Buletin Gaul Islam 
      06 Mei 2008 - 11:40 
      Remaja Islam, Remaja Dakwah 
      gaulislam edisi 028/tahun I 
  (28 Rabiul Akhir 1429 H/5 Mei 2008)
   
  
       
      Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya 
kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa 
sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti 
urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak 
salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya. 
  Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu 
lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan 
pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo 
berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya 
dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak 
yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, 
itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
  Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab 
bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan 
nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak 
langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya 
Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang 
belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, 
atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja 
punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak 
bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, 
hal itu dinilai berdosa, man! Bener.
  Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas 
belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari 
buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti 
bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. 
bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat 
lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman 
Allah Swt.:

  “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang 
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa 
yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11) 

  Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan 
tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan 
bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu 
agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan 
berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang 
nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali 
tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran 
agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya 
tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. 
Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi 
dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti 
bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.
  Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran 
Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia 
kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian 
terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang 
mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa 
iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak 
mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir 
jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih? 
  Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas 
yang mulia, lho. FirmanNya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada 
Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk 
orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
  Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. 
Seperti dalam firmanNya:

  “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik 
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
  Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar 
merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. 
Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh 
penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika 
kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga 
daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, 
sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di 
bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka 
itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya 
semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
  Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus 
informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan 
nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau 
bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita 
kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan 
adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini 
akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya 
remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak 
teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti 
seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk 
membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita 
lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang 
kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita 
memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
  Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita 
untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, 
maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, 
bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan 
mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam 
dakwah ini.
  Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan 
remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang 
makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak 
dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang 
menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil 
jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat 
kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang 
kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai. 
  Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. 
Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan 
aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat 
membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus 
pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan 
ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam 
harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus 
menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah 
di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
  Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan 
waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. 
Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak 
langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai 
bentuk ‘kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. 
Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin 
melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama 
syariatnya. 
  Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat 
yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat 
satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya 
masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila 
ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang 
yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: 
“Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), 
tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang 
lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
  Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang 
masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang 
handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang 
yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia 
nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji 
Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya. [osolihin: [EMAIL PROTECTED]

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke