Buletin Gaul Islam                                         
               01 Mei 2006 - 10:36                                              
       Kalo Ikhwan Nyari �Gebetan                                               
    STUDIA Edisi 291/Tahun ke-7 (1 Mei 2006)                                    
                                                                           
Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan su’udzon dulu ya. Meski 
panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama 
seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah 
jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan 
jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki akhwat. 
Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah gitu, lho. 
Wajar dongs!  Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya 
pertimbangan mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan
 narsis lho. So, nyari gebetan di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa 
diajak kencan atau jalan berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya 
di jalan yang halal. Loving you, Merit yuk? Enak..enak..enak..!
  Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar 
komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi 
berharga nih. Penasaran? Yuk! 
   
  Akhwat idaman di mata ikhwan 
  Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas 
dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola 
bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak 
terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah 
bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?
  Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih 
komentar: “..perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek terlihat 
keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati bergelora”. 
  Kalo menurut ‘penkhianatyangtelahmusnah (pytm)’ dalam YM(Yahoo 
Messenger)-nya, “yang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu mah 
selera. Rame asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang bisa 
diapain. Hahaha…” 
  Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa ITB (Kimia) 2002, akhwat yang disukainya 
adalah yang….”Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga dengan modal 
dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu dikomunikasikan dan 
diselesaikan dengan kepala dingin, bahkan jadi modal yg sangat cukup untuk 
dakwah”.
  Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif 
berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau diam-diam, 
tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama ikhwan 
incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Hehehe….
  ‘pytm’ dan ‘javanehese2000’ bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe yang 
disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa 
dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu lho. 
Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang nunggu 
diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake ngajuin 
proposal? Hihihi…
  Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. “…karena kalo orangnya 
terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak gimana, kalo 
agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan jadi mungkin 
kita bisa bantu tolong.” Dengan kata lain, doi nggak gitu nyetel ama akhwat 
yang kalem, “... soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi hatinya”.
  Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti 
‘cela’ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang ‘agresif’ hingga berani 
menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan 
karakter beliau.
  Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe akhwat 
yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya sama baiknya 
selama sholehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja mensikapinya. Dan yang nggak 
kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka juga ama kita. Biar nggak 
bertepuk sebelah tangan. Huehehe...
   
  FBI= Female Bidikan Ikhwan
  Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan yang kena todong STUDIA pas ditanya soal 
akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi 
istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala 
normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi 
kriterianya. Kayak gimana sih? 
  Menurut Anas, “Tipe yang Anas suka..tipe yang memang benar-benar pantas jadi 
istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi 
anak-anaknya..karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung 
keluar)..”
  Kalo pendapat Zubair, “...Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah 
lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang 
ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo salah...”
  Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa 
dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh pabrik, 
atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?
  Kalo buat pytm, “..pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa 
dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede. 
Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi guru 
TK ato apalah...” 
  Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya 
kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau dandanan. 
But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu aja kok. Nggak 
lebih.
   
  Syakhsiyahmu yang kumau
  Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis 
yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasal?
  Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar 
dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin 
cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita 
itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya. 
  Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal 
semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. 
Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi 
istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang 
mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. 
Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap 
pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!
  Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits: “Tiga kunci kebahagiaan 
seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin 
sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga 
kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke 
mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M. Fauzhil 
Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’)
  Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin 
dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran 
standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah 
tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu 
pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal: cantik, 
kaya, sholihah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal 
mau ama kita, sholihah, kaya dan cantik. Yeee...itu mah sama aja atuh! 
  Ups! Maksute relakanlah predikat sholehah dari seorang wanita yang menerima 
cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin 
deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada 
diri seorang wanita sholehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!
  Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menikahi wanita karena 
kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan 
janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi 
kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena 
agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama 
adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).” 
(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
   
  Jangan egois donk!
  Allah swt berfirman:
    “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki 
yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang 
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk 
wanita-wanita yang baik (pula). ..” (QS an-Nûr [24]: 26)
  Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk 
pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah r.a. menjadi istri Nabi saw. 
Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen 
dapetin akhwat yang sholehah, kita juga kudu sholeh dong. Jangan cuma mikirin 
keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi 
kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe 
primus alias pria mushola yang sholeh. Tul nggak sih?
  Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum 
Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya 
deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi 
hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. 
Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa 
dapetin syakhsiyah Islamiyah?
  Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub 
malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di 
forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam 
dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang 
bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin 
dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang 
diharapkan. 
  Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan 
cuma pengen dapet calon istri solihah.. ehm..), syaksiyah Islam akan 
mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang 
menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan? 
  So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi 
anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan 
menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan 
perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh 
dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak 
dapetin pasangan hidup yang sholeh/sholehah. Mau dong? Yuuuk! [hafidz: [EMAIL 
PROTECTED]

       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang juga.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke