'Islam tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad' 


  Sebut saja namanya Budi. Pria paruh baya yang tinggal di Desa Manis Lor, Kec 
Jalaksana, Kab Kuningan, Jawa Barat, ini menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah pada 
1983. Selama menjadi pengikut Mirza Ghulam Ahmad (MGA), dia mengaku selalu 
mengalami pergolakan batin.
   
  Sekitar 25 tahun lalu, orang-orang Ahmadiyah mendatanginya, menawarkan 
bantuan materi. Budi yang sedang terlilit masalah ekonomi tentu saja senang. 
   
  Tapi, si pemberi bantuan mensyaratkan masuk Ahmadiyah. Tak begitu memahami 
hakikat Ahmadiyah, Budi mau saja dibaiat. Tapi, setelah resmi menjadi penganut 
Ahmadiyah, Budi mulai merasakan kejanggalan. Antara lain, soal adanya nabi 
setelah Nabi Muhammad SAW. Budi juga tak bisa lagi shalat di sembarang masjid, 
karena penganut Ahmadiyah dilarang shalat di belakang imam non-Ahmadi.
   
  Selain itu, Budi juga diharuskan menyetorkan uang pengorbanan sebesar 10 
persen dari total penghasilan setiap bulan. Sesuatu yang dinilainya 
memberatkan. ''Karena miskin, mereka suka 'tidak menganggap' dan sepertinya 
memandang sebelah mata ke saya,'' kata Budi dengan logat Sunda.
   
  Budi juga minder karena tak mampu membeli 'kavling surga'. Padahal, hanya 
bila dikubur di tempat itulah, mereka mendapat jaminan masuk surga. Sudah 20 
orang yang dikuburkan di sana, setelah membayar jutaan rupiah. Adanya 
doktrin-doktrin yang tak lazim yang berlawan dengan yang didapatnya selama ini, 
dan tak leluasa lagi bergaul dengan masyarakat, membuat batin Budi bergolak. 
'Hidup saya terasa mengambang, jauh dari ketenangan,'' kata Budi kepada 
Republika di Manis Lor, beberapa waktu lalu.
   
  Selama bertahun-tahun, Budi mengabaikan pergolakan batinnya, sampai akhirnya 
dia tak tahan lagi. Awal 2008, dia memutuskan keluar. ''Saya sekarang lebih 
tenang, tidak dikejar-kejar pengurus Ahmadiyah yang menagih uang pengorbanan. 
Saya juga bisa shalat Jumat di mana saja.'' Orang seperti Budi tak sedikit. 
Hasan Mahmud Audah, direktur umum seksi bahasa Arab Jemaat Ahmadiyah yang 
berpusat di London, juga keluar dari ajaran Mirzaiyah itu pada 17 Juli 1989. 
   
  Padahal, sebelumnya dia adalah seorang mubaligh Ahmadiyah dan pernah menetap 
lama di Qadian. ''Menurut pendapat saya, Islam itu telah tampak dalam keadaan 
sempurna dengan Nabi Muhammad SAW dan tidak membutuhkan Mirza Ghulam Ahmad 
untuk menyempurnakannya,'' katanya dalam bukunya, Al-Ahmadiyyah, Aqa'id Wa 
Ahdats.
   
  Di buku yang telah diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) 
dengan judul Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan Pengalaman-pengalaman itu, 
Audah memburaikan isi perut Ahmadiyah. Mulai dari doktrin-doktrinnya, 
administrasi, sanpai keuangannya.
   
  Soal doktrin-doktrinnya, dia mencantumkan banyaknya wahyu MGA yang 
kontradiktif. Dia juga menyoroti wahyu-wahyu MGA yang sangat mendukung 
Inggris--yang saat itu menjajah India, soal kengototan MGA mengawini gadis 17 
tahun, dan MGA yang menggunakan ucapan-ucapan berisi caci maki dalam 
'wahyu-wahyunya'--termasuk saat merendahkan Nabi Isa.
   
  Selain itu, dia menulis bahwa menjadi penganut Ahmadiyah sangat banyak 
dituntut mengeluarkan uang. Mulai dari setoran bulanan sebesar enam persen 
penghasilan, 10-13 persen penghasilan untuk memesan kavling surga, serta 
sumbangan untuk kegiatan tahunan seperti jalsah salanah. Total ada sekitar 10 
item sumbangan yang harus disetorkan kepada pimpinan Ahmadiyah, yang berakhir 
di Jemaat Ahmadiyah Pusat di London. Audah mengatakan dana itu dalam pengawasan 
langsung khalifah, dan tak seorang pun mengetahui dikemanakan dana-dana itu.
   
  Jumlah pengikut
Saat ini, pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengklaim penganut Ahmadiyah 
telah mencapai 150 juta, tersebar di 120 negara. Adapun di Indonesia, jumlah 
penganutnya 500 ribu. Soal klaim-klaim, Audah menilainya banyak yang kebesaran. 
Mirza Thahir yang merupakan khalifatul masih IV, dalam wawancaranya dengan 
Sunday Times, Desember 1989 lalu, kata Audah, menyatakan pengikut Ahmadiyah 
hanya sekitar 10 juta, tersebar di 80 negara. Jumlah 10 juta itu pun dinilai 
Audah meragukan.
  Dari 80 negara atau 120 negara, Audah menyatakan sebenarnya kebanyakan hanya 
1-1.000 orang Ahmadiyah di setiap negara. Di Cina, bisa dihitung dengan jari. 
Di Mesir, hanya 30-40 orang. Di Inggris yang merupakan pusatnya, hanya 8.000-an 
orang. Itu pun imigran Pakistan. Negara-negara yang penganut Ahmadiyahnya 
besar, hanya di Pakistan, Ghana, dan Nigeria. ''Padahal, ajaran ini telah 
berumur hampir 100 tahun,'' kata Audah. Propaganda-propaganda lewat Muslim 
Television Ahmadiyyah (MTA) soal besarnya jumlah penganut Ahmadiyah, kata 
Audah, sebenarnya hanya menipu diri.
   
  Di Indonesia, penganut Ahmadiyah tak diketahui pasti. Yang terbesar 
terkonsentrasi di dua tempat, yaitu Manis Lor dan Pancor, Lombok Tengah, NTB. 
Di Manis Lor, Ahmadiyah yang masuk tahun 1954, kini dianut 70 persen dari 4.200 
jiwa. Di NTB, jumlah mereka disinyalir hanya beberapa ribu. Di Kampus Mubarak, 
Parung, Bogor, yang merupakan markas pusat JAI, juga tak banyak orang 
Ahmadiyah. Saat Republika mengunjungi tempat itu, Ketua RT 03/04, Ismat, 
mengatakan hanya ada 12 kepala keluarga (KK) di RT 03. Belasan KK lainnya di RT 
01. ''Tapi, rumah-rumah mereka sering kosong,'' katanya.
   
  Alhasil, klaim 500 ribu penganut Ahmadiyah di Indonesia memang tanda tanya 
besar. Seperti markas pusatnya di London, yang ditonjolkan JAI adalah jumlah 
cabang. Pada 2005, misalnya, JAI mengklaim memiliki 305 cabang di seluruh 
Indonesia. Saat datang ke Indonesia, Khalifah Mirza Tahir, juga mendatangi 
Manis Lor, Juni 2000 lalu. Pulang dari Indonesia, Mirza Tahir berkata kepada 
majalah Al Fadhl International edisi Juli 2000: ''Saya tegaskan kepada kalian 
bahwa Indonesia pada akhir abad baru ini, akan menjadi negara Ahmadiyah 
terbesar di dunia ....''
   
  Kata-kata seorang khalifah, bagi warga Ahmadiyah, tak ubahnya separuh wahyu, 
bahkan wahyu--karena mereka meyakini wahyu tak terputus. Tapi, yang terjadi 
dalam kenyataan malah sebaliknya. Warga Muslim NTB marah atas adanya penganut 
ajaran itu dan membuat warga Ahmadiyah terusir. Di Bogor, warga yang gerah 
telah menutup Kampus Mubarak. Di Manis Lor, sampai saat ini suasananya seperti 
bara dalam sekam. Di berbagai sudut jalan, tergantung pengumuman anti-Ahmadiyah.
   
  Junaidi, ketua Remaja Masjid Al Huda, Manis Lor, mengatakan warga telah 
berupaya mengembalikan warga Ahmadiyah kepada Islam. ''Kami sayang kepada 
mereka karena mereka adalah saudara kami. Kami hanya ingin mereka kembali pada 
ajaran Islam yang sesungguhnya. Itu saja,'' katanya.
   
  Sejumlah ulama sebelumnya juga mengajak penganut Ahmadiyah untuk ruju'ilal 
haq atau kembali kepada kebenaran. Sebelumnya, MUI dan ormas-ormas Islam 
bersedia membuka pintu untuk membimbing warga Ahmadiyah. Bangsa ini memang tak 
membutuhkan Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku nabi dan 
memperjualbelikan kavling surga. lis/osa/run
( ) 

                                 BERITA LAIN         •   Gyanendra Didesak 
Mundur Terhormat 

         •   WFP: Keamanan Pangan Korut Memburuk 

         •   Bardot Dituntut Dua Bulan 

         •   Ahmadinejad Ragukan Laporan Peristiwa 9-11 

         •   Carter Rangkul Hamas 

         •   DK PBB Bahas Zimbabwe 

         •   `Mina Jadid Juga untuk Jamaah Lain`

         •   BKKBN Libatkan Tokoh Agama Tekan Angka Kelahiran 

         •   Din Harap Kader di Mesir Isi Kekosongan Ulama Muhammadiyah 

         •   Ahmadiyah Akhirnya Dilarang 

                              function load() {    lebar = 
(window.screen.availWidth / 2) - 250;    tinggi = (window.screen.availHeight / 
2) - 200;    window.open('cahaya.htm', "", 
"toolbar=0,location=0,menubar=0,scrollbars=1,resizable=0,width=500,height=286,left="
 + lebar + ",top=" + tinggi);       }       -->   -->   


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke