Pentingnya Sholat Berjamaah di Masjid(Bgn 2)
22 Jun 08 21:11 WIB
Oleh Ihsan Tandjung

Hidup dan berkelakuan berdasarkan petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala 
merupakan suatu tuntutan sekaligus indikator beriman tidaknya seseorang. 
Seorang yang beriman tentu akan berusaha keras agar segenap gerak-gerik 
hidupnya berada di bawah naungan dan bimbingan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia 
sadar bahwa jika ia tidak mengikuti pertunjuk ilahi, maka niscaya ia akan 
ditunggangi musuh Allah subhaanahu wa ta’aala, yaitu syethan. Nabi Muhammad 
shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan bahwa sholat berjamaah di masjid 
merupakan bagian penting dari SUNANUL HUDA (perilaku berdasarkan 
hidayah/petunjuk)
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ 
الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي 
يُؤَذَّنُ فِيهِ (صحيح مسلم)
Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kami SUNANUL HUDA (perilaku berdasarkan 
hidayah/petunjuk), dan di antaranya ialah sholat di masjid di mana terdengar 
kumandang adzan. (HR Muslim 3/386)
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dan para shohabat radhiyallahu 
’anhum ’ajma’iin telah mencontohkan kepada kita bagaimana mereka sangat peduli 
dan konsisten dalam menegakkan sholat lima waktu berjamaah di masjid. 
Sedemikian kerasnya anjuran untuk melakukannya sehingga Nabi shollallahu ’alaih 
wa sallam pernah mengutarakan keinginan kuat dalam dirinya untuk mendatangi 
rumah-rumah mereka yang tidak menyambut seruan muadzin, kemudian membakar rumah 
mereka.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ 
عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ 
مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ 
بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ 
أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا 
يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ (مسلم)
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang 
paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh. Andai mereka tahu 
apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus 
merangkak-rangkak. Sungguh aku ingin memerintahkan sholat untuk didirikan, lalu 
aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia dalam sholat. Kemudian aku 
pergi bersama mereka dengan membawa beberapa ikat kayu bakar menuju kaum yang 
tidak menghadiri sholat berjamaah, lalu aku bakar rumah mereka dengan api. (HR 
Muslim 2/123)
Suatu ketika khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu saat berangkat 
menuju masjid untuk mengimami sholat melewati rumah putera beliau, Abdullah bin 
Abu Bakar radhiyallahu ’anhuma yang masih berstatus penganten baru. Baru 
beberapa bulan ia menikah dengan wanita sholehah nan cantik jelita bernama 
’Atikah radhiyallahu ’anha. Ketika beliau lewat di depan rumah anaknya 
terdengar suara senda gurau antara suami isteri penuh kecintaan. Lalu ia 
berlalu dengan harapan anaknya akan segera menyusul ke masjid bergabung dengan 
orang-orang beriman melaksanakan sholat fardhu berjamaah. Begitu selesai 
mengimami sholat yang pertama kali ia cari di tengah jamaah yang sholat di 
belakangnya adalah anaknya, Abdullah radhiyallahu ’anhu. Satu per satu ia 
teliti, berkali-kali ia cari tidak ditemukan anaknya di sana.
Ketika pulang, Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu kembali berlalu 
melewati rumah anaknya, sekali lagi ia dapati senda gurau, suasana penuh 
keceriaan, kebahagiaan, ketenteraman antara sepasang suami-isteri yang baru 
memasuki pelaminan, masih terdengar oleh beliau dari luar rumah. Berkali-kali 
Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu ber-istighfar, dia ketuk pintu rumah 
anaknya dengan pelan...
Abdullah radhiyallahu ’anhu, anaknya, membuka pintu. Begitu terkejut ia ketika 
mendapati ayahnya di depan rumahnya. ’Atikah radhiyallahu ’anha juga begitu 
terperangah ketika menyadari bahwa yang datang adalah mertuanya.
Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu mengatakan kepada Abdullah 
radhiyallahu ’anhu serta isterinya ’Atikah radhiyallahu ’anha: ”Wahai anakku 
Abdullah, kamu dapatkan kebahagiaan duniawi dengan isterimu, tapi engkau 
lalaikan jihad, engkau telah lalai terhadap perintah-perintah Allah subhaanahu 
wa ta’aala, engkau telah lalaikan sholat berjamaah.
Wahai menantuku ’Atikah, engkau tidak bisa membahagiakan anakku. Kecantikanmu, 
keikhlasanmu untuk berbakti kepada suamimu menyebabkan dia lalai menegakkan 
sholat berjamaah.
Hari ini, wahai anakku Abdullah, aku minta kau ceraikan isterimu, pisahkan dia 
dari tempat tinggalmu..! Talak dia dan perlakukan dia sebagaimana wanita-wanita 
lainnya..!”
Pucat pasi kedua pengantin baru tersebut. Akhirnya Abdullah radhiyallahu ’anhu 
menceraikan ’Atikah radhiyallahu ’anha. Waktu terus berjalan semenjak 
perceraian antara mereka berdua. Satu hari perceraian mereka, dua hari, tiga 
hari, satu pekan, dua pekan, Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu melihat 
penderitaan mereka. Penderitaan suami yang mencintai isteri yang telah ia 
ceraikan. Penderitaan seorang isteri yang telah diceraikan suami yang ia cintai.
Kemudian Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu ’anhu memanggil anaknya Abdullah 
radhiyallahu ’anhu dengan berkata: ”Aku minta kamu rujuk kembali dengan mantan 
isterimu, ’Atikah. Saya izinkan kamu mengembalikan dia sebagai isterimu dengan 
harapan kamu jadikan ini sebagai pelajaran kecintaan kepada jihad fi sabilillah 
di atas kecintaanmu kepada siapapun, termasuk kepada isterimu ’Atikah.”
Ya Allah, ya Rahmaan ya Rahiim, jadikanlah kecintaan kami kepada sholat 
berjamaah di masjid laksana kecintaan kami kepada Engkau, RasulMu dan al-Jihad 
fii sabilillah yang lebih kami cintai dari apapun dan siapapun di dunia yang 
fana ini. Amin


      

Kirim email ke