_____
From: Haryanto (PSDM)
Sent: Wednesday, April 23, 2008 12:50 PM
Subject: Tafsir Ayat Kursi
1.1. Arti Ayat Kursi
BACALAH !!!
PAHAMI !!!
TADABURI !!! AMALKAN !!!
HAFALKAN !!!
PIKIRKAN !!!
RENUNGKAN !!!
NIKMATI !!!
Allah
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia
Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.
Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka,
dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah
melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi.
Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya,
dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(Al Baqarah 2 : 255)
Untuk memudahkan, hafalkanlah artinya kata demi kata. Agar melekat kuat dalam
benak kita. Dikarenakan kita paham. Dikarenakan kita mengerti. Sehingga akan
menimbulkan kesan yang mendalam. Yang akan mempengaruhi jiwa, ruh, akal dan
amal kita. Ulang !!! Dan ulangilah berkali-kali !!!. Sehingga kita betul-betul
hafal dan paham artinya diluar kepala.
Arab
Arti
Menimpa-Nya
tidak
Yang berdiri sendiri
Yang Hidup
Dia
kecuali
Tuhan
Tidak ada
Allah
Arab
Arti
di
dan apa-apa
langit
di
Apa-apa
baginya
tidur
dan tidak
Ngan -tuk
Arab
Arti
apa-apa
Dia mengetahui
dengan ijin-Nya
kecuali
Disisi -Nya
memberi syafaat
orang yang
siapa yang
bumi
Arab
Arti
Ilmu-Nya
dari
Dengan sesuatu
mereka menge-tahui
dan tidak
Dibela-kang mereka
dan apa-apa
tangan /hadapan mereka
diantara
Arab
Arti
Dia berat
dan tidak
dan bumi
langit
Kursi / kekuasaanNya
luas
Dia kehendaki
dengan apa yang
kecuali
Arab
Arti
Maha Agung
Maha Mengetahui
dan Dia
Memelihara keduanya
1.2. Tafsir Ayat Kursi
Imam Al Qurthubi berkata :
åÐå ÂíÉ ÇáßÑÓí ÓíÏÉ Âì ÇáÞÑÂä æÃÚÙã ÂíÉ æäÒáÊ áíáÇ æÏÚÇ ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå
æÓáã ÒíÏÇ ÝßÊÈåÇ[1]
Ayat ini disebut dengan ayat kursi. Yaitu penghulu ayat-ayat
Alquran dan yang terbesar di dalamnya. Ayat ini turun pada malam hari, lalu
Rasulullah SAW memanggil Zaid untuk menuliskannya.
íÇ ÑÓæá Çááå ÃíãÇ ÃäÒá Úáíß ÃÚÙã¿ ÞÇá: "ÂíÉ ÇáßÑÓí: { Çááøóåõ áÇ
Åöáóåó ÅöáÇ åõæó ÇáúÍóíøõ ÇáúÞóíøõæãõ } " æÑæÇå ÇáäÓÇÆí[2]
Wahai Rasululah (tanya Abu Dzar), Ayat apakah yang terbesar yang
diturunkan kepadamu? Beliau menjawab, Ayat kursi (Allahu laa ilaaha illaa
huwal hayyul qayyum). [3]
Dalam ayat kursi disebutkan bahwa Allah Maha Tinggi. Ia adalah
merupakan puncak masalah ke-Tuhan-an dimana cahaya-cahaya sifat yang tinggi
terbit pada permukannya.
Di dalamnya terhimpun sfat-sifat uluhiyah, wahdaniyah, al hayah, al
ilmu, al mulku, al qudratu, al iradatu dan mencakup delapan belas tempat yang
didalamnya disebut nama Allah. Ayat ini juga menyebutkan bahwa Allah Maha Esa
dalam ketuhanan-Nya, pencipta segala sesuatu selain-Nya, Dia Maha Suci dan
terlepas dari perubahan.[4]
Ayat ini mengandung kaidah-kaidah gambaran keimanan, menyebutkan dan
menegaskan wahdaniyah (Maha Tunggal) yang merupakan sifat Allah secara jelas.
Ia adalah ayat yang mulia dan luas petunjuknya. Demi penjelasan sifat-sifat
Allah yang sempurna maka Islam datang untuk menjelaskannya, dimana setiap sifat
menjadi prinsip yang diatasnya berdiri gambaran Islam yang murni.[5]
Sedangkan Imam Thabari berkata bahwa maksud Laa Ilaaha Illaa Huwa
adalah tidak ada seuatu yang disembah selain Allah yang Maha Hidup. Allah
adalah bagi-Nya ibadah diciptakan. Al Hayyul Qayyum artinya tidak ada tuhan
yang menyamai-Nya, tidak ada yang disembah selain-Nya. Dan tidak ada yang
disembah kecuali yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri (mengurus makhluk-Nya)
Yang tidak ngantuk dan tidak tidur.[6]
Imam Ibnu Katsir berkata ini adalah ayat kursi yang didalamnya
terdapat urusan yang besar. Dalam hadits shahih dikatakan bahwa ini adalah yat
yang paling utama dalam Alquran. Dalam hadits riwayat dianyatakan bahwa
Rasululah SAW bertanya kepada Ubay bin Kaab, Apakah ayat yang teragung dalam
kitab Allah? Dia menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Maka ketika ditanya
berulang-ulang ia menjawab, ayat kursi. Nabi berkata, Selamat atas ilmumu ya
Abu Mundir, demi jiwaku yang berda di tangan-Nya ayat ini berlidah dan dua
bibir yang selalu mengagungkan Allah dibawah arsy. (HR Muslim).[7]
Sedangkan Imam Jalalain (Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al
Mahalli) berkata bahwa Allahu Laa Ilaaha adalah tidak ada yang disembah
dengan haq dalam alam wujud ini kecuali Dia yang Maha Hidup artinya kekal
lagi abadi. Al Qayyum yang senantiasa berdiri terus menerus mengurus
makhluk-Nya. Tidak mengantuk atau terlena. Dan tidak pula tidur,
milik-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi sebagai kepunyaan, ciptaan
dan hamba-Nya. Siapa yang dapat maksudnya tidak ada yang dapat.
Memberi syafaat disisi-Nya kecuali dengan izin-Nya baginya didalam-Nya Dia
mengetahu segala yang ada dihadapan mereka maksudnya dihadapan makhuk. Dan
segala apa yang ada dibelakang mereka maksudnya segala urusan dunia dan
akherat. Sedangkan mereka tidka mengetahui suatupun dari ilmu-Nya artinya
mreka tidak mengetahu sesutupun urusan Allah melainkan yang Dia kehendaki
untuk diketahui melalui pemberitaan oleh para Rasul. Kursinya meliputi langit
dan bumi ada yang mengatakan maksudnya adalah ilmu-Nya, ada juga yang
menyatakan maksudnya adalah kekuasaan-Nya dan ada pula kursi itu sendiri yang
mencakup langit dan bumi karena kebesarannya berdasarkan sebuah hadits
Tidaklah langit yang tujuh lapis itu kecuali seperti tujuh buah uang dirham
yang dicampkakan ke dalam sebuah bejana besar. Dan tidaklah berat bagi-Nya
memelihara keduanya artinya memelihara langit dan bumi. dan Dia Maha Tinggi
sehingga menguasai semua makhluk-Nya lagi Maha Besar.[8]
Sayyid Qutb menyatakan dari gambaran di atas muncul keyakinan bahwa
kaidah kebijaksanaan hanyalah milik Allah SWT. Dengan demikian hanyalah
Allah-lah yang berhak membuat perturan bagi hamba-Nya. Atau dengan kata lain
peraturan yang dibuat manusia haruslah bersumber dari syariat Allah.
Dari gambaran tersebut juga muncul keyakinan bahwa kaidah pengambian
nilai-nilai seluruhnya dari Allah. Tidak ada pelajaran bagi nilai-nilai
kehidupan apabila tidak diterima oleh neraca Allah SWT.[9]
Hanyalah Allah tabaraka wa taala yang memiliki kehidupan azali dan
abadi, yang tidka dimulai dari sebuah tempat memulai, dan tidak berakhir pada
sebuah akhir, karena itu terlepas dari makna waktu yang menyertai kehidupan
makhluk yang memiliki permulaan dan akhir, karena Allah-lah pencipta waktu itu
sendiri.
Alah SWT bersifat Qayyum yang selalu mengawasi segala sesuatu yang
ada, termasuk setiap jiwa dengan apa yang dilakukannya. Allah adalah saksi atas
segala sesuau. Tidak ada yang gaib dari-Nya. Sebagai bukti kesempurnan dan
kesinambungan atas makhulknya bahwa Dia tidak mengalama kekurangan, kelupaan
dan kebingungan akan makhulnya. Dia tidak mengalami ngantuk yang menyerang mata
dan tidur yang dapat menyelimuti hati. Tidak ada sesuatupun yang dapat berdiri
kecuali dengan bersandar kepada wujud dan pengaturan-Nya.
Ditegaskan dalam hadits shahih dari Abu Musa yang berkata,
Rasulullah menyampaikan empat kaimat kepada kami, bahwa Allah tidak tidur, dan
tidak sepantasnya Ia tidur, Dialah yang merendahkan timbangan (amalan) dan
meninggikannya, kepada-Nya diangkat amalan malam dan siang hari sebelum amalam
malam, dan amalan malam sebelum amalan siang, hijab-Nya adalah cahaya atau api,
jika Dia membukanya maka keagungan dan kemulian wajah (cahaya dan
kebesaran-Nya) akan membakar seluruh apa yang dipandang-Nya dari makhluk-Nya
(dunia dan seluruh isiny).[10]
Dari gambaran tentang ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, maka muncul berbagai
pemahaman bahwa hanya Allah Yang Maha Esa, yang hidup kekal, yang satu-stunya
Tuhan yang memiliki sifat Qayyum, satu-satunya raja yang memiliki kerajaan yang
menyeluruh secara mutlak. Maka kepemilikan Allah adalah milkiyah tamalluk (hak
memiliki).
Sedangkan kepemilikan manusia adalah milkiyah intifa (hak
pemanfaatan) sebagai wakil (khalifah) dari satu Raja. Dari sana mereka wajib
patuh dalam kekhilafahannya terhadap syarat-syarat yang ditentukan Sang Raja,
yang telah dijelaskan dalam syariat-Nya. Jika tidak kepemilikannya batal dan
tindakan merekapun menjadi batal.
Meyakini gambaran ini secara jelas akan memberikan kepuasan dengan
keridhaan, tenggang rasa dan kebaikan di dalam jiwa serta membersihkannya dari
keserakahan, ketamakan dan keburukan. Lebih dari itu, Allah akan memlimpahkan
ketenangan dan keteguhan pada perasaan dan hati hingga jiwa tidak merasa sedih
atas segala sesuatu yang berlalu atau hilang, dan hati tidak bergerak untuk
selalu berusaha meraih apa yang diinginkan.[11]
Barangsiapa yang memperhatikan ayat ini dan sejenisnya yang datang
dari ilmu Allah dan keagungan-Nya, serta kekuasaan mutlak-Nya terutama pada
hari kiamat, maka keagungan Allah tidak akan membiarkan jiwanya terpedaya,
bahkan meyakinkan tidak ada kebahagiaan di akherat kecuali dengan keridhaan-Nya
di dunia. Brangsiapa yang tidak diridai Allah, maka tidak seorangpun yang
berani meminta syafaat kepada-Nya. Allah SWT akan memberikan keselamatan sesuai
dengan janji-Nya bagi orang yang melakukan amal shalih, sedang dia adalah
seorang muslim.[12]
Selanjutnya Sayyid Qutb menyatakan bahwa banyak rahasia yang belum
diketahui dan masih tersembunyi hingga masa-masa yang akan datang. Meskipun
demikian, sebagian rahasia bumi akan ditampakkan, rahasia yang besarnya
bagaikan sebiji atom di ckrawala alam yang sangat luas ini. Dengan ilmunya yang
sedikit manusia akan menganggap dirinya sebagai Tuhan di bumi. Lalu dia kufur
dan mengingkari bahwa alam ini memiliki Tuhan.
Dalam penutup sifat-sifat Allah, ayat tersebut menjelaskan bahwa
hanya Allah-lah yang memiliki ketinggian dan keagungan. Setinggi dan seagung
apapun manusia, dia tidak akan mampu melampaui maqam ubudiyah kepada Allah
Yang Maha Agung.
Dari sini manusia akan menyadari kesombongan dan kezalimannya hingga
ia kembali kepada ketakutan terhadap Allah dan kewibawaan-Nya, kembali kepada
perasaan akan kemuliaan dan kebesaran-Nya, kembali kepada adab yang menjadi hak
Allah dan kembali kepada ketaatan dan dan konsistensi akhlaknya terhadap manhaj
Allah. Ini semua dalam bentuk keyakinan, gambaran, amal dan tingkah laku.[13]
Inilah sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat yang mulia ini, dimana
seekor burung tidak dapat melayang-layang di atas padang pasirnya dan manusia
tidak dapat mengatakan selain, Maha benar Allah Yang Maha Agung.[14]
Ibnu Abbas berkata, Pada kalimat Allahu Laa Ilaaha Illaa huwa
maksudnya adalah tidak ada sekutu bagi-Nya. Setiap yang disembah selain Dia
adalah makhluk ciptaan-Nya. Mereka tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat.
Dan mereka tidak memiliki rejeki dankehidupan.
Al Hayyu maksudnya yang tidak mati.
Al Qayyum maksudnya tidak rusak, tidak lusuh dan tidak usang.
Laa takhudzuhu sinatun maksudnya tidak kantuk. Wa laa naum maksudnya tidak
tidur.
Man dzalladzii yasfau indahu illaa biidznih, maksudnya malaikat seperti
firman Allah SWT, Walaa yasyfaunaa illaa limanirtadha.
Yalamu maa baina aidihim maksudnya dari langit ke bumi.
Wa maa khalfahum maksudnya apa yang ada di langit.
Walaa yuhiithuuna bi syaiin min ilmihi illaa bimaa syaa maksudnya dari apa
yang mereka ktahui dari ilmunya.
Wasia kursiyyuhusamawaati wal ardhi masudnya ayat yang lebih besar dari langit
yang tujuh dan bumi yang tujuh.
Walaa yauudhuhu hifzhuhumaa maksudnya tidak ada ssuatupun yang ada di langit
dan bumi yang luput dari-Nya.
Wa huwal aliyyul azhiim maksudnya tidak ada yang lbih tinggi, lebih besar,
lebih agung dan lebih mulia dari-Nya.[15]
_____
_____
[1]Tafsir Al Qurthubi 3/268.
[2]Tafsir Ibnu Katsir 1/673
[3]HR Ahmad dan Nasaai cuplian dari sebuah hadits yang panjang tentang dialog
anara Rasulullah SAW dan Abu Dzar RA
[4]Jalaluddin As Suyuthi, Dahsyatnya Ayat Kursi, Gema Insani Press
(Jakarta:2007), hal. 15-16.
[5]Ibid.
[6]Tafsir At Thabari 5/386.
[7]Tafsir Ibnu Katsir 1/672
[8]Tafsir Jalalin 1/261.
[9]Dahsyatnya Ayat-Ayat Kursi hal. 18.
[10]Ibid hal. 20-21.
[11]Ibid hal. 22
[12]Ibid hal. 23-24.
[13]Ibid hal. 25-26.
[14]Ibid hal. 26 dari Imam Al-Alusi.
[15]Ibid hal. 86.87
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.idYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/