat terjerumus dalam dosa, namun kita tetap
mengharap agar mereka tetap mendapat kedudukan yang tinggi karena Allah
telah mengistimewakan mereka sebagai orang-orang yang beramal saleh, dan
sejalan dengan sunnah, serta tidak termasuk ke dalam orang-orang yang terus
menerus dalam dosa. (*Raf'ul Malaam 'an a-immatil a'lam* hal. 45)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: *"Sesungguhnya imam-imam besar ahli ilmu
apabila telah di ketahui kebenarannya, di ketahui kehati-hatiannya terhadap
al-haq dan keluasan ilmunya serta tampak kecerdasannya, kemudian di kenal
sebagai orang yang shalih, wara', serta ittiba'nya maka keterpelesetannya
diampuni. Oleh karena itu tidak boleh bagi kita menganggapnya sesat,
kemudian membuangnya, melupakan kebaikannya. Memang benar bahwa kita tidak
boleh mengikutinya dalam kebid'ahan dan kesalahannya, tetapi kita berharap
agar ia bertaubat dari kesalahannya tersebut."*

Selanjutnya beliau berkata: *"Apabila setiap kesalahan seorang imam lalu
kita anggap ia sebagai mubtadi' (orang-orang yang suka melakukan bid'ah) dan
kita tinggalkan/asingkan (hajr), maka tidak ada orang yang terlepas dari
kesalahan, baik Ibnu Mashr atau Ibnu Mandah ataupun orang yang lebih utama
dari keduanya!!"* Masih kata beliau. *"Sebagian ulama senantiasa berselisih
(berbeda pendapat satu sama lainnya dan bantah membantah, maka tidak pantas
bagi kita untuk mencela seorang alim pun berdasar hawa (nafsu) dan
kebodohan."* (*Al Majmu'ah Al 'Ilmiyah* hal. 110-111)

Di samping sikap yang salah dalam menyikapi para ulama sebagaimana tersebut
di atas, juga muncul sikap salah dalam bentuk lain, yaitu menjadikan
kesalahan ulama sebagai benteng untuk melindungi kesalahan mazhab atau
kelompoknya, sebagaimana yang terjadi pada Ahlul Ahwa (orang-orang yang suka
mengikuti hawa nafsu). Mereka menisbatkan (menyandarkan) dirinya sebagai
salaf yang masyhur, di saat sebagian ulama Salaf terpelesat dan kebetulan
mencocoki sebagian pendapat mereka. (*Al-Aqidah Ath-Thahawiyah* hal. 320)

*6. Berpegang dengan makna bahasa saja.*
Tidak diragukan lagi bahwa bahasa Arab mutlak diperlukan untuk memahami Al
Kitab dan As Sunnah. Artinya tidak mungkin seseorang memahami keduanya tanpa
menggunakan kaidah-kaidah bahasa Arab. Namun, bahasa Arab saja tidak cukup
untuk memahami keduanya. Banyak perangkat yang dibutuhkan untuk memahami
keduanya seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Musthalah Al Hadits, Ilmu Ushul Fiqh,
Sirah (sejarah) dan lain-lain. Tanpa perangkat-perangkat tersebut orang akan
tersesat dari jalan yang benar.

Sebagai contoh apa yang terjadi pada kalangan sahabat tatkala mereka
memahami surat Al An'aam ayat 82. Juga kesalahan Abu Bakar dalam memahami
surat Al Insyirah ayat 6-7. Maka kemudian Rasulullah menjelaskan kepada
mereka apa yang dimaksudkan oleh ayat-ayat tersebut (*Fathul Madjid* hal.
31-32). Juga kesalahan dari Imam Abu Hanifah tatkala mendefinisikan istilah
"Al Iman" karena berpegang pada makna bahasa, akhirnya pendapat beliau malah
sesuai dengan pendapat Murji'ah (*Al-Aqidah Ath-Thawiyah* hal. 331-357).

*7. Berpegang pada sebagian dalil dan mengabaikan yang lain*.

Allah berfirman tentang Ahli Kitab:

Åöäøó ÇáøóÐöíäó íóßúÝõÑõæäó ÈöÇááåö æóÑõÓõáöåö æóíõÑöíÏõæäó Ãóä íõÝóÑøöÞõæÇ
Èóíúäó Çááåö æóÑõÓõáöåö æóíóÞõæáõæäó äõÄúãöäõ ÈöÈóÚúÖò æóäóßúÝõÑõ ÈöÈóÚúÖò
æóíõÑöíÏõæäó Ãóä íóÊøóÎöÐõæÇ Èóíúäó Ðóáößó ÓóÈöíáÇð

*"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan
bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir
terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)"* (QS. An
Nisaa: 150)

Dan firmanNya:

æóáÇó ÊóáúÈöÓõæÇ ÇáúÍóÞøó ÈöÇáúÈóÇØöáö æóÊóßúÊõãõæÇ ÇáúÍóÞøó æóÃóäÊõãú
ÊóÚúáóãõæäó

*"Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebathilan dan
menutup-nutupi kebenaran sedangkan kalian mengetahui."* (QS. Al Baqarah: 42)

Dan sabda Rasulullah *shalallahu 'alaihi wa sallam:* *"Sesungguhnya kalian
akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal
(benar-benar mengikuti) hingga kalau seandainya mereka masuk ke dalam lubang
biawak, sungguh kalian akan mengikutinya. para sahabat bertanya, "Wahai
Rasulullah apakah Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: Siapa
lagi?"*(Muttafaqun 'Alaihi)

Dengan hadits ini pula syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berdalil, bahwasanya
sebagian umat ini akan beribadah kepada selain Allah!! (*Fathul Madjid* hal.
227-229). Sikap berpegang dengan sebagian dalil dengan mengabaikan dalil
lain banyak dilakukan Ahlul Ahwa (pengiktu hawa nafsu). Seperti mereka yang
menafikan/mengingkari sifat-sifat Allah (*Al-Aqidah Ath-Thawiyah* hal.
98-105), Jabariyah dan Qadariyah dalam masalah takdir (*Al-Aqidah
Ath-Thawiyah* hal. 249-261), Khawarij dan Murji'ah serta Mu'tazilah dalam
masalah status keimanan orang-orang yang melakukan dosa besar (*Al-Aqidah
Ath-Thawiyah* hal. 316-324).

Oleh karena itu apakah tidak mungkin bahwa sikap sebagian orang yang
membaro' (melakukan pelepasan diri) dan menghajr (memboikot) sebagian
lainnya dan kemudian saling membenci di antara satu sama lain adalah akibat
kesalahan dari sisi ini !?

*8. Mengaku paling benar*.
Termasuk senjata syubhat yang banyak di pakai oleh Ahlul Ahwa adalah
seringnya mereka mengatakan apa yang mereka pahami adalah selaras dengan
pemahaman salaf. Padahal hal tersebut merupakan kepalsuan dan kedustaan atas
nama Salaf As-Shalih. Sehingga orang-orang awam yang lemah untuk mencari
dalil dan meneliti kebenaran (kesesuaian) penggunaan dalil, menerima begitu
saja pernyataan mereka itu!!?. Kasus kepalsuan dan kedustaan tersebut
sebagaimana yang dilakukan oleh *Asy'ariyyah*, *Al-Muwaffidhoh* (kelompok
yang enggan mengaritkan sifat-sifat Allah) yang mengklaim bahwa pemahaman
mereka adalah pemahaman Salaf atau Ahlus-Sunnah wal Jamaah. Misalnya dalam
perkataan mereka: Dan setiap nash yang terfahami sebagai tasybih
(menyerupakan Allah dengan makhluk), maka ta'wilkan atau biarkan dan
tinggalkanlah dalam rangka tanzih (mensucikan Allah). Kemudian lanjutan
syair: Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti Salaf (para pendahulu dari
kaum mslimin). Dan setiap kejelekan adalah dengan mengikuti Khalaf
(orang-orang kemudian dari kaum muslimin). (*Ta'dzhimu as-Sunnah* hal.
49-50, *Tanbihatul Lathifah* hal. 18)

Namun pengakuan saja tidaklah cukup!!! Perhatikan penjelasan Ibnul Qayyim
tentang firman Allah:

Þõáú åóÐöåö ÓóÈöíáöí ÃóÏúÚõæÇ Åöáóì Çááåö Úóáóì ÈóÕöíÑóÉò ÃóäóÇæóãóäö
ÇÊøóÈóÚóäöí æóÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóãóÂÃóäóÇ ãöäó ÇáúãõÔúÑößöíäó

*"Katakanlah, Inilah jalanku, aku mengajak menuju jalan Allah di atas ilmu
(bashirah), aku dan orang-orang yang bersamaku. Maha suci Allah dan aku
bukan termasuk dari orang-orang yang menyekutukan Allah."* (QS. Yusuf: 108)

(Beliau berkata), "Ayat ini menunjukkan bahwa pengikut Rasulullah adalah
Ahlul 'Ilmi (pemilik 'ilmu) dan da'i ilallah (penyeru ke jalan Allah).
Barang siapa yang tidak seperti mereka, pada hakikatnya bukanlah pengikut
beliau dan tidak sesuai dengan Rasulullah meskipun secara pengakuan
merupakan pengikut beliau (*Fathul Madjid* hal. 71).

Maka tatkala kita telah menyatakan bahwa kita sunni, salafi, cocokkanlah
apa-apa yang kita ilmui dan kita amalkan dengan ilmu dan amal Salafus
shalih. Berlapang dadalah untuk menerima kritik dan teguran dari orang lain,
kemudian introspeksi diri, jangan-jangan kita sendiri yang menyelisih manhaj
salaf. Dengan demikian dari manapun datangnya kebenaran, kita harus
menerimanya.

*9. Memberi gelaran buruk dan membuat cerita-cerita dusta untuk
menghalang-halangi manusia menerima kebenaran*.
Merupakan hal yang senantiasa di hadapi para rasul tatkala berdakwah kepada
umatnya, kemudian mendapat julukan buruk. Sebagaimana di sebutkan di dalam
firman Allah:

ãóÂÃóÊóì ÇáøóÐöíäó ãöä ÞóÈúáöåöã ãøöä ÑøóÓõæáò ÅöáÇøó ÞóÇáõæÇ ÓóÇÍöÑñ Ãóæú
ãóÌúäõæäñ

*"Demikianlah, tidak datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul
pun kecuali mereka mengatakan tukang sihir atau orang gila."* (QS.
Adz-Dzariyaat: 52)

Syaih Muhammad bin Jamil Zainu berkata: "Ayat ini meskipun berkaitan dengan
orang-orang kafir, akan tetapi berkenaan juga atas setiap orang, termasuk
orang islam yang memiliki sifat sebagaimana sifat mereka. Mereka memusuhi
da'i-da'i Tauhid, mengarang cerita-cerita dusta dan menggelari mereka dengan
nama-nama yang mengerikan dalam rangka menghalang-halangi orang agar jangan
sampai berhubungan dengannya". Mereka mengatakan bahwa para pengikut Wahabi
(Muhammad bin Abdul Wahab) adalah orang-orang yang menyelisihi umat islam,
tidak beriman terhadap para wali Allah dan karomahnya, tidak mencintai Rasul
dan tuduhan-tuduhan dusta lainnya (*Al-Firqah an-Najiyah* hal. 40).

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu melanjutkan: "Sebagian orang menjuluki kami
sebagai Wahabiyyun (orang-orang yang mengikuti paham Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab), maka sebutan ini dapat di kategorikan sebagai panggilan dan
gelaran yang jelek. Padahal Allah betul-betul telah melarang hal tersebut
dengan firmanNya:

æóáÇóÊóäóÇÈóÒõæÇ ÈöÇúáÃóáúÞóÇÈö

*"Janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-ghelar yang buruk!"* (QS.
Al-Hujurat: 11)

Imam Syafi'i dahulu juga di tudah sebagai Rafidhiy (Syi'ah), maka beliau
bantah dengan mengatakan :"Jika orang-orang Rafidhah adalah orang-orang yang
mencintai Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah), maka saksikanlah wahai jin dan
manusia bahwa sanya saya adalah Rafidhiy".Maka kami bantah pula orang-orang
yang menjuluki kami dengan gelar Wahabi dengan perkataan salah seorang
penyair: *"Jika mengikuti Ahmad (Muhammad) di juluki Wahabi, maka saya
mengikrarkan bahwa saya seorang Wahabi." *(*Al-Firqah an-Najiyah* hal. 47)

Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, di juluki sebagai Naashiby,
maka beliau menyatakan: *"Jika Naashibah mencintai shahabat Muhammad, maka
saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa saya adalah Naashibi."* (*Syarh
Al-Qasidah An-Nuniyah* hal. 10)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani pun tidak luput dari tuduhan. Beliau
di tuduh Murji'ah. (Kaset ceramah Syaikh Ali Hasan) Nampaknya di Indonesia
juga muncul trend memberikan gelaran dan tuduhan yang sangat jelek kepada
beberapa dai tanpa dasar, seperti gelar makelar Salaf, maling, anjing gila,
Muhaddits boipung (koboi kampung), bajingan, centeng pasar, Hizbi, Sururi,
dan lain-lain, lebih parah lagi di sertai cerita-cerita kosong belaka?!
Sebagian syubhat seperti ini sangatlah rapuh, namun karena kebanyakan orang
mudah tertipu dengan kuantitas, suara lantang (tabligh akbar) dan isu-isu,
maka banyak pula orang yang terperangkap ke dalam syubhat ini dari zaman ke
zaman.

*10. Menghiasi Kebatilan sehingga nampak sebagai Al-Haq*.

Allah berfirman:

æóßóÐóáößó ÌóÚóáúäóÇ áößõáøö äóÈöíøò ÚóÏõæøðÇ ÔóíóÇØöíäó ÇúáÅöäúÓö
æóÇáúÌöäøö íõæÍöí ÈóÚúÖõåõãú Åöáóì ÈóÚúÖò ÒõÎúÑõÝó ÇáúÞóæúáö ÛõÑõæÑðÇ

*"Demikianlah kami jadikan untuk setiap nabi sebagai musuh setan dari jenis
jin dan manusia, saling mewahyukan sebagian terhadap sebagian yang lain
perkataan-perkataan yang dusta yang di hias-hiasi."* (QS. Al An'am: 112)

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'di berkata tentang ayat ini, bahwasanya
sudah merupakan sunnatullah (ketentuan Allah), bahwa Allah membuatkan bagi
para Nabi musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang menolak, memerangi
dan mendengki dakwah para Nabi dengan tujuan menegakkan kebalikan dari
ajaran para rasul. Di mana mereka satu sama lain saling menghiasi perkara
yang mereka serukan dengan ungkapan-ungkapan yang indah, sehingga tampak
paling indah bagi orang-orang bodoh yang tidak mengetahui perkara
sesungguhnya atau hakikat di balik nama yang indah tersebut, sehingga mereka
meyakini kebatilan tersebut sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai
kebatilan (*Tafsir Karim Ar-Rahman* jilid II hal. 62).

Kita lihat kenyataan yang ada pada masyarakat, kebatilan-kebatilan mereka
namakan dengan nama-nama yang indah, misalnya kesyirikan mereka katakan
menghormati budaya leluhur, tahrif (menyimpangkan makna nash) mereka katakan
sebagai takwil atau tafsir, menolak takdir mereka katakan keadilan, riba
mereka katakan bunga, pengumbar seks mereka katakan sebagai bintang. Tidak
asing pula taklid dan ta'ashub (fanatisme) mereka sebut sebagai ittiba'
(mengikuti dalil) atau ihtiram (menghormat) kepada para ulama atau kyai atau
ustadz?!

Sebagai penutup, kami sampaikan bahwa akibat berbagai syubhat tersebut di
atas ataupun yang belum di sebutkan, umat islam menjadi tercerai berai
menjadi sekian banyak kelompok besar, dan setiap kelompok besar
terpecah-belah menjadi kelompok kecil, dimana masing-masing pihak merasa
kelompoknya paling benar. padahal semuanya menyimpang dengan berbagai
tingkat penyimpangan hingga ada yang keluar dari islam. padahal yang lurus
hanya satu yaitu Ahlul haq (Ahlussunnah wal Jamaah).

Perpecahan ini akan terus berlangsung sampai waktu yang Allah kehendaki dan
tidak akan ada yang selamat dari perpecahan atau penyimpangan tersebut
kecuali orang-orang yang di kehendaki untuk mendapatkan rahmat dari Allah.
oleh sebab itu, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali harus banyak berdoa
dengan tetap berusaha untuk mencari ilmu yang haq (benar), dengan ikhlas dan
cara yang benar untuk di amalkan. Kepada segenap kaum muslimin, marilah kita
banyak-banyak berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah, yaitu:

*"Ya Allah, Rabb-nya Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi.
Yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang nampak. Engkau memutuskan
apa-apa yang di perselisihkan di antara hamba-hamba-Mu, maka tunjukkanlah
kepadaku kebenaran dengan izin-Mu dari apa-apa yang mereka perselisihkan.
Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus kepada siapa saja yang
engkau kehendali."*

*Wallahu a'lam*

*Daftar Rujukan:*

   1. *Terjemah Al-Qur'an*.
   2. *Terjemah Ibnu Katsir*, cet. I Jum'iyyah Ihya At-Turats.
   3. *Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah* oleh Al 'Allamah Ibnu Abi Al-'Izzi
   Al Hanafi cet. Al-Maktabah Al-Islami cet. IX, tahqiq dan takhrij Syaikh
   Nashiruddin Al-Albani.
   4. *Fathul Madjid, Syarh Kitab at-Tauhid* oleh Syaikh Abdurrahman bin
   Hasan Ali Syaikh cet. Jum'iyyah Ihya at-Turots Kuwait.
   5. *Al-Majmu'ah Al-Ilmiyah* oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid,
   cet I Daarul Ibnu Qoyyim.
   6. *Tanbihul-Lathifah* oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir Assa'di,
   cet. I Daarul Ibnu Qayyim.
   7. *Ta'dzimus Sunnah* oleh Syaikh Abdul Qayyum bin Muhammad bin
   Nashir, cet. Maktabah Ibnul Qayyim th. 1414 H.
   8. *Syarh Muqoddimah Tafsir* oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah cet. I
   Darul Wathan.
   9. *Raf'ul Malam 'an-A'immah al-'Alam* Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah
   cet. ar-Risalah al-'Amah li-Idaratil Buhutsil Ilmiyah wal iftah' th. 1983 M.
   10. *Riyadhus Shalihin* oleh Imam An-Nawawi. cet. Jum'iyyah At-turots
   Al-Islami th. 1994 M.
   11. *Al-I'tisham* oleh Imam Asy-Syatibi cet. I Darul Ibnu Affan th
   1992.
   12. *Al-Firqatun Najiyah* oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu cet. XVIII,
   Silisilah At-Taujihat nomor 3.
   13. *Ahkamul Janaiz* oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani cet. Maktabah
   Al-Ma'arif th. 1992.
   14. *Taisiril Kalim ar-Rahman* oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir
   Assa'di cet. 'Alimil Kutub.
   15. *Ilmu Ushul Al-Bida'* oleh Syaikh Ali Hasan bin Abdulhamid
   Al-Atsary cet. I Darul Rayah 1992 M.
   16. *Syarh Al-Qasidah An-Nuniyah* oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras
   cet. Darul Kutub Al'Ilmiyah th. 1995.
   17. *Kasyfu Asy-Syubhat* ta'liq Syaikh Muhammad bin Shalih Al
   Utsaimin.

http://muslim.or.id/artikel/manhaj/mewaspadai-berbagai-bentuk-syubhat.html


[Non-text portions of this message have been removed]



===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke