dari http://www.almanhaj.or.id/content/347/slash/0
BOROK-BOROK SUFI: Cahaya Nur Muhammadi, Pendidikan Sufi
Oleh
Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan 3/3
CAHAYA (NUR) MUHAMMADI
Termasuk dalam madzhab wihdah al-wujud, ialah adanya keyakinan dikalangan
orang-orang sufi tentang masalah Aqthab, Autad, Abdal, Aghwats, An-Najba (yakni
beberapa istilah status, jabatan atau peringkat dikalangan sufi), bahwa ruh
Allah berdiam pada diri mereka sehingga merekalah yang mengatur apa yang ada.
Mereka menduduki kedudukan Allah dalam mencipta dan mengatur. Yang demikianpun
termasuk keyakinan Syi'ah terhadap para imamnya. Seperti dikatakan Khumeini
dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah hal.52 : "Sesungguhnya imam mempunyai
kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, dan kekuasaan untuk mencipta
serta tunduk di bawah kekuasaannya seluruh unsur dari semesta ini. Dan termasuk
madzhab kami yang sangat penting pula, bahwa para imam kita mempunyai kedudukan
yang tidak dapat diraih oleh para malaikat terdekatpun, dan tidak pula oleh
nabi yang didekatkan. Dan berdasarkan riwayat-riwayat yang ada pada kita,
dengan hadits-haditsnya, bahwa Rasul teragung Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para imam, mereka semua, sebelum adanya alam semesta ini berupa cahaya yang
dijadikan Allah mengelilingi Ars-Nya. [1]
Sesungguhnya orang-orang sufi, dimana beribu-ribu kaum muslimin dari segala
penjuru dirangkul mereka, lalai ketika mengangkat orang-orang tersebut (para
imamnya) ke derajat ketuhanan atau yang mendekati hal itu. Yaitu menjadikan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkedudukan diantara mereka dalam
mengatur semesta, baik masalah penciptaan dan pengaturan, mendatangkan manfaat
dan memberikan madharat, qadha dan qadar .... Maka, mulailah mereka
mengada-ngadakan perkataan terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
melalui teori Al-Haqiqah Al-Muhammadiyah yang mengeluarkan Rasulullah dari alam
manusia dan menjadikannya cahaya (nur). Dari cahaya Muhammad itulah seluruh
mahluk diciptakan.
"Artinya : ... Sungguh besar perkataan yang keluar dari mulut mereka. Tiadalah
yang mereka katakan itu kecuali dusta". [Al-Kahfi : 5]
Berikut ini sebagian dari perkataan mereka :
[1]. Muhammad Adalah Asal Semesta.
"Sesungguhnnya akal yang pertama adalah dinasabkan kepada Muhamad. Karenanya
Allah menciptakan Jibril di waktu terdahulu. Maka Muhammad adalah bapak bagi
Jibril dan merupakan asal dari seluruh alam semesta".[2]
[2]. Muhammad Di Atas 'Arsy.
"Mahluk yang pertama adalah debu, dan mahluk yang pertama yang berwujud secara
hakiki adalah Muhammad yang disifatkan istiwa' di atas 'Arsy Ar-Rahmani, yaitu
'Arsy ilahi. [3]
[3]. Cahaya Muhammad (Nur Muhammadi) Adalah Cahaya Allah.
[4]. Muhammad Adalah Penjaga Atas Semesta.
[5]. Semesta Diciptakan Karena Muhammad.
Ibnu Nabatah Al-Mishri berkata :
Kalau bukan karenanya,
tidak adalah bumi dan tidak pula ufuk.
Tidak pula waktu, tidak pula mahluk,
tidak pula gunung.
[6]. Muhammad Mengetahui Yang Ghaib.
Berikut ini dalil-dalil mereka yang mereka sembunyikan di balik
punggung-punggunya :
Hadits pertama.
"Artinya : Pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai
Jabir" [Hadits Palsu]
Hadits kedua.
"Artinya : Aku sudah menjadi nabi sedangkan Adam masih berwujud antara air dan
tanah". [Hadits Palsu. Lihat Syarah Jami'ash-Shagir III/91 dan Asna Al-Mathalib
hal. 195]
Ini adalah perkataan yang sangat lemah dan matan-nya mungkar. Bukankah air
adalah bagian dari tanah ? Adapun hadits shahih berlafadz : "Artinya : Aku
sudah menjadi Nabi, sedangkan Adam adalah keadaan antara ruh dan jasad", tetapi
ini pada ilmu Allah yang azali.
Hadits ketiga.
"Artinya : Kalau tidak karena engkau, maka bintang-bintang itu tidak
diciptakan". [Shan'ani berkata bahwa hadits ini Palsu dan disepakati Imam
Syaukani dalam kitab Fawaid Al-Majmu'ah hl. 116]
Padahal sesungguhnya Allah telah menutup berbagai jalan menuju perbuatan yang
melebih-lebihkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman.
"Artinya : Katakanlah, sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kamu semua.
Hanyasanya diwahyukan kepadaku (wahyu). Sesungguhnya sesembahanmu adalah
sesembahan yang Esa. Maka barangsiapa yang mengharapkan bertemu dengan Rabbnya,
hendaklah ia beramal dengan amalan yang shalih dan tidak menyekutukan sesuatu
pun dengan-Nya". [Al-kahfi : 110]
Dan berfirman Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah, Maha Suci Rabbku. Bukankah aku ini hanya seorang
manusia yang menjadi rasul ?". [Al-Isra : 93]
Dan berfirman Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Katakanlah, tidaklah aku mengatakan kepada kalian semua bahwa aku
mempunyai perbendahaaran Allah, tidak pula aku mengetahui yang ghaib, tidak
juga aku katakan bahwasanya aku ini malaikat. Tidaklah aku mengikuti kecuali
apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, apakah sama orang yang melihat dengan
orang yang buta ? Apakah kalian semua tidak berpikir ?". [Al-An'am : 50]
Telah bersabda pula beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Janganlah kalian semua melebih-lebihkan aku seperti orang-orang
Nashrani melebih-lebihkan Isa anak Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba, maka
katakanlah hamba Allah dan utusan-Nya". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan
Muslim]
Dan telah bersabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Sesungguhnya aku ini adalah manusia yang dapat marah pula". [Hadits
Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dan riwayat lainnya yang sangat banyak. Inilah sifat-sifat kemanusiaan yang di
sandang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sejak lahirnya hingga bertemu dengan
Rabbnya. Beliaulah yang mengajak manusia untuk mencontohnya dan menempuh
jejak-jejaknya.
Kalau bukan dari alam kita, tidaklah kita diperintahkan untuk mengikuti beliau
dan menjalani sunah-sunahnya. Siapakah yang lebih benar perkataannya dari
Allah, sedangkan Dia telah menyetujui hakikat ini melalui lafadz-lafadz Qur'ani
yang pasti dan terinci :
"Artinya : Mereka berkata, kenapa tidak diturunkan kepada kita malaikat ?
kalau diturunkan kepada mereka malaikat, maka pasti telah diselesaikan
perkaranya (dengan dibinasakan mereka semua) kemudian mereka tidak diberi
tangguh. Dan kalau seandainya Kami turunkan malaikat, pasti akan Kami jadikan
dia seorang manusia, Kami-pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana mereka
kini ragu". [Al-An'am : 8-9]
Dan ketahuilah, semoga Allah menambahkan ilmu kepadamu, semesta ini adalah
mahluk yang diciptakan dengan tujuan tertentu. Yaitu beribadah kepada Allah.
Seperti dinyatakan dalam firman-Nya.
"Artinya : Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepada-Ku". [Adz-Dzariyat : 56]
PENDIDIKAN SUFI
Supaya ajaran tasawuf mencapai tujuannya, mereka kenakan pada tokoh-tokohnya
sifat bebas dari dosa ('ishmah). Selain itu, menuntut kepada muridnya agar
bersikap seperti mayit di tangan yang memandikannya. Maka janganlah engkau
melampauinya dengan mengambil ilmu sufi dari guru lain, karena seorang murid
yang menimba ilmu dari dua guru ibarat seorang wanita di tangan dua lelaki. [4]
Ibnu Arabi berkata : "Sesungguhnya termasuk syarat imam batin, hendaklah ia
ma'shum (bebas dari dosa)" [5] Katanya lebih lanjut : "Dan engkau, wahai para
murid yang tertipu dan tersesat, bantulah apa yang diinginkan terhadap engkau.
Dan bersangka baiklah, jangan membantah. Bahkan yakinilah. Dan manusia dalam
masalah ini mempunyai perkataan yang banyak. Tapi terserah dirilah, niscaya
engkau akan selamat. Dan Allah lebih mengetahui perkataan para walinya. [6]
Kami tidak mengetahui kenapa banyak ulama kaum muslimin berdiam diri terhadap
kekufuran dan keingkaran yang bersembunyi dalam pakaian Islam yang bertujuan
menipu, menyesatkan serta mengajak kaum muslimin untuk meyakininya serta
menegakan agama mereka di atas asasnya ? Sesungguhnya termasuk suatu kebaikan
jihad di sisi Allah untuk menghapuskan fitnah ini dari kalangan muslimin,
karena sesungguhnya fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Kenapa kaum muslimin tidak terang-terangan memerangi mereka secara keseluruhan
demi tumbangnya kepalsuan-kepalsuan yang telah memburamkan keindahan Islam ?.
Bahkan kenyataannya banyak kaum muslimin yang tersembelih kesesatan dan
kekufuran ini. Dan tidaklah menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian ini
kecuali usaha para ulama Islam untuk menyingkap kebatilan-kebatilan tadi dengan
berbagai bahasa dan dengan berbagai kedudukan. Maka wahai Rabbku, bangkitkanlah
orang-orang yang memperbaharui agama-Mu ini, karena sesungguhnya kaum sufi
telah kembali bangkit dengan wajah baru pula.
[Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal.
81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul
Borok-Borok Sufi]
________
Fote Note.
[1] Al-Hukumat Al-Islamiyah, Khumeini, hal. 52
[2] Al-Insan Al-Kamil lil Jalil, hal.4
[3] Futuhat Al-Makkiyah, I/152
[4] Ihya' Ulumuddin, I/50-51 dan III/75-76
[5] Futuhat Al-Makkiyah, III/183
[6] Muqaddimah AL-Futuhat, I/5
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
[Non-text portions of this message have been removed]