assalaamu alaikum,
berikut ini ada opini dari RoL (
http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=331733&kat_id=16), tulisan
kandidat doktor di M'sia.
salam,
satriyo
-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28
  Koran <http://republika.co.id/kolom.asp>  »
Opini<http://republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16>   Sabtu, 26
April 2008
Menemukan Sosok Muslim Sejati

*Ahmad Sahidah*
Kandidat Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Era kebebasan di negeri ini telah memberikan kesempatan bagi setiap kelompok
untuk menampilkan model keagamaannya. Sekilas boleh dikatakan kegairahan
untuk mengamalkan nilai-nilai dan ajaran keagamaan makin menguat. Namun,
ditilik dari pendekatan sosiologis, ajaran agama yang dipraktikkan dalam
keseharian boleh jadi banyak menyembunyikan kepentingan yang tidak muncul di
permukaan.

Tidak ada salahnya jika kita berusaha memahami kehidupan keagamaan melalui
disiplin bukan 'agama' murni, seperti psikologi, sosiologi, dan antropologi.
Tentu, kita akan terkejut karena agama disimpulkan sebagai fenomena
kemanusiaan biasa dengan segala implikasinya.

Memang ada premis yang menganggap keagamaan adalah bentuk ketidakmatangan
manusia, tetapi pandangan ini disangga oleh rasio semata yang mengukur
segalanya dari cara berpikir dialektik-materialisme. Pendekatan lain banyak
menganggap perspektif ini gagal karena bias dan distortif.

Tulisan Fadwa El-Guindi tentang jilbab dalam *Veil: Modesty, Privacy and
Resistance* (1999) memperlihatkan kelebihan melihat persoalan keagamaan di
dalam pelbagai perspektif. Ia tidak hanya melihatnya dari pendekatan
normatif, tetapi makna yang terkandung di dalam ajaran agama lebih luas,
baik sejarah, linguistik, studi kawasan dan feminisme.

Kekayaan pandangan ini akan membuat kita lebih jernih melihat masalah yang
sedang dihadapi umat. Meski demikian, gagasan untuk menilai agama dari
ajaran dirinya akan mengantarkan kita pada kekayaan pemikiran yang telah
melahirkan semangat untuk membela kemanusiaan. >

Agama telah mampu memayungi kehidupan manusia yang kerap didera kerakusan
dan ketamakan penganutnya. Namun, pada saat yang sama dalam sejarah agama
juga telah digunakan untuk menjadi pembenar bagi keangkaramurkaan. Untuk
itu, kita harus menemukan jalan pulang.

*Jalan terjal
*Memasuki usia ke-15 abad, Islam telah mengarungi hidup dengan segala
pernak-perniknya. Ia telah melahirkan sejarah gemilang dan akhirnya mengacu
dalam hukum sejarahnya Ibn Khaldun. Dia juga memasuki masa keredupannnya.
Terus terang, inilah yang kita baca dalam buku sejarah, tanpa memperhatikan
bahwa keislaman itu juga meminjam  peradaban lain. Bahkan, lebih jauh
kejayaan Islam dalam pengetahuan juga didukung oleh kepakaran sarjana
non-Muslim. Pendek kata, peradaban ini sejatinya adalah milik bersama umat
manusia.

Sekarang kita di sini terpecah dalam beberapa kelompok untuk kembali kepada
kegemilangan tersebut. Dengan segudang alasan, masing-masing menonjolkan
dirinya sebagai pembawa panji yang akan mengembalikan kejayaan masa lalu.
Tak terhindarkan, simbol-simbol diusung meskipun sebenarnya ia menyimpan
makna 'tersembunyi' yang justru menghilang di tengah hiruk-pikuk pekikan.

Bahkan, politik pun turut merayakan keagamaan dengan penuh ingar-bingar. Di
sini ada kelompok yang menggunakan legitimasi agama, baik secara
terangan-terangan maupun tersembunyi. Demikian pula ditemukan kelompok yang
ingin menjaga kesucian tradisi karena dianggap warisan nenek moyang dan
perlu dipertahankan berdasarkan kepercayaan pada kearifan lokal. Padahal, di
balik itu ada pengekalan kekuasaan dan kekhawatiran tergerus oleh gelombang
baru yang akan meminggirkan perannya di tengah masyarakat.

Ya, benar apa kata Jürgen Habermas bahwa ada kaitan erat antara pengetahuan
dan kepentingan. Akhirnya, jalan pulang dipenuhi kerikil tajam. Mereka
sering berkelahi dengan sesama di tengah jalan dan bahkan menumpahkan darah.

Upaya untuk berdamai memang telah dilakukan. Tidak jarang dengan pernyataan
bersama yang disorot wartawan. Lalu, berita menyiarkan bahwa mereka
bergandengan tangan untuk menyongsong masa depan. Tapi, sebagian menggumam
ragu bahwa mereka adalah pengawal agama yang selalu terjebak pada perebutan
kekuasaan.

*Islam sederhana
*Di sini kesederhanaan tidak hanya dipahami sebagai wujud dari sikap moderat
dan tidak ekstrem. Lebih jauh, ia mengandaikan penganutnya mengamalkan
kehidupan keseharian yang sederhana.

Tapi, kita tentu heran karena mereka yang menjadi pemimpin menabung begitu
banyak uang di tengah kesulitan rakyat yang menganga dan putus asa. Begitu
banyak umat dibujuk untuk turun jalan atau memenuhi masjid untuk membikin
pernyataan bahwa Islam menginginkan ini dan itu.

Kita pun tahu acara seremonial semacam ini juga memerlukan dana besar.
Jelas-jelas ini kesia-siaan. Padahal, di luar sana banyak umat yang
memerlukan uang untuk makan, biaya sekolah, dan ongkos kesehatan.
Jumlah 87 persen umat di dalam statistik adalah bukti cukup bahwa kita
adalah besar dan tak perlu ditunjukkan dengan teriakan di jalanan. Sekarang
kita memerlukan pemimpin yang menguras tabungannya untuk kebajikan. Demikian
pula umat tak perlu lagi tergoda untuk sering berkerumun di jalan.

Perayaan keagamaan lebih dari cukup untuk berkumpul menguatkan komitmen
bagaimana mengentaskan kebodohan dan kemiskinan yang melilit umat. Malahan,
energi yang melimpah itu seharusnya mendorong umat untuk rajin berjamaah
agar masjid-masjid tidak menjelma menjadi kuburan, tanpa direcoki propaganda
untuk gagah-gagahan.

Oleh karena itu, kewajiban setiap Muslim adalah memakmurkan masjid tempat
dia tinggal. Mungkin di sinilah kita akan menemukan ruang di mana satu sama
lain berbagi, bagaimana menyoal masalah yang sedang dihadapi di
lingkungannya berkaitan dengan ketersediaan pelayanan pendidikan dan
kesehatan. Fungsi masjid tak lagi dibekap sebagai tempat ibadah, tetapi juga
kegiatan sosial.

Tambahan lagi, kita memerlukan lebih banyak lagi sekolah model MTs Sururon
di Jawa Barat yang menjawab masalah sekitarnya. Sekolah yang membebaskan
biaya dan tidak hanya memamah biak kurikulum yang tidak ada kaitannya dengan
kebutuhan lokal.

Lalu, bagaimana dengan orang miskin yang ingin berobat? Meskipun kaum duafa
diberikan kartu bebas biaya, itu tidak akan membuatnya sembuh dengan mudah.
Sakit memerlukan biaya lebih sekadar menebus obat.

Jika *ghirah* keislaman diarahkan bagaimana membuat umat ini tidak lemah,
maka tugas kita sebagai Muslim telah tertunai. Mungkin, kita juga perlu
meniru usaha Johor Corporation, Malaysia, di bawah teraju tokoh wiraswasta
Ali Hashim, yang mewakafkan sahamnya untuk diberikan kepada masjid agar
membangun klinik yang tidak membebani ongkos mahal untuk orang miskin.

Saya tidak menampik ide-ide besar, seperti tegaknya syariah, model
kekhalifahan, Islam liberal, atau apa pun namanya. Dengan catatan semua
memikirkan kembali akar dari keterpurukan umat, yaitu ekonomi, pendidikan,
dan kesehatan. Jika kita semua bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh
untuk menuntaskan masalah ini, maka diharapkan perbincangan tentang kembali
kepada Islam tidak ditelikung oleh para elitenya untuk berdiri di depan
panggung dan di belakangnya mereka mendapatkan pamrih.

Celakanya, perbincangan para sarjananya hanya menambah gelap arti menjadi
Muslim karena mereka asyik bergelut dengan teori yang rumit dan mengabaikan
bagaimana menjelaskan praktik agama yang mudah dan jelas sesuai dengan
kebutuhan mendesak pemeluknya. Sudah saatnya kita memetik manfaat dari
diskursus keagamaan yang memberikan ruang untuk membebaskan penganut
terbesarnya yang bergelut dengan pelbagai kemelaratan hidup. Terus terang,
kita susah menemukan teladan karena kesederhanaan telah ditelan zaman.
*
Ikhtisar*
- Perlu memberdayakan peran masjid untuk membuka dan menambah wawasan umat.
- Umat tak mungkin maju tanpa mengangkat mereka dari kemiskinan dan
kebodohan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke