Buletin Gaul Islam
14 Maret 2007 - 11:08
Cewek Juga Kudu Dakwah
STUDIA Edisi 333/Tahun ke-8 (19 Maret 2007)
Jangan merasa serem dulu dengan judul di atas. Apa sih yang ada di
benakmu kalo mendengar kosakata dakwah? Apakah sosok Bu Lutfiah Sungkar yang
kalem dan keibuan dalam berdakwah? Ataukah sosok bu kyai kamu di pondok dan
suka beri wejangan-wejangan dakwah ke muridnya? Hmm.. mungkin malah kamu
kawatir bakal jadi guru agama kayak bu guru di sekolah?
Hehehe… kalem aja. Jangan kayak saya dulu yang udah merinding denger kata
dakwah. Kesannya serius dan kerjaan para orangtua. Kita yang muda-muda gini
rasanya ogah banget untuk mikir yang berat-berat. Tul nggak?
Tapi ternyata eh ternyata setelah tahu apa dakwah itu jadi ketagihan deh.
Maunya pingin melakukan terus untuk ‘menjerumuskan’ orang lain ke jalan yang
benar (ciee…). Maksudnya sama-sama mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik
sesuai dengan apa yang dimau oleh dakwah yaitu Islam. Kalo nggak percaya, simak
terus yee. Jangan ke mana-mana sebelum tuntas, okay? Lanjuuuttt!
Kenapa harus dakwah?
Sejak diruntuhkannya daulah khilafah (negara Islam) tahun 1924 di Turki oleh
Musthafa Kamal at-Taturk, praktis umat Islam berada pada kondisi yang
mengenaskan. Tanpa negara, tanpa aturan Allah untuk mengatur kehidupan dan
tanpa pelindung dari bahaya sipilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme).
Contoh sederhana, bisa kamu lihat dari umat Islam yang ada di Irak dan
Afghanistan yang jadi bulan-bulanan kafir penjajah Amerika. Harga nyawa umat
Islam lebih murah daripada harga ayam. Tiap hari ada aja yang dibunuh dan
muslimahnya banyak yang diperkosa oleh mereka.
Itu penjajahan yang terlihat secara fisik dan kasat mata melalui
berita-berita di media. Lalu yang nggak terlihat alias tersamar bentuknya
gimana? Bisa berbentuk penjajahan pemikiran dan bisa juga kebudayaan, tuh.
Nggak usah jauh-jauh kalo mau ambil contoh tentang ini. Coba lihat fenomena
remaja Indonesia yang mayoritas hobinya pada dugem dan foya-foya. Sudah
prestasi belajar dan berkarya merosot, angka kejahatan dan maksiat malah makin
meningkat. Sebut saja mulai dari merebaknya narkoba, seks bebas, saling bunuh
antar teman, bunuh diri, dan masih banyak yang lain.
Eksploitasi perempuan terutama muslimahnya makin melonjak tajam. Hmm.. yang
namanya lomba audisi jadi seleb full sebagai ajang pamer aurat menjamur di
mana-mana. Popularitas, ketenaran dan budak uang menjadi gejala yang
memprihatinkan. Sampai-sampai adik-adik kita yang masih balita tergoda untuk
menirukannya. Coba perhatikan apa yang mereka dendangkan waktu nyanyi, mulai
Lelaki Buaya Darat-nya Ratu, Aku Ingin Bercinta-nya Dewa 19, hingga lagu
dangdut SMS-nya Trio Macan dan Jablay-nya Titi Kamal udah sangat dihapalnya.
Itu adalah sedikit gambaran tentang kondisi masyarakat kita. Coba bayangkan
kalo kita diam saja terhadap semua kondisi nggak ideal ini, mau jadi apa
masyarakat 10 tahun ke depan? Bukankah kata Rasulullah, gambaran masyarakat itu
ibarat orang naik kapal. Ada yang berada di dek bawah dan ada pula yang di dek
atas. Orang yang di dek bawah harus naik dulu bila mau minum. Karena malas naik
turun akhirnya mereka berinisiatif untuk melubangi kapal aja supaya mudah untuk
dapat air. Lha kalo orang yang ada di dek atas nggak peduli untuk menasehati
maka alhasil kapal itu pasti tenggelam dalam waktu dekat.
Sama. Meskipun kamu merasa baik tapi nggak peduli dengan kemaksiatan yang
dilakukan orang lain tanpa mau menasehati atau berdakwah pada mereka, maka
tunggu saja kehancuran itu akan datang. Bukankah adzab itu nggak akan
pilih-pilih kalo sudah ditimpakan pada suatu kaum? Baik yang saleh atau yang
salah, semuanya pasti kena imbasnya. Makanya sebelum itu semua terjadi, dakwah
yuk dakwah. Berangkaaat!
Dakwah yang kayak gimana?
Dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam. Walah, istilah apa pula ini?
Maksudnya Islam drjsk dulu kan udah pernah diterapkan dalam bentuk yang paling
oke yaitu seluruh aturan diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari bukan saja
atas nama individu tapi juga dalam tataran masyarakat dan negara. Wuih…top
banget!
Nah, kondisi itu sudah nggak ada lagi sekarang. Makanya dakwah yang ada
adalah upaya untuk mengembalikan Islam itu supaya diterapkan lagi dalam
kehidupan. Jadi ideologi negara, gitu. Gimana caranya?
First of all, kamu kudu membenahi diri dulu. Ya iyalah, masa’ mau berdakwah
tapi kondisi diri masih kacau balau? Mulai detik ini, kuatkan tekad untuk
menjadi seseorang yang lebih baik. Nah, untuk tahu gimana caranya jadi orang
baik, maka kamu kudu ngaji. Nggak bisa nggak tuh. Harga pas. Nggak bisa ditawar
lagi. So, untuk itu kudu ada orang yang bakal membimbing kamu supaya jadi orang
baik. Mirip analogi or contoh kasus kapal di atas.
Ngaji di sini bukan ngaji sekadar baca al-Quran tanpa paham maknanya. Tapi
ngaji yang mendalam hingga kamu dapetin ilmunya dan paham untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Kalo ini udah mendarah daging dalam diri, jangan
diam aja. Sampaikan kebaikan Islam itu pada orang lain. Inilah yang namanya
dakwah. Menyeru orang lain pada kebaikan yaitu al-Islam dan mencegah orang lain
berbuat kemungkaran.
Oya, untuk berdakwah nggak harus nunggu hapal al-Quran seluruh juz dahulu
baru berdakwah. Nggak kok. Tapi sesedikit apa pun ilmu yang kamu punya,
sampaikan. Bukankah Rasulullah saw. pernah menyampaikan bahwa “Sampaikanlah
dariku meskipun satu ayat”?
Satu ayat ini kalo kamu bisa menerapkannya terus diikuti oleh orang lain,
wuih… ditanggung deh bisa jadi tabungan di akhirat kelak. Pahala yang kamu
dapatkan sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu. Hal itu insya
Allah akan makin berlipat-lipat manakala orang yang kamu dakwahi tadi berdakwah
lagi, terus orang terakhir tadi mendakwahkannya lagi, begitu terus dan terus.
Pahala akan mengalir ke kamu tak putus-putus. Keren banget kan?
Misal nih, sebagai contoh sederhana. Kamu paham bahwa menutup aurat bagi
perempuan itu wajib. Selain kamunya sendiri sudah berkerudung dan berjilbab,
kamu menyebarkannya juga pada teman-teman di sekeliling dan keluargamu. Terus
nih, perbuatanmu ini diikuti sama mereka dan disebarkan lagi pada orang lain.
Orang lain ini menyebarkan lagi pada orang-orang lain lagi. Selain kebaikan
akan semakin bertambah banyak dan menyebar, pahala untuk kamu juga semakin
bertambah, insya Allah. Hmm… dan yang pasti kalo kamu lakukan semua ini dengan
ikhlas karena Allah semata, ditanggung deh Allah Swt. pasti akan makin cinta
sama kamu. Insya Allah.
Tapi ini cuma contoh kecil dari berdakwah. Sebab sesungguhnya Islam itu luas,
bahkan bisa dikata setiap detil perbuatan kita di dunia ini nggak ada yang
nggak diatur sama Islam. Menjadi kewajiban tiap individu muslim untuk
memahaminya kemudian menjalankannya dalam amalan praktis sehari-hari.
Sobat, dakwah ini harus ada skala prioritas. Teman-temanmu yang muslim
menjadi perhatian utama daripada yang nonmuslim. Bukan berarti menganak tirikan
mereka yang nonmuslim, tapi bukankah Allah sendiri yang berfirman bahwa tidak
ada paksaan dalam memeluk Islam? Lagipula, mereka yang nonmuslim ini bakal
tersentuh hati dan akalnya bila mereka nantinya melihat sendiri indahnya Islam
bila diterapkan oleh pemeluknya.
Nggak kayak sekarang. Berapa banyak mereka mencemooh Islam hanya karena oknum
yang mengaku muslim tapi sikapnya sangat tidak mencerminkan Islam. Belum lagi
tuduhan terorisme, udik, bodoh, kuno, dan berbagai julukan nggak pantas
lainnya. Itu semua disebabkan karena dakwah Islam nggak jalan. Makanya banyak
di antara kaum nonmuslim itu sering salah sangka tentang Islam. Jangankan yang
nonmuslim, lha wong dari kalangan muslim sendiri aja banyak kok yang nggak
paham keindahan dan rahmatnya Islam. Betul itu!
Cewek ambil peran
Jangan mau jadi cewek pasif yang cuma buat pajangan tanpa karya nyata. Emangnya
kamu boneka pake dipoles make up tebal kayak badut terus lenggak-lenggok di
depan para lelaki? Idih, murahan banget! Nggak jaman, Non.
Cewek tuh merdeka, dari eksploitasi ataupun dari intimidasi. Walah, istilah
apa pula ini? Maksudnya sudah nggak jaman, modal kecantikan fisik cewek
dijadikan alat untuk mencari duit dan menggoda laki-laki. Cewek kudu
diperhitungkan karena kiprahnya, peran nyata dengan modal kecerdasan, keimanan
dan akhlaknya.
Begitu juga dalam dakwah. Jangan mau jadi obyek saja, tapi kita kudu jadi
subyek yang akan merubah jaman. Plis deh coba kamu renungkan, dengan populasi
penduduk dunia yang diyakini mayoritas adalah cewek, dan kemudian bayangkan
kalo semuanya itu adalah perempuan sadar yang bertekad kuat untuk melakukan
revolusi kebaikan dengan dakwah. Dijamin deh, kehidupan Islam yang kita
cita-citakan bersama akan mudah terwujud, insya Allah. Karena sungguh, di balik
lemah lembutnya cewek sebetulnya tersimpan kekuatan dahsyat di baliknya untuk
mewarnai dunia. Masalahnya, warna apa yang akan kita torehkan itu bergantung
pada kita sendiri, para cewek.
Meskipun dakwah cewek bisa ke semua kalangan, tapi sebetulnya ada fokus
tertentu biar dakwah ini efektif. Cewek dakwah juga ke cewek. Bukan nggak boleh
dakwah ke cowok, cuma seringnya bukannya dakwah malah jadi demenan. Nah lho!
Kecuali kalo kamu bisa menjaga izzah sebagai muslimah, ini sih no problemo.
Tapi jangan keterusan yah. Selanjutnya serahkan pada teman cowok yang udah
ngaji duluan untuk membina teman cowok kamu itu. Sedangkan kamunya sendiri
balik lagi deh fokus untuk membina cewek dan asyik berdakwah-ria dengan mereka.
Oya, dakwah bisa dilakukan baik dengan sendiri-sendiri ataupun bersama-sama,
lho. Tapi ibaratnya sapu lidi, ia akan mempunyai kekuatan kalo dijadikan satu
dalam ikatan yang sama. Kamu nggak bakal bisa menyapu dengan bersih hanya
dengan sebatang sapu lidi. Beda banget kalo puluhan atau ratusan batang sapu
lidi tadi diikat kuat dalam satu ikatan terus buat nyapu pasti bakal bersih bin
kinclong.
Sama dengan dakwah. Meskipun bisa dilakukan sendiri-sendiri tapi hasilnya
pastilah tidak seoptimal apabila dilakukan secara berjamaah. Kebaikan yang
tidak terorganisir dengan baik bisa dikalahkan oleh kejahatan yang diatur
dengan rapi. Tapi itu pun dengan catatan, kalo dakwahnya juga niat banget dan
caranya benar sesuai tuntunan dakwah Rasulullah saw.
Eh, bukan dominasi cowok aja lho yang bisa mengatur langkah dakwah dengan
rapi, cewek juga nggak kalah. Karena sesungguhnya perintah untuk berdakwah ini
ditujukan emang buat hamba Allah baik cowok ataupun cewek. Betul kan?
Ibaratnya timbangan, cewek dan cowok di dunia ini saling bekerjasama dalam
kebenaran dan kebaikan. Jadi, kalo pun cewek berdakwah, itu bukan dalam konteks
saingan atau pun pemberdayaan perempuan sebagaimana slogan para feminis. Tapi
dakwah ini sebagai bukti ketundukan diri seorang hamba Allah untuk mengharap
ridhoNya semata.
Jadi, dakwah bukan monopoli para cowok or ibu kyai or ibu ustad aja. Tapi
dakwah wajib bagi tiap individu yang mengaku dirinya muslim, tanpa dibedakan
lagi jenis kelamin. Dari sini kalo mau bicara tentang kesetaraan, Islam sudah
punya konsep ini jauh hari sebelum para feminis teriak-teriak. Namanya juga
sistem hidup yang sempurna, maka sudah komplit-plit semua apa yang ada di
dalamnya. Nggak ada yang namanya pameo surga nunut neraka katut. Terjemahan
bebasnya sih, kemana pun para cowok pergi entah ke surga or neraka, cewek
bisanya cuma ngikut aja. Idih…ogah banget!
Dalam Islam, cewek punya sikap untuk menentukan masa depannya sendiri. Mau
masuk surga or neraka, cewek punya hak untuk memilih. Nggak cuma bisa
ikut-ikutan. Mau mengubah dunia ini menjadi makin rusak or jadi lebih baik,
cewek punya peran. Jadi keberadaan cewek emang kudu diperhitungkan dalam segala
seginya. So, kalo kamu emang cewek oke, yuk kita pilih surga dengan melakukan
dakwah demi mengubah wajah dunia menjadi indah dalam naungan Khilafah yang
menerapkan syariah Islam. Setuju? Pasti dong, namanya aja cewek oke. Iya kan?
Siiipppp dah! [ria: [EMAIL PROTECTED]
source: www.dudung.net
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]