Tanggung Jawab Dalam Islam
Kategori : Akhlak & Teladan
Rabu, 30 April 2008 @ 06:06:18
Hits 99
Cetak 14
Kirim 11
Tanggung Jawab Dalam Islam
Oleh: Dr. H. Achmad Satori Ismail, MA
Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa khalifah
rasyidin ke V Umar bin Abdil Aziz dalam suatu shalat
tahajjudnya membaca ayat 22-24 dari surat ashshoffat
ÇÍúÔõÑõæÇ ÇáøóÐöíäó ÙóáóãõæÇ æóÃóÒúæóÇÌóåõãú æóãóÇ
ßóÇäõæÇ íóÚúÈõÏõæäó(22)ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ÝóÇåúÏõæåõãú
Åöáóì ÕöÑóÇØö ÇáúÌóÍöíãö(23)æóÞöÝõæåõãú Åöäøóåõãú
ãóÓúÆõæáõæäó(24)
yang artinya : (Kepada para malaikat diperintahkan)
Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman
sejawat merekadan sembah-sembahan yangselalu mereka
sembah, selain Allah: maka tunjukkanlah kepada mereka
jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka di tempat
perhentian karena mereka sesungguhnya mereka akan
ditanya ( dimntai pertanggungjawaban ).
Beliau mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena
merenungi besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di
akhirat bila telab melakukan kedzaliman. Dalam riwayat
lain Umar bin Khatab r.a. mengungkapkan besarnya
tanggung jawab seorang pemimpin di akhiarat nanti
dengan kata-katanya yang terkenal : Seandainya seekor
keledai terperosok di kota Baghdad nicaya Umar akan
dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya :
Mengapa tidak meratakan jalan untuknya ? Itulah dua
dari ribuan contoh yang pernah dilukiskan para salafus
sholih tentang tanggungjawab pemimpin di hadapan Allah
kelak.
Pada prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu
berdasarkan atas perbuatan individu saja sebagaimana
ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat
Al Anam
æóáóÇ ÊóßúÓöÈõ ßõáøõ äóÝúÓò ÅöáøóÇ ÚóáóíúåóÇ æóáóÇ
ÊóÒöÑõ æóÇÒöÑóÉñ æöÒúÑó ÃõÎúÑóì (164)
Artinya: Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan
kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain.
Dalam surat Al Mudatstsir ayat 38 dinyatakan
ßõáøõ äóÝúÓò ÈöãóÇ ßóÓóÈóÊú ÑóåöíäóÉñ(38)
Artinya: Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa
yang telahdiperbuatnya
Akan tetapi perbuatan individu itu merupakan suatu
gerakan yang dilakukan seorang pada waktu, tempat dan
kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa
meninggalkan bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh
sebab itu apakah tanggung jawab seseorang terbatas
pada amalannya saja ataukah bisa melewati batas waktu
yang tak terbatas bila akibat dan pengaruh amalannya
itu masih terus berlangsung mungkin sampai setelah dia
meninggal ?
Seorang yang cerdas selayaknya merenungi hal ini
sehingga tidak meremehkan perbuatan baik sekecil
apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil
biji sawi. Mengapa demikian ? Boleh jadi perbuatan
baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika
dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya
terus berlangsung lama, bisa jadi akan amat besar
pahala atau dosanya.
Allah SWT menyatakan
ÅöäøóÇ äóÍúäõ äõÍúíöí ÇáúãóæúÊóì æóäóßúÊõÈõ ãóÇ
ÞóÏøóãõæÇ æóÁóÇËóÇÑóåõãú æóßõáøó ÔóíúÁò ÃÍúÕóíúäóÇåõ
Ýöí ÅöãóÇãò ãõÈöíäò(12)
Artinya: Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan
dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yaasiin 12).
Ayat ini menegaskan bahwa tanggangjawab itu bukan saja
terhadap apa yang diperbuatnya akan tetapi melebar
sampai semua akibat dan bekas-bekas dari perbuatan
tersebut. Orang yang meninggalkan ilmu yang
bermanfaat, sedekah jariyah atau anak yang sholeh ,
kesemuanya itu akan meninggalkan bekas kebaikan selama
masih berbekas sampai kapanpun. Dari sini jelaslah
bahwa Orang yang berbuat baik atau berbuat jahat akan
mendapat pahala atau menanggung dosanya ditambah
dengan pahala atau dosa orang-orang yang meniru
perbuatannya. Hal ini ditegaskan dalam Surat An nahl
25
áöíóÍúãöáõæÇ ÃóæúÒóÇÑóåõãú ßóÇãöáóÉð íóæúãó
ÇáúÞöíóÇãóÉö æóãöäú ÃóæúÒóÇÑö ÇáøóÐöíäó íõÖöáøõæäóåõãú
ÈöÛóíúÑö Úöáúãò ÃóáóÇ ÓóÇÁó ãóÇ íóÒöÑõæäó(25)
Artinya: (Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul
dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat
dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan.
Ingatlah amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
Di sini kita merenung sejenak seraya bertanya:
apabila yang memerintah kejahatan atau kedurhakaan
itu seorang pemimpin yang memilik kekuasaan penuh,
apakah dia saja yang akan menanggung dosanya dan dosa
rakyatnya karrena mereka dipaksa ? Ataukah rakyat juga
harus menaggung dosanya walau ia lakukan di bawah
ancaman paksaan tersebut ? Menurut hemat saya,
seorang penguasa dianggap tidak memaksa selama raksyat
masih bisa memiliki kehendak yang aada dalam dirinya.
Perintah seorang pimpinan secara lisan maupun tulisan
tidak berarti melepaskan seorang bawahan dari
tanggungjawab atas semua perbuatannya. Alquran mencela
orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan
pimpinannya menyuruh berbuat dosa. Allah menyatakan
sbb.
íóæúãó ÊõÞóáøóÈõ æõÌõæåõåõãú Ýöí ÇáäøóÇÑö íóÞõæáõæäó
íóÇáóíúÊóäóÇ ÃóØóÚúäóÇ Çááøóåó æóÃóØóÚúäóÇ
ÇáÑøóÓõæáóÇ(66)æóÞóÇáõæÇ ÑóÈøóäóÇ ÅöäøóÇ ÃóØóÚúäóÇ
ÓóÇÏóÊóäóÇ æóßõÈóÑóÇÁóäóÇ ÝóÃóÖóáøõæäóÇ
ÇáÓøóÈöíáóÇ(67)
: Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam
neraka, mereka berkata: alangkah baiknya, andaikata
kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul Dan
mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar
kami , lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang
benar. (Al ahzab 66-67).
Allah membantah mereka dengan tegas
æóáóäú íóäúÝóÚóßõãõ Çáúíóæúãó ÅöÐú ÙóáóãúÊõãú
Ãóäøóßõãú Ýöí ÇáúÚóÐóÇÈö ãõÔúÊóÑößõæäó(39)
: Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi
manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah
menganiaya dirimu sendiri . Sesungguhnya kamu
bersekutu dalam azab itu. (Az Zukhruf 39).
Dari sini jelaslah bahwa pemimpin yang dzalim tidak
akan bisa memaksa hati seseorang kendati mampu memaksa
yang lahiriyahnya. Oleh sebab itu rakyat atau
bawahanpun harus bertanggung jawab terhadap akidahnya
dan perbuatannya kendati di sana ada perintah dan
larangan pimpinan.
Berbeda dengan hukum paksaan yang menimpa orang-orang
lemah yang ditindas penguasa yang mengancam akan
membunuhnya dan memang bisa dilaksanakan. Hal ini
pernah terjadi pada masa awal Islam di Makkah dimana
orang yang masuk Islam di paksa harus murtad seperti
Bilal bin Rabbah, keluarga Yasir dst. Mereka dipaksa
menyatakan kekufuran. (lihat An Nahl 106 dan An Nisa
97-99)
Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban
yang dibebankan padanya. Semakin tinggi kedudukannya
di masyarakat maka semakin tinggi pula
tanggungjawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung
jawab atas prilaku dirinya, keluarganya,
saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya. Hal
ini ditegaskan Allah sbb.; Wahai orang-orang mukmin
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
(At Tahrim 6) Sebagaimana yang ditegaskan Rasululah
saw : Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas
kepemimpinannya..(Al Hadit)
Tanggungjawab vertikal ini bertingkat-tingkat
tergantung levelnya. Kepala keluarga, kepala desa,
camat, bupati, gubernur, dan kepala negara, semuanya
itu akan dimnitai pertanggungjawabannya sesuai dengan
ruang lingkup yang dipimpinnya. Seroang mukmin yang
cerdas tidak akan menerima kepemimpinan itu kecuali
dengan ekstra hati-hati dan senantiasa akan
mempeprbaiki dirinya, keluarganya dan semua yang
menjadi tanggungannya. Para salafus sholih banyak yang
menolak jabatan sekiranya ia khawatir tidak mampu
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Pemimpin dalam level apapun akan dimintai
pertanggungjawabannya dihadapan Allah atas semua
perbuatannya disamping seluruh apa yang terjadi pada
rakyat yang dipimpinnya. Baik dan buruknya prilaku dan
keadaan rakyat tergantung kepada pemimpinnya.
Sebagaimana rakyat juga akan dimintai
pertanggungjawabannya ketika memilihseorang pemimpin.
Bila mereka memilih pemimpin yang bodoh dan tidak
memiliki kapabilitas serta akseptabilitas sehingga
kelak pemimpin itu akan membawa rakyatnya ke jurang
kedurhakaan rakyat juga dibebani pertanggungjawaban
itu.
Seorang penguasa tidak akan terlepas dari beban berat
tersebut kecuali bila selalu melakukan kontrol,
mereformasi yang rusak pada rakyatnya , menyingkirkan
orang-orang yang tidak amanah dan menggantinya dengan
orang yang sholeh. Perrtolongan allah tergantung niat
sesuai dengan firman Allah
ãóÇ ÃóÕóÇÈó ãöäú ãõÕöíÈóÉò ÅöáøóÇ ÈöÅöÐúäö Çááøóåö
æóãóäú íõÄúãöäú ÈöÇááøóåö íóåúÏö ÞóáúÈóåõ æóÇááøóåõ
Èößõáøö ÔóíúÁò Úóáöíãñ(11)
Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah akan
ditunjuki hatinya danAllah Maha Mengetahui ats segala
sesuatu. (At Taghobun 11)
Wallahu alamu.
sumber : www.ikadi.org
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba
menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat
manusia.
Kategori : Akhlak & Teladan
Rabu, 30 April 2008 @ 06:06:18
Hits 99
Cetak 14
Kirim 11
Tanggung Jawab Dalam Islam
Oleh: Dr. H. Achmad Satori Ismail, MA
Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa khalifah
rasyidin ke V Umar bin Abdil Aziz dalam suatu shalat
tahajjudnya membaca ayat 22-24 dari surat ashshoffat
ÇÍúÔõÑõæÇ ÇáøóÐöíäó ÙóáóãõæÇ æóÃóÒúæóÇÌóåõãú æóãóÇ
ßóÇäõæÇ íóÚúÈõÏõæäó(22)ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ÝóÇåúÏõæåõãú
Åöáóì ÕöÑóÇØö ÇáúÌóÍöíãö(23)æóÞöÝõæåõãú Åöäøóåõãú
ãóÓúÆõæáõæäó(24)
yang artinya : (Kepada para malaikat diperintahkan)
Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman
sejawat merekadan sembah-sembahan yangselalu mereka
sembah, selain Allah: maka tunjukkanlah kepada mereka
jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka di tempat
perhentian karena mereka sesungguhnya mereka akan
ditanya ( dimntai pertanggungjawaban ).
Beliau mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena
merenungi besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di
akhirat bila telab melakukan kedzaliman. Dalam riwayat
lain Umar bin Khatab r.a. mengungkapkan besarnya
tanggung jawab seorang pemimpin di akhiarat nanti
dengan kata-katanya yang terkenal : Seandainya seekor
keledai terperosok di kota Baghdad nicaya Umar akan
dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya :
Mengapa tidak meratakan jalan untuknya ? Itulah dua
dari ribuan contoh yang pernah dilukiskan para salafus
sholih tentang tanggungjawab pemimpin di hadapan Allah
kelak.
Pada prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu
berdasarkan atas perbuatan individu saja sebagaimana
ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat
Al Anam
æóáóÇ ÊóßúÓöÈõ ßõáøõ äóÝúÓò ÅöáøóÇ ÚóáóíúåóÇ æóáóÇ
ÊóÒöÑõ æóÇÒöÑóÉñ æöÒúÑó ÃõÎúÑóì (164)
Artinya: Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan
kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain.
Dalam surat Al Mudatstsir ayat 38 dinyatakan
ßõáøõ äóÝúÓò ÈöãóÇ ßóÓóÈóÊú ÑóåöíäóÉñ(38)
Artinya: Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa
yang telahdiperbuatnya
Akan tetapi perbuatan individu itu merupakan suatu
gerakan yang dilakukan seorang pada waktu, tempat dan
kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa
meninggalkan bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh
sebab itu apakah tanggung jawab seseorang terbatas
pada amalannya saja ataukah bisa melewati batas waktu
yang tak terbatas bila akibat dan pengaruh amalannya
itu masih terus berlangsung mungkin sampai setelah dia
meninggal ?
Seorang yang cerdas selayaknya merenungi hal ini
sehingga tidak meremehkan perbuatan baik sekecil
apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil
biji sawi. Mengapa demikian ? Boleh jadi perbuatan
baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika
dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya
terus berlangsung lama, bisa jadi akan amat besar
pahala atau dosanya.
Allah SWT menyatakan
ÅöäøóÇ äóÍúäõ äõÍúíöí ÇáúãóæúÊóì æóäóßúÊõÈõ ãóÇ
ÞóÏøóãõæÇ æóÁóÇËóÇÑóåõãú æóßõáøó ÔóíúÁò ÃÍúÕóíúäóÇåõ
Ýöí ÅöãóÇãò ãõÈöíäò(12)
Artinya: Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan
dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. (Yaasiin 12).
Ayat ini menegaskan bahwa tanggangjawab itu bukan saja
terhadap apa yang diperbuatnya akan tetapi melebar
sampai semua akibat dan bekas-bekas dari perbuatan
tersebut. Orang yang meninggalkan ilmu yang
bermanfaat, sedekah jariyah atau anak yang sholeh ,
kesemuanya itu akan meninggalkan bekas kebaikan selama
masih berbekas sampai kapanpun. Dari sini jelaslah
bahwa Orang yang berbuat baik atau berbuat jahat akan
mendapat pahala atau menanggung dosanya ditambah
dengan pahala atau dosa orang-orang yang meniru
perbuatannya. Hal ini ditegaskan dalam Surat An nahl
25
áöíóÍúãöáõæÇ ÃóæúÒóÇÑóåõãú ßóÇãöáóÉð íóæúãó
ÇáúÞöíóÇãóÉö æóãöäú ÃóæúÒóÇÑö ÇáøóÐöíäó íõÖöáøõæäóåõãú
ÈöÛóíúÑö Úöáúãò ÃóáóÇ ÓóÇÁó ãóÇ íóÒöÑõæäó(25)
Artinya: (Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul
dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat
dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan.
Ingatlah amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
Di sini kita merenung sejenak seraya bertanya:
apabila yang memerintah kejahatan atau kedurhakaan
itu seorang pemimpin yang memilik kekuasaan penuh,
apakah dia saja yang akan menanggung dosanya dan dosa
rakyatnya karrena mereka dipaksa ? Ataukah rakyat juga
harus menaggung dosanya walau ia lakukan di bawah
ancaman paksaan tersebut ? Menurut hemat saya,
seorang penguasa dianggap tidak memaksa selama raksyat
masih bisa memiliki kehendak yang aada dalam dirinya.
Perintah seorang pimpinan secara lisan maupun tulisan
tidak berarti melepaskan seorang bawahan dari
tanggungjawab atas semua perbuatannya. Alquran mencela
orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan
pimpinannya menyuruh berbuat dosa. Allah menyatakan
sbb.
íóæúãó ÊõÞóáøóÈõ æõÌõæåõåõãú Ýöí ÇáäøóÇÑö íóÞõæáõæäó
íóÇáóíúÊóäóÇ ÃóØóÚúäóÇ Çááøóåó æóÃóØóÚúäóÇ
ÇáÑøóÓõæáóÇ(66)æóÞóÇáõæÇ ÑóÈøóäóÇ ÅöäøóÇ ÃóØóÚúäóÇ
ÓóÇÏóÊóäóÇ æóßõÈóÑóÇÁóäóÇ ÝóÃóÖóáøõæäóÇ
ÇáÓøóÈöíáóÇ(67)
: Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam
neraka, mereka berkata: alangkah baiknya, andaikata
kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul Dan
mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar
kami , lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang
benar. (Al ahzab 66-67).
Allah membantah mereka dengan tegas
æóáóäú íóäúÝóÚóßõãõ Çáúíóæúãó ÅöÐú ÙóáóãúÊõãú
Ãóäøóßõãú Ýöí ÇáúÚóÐóÇÈö ãõÔúÊóÑößõæäó(39)
: Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi
manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah
menganiaya dirimu sendiri . Sesungguhnya kamu
bersekutu dalam azab itu. (Az Zukhruf 39).
Dari sini jelaslah bahwa pemimpin yang dzalim tidak
akan bisa memaksa hati seseorang kendati mampu memaksa
yang lahiriyahnya. Oleh sebab itu rakyat atau
bawahanpun harus bertanggung jawab terhadap akidahnya
dan perbuatannya kendati di sana ada perintah dan
larangan pimpinan.
Berbeda dengan hukum paksaan yang menimpa orang-orang
lemah yang ditindas penguasa yang mengancam akan
membunuhnya dan memang bisa dilaksanakan. Hal ini
pernah terjadi pada masa awal Islam di Makkah dimana
orang yang masuk Islam di paksa harus murtad seperti
Bilal bin Rabbah, keluarga Yasir dst. Mereka dipaksa
menyatakan kekufuran. (lihat An Nahl 106 dan An Nisa
97-99)
Tanggung jawab seorang berkaitan erat dengan kewajiban
yang dibebankan padanya. Semakin tinggi kedudukannya
di masyarakat maka semakin tinggi pula
tanggungjawabnya. Seorang pemimpin negara bertanggung
jawab atas prilaku dirinya, keluarganya,
saudara-saudaranya, masyarakatnya dan rakyatnya. Hal
ini ditegaskan Allah sbb.; Wahai orang-orang mukmin
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
(At Tahrim 6) Sebagaimana yang ditegaskan Rasululah
saw : Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas
kepemimpinannya..(Al Hadit)
Tanggungjawab vertikal ini bertingkat-tingkat
tergantung levelnya. Kepala keluarga, kepala desa,
camat, bupati, gubernur, dan kepala negara, semuanya
itu akan dimnitai pertanggungjawabannya sesuai dengan
ruang lingkup yang dipimpinnya. Seroang mukmin yang
cerdas tidak akan menerima kepemimpinan itu kecuali
dengan ekstra hati-hati dan senantiasa akan
mempeprbaiki dirinya, keluarganya dan semua yang
menjadi tanggungannya. Para salafus sholih banyak yang
menolak jabatan sekiranya ia khawatir tidak mampu
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Pemimpin dalam level apapun akan dimintai
pertanggungjawabannya dihadapan Allah atas semua
perbuatannya disamping seluruh apa yang terjadi pada
rakyat yang dipimpinnya. Baik dan buruknya prilaku dan
keadaan rakyat tergantung kepada pemimpinnya.
Sebagaimana rakyat juga akan dimintai
pertanggungjawabannya ketika memilihseorang pemimpin.
Bila mereka memilih pemimpin yang bodoh dan tidak
memiliki kapabilitas serta akseptabilitas sehingga
kelak pemimpin itu akan membawa rakyatnya ke jurang
kedurhakaan rakyat juga dibebani pertanggungjawaban
itu.
Seorang penguasa tidak akan terlepas dari beban berat
tersebut kecuali bila selalu melakukan kontrol,
mereformasi yang rusak pada rakyatnya , menyingkirkan
orang-orang yang tidak amanah dan menggantinya dengan
orang yang sholeh. Perrtolongan allah tergantung niat
sesuai dengan firman Allah
ãóÇ ÃóÕóÇÈó ãöäú ãõÕöíÈóÉò ÅöáøóÇ ÈöÅöÐúäö Çááøóåö
æóãóäú íõÄúãöäú ÈöÇááøóåö íóåúÏö ÞóáúÈóåõ æóÇááøóåõ
Èößõáøö ÔóíúÁò Úóáöíãñ(11)
Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah akan
ditunjuki hatinya danAllah Maha Mengetahui ats segala
sesuatu. (At Taghobun 11)
Wallahu alamu.
sumber : www.ikadi.org
Hak cipta adalah milik Allah semata.
Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba
menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat
manusia. (website:kebun hikmah)
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ