bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem Seorang muslim yg baik akan memandang/melihat agama islam yg diyakininya, dg semangat memajukan dan 'memakmurkan' agar islam makin jaya dan manjadi solusi kehidupan umat islam. Bukan mencari-cari kelemahan, mengendus-endus keburukan dan kebusukan, kalau perlu diciptakan dan didefinisikan sendiri kebusukan itu; kemudian meng-eksploitasi dan mengobral-obralnya, untuk kesenangan dan kepuasan musuh2 islam. Dg dibungkus topeng HAM dan kebebasan.
Dan kita semua sudah paham, orang macam apa yg suka mencaci dan melecehkan islam ... betul JIL!!! Jaringan Iblis Lakntullah ini, gemar mengorek-korek bangkai 'saudaranya sendiri', mengendus-endus kebusukan; kemudian dg bangganya berkoar-koar di depan kalayak umum, bahkan kalau bisa di depan musuh2 islam agar bisa mendapat dollar dg menjual bualannya. Mereka merasa dg begitu bisa mendapatkan dua manfaat, kesatu yg paling utama adalah menghancurkan aqidah islam, dan kedua adalah mendapatkan dollar. Begitulah gerombolan asu-ajak ini bekerja. Begitu piawai dlm menjual dan mengemas penghancuran islam dari dalam, tapi begitu jahatnya dan dahsyatnya efek yg bisa ditimbulkan oleh ulah JIL. Sebagai contoh, ada seorang profesor doktor IAIN, demi toleransi maka dia bisa bilang bahwa homoseks dan homoseksualitas itu adalah sunatullah, maka kita umat islam hrs mau menerima dan bertoleransi thd hal itu. Ada lagi seorang doktor dan ngakunya orang muhamadiyah lagi, bilang di TV bahwa kita manusia ini hidup di dunia bukan di langit, maka kita umat islam hanya membutuhkan hukum2 manusia bukan hukum tuhan.Gerombolan JIL yg ngakunya islam, tapi dg berbekal hermeunetika ala kristen menafsirkan al-Qur'an seenaknya sendiri dan sampai berani mengklaim bahwa kitab suci al-Quran itu khan hanya sekedar buku yg berisi kebudayaan2 arab. Jadi yg cocok dg jaman modern ini dipakai , yg sdh tdk cocok lagi ya dibuang saja.Ada lagi yg bilang, penistaan dan pelecehan agama islam oleh ahmadiyah itu khan hanya sekedar perbedaan penafsiran al-Qur'an saja, tdk usah diributkan. Ada lagi orang ngakunya NU, tapi berani bilang bahwa ayat2 al-Qur'an itu lebih porno daripada kitab sucinya orang kristen. Itu semua fakta dan nyata ada dihadapan kita umat islam. Anehnya banyak umat islam yg tdk sadar malah menyokong dan membela JIL. Kalau dipikir orang2 macam ini otaknya waras atau tdk ya! -muslim voice- At 10:52 AM 4/30/2008, Ose Ose wrote: >buat saudara2 muslim mohon tsanggapannya atas orang ini..? >apa masud orang ini..? apakah ada tendensi >tertentu..coba antum masuk ke minang ><mailto:minangnet%40yahoogroups.com>[EMAIL PROTECTED], >perhatikan tulisan2nya..? seperti berbau >tendensius punya maksud2 tertentu untuk >masyarakat minang yang nota bene islam..siapa orang ini..? >mohon perhatiannya, jzkl.. >sesama muslim harus saling sayang menyayanghi dan saling melindungi.. >islam adalah satu tubuh ( Al Qur'an ) > >----- Original Message ---- >From: edizal <<mailto:edizal%40agate.plala.or.jp>[EMAIL PROTECTED]> >To: minang <<mailto:minangnet%40yahoogroups.com>[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Tuesday, April 29, 2008 6:36:09 PM >Subject: [m] Kuasa Normalisme dalam Agama dan Negara > >Kuasa Normalisme dalam Agama dan Negara > >Oleh Slamet Thohari >09/04/2008 > >Islam, sebagaimana agama lain, adalah agama yang terikat dengan masa >lalu. Karena itu, seringkali masa lalu menyelinap hadir membentuk >nilai-nilai Islam. Masyarakat Arab tempat hadirnya Islam di abad ke-7 >sudah barang tentu punya idealisasi dan utopianisme tertentu. >Idealisasi tentang cantik, tampan, kesopanan, dan seterusnya. >Jelaslah, Islam hadir di negeri Arab, dan ikut terikat pula oleh apa >yang disebut al-Jabiri sebagai 妬maji-imaji sosialã»(al- >mikhy稷ul ijtimç«i) masyarakat Arab. > >Perang dan pertikaian antar suku juga ikut mendorong imajinasi >masyarakat Arab akan keperkasaan tubuh. Yang lemah tak sedikit >dibinasakan. Bahkan Umar Bin Khattab, sebagaimana diceritakan dalam >banyak buku-buku sejarah pra-Islam, pernah membunuh perempuan. Itulah >jaman kebodohan. Bayi-bayi perempuan dibunuh (infanticide) karena >dianggap tidak berkesesuaian dengan imaji tentang masyarakat yang kuat.. > >Nabi Muhammad pun pernah mengimpikan umat Islam yang kuat. Umat Islam >setidaknya mesti bisa berenang, memanah, bergulat, berkuda dan >seterusnya. Tubuh yang sehat adalah jubah bagi jiwa yang sehat, >demikian semboyan kaum muslim. Lantas bagaimana dengan mereka kaum >difabel (people with different ability) atau dalam bahasa æ >asyarakat normalã»dibahasakan sebagai ç»rang cacatã» >Bagaimana mungkin tunanetra bisa memanah, tunadaksa dapat bergulat, >naik kuda dan seterusnya? > >Sekilas, Islam pun tampak tak bisa dilepaskan dari produk budaya >keperkasaan, sehingga sangat bias akan 渡ormalismeã» Dalam >banyak hal, berbagai format ibadah keagamaan Islam pun tampil dengan >berbagai unsur yang abai terhadap kaum difabel. Haji yang menuntut >kekuatan fisik, idealisasi salat yang berdiri dan seterusnya, adalah >sebagian dari contoh bias itu. > >Dalam pemahaman Islam yang populer, membaca Alqurèªn dengan >suara indah merupakan kebanggaan. Bahkan terdapat ilmu tajwid, agar >membaca Alqurèªn sesuai dengan spelling dan bunyi orang Arab >bicara. Bahkan, bunyi itu kemudian diseragamkan menjadi style bacaan >orang Quraisy. Lantas, bagaimana dengan tunarungu yang jika otomatis >tak bisa mendengar, juga kesulitan untuk bicara. > >Bias ç»rang normalã»juga dapat kita temukan pada banyak >hukum-hukum agama yang terkadang menomorduakan kaum difabel. Seperti >untuk menjadi imam salat, pemimpin negara, dan seterusnya. Jadi, ada >banyak kuasa tertentu yang terselinap dalam pemahaman Islam. Salah >satu kuasa yang paling akut adalah kuasa ç»rang normalã» > >*** > >Di masa kini, agama akan selalu diuji doktrin-doktrinya. Namun setiap >doktrin adalah sebuah siasat dalam meyisihkan dan memilih rentetan >kenyataan. Dari siasat itu berbagai argumen dibangun, demi sebuah >tujuan: kebenaran. Dan kebenaran lalu menjadi keyakinan, direproduksi >terus-menerus sehingga tampak tidak tergoyahkan. Padahal, ada banyak >hal yang teralpakan, tak terpikir, dan terlupakan begitu saja. >Demikianlah yang terjadi pada kaum difabel. Dalam sejarah agama- >agama, mereka terlupakan, tersisih dalam proses perumusan sebuah >kebenaran. > >Ini pun terkait dengan kehadiran agama itu sendiri: selalu bersikap >politis untuk konteks tertentu. Jika masyarakat menuntut kepentingan >tertentu, maka agama pun lentur bersiasat menyesuaikan dengan musim >kepentingan saat itu. Lantas, bagaimana jika kepentingan mayarakat >selalu mengindap kuasa 渡ormalitasã» Sudah pasti agama >akan bersirkulasi mendukung 渡ormalismeã»itu sendiri. > >Dalam postulat agama Islam memang ada ayat yang menyatakan tidak >boleh bermuka masam tarhadap ç»rang butaã»(Abasa: 1-3). >Namun betapa banyak atribut-atribut lain yang justu >menguntungkan ç»rang-orang normalã» Ibadah haji, salat, >merupakan ibadah politik tubuh manusia. Memang terdapat ajaran, salat >boleh duduk, boleh berbaring, karena alasan tertentu. Namun yang >ideal tetap saja berdiri, sebab duduk dan tidur hanyalah kelonggaran >(rukhsah). Setiap kelonggaran adalah tidak formal, dan tidak ideal >atau pengecualian (istisnaã». > >Simak pula doktrin-doktrin Islam yang terkait dengan negara. Kitab al- >Mawardi, Ahwalus Syiyasah wa Auliyatut Diniyah, merupakan contoh yang >menekankan bahwa pemimpin yang baik dalam Islam adalah laki-laki yang >tidak mengidap ketunaan atau kecacatan. Oleh banyak kalangan >fundamentalis yang merasa eksespsionalis, alasan ini seringkali >dijadikan argumen untuk menentang Gus Dur yang tunanetra itu sebagai >presiden. Ini pula yang terjadi pada pemahaman tentang hewan kurban >yang tidak boleh cacat. Sebab å¾ecacatanã»adalah masalah >yang buruk bagi orang Arab saat itu. > >Untuk itu, segala yang cacat tidak layak dihadiahkan kepada Tuhan, >dan agama untuk kesekian kalinya hadir berpolitik untuk kontek >tertentu: konteks Arab. Jika memilih hewan yang sempurna adalah >masalah pengujian keseriusan dan keikhlasan, kenapa cacat menjadi >simbol ketidakseriusan? Bukankah daging kambing yang pincang kakinya >tetap juga nikmat? Dus, ada banyak nilai-nilai agama yang bias >kenormalan. > >*** > >Tapi memang, kuasa normal bukan hanya ada dalam Islam saja. Agama- >agama lain juga punya sejarah buruk terhadap kaum difabel. Agama >Yahudi yang konon banyak mengabsorbsi gagasan Yunani, terutama di >masa Alexander Agung, beranggapan bahwa difabelitas merupakan hal >yang berada di luar wilayah kesucian Tuhan. Leviticus bahkan >meneguhkan, orang-orang buta yang mempunyai tangan satu, kerdil, dan >mempunyai kecacatan yang lain, sebagai orang yang tak berhak untuk >mendapat uluran kasih dari Tuhan (Colin, 1991: 2). > >Demikian pula dalam agama Kristen, orang-orang yang melanggar aturan >Tuhan, immoral dan bertindak jahat, akan mendapat hukuman dan Tuhan >sendiri yang akan membutakan matanya. Cacat adalah suasana keburukan >dan kesengsaraan. Hingga posisinya menjadi wilayah yang digunakan >untuk menghukum orang-orang å± ahatã»dan keluar dari jalur >Tuhan. Dalam Perjanjian Baru (New Testament) kitab Matius, Yesus >sanggup menyembuhkan penderita lumpuh setelah mengabarkan bahwa dosa- >dosa orang tersebut telah diampuni. Ini berarti kelumpuhan diderita >karena gelimangan dosa, hingga kelumpuhan adalah balasannya (Colin, >1997: 19). > >Lebih lanjut, Bibel selalu menghubungkan orang difabel dengan garis >kekotoran dan dosa. Ini dapat terbaca pada apa yang dipercayai oleh >St. Agustine, orang yang dipercaya membawa agama Kristen di dataran >Inggris sekitar akhir abad ke-6. Agustine mengobarkan bahwa >difabilitas adalah hukuman bagi turunya Adam dan dosa-dosa yang lain. > >Pada abad pertengangahan, berkembang prasangka dalam benak masyarakat >bahwa difabel selalu berhubungan dengan sihir atau kekuatan setan. >Perempuan yang punya anak difabel, selalu diasosiasikan punya dan >berani berhubungan dengan ilmu sihir (witchcraft) . Paling tidak >mempelajari ilmu sihir. Sehingga difabilitas yang diampu oleh anak >tersebut merupakan hukuman sekaligus bukti å¾ejahatanã» >ibunya. > >Sejarah kepedihan terus melekat pada kaum difabel. Dan agama untuk >kesekian kalinya terus mejadi pendukung yang sangat penting bagi >proses pengenyahan kaum difabel di dalam masyarakat. Sang pendobrak, >rasionalis yang konon ajaranya menjadi inspirasi bagi perkembangan >Eropa, Marthin Luther, juga terlibat dalam penggilasan orang-orang >difabel. Komandan besar dalam reformasi Protestan tersebut, pernah >menyokong dan memproklamasikan pembunuhan bayi-bayi difabel di >Jerman. Ini terkait dengan streotipe orang-orang difabel yang >dianggap sebagai éitisan setanã»( Colin, 1997: 12). > >Tapi nilai-nilai demokrasi adalah harga yang sulit ditawar. Sebab >demokrasi menghargai hak, termasuk hak kaum difabel yang >termarjinalkan. Banyak penelitian sudah dilakukan, bahwa tidak >selamanya agama menjadi senjata pembunuh demokrasi. Namun, kerapkali >agama ditemukan menjadi modal sosial pendukung demokrasi itu sendiri. >Namun agama yang bagaimana? Agama yang transformatif tentunya; agama >yang punya daya dorong untuk perubahan sistem masyarakat agar mampu >mengakomodir segala hak manusia: hak eknomi, sosial dan budaya. > >Kaum difabel merupakan å¾elompok minoritasã»cukup >signifikan bagi negeri ini. Ada sekitar 10 % orang difabel dari 250 >juta penduduk Indonesia, atau sekitar 25 juta orang. Mereka tetap >sebagai warganegara yang mesti mendapatkan hak-haknya. Selama ini, >hak kaum difabel di Indoensia tak pernah terpenuhi. Berbagai >fasilitas publik seperti sarana pendidikan, ibadah, gedung teater, >dan seterusnya, tidak dapat mereka nikmati. Sebab ada kuasa normal >yang masih kuat melekat di sana. Karena itu, melibatkan kaum difabel >dalam kajian agama tentu amat penting sebagai usaha clearing space >atas kuasa normal yang benar-benar akut sekaligus usaha untuk >mewujudkan masyarakat demokratis yang diimpikan setiap orang di >negeri ini. Semoga! > >Referensi: <http://islamlib.>http://islamlib. >com/id/index. php?page= article&id= 1339 > >__________________________________________________________ >Be a better friend, newshound, and >know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. ><http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > >[Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed]

