Buletin Gaul Islam 
      02 Januari 2007 - 00:26 
      Dunia Ini Fana, Bro!
      STUDIA Edisi 322/Tahun ke-8 (1 Januari 2007)
   
           Saya pernah merasakan kehilangan seorang teman yang begitu dekat 
dalam hidup saya. Ia menjadi inspirasi, sering memberi motivasi dan dengan 
kepolosan khas anak SMP, ia menjadi teman akrab saya. Sayangnya, kebersamaan 
kami akhirnya dipisahkan ketika sama-sama lulus SMP. Bahkan kami dipisahkan 
oleh jarak yang cukup jauh. Saya melanjutkan studi di kota lain. Hari-hari 
pertama jauh darinya, saya merasa kehilangan candanya, tawanya, dan gaya 
marahnya jika saya guyonin. Saya memang cukup iseng kepadanya, bahkan tak 
jarang kami marahan. Meski akhirnya baikan lagi. Ya begitulah anak-anak. Kami 
pasangan sahabat yang sangat akrab waktu itu.
  Untuk mengobati kerinduan di antara kami, kami rajin saling berkirim surat. 
Hampir setiap bulan surat darinya saya terima. Lengkap dengan kabar terbaru 
tentang dirinya dan juga tentang kehidupannya. Begitupun yang saya kabarkan. 
Sampai suatu hari, bukan surat darinya yang datang ke saya. Tapi surat dari 
adik saya yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu meninggal dunia dalam sebuah 
kecelakaan saat olahraga renang yang diadakan sekolahnya. Ia tenggelam dan 
akhirnya meninggal dunia. Saya sangat terpukul. Benar-benar kehilangan. 
Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun.
  Ya, itu kehilangan untuk kedua kalinya. Pertama, merasa kehilangan saat kami 
harus berpisah karena masing-masing melanjutkan studi ke sekolah yang berbeda. 
Dan kedua, ternyata kami harus berpisah dari dunia ini. Tentu, tak mungkin bisa 
berkomunikasi lagi dengannya untuk menanyakan kabarnya.
  Meski saya sudah merasa paham bahwa kehidupan ini tidaklah abadi, tapi baru 
merasakan pedihnya ketika kehilangan orang yang begitu dekat di hati. Ya, 
benar. Kita memang tidak abadi. Kita suatu saat pasti menghembuskan nafas yang 
terakhir dalam hidup kita. Menyusul teman dan saudara kita yang lain yang sudah 
lebih dulu ‘hijrah’ dari dunia ini dan meninggalkan gemerlapnya. 
  Sobat muda muslim, ini sekadar kisah pengantar tulisan sederhana ini. Bahwa 
apa yang kita miliki bisa begitu saja meninggalkan kita. Harta yang kita miliki 
bisa hilang. Begitu pun sahabat yang telah menemani hidup kita, bisa saja pergi 
tanpa pesan meninggalkan kita dan dunia ini. Dan, suatu saat justru kita 
sendiri yang akan meninggalkan teman-teman kita, saudara kita, dan indahnya 
dunia ini. Bahkan, dunia ini pun akan berakhir dengan datangnya kiamat. Benar, 
dunia dan seluruh isinya ini adalah fana, Bro. Nggak abadi.
  Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi yang harus 
menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa kita 
meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Dan, bekal amal apa 
yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah Swt.? Amal baikkah, atau justru 
amal buruk? Pilihan ada di tangan kita.
  Pilihan? Betul. Sebab keyakinan kita tentang akhir dunia dan kehidupan 
akhirat adalah pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat penciptaan 
kita, alam semesta, dan kehidupan ini. Begitu pula dengan amalan yang kita 
lakukan, adalah atas dasar pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat 
dan tujuan kita selama di dunia ini. Masing-masing kita membawa amal kita. 
Bukan amalan orang lain. 
  Sobat, kita berasal dari Allah Swt. dan akan kembali kepadaNya pada waktu 
yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta untuk 
beribadah kepada Allah Swt. Melaksanakan semua perintahNya dan nggak melakukan 
segala hal yang memang dilarang Allah Swt. Ini memang sederhana secara teori, 
tapi jarang yang bisa sukses dalam prakteknya. Semoga kita sih masuk ke dalam 
golongan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan beramal sholeh untuk 
bekal kehidupan setelah dunia ini. Amin.
  Cinta dunia? Sewajarnya saja
Mencintai dunia boleh saja. Sebab, dunia adalah tempat tinggal kita saat ini 
yang dipenuhi dengan segala gemerlap dan keindahan yang membuat kita terpesona. 
Tapi jangan khawatir, kita boleh kok menikmatinya. Allah Swt. berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) 
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) 
duniawi…” (QS al-Qashash [28]: 77)
  Sobat, kalo kamu pengen nikmatin keindahan dunia, silakan aja. Nggak dilarang 
kok. Ingin kaya? Monggo aja. Ingin mendapatkan status sosial yang tinggi 
menurut ukuran dan pandangan manusia, juga boleh-boleh saja. Belajar jenjang 
demi jenjang untuk mendapatkan ilmu dan gelar akademis, Islam pun tak pernah 
membatasi. Silakan.
  Cuma nih, yang perlu dapet perhatian adalah jangan sampe kita terlalu silau 
dengan gemerlap indahnya dunia, sehingga malah bikin kita lupa diri dan 
melupakan Allah Swt. Kalo kita menikmati dunia bukan cuma yang halal, tapi yang 
haram pun diembat juga, itu namanya kita udah lupa diri, Bro. Bener.
  Ada syair yang bagus dari sebuah nasyid yang mengingatkan agar kita tidak 
mudah tertipu dengan gemerlap dunia dan segala perhiasannya yang membuat kita 
lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban. Begini sebagian lirik dari nasyid 
berjudul Fatamorgana yang dipopulerkan oleh Hijaz yang berkolaborasi dengan In 
Team: “...Deras arus dunia, menghanyutkan yang terlena/indah fatamorgana 
melalaikan menipu daya/dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi/ tiada 
sudahnya dunia yang dicari/Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda/harta 
pangkat dan wanita melemahkan jiwa/Tanpa iman dalam hati kita kan 
dikuasai/syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi/Pulanglah kepada Tuhan 
cahaya kehidupan/Keimanan, ketakwaan kepadaNya senjata utama...” 
  Alangkah lebih mengenanya jika tak sekadar membaca syairnya seperti ini. Coba 
deh dengerin lagunya yang easy listening ini. Biasanya, nasyid seperti ini 
memang bisa menggugah nafsiyah kita yang mungkin saja udah tertimbun begitu 
banyak kesibukan dan urusan dunia lainnya.
  Benar, dunia begitu indah gemerlapnya. Tapi tak semua yang ditawarkan itu 
baik, bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan yang 
dikemas dengan manis dan menarik. Minuman keras, perzinahan, judi dan 
sejenisnya, menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan. Tapi, karena semua 
perbuatan itu dilarang oleh Allah Swt., maka hanya akan menuai siksa dan dosa 
jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. 
Naudzubillahi min dzalik. Yuk, kita sadar diri ya.
  Belajar, berdakwah, berjihad, dan amal shalih lainnya seringkali memberatkan 
kita. Belajar seringkali dihinggapi rasa malas, berdakwah pun kerap mendapatkan 
tekanan yang akhirnya kita futur, termasuk berjihad dan amalan shalih lainnya 
menjadi beban berat kita. Padahal, semua itu jika kita tunaikan dan dibarengi 
dengan keikhlasan, insya Allah akan mendatangkan pahala, dan juga menjadi jalan 
menuju surga yang telah dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hambaNya yang beriman 
dan beramal shalih.
  Dunia memang gemerlap, dan boleh saja kita nikmati. Tapi, jangan sampai 
gemerlap dunia itu membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban kita. 
Sewajarnya saja menikmati dunia, karena selebihnya dunia itu adalah ladang 
ujian yang harus menjadi perhatian kita agar tak terjerumus dalam tipu dayanya. 
  Itu sebabnya, kita memang boleh saja memiliki banyak harta, tapi jangan sampe 
kekayaan yang kita miliki menjeremuskan kita ke dalam kesesatan atau membuat 
kita lalai dari mengingat Allah Swt. dan RasulNya. Yakni membuat kita malas 
berbuat baik atau enggan menginfakkan harta demi kemajuan Islam dan umatnya ini.
  Yup, Islam nggak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan 
pernak-pernik yang ditawarkan dunia. Tapi, sewajarnya saja kita meraihnya. 
Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya 
bak bayangan tak bertepi atau terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada 
akhirnya. Semoga tidak demikian yang kita lakukan.
  Jangan takut mati
Kamu yang ngefans sama grup band Ungu, pasti hapal deh lagu “Andai Kutahu” yang 
dinyanyikan Pasha, vokalisnya. Seperti ini nih sebagian liriknya: “Andai 
Kutahu, kapan tiba ajalku. Kuakan memohon: Tuhan tolong panjangkan umurku. 
Andai kutahu, kapan tiba masaku, kuakan memohon: Tuhan jangan Kau ambil 
nyawaku. Aku takut, akan semua dosa-dosaku. Aku takut dosa yang terus 
membayangiku…” 
  Hmm.. sayangnya ‘permintaan’ Pasha dan Ungu-nya nggak bisa dikabulkan. Sebab, 
Malaikat Ijrail tuh kalo mo datang nyabut nyawa kita nggak pake ngasih kabar 
dulu, bahkan sekadar “missed call” sekalipun. Kalo ajal kita udah tiba, ya 
langsung aja diambil, gitu lho. Nggak bisa ditangguhkan. Allah Swt. berfirman: 

“Maka jika telah datang waktunya (ajal), mereka tidak dapat mengundurkannya 
barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS al-A’raaf [7]: 34)
  Bro, meski demikian, kita nggak usah merasa takut mati. Sebab, semua makhluk 
hidup pasti akan mati. Cuma nih, kalo pun boleh takut adalah kalo kita selama 
di dunia ini nggak nyiapin bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Kalo udah 
siap bekal mah insya Allah nggak bakalan takut. Sebab, risiko orang hidup yang 
paling tinggi adalah kematian. Berani untuk hidup, berarti berani menghadapi 
risiko kematian. 
  Masalahnya, gimana dengan bekal kita? Kalo dosa yang kita koleksi, sangat 
wajar jika kita takut menghadapi kematian. Itu sebabnya, seminimal mungkin kita 
nggak berbuat dosa. Syukur-syukur kalo nggak pernah berbuat dosa. Tapi, manusia 
nggak ada yang sempurna kayak gitu deh. Pasti ada salahnya. Itu sebabnya, 
Rasulullah ngasih tahu bahwa seluruh bani Adam tuh nggak bisa lepas dari salah 
(dosa). Nah, sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang segera bertaubat. 
Dan, jangan “tobat sambal”, lho. Tahu istilah “tobat sambal”? Yup, sekarang 
bilang tobat, besoknya malah ngulangin lagi kemaksiatan. Aduh, jangan sampe deh 
ya. Soalnya, rugi benar kita kalo pas lagi ngelakuin perbuatan dosa, eh nyawa 
kita malah diambil. Naudzubillahi min dzalik.
   Sobat, betul bahwa kita jangan takut menghadapi kematian. Tapi bukan berarti 
kita lantas menikmati dunia sebebasnya yang kita inginkan seolah nggak akan ada 
kematian. Justru sebaliknya, “jangan takut menghadapi kematian” harus diartikan 
bahwa hal itu pasti terjadi. Biasa aja gitu lho. Bahkan dunia ini juga akan 
berakhir. Itu sebabnya yang diperlukan adalah persiapan. So, tugas kita 
hanyalah berusaha sebaik dan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan pahala.
  Boys and galz, orang yang baik-baik pasti akan mati, begitu pula dengan orang 
yang bermaksiat pasti akan mati juga. Termasuk, orang yang giat berdakwah dan 
berjuang untuk Islam juga akan mati, dan tentu orang yang diam sambil bengong 
juga bakalan mati. Bedanya adalah nilai dan amal yang dibawanya untuk menghadap 
Allah Swt. Betul ndak?
  Ayo berjuang, seperti pesan Shoutul Harokah dalam bait syair di bawah ini: 
“Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat para pengembara. Hidup ini adalah 
perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan. Setiap tetes peluh dan darah tak 
akan sirna ditelan masa. Segores luka di jalan Allah, kan menjadi saksi 
pengorbanan…”. Kita bisa kok, sobat! Semangat! [solihin: [EMAIL PROTECTED]
     
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke