Kiriman dari teman..
-----------------------------
(CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS ,RESOURCES, AND STRATEGIES; Cheryl Benard)
Adanya politik adu domba di balik insiden Monas semakin menguat. Pernyataan
Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk tidak
melibatkan NU menyusul insiden Monas 1 Juni. NU akan memberikan sanksi kepada
siapa pun yang melakukan provokasi, tegasnya.
Hasyim menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam
masalah ini. Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI.
Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU? ujar Ketua PBNU Hasyim
Muzadi dalam pernyataan tertulis pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
KH Hasyim Muzadi juga mengingatkan pelibatan orang-orang NU yang menjadikan
NU sebagai pihak yang juga terlibat dalam bentrok fisik itu. Ini tidak boleh
terjadi dan harus dicegah. Bentrok fisik sangat merugikan. Kita ingin
menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas masalah itu, tegasnya.
Upaya mengadu domba antara NU dan ormas Islam lain seperti FPI memang sangat
terasa. Tampak dari reaksi warga NU diberbagai daerah yang mendatangi markas
FPI. Konflik horizontal pun dikhawatirkan meluas di daerah-daerah.
Tidak hanya itu , perluasan insiden Monas juga tampak dari upaya membangun
opini seakan-akan lasyar Islam menyerang kelompok memperingati hari kesaktian
Pancasila. Serangan ini dianggap ancaman terhadap Pancasila, ideologi negara,
dan pada gilirannya dianggap merupakan ancaman terhadap negara.
Upaya adu domba yang konflik horisontal ini tidak bisa dilepaskan dari
grand-strategi negara-negara Imperialis untuk menghancurkan umat Islam dan
kekuatan Islam. Untuk itu, negara-negara Imperialis seperti AS memanfaatkan
LSM-LSM komprador yang menjadi kaki tangannya untuk memprovokasi konflik.
Campur tangan asing tampak dari kecaman kedubes AS terhadap insiden Monas.
Kedubes AS di Indonesia mengeluarkan siaran pers yang mengutuk aksi kekerasan
oleh FPI. AS menilai, aksi itu berdampak serius bagi kebebasan beragama dan
dapat menimbulkan masalah keamanan. Namun, pernyataan Kedubes AS itu dinilai
anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto, sebagai bentuk campur tangan AS dalam
masalah dalam negeri. Itu tidak etis. Bahasa kasarnya intervensi. Seakan-akan
pemerintah kita yang lemah, katanya.
Grands strategi ini bisa terlihat dengan jelas dari rekomendasi Rand
Corporation yang merupakan think-thank neo-conservative AS yang banyak
mendukung kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi Cheryl Benard dari Rand
Corporation yang berjudul CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS ,RESOURCES, AND
STRATEGIES) secara detik diungkap upaya untuk memecah belah umat Islam.
STRATEGI : PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM
Langkah pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan
kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi.
Pertama : Kelompok Fundamentalis : menolak nilai-nilai demokrasi dan
kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang
puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas.
Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan
mereka.
Kedua : Kelompok Tradisionalis: ingin suatu masyarakat yang konservatif.
Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.
Ketiga : Kelompok Modernis : ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas
global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya
dengan zaman.
Keempat : Kelompok Sekularis : ingin Dunia Islam untuk dapat menerima
pemisahan antara agama dan negaradengan cara seperti yang dilakukan
negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup
pribadi.
STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA
Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya
yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu.
Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar
kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU
yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut
Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI dsb.
Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya :
Pertama : Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis)
Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.
Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.
Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.
Memberikan mereka suatu platform publik
Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanya an yang
fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka
dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan
menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah,
sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan
counterculture bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam
dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
Membantu dalam membangun organisasi-organisa si sipil yang independent,
untuk
Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi
rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan
mengutarakan pandangan-pandangan mereka.
Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists: Mendukung
kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang
dilakukan antara lain :
Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme
yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum
tradisionalis dan fundamentalis.
Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih
dekat dengan
Kaum modernis.
Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka
untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis
secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis
melakukan praktek politik Islam pinggiran yang kabur . Di tempat-tempat
seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam
Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga
tradisionalis.
Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda.
Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas modernisme,
seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat
isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari
penguasa yang terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini
berkaitan dengan pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab
Hambali yang konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian
dari Dunia Islam yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan
tafsir dari Hukum Islam.
Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme
Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang
kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain :
Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya.
Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan
aktivitas-aktiviats illegal.
Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
Menunjukkan ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan
perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis
yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari
kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai pengganggu
dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan
tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.
Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler:
Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama, mematahkan
aliansi
dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti
nasionalisme dan ideology kiri.
Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan
bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya.
Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan manapun yang diambil, kami
sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan secara hati-hati, dengan
mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; konsekuensi dari penyesuaian
ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko mengancam atau mencemari
kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita berusahah bantu; dan
kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak diinginkan dan
pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek.
"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa,
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan
silaturahmi." (Muhammad SAW).
kampusku
Blogku
[Non-text portions of this message have been removed]