silakan juga saudara buka www.kiosmuslim.com, di sana ada buku tentang 
al-ghazali.

lasykar5 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: *Hamka Tanpa Haq
*



*Akmal Sjafril**



assalaamu'alaikum wr. wb.



Jaman sekarang ini, salah sebut nama bisa berakibat fatal. Dua nama yang
persis sama bisa dipersepsikan dengan cara yang amat berbeda. Bagi sebagian
besar umat Islam, nama Imam al-Ghazali identik dengan *Ihya' 'Ulumuddin*,
pendidikan, *aqidah* yang lurus, dan hal-hal baik lainnya, meskipun sebagai
manusia beliau pun pasti punya kekurangan. Akan tetapi jika Anda bertanya
pada Zainun Kamal (salah satu dosen beraliran UIN ultra-liberalis), maka
al-Ghazali adalah salah satu oknum yang paling bertanggung jawab atas
kejumudan umat masa kini, dan identik dengan *tasawuf* yang tak jelas
juntrungannya, bahkan juga disebut-sebut sebagai orang yang bertapa lantaran
frustasi tak mampu memahami filsafat.



Sebagai tokoh besar, nama al-Ghazali juga banyak dipakai orang. Tokoh-tokoh
lain yang menggunakan nama al-Ghazali diantaranya adalah Muhammad
al-Ghazali. Antara Imam al-Ghazali dan Muhammad al-Ghazali jelas ada
perbedaan besar, dan kita tidak boleh keliru mengidentifikasi keduanya.
Demikian juga al-Qurthubi jangan pernah disamakan dengan Sumanto Al Qurthuby
(tokoh ultra-liberalis lainnya yang menulis buku *Lubang Hitam Agama*), dan
– *na'uudzubillaah* – jangan pernah perbandingkan Muhammad saw. dengan
Mohammed Arkoun (salah satu tokoh yang bersikeras menentang kesucian
ayat-ayat Al-Qur'an), biarpun nama depannya mirip.



Nama adalah doa, namun memang tidak semua doa di-*ijabah*. Kadang-kadang
orang tua memberi nama anaknya dengan nama seorang ulama besar, namun apa
dinyana setelah dewasa anak itu malah tambah jauh dari ulama besar tersebut.
Yang paling miris adalah jika anak itu kemudian tumbuh besar dan memfitnah
ulama besar yang namanya diambil itu.



Demikianlah jurang menganga antara Buya Hamka dan Hamka Haq. Yang satu
adalah ulama besar Asia Tenggara (Malaysia dan beberapa negara lainnya sudah
menyatakan 'klaim' bahwa Buya adalah ulama milik mereka juga), sedangkan
yang satu lagi adalah tokoh yang entah datang dari mana, namun namanya
langsung melejit sebagai Ketua PP Baitul Muslimin. Sekiranya Anda
bertanya-tanya, saya jelaskan di sini: Baitul Muslimin adalah lembaga
keislaman yang didirikan oleh PDIP. Kualitas diantara keduanya jauh berbeda,
dan hal ini semakin diperjelas belakangan ini.



Baru-baru ini, PDIP (dengan Baitul Muslimin sebagai ujung tombaknya)
mengadakan acara peringatan 100 tahun Buya Hamka. Ide ini sangat menggelikan
bagi sebagian orang yang mengenal sejarah. Pasalnya, Hamka pernah
dipenjarakan oleh Soekarno tanpa alasan yang jelas. Ideologi Hamka jelas
bertentangan secara diametrikal dengan Soekarno, sebagaimana para ulama
umumnya tidak mungkin bisa sejalan dengan prinsip Nasakom ala Soekarno.



Semua orang tahu bahwa Buya Hamka adalah pribadi yang lembut, santun, dan
sangat pemaaf. Hubungannya yang sangat erat dengan Allah SWT membuat beliau
tak pernah berprasangka buruk atas segala *taqdir* yang harus dijalaninya.
Masa-masa hidupnya di penjara, betapa pun menyakitkan, namun juga
dianggapnya penuh dengan hikmah. Salah satu hikmah yang bisa dipetik buahnya
hingga kini adalah tuntasnya penyusunan Tafsir Al-Azhar, yang menurut Hamka,
tidak mungkin terselesaikan kalau ia tidak dipaksa untuk menyendiri dari
segala urusan, dan ternyata hal itu bisa didapatkannya di penjara.



Buya Hamka sendiri tak pernah mengungkit-ungkit masalah dengan orang-orang
yang pernah menzaliminya, termasuk terhadap Soekarno. Ketika Soekarno
meninggal dunia, beliau datang dan ikut menshalatkannya. Para pengagum Hamka
mengatakan bahwa hal ini adalah bukti kebesaran hati Sang Buya. Akan tetapi,
Taufik Kiemas punya teori lain.



Menurut Kiemas, kenyataan bahwa Hamka ikut menshalatkan Soekarno adalah
bukti persahabatannya. Teori ini sangat lemah dan sebenarnya memalukan. *
Pertama*, karena sebejat-bejatnya perilaku seorang Muslim, selama ia masih
Muslim, maka ia berhak dan wajib dishalatkan ketika sudah wafat. *Kedua*,
ada sekian banyak hadits yang menjelaskan keutamaan menshalatkan Muslim yang
baru wafat, dan sebagai ulama, Buya Hamka tak mungkin tidak mengetahuinya. *
Ketiga*, hal ini justru menelanjangi pola pikir Taufik Kiemas yang memandang
Buya Hamka dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai cermin, sehingga
nampak seolah-olah Hamka hanya mau menshalatkan kawannya saja. Padahal, umat
Islam yang awam pun sering menshalatkan saudaranya sesama Muslim yang tidak
dikenalnya di masjid-masjid. Barangkali hanya Taufik Kiemas sajalah yang
bisa menyimpulkan adanya hubungan perkawanan hanya karena yang satu
menshalatkan jenazah yang lain.



Diantara seluruh berita simpang-siur tentang Buya Hamka ini, yang paling
tidak bisa diterima dengan akal sehat adalah pernyataan yang keluar dari
lisan Hamka Haq di bawah ini:



*"Dia berpendapat semua manusia akan masuk surga. Semua agama punya
kebenarannya masing-masing."*



Ucapan ini sangat menyedihkan dan tak bernilai intelektual sedikitpun. Jika
Hamka Haq membaca Tafsir Al-Azhar dengan mata terbuka, maka ia tidak perlu
menunggu lama hingga sampai pada pembahasan Hamka mengenai ayat terakhir
dalam surah Al-Fatihah. Di sana, terang-terangan Hamka menjelaskan
pendapatnya tentang "kaum yang dimurkai" dan "kaum yang tersesat".



Jika ditelusuri, tidaklah terlalu mengherankan jika Hamka Haq memilih
pendapat yang sangat cacat seperti ini. Dalam rangkaian acara Peringatan 100
Tahun Buya Hamka tersebut, diadakan pula simposium berjudul *Membina
Pluralisme, Membangun Peradaban Demokratis*. Pembicaranya? Diantaranya
adalah Ahmad Syafii Maarif, Sukardi Rinakit, dan Yudi Latif.



Terhadap Ahmad Syafii Maarif perlu diberikan catatan khusus. Tokoh yang satu
ini pernah memotong-motong tafsir Buya Hamka mengenai Q.S. Al-Baqarah [2]:
62 sehingga nampak seolah-olah Hamka mendukung pluralisme. Dengan lihainya,
Syafii Maarif tak pernah menyebut-nyebut Hamka sebagai tokoh pluralisme,
namun artikelnya dimanfaatkan secara bombastis oleh para kader
sekularis-liberalis-pluralis demi kepentingannya sendiri. Terhadap artikel
Syafii Maarif tersebut (yang juga cacat secara akademis), saya telah
membantahnya.



Benang merahnya sudah terlihat jelas. Kaum sekuler-liberal ramai-ramai
merapat ke PDIP, dan menyatukan kekuatan di sana. Baitul Muslimin didirikan
untuk menarik sebanyak mungkin umat Islam yang tidak menyadari jurang
perbedaan yang menganga antara ajaran Islam dan pluralisme. Dari sini, kita
belajar banyak untuk berhati-hati dan tidak mudah percaya pada orang,
apalagi memberikan penilaian hanya dengan melihat namanya saja. Hamka dan
Hamka Haq memang memiliki nama yang mirip, tapi barangkali memang hanya
itulah kesamaannya.



wassalaamu'alaikum wr. wb.



* Peserta Program Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas
Ibnu Khaldun - Bogor

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.media-islam.or.idYahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke