Katanya, media Nasional seperti TV dianggap media yang netral. Ah, masa iya 
sih??
Kasus pemberitaan Monas 1 Juni tidaklah demikian cara peliputan TV. Termasuk 
Liputan6.
Kecenderungan membela AKKBB dan Kaum Liberal sangat tak bisa dibohongi.

Setidaknya
Bisa dibaca penjelasan Rahman Andi Mangussara, Kepala Produksi Berita Liputan6.
Bagaimana sesungguhnya kecenderungan dia memihak!

Gus Lis
========
http://www.liputan6.com/producer/?id=79
10/06/2008 12:04
Ahmadiyah, Munarman, dan Negara yang Lemah

Luar
biasa! Munarman mendadak sontak jadi pahlawan, setelah sebelumnya ia
dinilai sebagai pecundang karena membiarkan anak buahnya ditangkap
polisi sementara ia menghilang. 

Inilah drama
penobatan kepahlawanan Munarman itu: hanya dalam hitungan jam setelah
Menteri Agama mengumumkan pelarangan Ahmadiyah, Munarman muncul di
Polda Metro Jaya. Maka, apa boleh buat, saat itu ia langsung
dipersepsikan oleh sebagian kalangan sebagai pahlawan yang membuat
lahirnya surat keputusan bersama tiga menteri itu. Kepada pers yang
mencegatnya, sebelum masuk ke Polda Metro Jaya, Munarman dengan tegas
mengatakan, "Saya menepati janji. Saya bukan pengecut." Kata pengecut
ia ulangi beberapa kali untuk memberi tekanan. 

Apa pun
penilaian lawan-lawannya, harus diakui Munarwanlah pemenang dalam
pertarungan melawan negara (pemerintah). Lihatlah bagaimana ia menekan
pemerintah: "Setelah pemerintah membubarkan Ahmadiyah, baru tangkap
saya, Munarman, sarjana hukum." Ia ucapkan tantangannya itu sehari
setelah ia memimpin ratusan orang menyerang secara fisik lawan-lawannya
di Monas. Apa yang terjadi, polisi gagal menangkapnya sekalipun puluhan
anak buahnya sudah ditangkap dan dijadikan tersangka. Eh, ia tiba-tiba
menyerahkan diri di Polda setelah pemerintah mengumumkan pelarangan
Ahmadiyah. 

Ini ironis. Munarman muncul sebagai pahlawan bukan karena kehebatannya,
melainkan karena pemerintah sendiri yang membuatnya jadi pahlawan.
Semua itu terjadi karena pemerintah yang lemah dan peragu. Lemah karena
secara kasat mata kita menyaksikan bagaimana pemerintah (negara) tunduk
pada tekanan Munarman dan kelompoknya. Peragu karena masalah Ahmadiyah
ini dibahas berlama-lama tanpa satu keputusan yang pada akhirnya toh
mereka putuskan juga mengikuti tekanan publik. Pernyataan Presiden
bahwa negara tidak boleh kalah, yang ia lontarkan dalam jumpa pers
khusus menanggapi kekerasan yang dilakukan Munarman dan kelompoknya,
justru memperlihatkan sebaliknya. 

Kita mungkin belum masuk
kategori sebagai negara gagal, di mana salah satu indikatornya adalah
tidak ada jaminan hukum dan ketertiban, tapi negeri ini sudah pasti
bisa dikatakan sebagai negara lemah---ya, selemah-lemahnya negara.
Pemerintah bisa didikte, lamban, peragu, dan hukum hanya ditegakkan
kepada mereka yang tidak punya kelompok atau tidak punya kekuatan
politik. 

Dalam konteks ini pernyataan Wakil Presiden Jusuf
Kalla bahwa pemerintah tidak bisa bekerja dengan fokus karena setiap
hari didemo, dikritik, dicaci-maki, dituding dan tentu saja ditekan,
menjadi tidak bermakna. "Presiden tidak bisa berpikir karena setiap
hari dikasih mike (pengeras suara) ke arah Istana," ujarnya pada suatu
acara yang dihadiri kader-kader Golkar. 

Bagi kita, soalnya
bukan pada apakah ada demo setiap hari di depan Istana Presiden atau
tidak, bukan pula apakah lawan-lawan politik pemerintah setiap hari
berkoar-koar atau hanya diam, melainkan apakah pemerintah kuat atau
tidak, apakah pemerintah bisa menandingi kekuatan lawan atau tidak.
Dalam banyak hal, bisa dikatakan, pemerintah kalah dengan kelompok
penekan itu. 

Francis Fukuyama sudah lama menyarankan bahwa
masa di mana kelompok-kelompok penekan di dalam masyarakat makin kuat,
pemerintah tidak boleh lemah. Hanya dengan pemerintah yang kuat,
demokrasi bisa berjalan. 


Rahman Andi Mangussara
Kepala Produksi Berita Liputan 6



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke