Salah satu penulis lain yang analisanya saya sukai adalah Amran 
Nasution...... Very Smart!
  
-------------------------------------------------------------------------------------------
  Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1] 
  
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7083&Itemid=1
   
              Jumat, 20 Juni 2008       var sburl8432 = window.location.href; 
var sbtitle8432 = document.title;    var 
sbtitle8432=encodeURIComponent("Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1]"); var 
sburl8432=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7083";);
 sburl8432=sburl8432.replace(/amp;/g, 
"");sburl8432=encodeURIComponent(sburl8432);      Majalah Maclean, Kanada, 
menghadapi kasus hukum karena tulisan kebencian kepada Islam. Tapi di Amerika, 
menghina agama minoritas dilindungi konstitusi. Ini ditiru kaum liberal 
Indonesia. Mengapa polisi tak obyektif dalam kasus Monas?  

  Oleh: Amran Nasution
  
 
  Hidayatullah.com--Para pejabat Amerika selalu mendamprat pejabat China karena 
dianggap salah urus ekonomi.  Mulai sistem subsidi, regulasi investasi asing, 
sampai pematokan nilai mata uang Yuan. Tapi itu dulu. Kini posisi berubah.
  Para pejabat senior China secara terbuka mengecam cara Amerika menangani 
ekonominya – dengan kapitalisme laissez-faire –dan mereka berani membela sistem 
ekonominya yang ditandai adanya regulasi. Seperti ditulis sebuah artikel di The 
New York Times, 17 Juni lalu, para pejabat China menuduh Amerika hipokrit: 
mengajari mereka tentang ekonomi tapi pertumbuhan ekonomi negerinya sendiri 
stagnan. Sementara ekonomi China justru tumbuh sangat tinggi.
   
  China mendamprat Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang 
menyeret dunia ke dalam krisis. Utusan China di World Trade Organization (WTO) 
mengecam Amerika karena tak bisa menahan kemerosotan nilai dollar yang memacu 
kenaikan harga minyak dan pangan dunia. Amerika dituduh bersikap bermusuhan dan 
diskriminatif karena menghambat perusahaan China membeli saham perusahaan 
Amerika yang goyah diguncang krisis.
   
  Pendek kata, China berani mengatakan sistem ekonominya terbukti lebih baik 
dari Amerika Serikat. Karena itu pula mereka tak akan meniru sistem demokrasi 
Amerika Serikat. Liao Min, salah seorang pejabat perbankan China malah berkata 
kepada koran The Financial Times, Mei lalu, “Konsensus Barat dalam hubungan 
pasar dengan Pemerintah, harus dikaji-ulang.’’ Sesuatu yang sebenarnya sudah 
lama disuarakan para ahli ekonomi Amerika sendiri seperti Profesor Joseph 
Stiglitz atau Profesor Paul Krugman, para pengeritik kapitalisme atau 
neo-liberalisme.
   
  Ketika terjadi gempa dahsyat di Provinsi Sichuan, mobilisasi tentara China 
terbukti sangat cepat ke daerah bencana. Bandingkan dengan loyonya Pemerintah 
Federal pimpinan Presiden Bush menghadapi serangan Badai Katrina, sehingga 
korban jatuh bertambah banyak.
   
  Pendek kata Amerika sekarang memang payah. “Di mana saja di dunia, 
kredibilitas Amerika Serikat dan kredibilitas pasar uangnya sekarang nol 
(zero),’’ kata Joseph Stiglitz, Profesor Ekonomi dari Columbia University, 
seperti dikutip The New York Times tadi. Pemenang nobel ekonomi 2001 itu, sejak 
lama dikenal kritis kepada Amerika Serikat dan sering memuji ekonomi China.
   
  Paul Krugman, Guru Besar Ekonomi Princeton University dan Kolomnis The New 
York Times, sering menyoroti sistem ekonomi Amerika yang katanya menyebabkan 
0,01% orang terkaya bertambah kaya sementara yang lain stagnan atau bertambah 
miskin. Orang-orang kaya itu, begitu kayanya, sampai mampu ‘’membeli’’ partai 
politik.
  Awal Juni lalu, sebuah sub-komisi di DPR Amerika Serikat melaporkan bahwa 
anti-Amerikanisme di dunia kini mencapai level tertinggi, terutama di negara 
Muslim dan Amerika Latin. Laporan itu dibuat berdasarkan sejumlah survei dan 
pendapat para ahli.
  “Kekuatan militer kita tak dianggap jaminan keamanan, melainkan ancaman. Tak 
dianggap garansi stabilitas dan ketertiban tapi sumber intimidasi, kekerasan, 
dan penyiksaan,’’ kata Bill Delahunt, Ketua Sub-Komisi Organisasi 
Internasional, HAM dan Pengawasan, DPR.
   
  Laporan itu menyebutkan bahwa semua terjadi karena Perang Iraq, dukungan 
Amerika kepada sejumlah rezim represif, sikap bias Amerika dalam konflik 
Israel-Palestina, serta penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan kepada para 
tahanan (di Guantanamo dan sejumlah penjara rahasia).
  Laporan itu juga menyimpulkan di dunia Islam tumbuh persepsi yang meyakinkan 
bahwa perang melawan teror telah digunakan Amerika Serikat untuk menghancurkan 
Islam. Semuanya memperluas dan memperdalam sikap anti-Amerikanisme (lihat 
artikel Alice Ritchie, AFP, 11 Juni 2008).
  Di Timur Tengah wibawa Amerika sudah rontok. Perundingan Israel dengan 
kelompok Hamas terjadi dengan Mesir sebagai penengah. Sedang pertemuan Suriah 
dengan Israel berkat difasilitasi Turki. Amerika sudah ditinggalkan.
  Meski demikian Pemerintah Indonesia tetap berkiblat ke Amerika. Para ekonom 
Presiden SBY adalah penganut sistem ekonomi neo-liberal: Budiono, Sri Mulyani, 
Marie Pangestu, Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa yang lain. 
  Karena itulah harga BBM dinaikkan, sehingga pompa bensin milik kapitalisme 
global bisa bersaing bebas dan menghancurkan pompa bensin milik pribumi kita 
(lihat Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire, www.hidayatullah.com, 21 dan 22 
Mei 2008).
   
  Sekarang ladang minyak kita sebagian besar dikuasai perusahaan asing, 
terutama dari Amerika Serikat, seperti Exxon-Mobil, Shell-Penzoil, 
Total-Fina-Elf, BP-Amoco-Arco, dan Chevron-Texaco. Perusahaan itu dikabarkan 
menguasai lebih 70%  ladang minyak dan gas Indonesia.
  Presiden SBY menyingkirikan Pertamina, perusahaan milik sendiri, untuk 
memenangkan Exxon-Mobil, perusahaan Amerika, dalam menguasai proyek minyak dan 
gas yang amat menguntungkan di Blok Cepu. Wajar SBY menjadi teman dekat 
Presiden George Bush.
   
  Wajar pula kalau dalam setiap demo anti-kenaikan BBM di mana saja, selalu ada 
poster menuntut penyitaan atau pengambil-alihan aset negara yang dikuasai 
asing. Pemerintahan SBY-JK  dinilai sangat sukses melayani kepentingan asing di 
Indonesia, terutama Amerika Serikat. 
   
  Amerika Bentuk Densus 88
  Selain ekonomi, Indonesia berkiblat ke Amerika dalam politik. Sistem 
pemilihan langsung yang kita lakukan sekarang meniru Amerika, dan itu biayanya 
amat-sangat mahal.  Namun itu bisa terlaksana karena pemilihan Bupati, 
Gubernur, dan Presiden, berlangsung dalam sistem keuangan yang tertutup.
   
  Mestinya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merekam telepon para calon 
Bupati sampai Presiden, beserta Tim Suksesnya, baru ketahuan dari mana 
sebenarnya dana politik itu berasal. Tapi KPK tak akan ke sana. Percayalah.  
Akibatnya sistem politik Indonesia terus dihidupi dengan cara-cara korupsi dan 
melawan hukum (baca Membuka Topeng Negara Gagal, www.hidayatullah.com, 17 dan 
23 April 2008).
   
  Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta tak segan menyampuri soal Ahmadiyah 
dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang 
bentrok dengan kelompok FPI di Monas, 1 Juni 2008.
   
  Campur tangan Kedubes Amerika merepotkan FPI, soalnya, Kepolisian selama ini 
mendapat dana bantuan dari Amerika Serikat. Menurut Majalah Far Eastern 
Economic Review (FEER), 13 November 2003, Pemerintah Amerika mengeluarkan dana 
16 juta dollar (sekitar Rp 150 milyar) untuk membentuk dan melatih Detasemen 
Khusus  (Densus) 88 Anti-Teror Polri. Laporan yang sama ditulis Warta Kota, 12 
November 2003, dan The Jakarta Post, 6 September 2004.
   
  Menurut berita itu, detasemen khusus anti-teror difasilitasi berbagai 
peralatan dan persenjataan canggih. Malah guna mobilitas pasukan, detasemen 
dilengkapi Amerika dengan pesawat angkut khusus C-130.
  Belum cukup. Congressional Research Service (CRS), lembaga riset Kongres 
Amerika Serikat, dalam laporan tahun 2005, menyebutkan secara terperinci dana 
yang dikeluarkan Pemerintahan Presiden Bush kepada polisi Indonesia dan pasukan 
anti-terornya.
   
  Dari situ diketahui bahwa setiap tahun POLRI menerima bantuan dari Amerika 
Serikat, tahun 2004 sebesar US$ 5.778.000, tahun 2005, US$ 5.300.000, dan pada 
tahun 2006, sebesar US$ 5.300.000 (sekitar Rp 50 milyar).
   
  There is no free-lunch. Tak ada makan siang yang gratis. Karena Kedubes 
Amerika Serikat memihak Ahmadiyah dan AKKBB, maka tokoh kelompok Front Pembela 
Islam (FPI) yang ditahan polisi seperti Habib Riziek Shihab, Munarman, dan 
kawan-kawan, memang mendapat masalah. Mereka tergolong kelompok anti-Amerika. 
Munarman adalah tokoh yang paling ngotot berkampanye mengusir proyek NAMRU-2 
milik Angkatan Laut Amerika, dari Indonesia.
   
  Independensi polisi dari pengaruh Kedubes Amerika Serikat menjadi tanda tanya 
besar. Misalnya, pengacara Mahendradatta dari Tim Pembela Muslim (TPM) 
mengherankan prioritas polisi dalam menangani peristiwa Monas. Kalau 
berdasarkan hukum, mestinya yang menjadi prioritas adalah pria berpistol yang 
menggunakan kostum AKKBB. ‘’Ancaman hukuman kasus senjata api itu seumur hidup, 
paling berat,’’ kata Mahendradatta.
   
  Nyatanya walau kasus itu sudah dilaporkan FPI, polisi sampai sekarang belum 
menangkap pria berpistol. Polisi hanya sibuk menguber orang-orang FPI yang 
dituduh terlibat penganiayaan dengan ancaman hukuman hanya 5 tahun penjara, 
jauh lebih ringan dari urusan senjata api. Polisi sibuk mencari-cari pasal 
pidana agar bisa menangkap dan menahan Habib Riziek Shihab. 
   
  [berlanjut.../www.hidayatullah]
  Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies


"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 
  kampusku 
  Blogku




       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke