Krisis Pangan di Ujung Pemerintahan SBY-JK?
  
             
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.22.00443423&channel=2&mn=155&idx=155
      KOMPAS/RIZA FATHONI / Kompas Images 
Petani penggarap lahan memanen padi organik varietas Sintanur di sebuah areal 
persawahan di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Senin 
(21/4). Saat ini harga gabah kering giling padi organik mencapai Rp 8.000 per 
kilogram. 

Selasa, 22 April 2008 | 00:44 WIB   Oleh Hermas E Prabowo
  Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo membuat kebijakan baru membagikan 
beras (raskin) kepada warga tidak mampu. Dalam sejarah pemerintahan Arroyo, 
lonjakan harga beras ini merupakan pukulan paling berat bagi pemenuhan pangan 
warganya.
  Selama ini negara importir beras terbesar di kawasan Asia itu tak pernah 
menghadapi isu pangan dan politik perberasan yang serius. Kekurangan beras 
selalu diatasi dengan impor. Tiap tahun impor beras Filipina dari Thailand 
mencapai 1,5 juta ton.
  Namun, ”keberuntungan” tampaknya tidak akan berpihak pada negara berpenduduk 
88 juta jiwa itu. Kenaikan harga beras yang tak wajar telah menggoyahkan 
sendi-sendi politik bangsa. Tak ada pilihan bagi Arroyo selain bertindak cepat 
dan tegas, termasuk memenjarakan para penimbun beras.
  Tidak hanya itu. Kegelisahan akan krisis pangan mendorong Menteri Pertanian 
Filipina dalam pertemuan informal di sela sidang Board of Trustees Lembaga 
Penelitian Tanaman Padi Internasional (IRRI) di Manila pada 7-11 April 
mengusulkan dibentuknya lumbung beras Asia (Asia rice reserve). Filipina juga 
berminat belajar mengatasi krisis beras dari Indonesia.
  Berdasarkan catatan IRRI, lonjakan harga beras dunia terjadi akibat penawaran 
beras yang relatif tetap di tengah permintaan meningkat. Boleh dikatakan, sejak 
tahun 2000 produksi beras dunia mengalami gejala pelandaian (levelling off).
  Di sisi lain, permintaan beras dunia terus meningkat sebagai dampak 
pertambahan penduduk dan melonjaknya konsumsi beras di negara-negara Afrika.
  Naiknya permintaan beras dari negara-negara itu menambah semarak pasar beras 
dunia. Perburuan beras pun makin sengit, padahal volume beras yang 
diperdagangkan di pasar dunia merosot.
  Belum lagi dampak perubahan iklim global yang menyebabkan terjadinya 
perubahan musim hujan dan kemarau yang ekstrem di sejumlah negara pengekspor 
beras seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, India, dan China, mendorong 
negara-negara itu lebih mementingkan stok beras untuk warganya.
  Thailand menerapkan kebijakan pajak ekspor untuk membendung terus mengalirnya 
beras mereka ke pasar dunia. Vietnam jauh sebelumnya menghentikan ekspor beras 
untuk sementara waktu sampai ada kepastian soal volume panen kali ini. China 
juga meningkatkan stok pangan nasional.
  Nasib warga Indonesia
  Lantas, bagaimana dengan nasib pangan warga Indonesia di masa depan? 
Pertanyaan ini penting mengingat tingginya harga beras di pasaran saat ini dan 
terus mengalirnya perdagangan beras antarpulau yang bisa jadi ”merembes” ke 
negara lain akibat tajamnya disparitas harga.
  Belum lagi panen musim rendeng sebentar lagi berlalu dengan hasil kurang 
menggembirakan di tengah musim tanam kedua yang banyak menuai hama-penyakit 
akibat tingginya curah hujan.
  Dibandingkan Filipina, Indonesia masih lebih beruntung. Menteri Pertanian 
Anton Apriyantono mengatakan setidaknya untuk bulan-bulan ini.
  Pernyataan Mentan itu memberikan sinyal negatif bahwa pada musim paceklik 
mendatang banyak kemungkinan bisa terjadi. Sebagai ilustrasi, saat ini harga 
beras kualitas medium mencapai Rp 4.600 per kilogram di tingkat konsumen. Pada 
musim paceklik mendatang, harganya bisa Rp 6.000 per kg.
  Harga yang tinggi itu akan tercipta dan bisa saja semakin tinggi manakala 
Bulog tak mampu mengumpulkan stok dan mengelolanya dengan baik. Gejala Bulog 
kesulitan mendapatkan beras mulai tampak.
  Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan, hingga akhir pekan 
kedua April 2008, Bulog baru bisa merealisasikan pembelian gabah dan beras 
sebanyak 720.000 ton atau kurang dari 30 persen dari target pengadaan 2,43 juta 
ton. Minimnya penyerapan ini tentu memprihatinkan karena panen tinggal 1,5 
bulan lagi.
  Apalagi fakta menunjukkan, panen padi di sepanjang pantai utara Jawa sudah 
lama berlalu. Panen hanya tersisa di sebagian wilayah selatan Jawa.
  Mentan boleh saja mengatakan panen padi kali ini bagus. Namun, pandangan lain 
juga mengemuka. Andi Krekep, pengusaha penggilingan beras besar di Kediri, Jawa 
Timur, mengatakan, produksi padi musim panen rendeng kali ini tidak lebih baik 
dari tahun 2007.
  Pedagang beras lain di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Billy 
Haryanto, juga menyatakan hal senada. Masih tetap tingginya harga beras di 
tengah panen raya akan memunculkan spekulasi pedagang. Apalagi gabah dan beras 
yang dipanen kali ini semuanya diserap pasar.
  Langsung ke penggilingan
  Melihat kondisi itu menjadi masuk akal kalau harga beras di pasaran kini 
relatif tinggi. Begitu pula dengan harga gabah dan beras di tingkat petani 
maupun pengepul dan penggilingan. Banyak pedagang beras di luar Pulau Jawa yang 
langsung membeli beras ke penggilingan di Jawa.
  Tingginya harga beras inilah yang membuat Bulog mengalami kesulitan membeli 
gabah dan beras. Karena harga gabah dan beras umumnya di atas harga pembelian 
pemerintah (HPP), sementara Bulog dibebani tugas harus membeli beras dengan 
harga sesuai HPP dan dalam volume lebih dari tahun 2007.
  Kesulitan Bulog menyerap gabah sesuai target akan membahayakan ketahanan 
pangan bangsa pada saat paceklik yang mulai enam bulan lagi. Bulog akan 
kesulitan menstabilkan harga beras. Stok Bulog yang rendah membuat leluasa 
pedagang berspekulasi.
  Akibatnya, harga beras bisa tak terkendali karena benteng pertahanan 
pemerintah terakhir jebol. Mungkin rakyat tak akan kelaparan, tetapi harga 
beras yang tinggi membuat warga tak mampu membeli beras. Kredibilitas 
pemerintah merosot.
  Bola makin panas karena krisis beras akan terjadi menjelang Pemilihan Umum 
April 2009 dan akan mudah menjadi kendaraan politik partai mana pun.
  Bisa diantisipasi
  Bakal memburuknya situasi perberasan nasional yang bisa mengarah pada krisis 
pangan di Indonesia sebenarnya masih bisa diantisipasi.
  Kebijakan menaikkan HPP merupakan langkah tepat. Karena itu, kenaikan HPP 
jangan ditunda terlalu lama karena ini akan menutup potensi Bulog untuk lebih 
banyak membeli beras. Dengan stok beras pada akhir 2008 yang bisa kurang dari 1 
juta ton, bisa apa Bulog. Cadangan beras itu hanya akan mampu mengamankan 
pangan bangsa kurang dari 10 hari.
  Upaya pemerintah
  Upaya yang masih mungkin dilakukan pemerintah adalah terus mendorong petani 
agar mau menanam padi di musim gadu dan kemarau sekalipun. Tentu saja itu 
dilakukan khusus di daerah beririgasi. Bantuan benih gratis yang tahan terhadap 
cekaman kemarau juga harus diprogramkan.
  Begitu pula dengan perluasan area penanaman padi di luar Jawa, terutama di 
lahan pasang- surut, legowo, dan rawa lebak.
  Langkah terakhir dan merupakan pilihan terakhir apabila harga beras di musim 
paceklik mulai tinggi, jangan segan-segan Bulog melakukan operasi pasar mandiri 
tanpa melibatkan pedagang. Kebijakan membanjiri pasar dengan beras Bulog yang 
dilakukan tahun lalu terbukti tak begitu efektif menurunkan harga beras.
  Jauh akan lebih efektif kalau Bulog menjual beras langsung kepada masyarakat 
dengan dukungan satgas Bulog dan kalau perlu meminta bantuan truk dan anggota 
TNI/Polri. Pemerintah juga bisa pula bertindak tegas kepada para penimbun.
  Tanpa melakukan berbagai langkah strategis di atas, krisis pangan yang 
mengibas ke politik yang dialami Filipina hanya tinggal menunggu waktu mampir 
ke Indonesia.



"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke