Aku Anak seorang PNS
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Aku adalah anak seorang dari ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri (PNS).
Ayahku memulai karirnya mulai dari Nol. Beliau tammatan STM(Sekolah Tehnik
Menengah), plus tambahan kuliyah untuk jurusan tehnik, sekaligus Kehutanan(jauh
amat yah..namun realita).
Ayahku seorang yang gemar membaca buku. Kumpulan karangan dari Buya Hamka,
hampir seluruhnya dimiliki beliau, tak jarang buku karangan Nazwar Syamsu, dan
buku-buku lain yang jarang dimiliki orang zaman sekarang, beliau masih
menyimpannya, sampaipun novel-novel.Dan setelah beliau merasa akan wafat, saat
aku baru setahun berada di Kairo, ayahku mewasiatkan yang didengarkan oleh
kakak-kakak dan ibuku, seluruh buku-buku itu untuk diriku.
Ketika aku masih kecil, aku dah dibiasakan oleh ayahku untuk membaca, yang
dimulai dari baca buku cerita HC Andersen, yang sering berakhir kebahagiaan
seorang Raja bersama Permaisurinya. Montingo Busye, yang terkenal dengan novel
Romantisnya, juga ada di rumah. Namun, karena itu novel nya orang dewasa, entah
kenapa, aku kurang begitu tertarik membacanya.
Mulai dari membaca majalah anak-anak, cerpen, sampai pada akhirnya aku mulai
melirik buku-buku agama, karangan Buya Hamka, Imam Ghazali, hatiku mulai
tersentuh akan bidang agama ini. Seakan hatiku ditata rapi oleh Imam Ghazali
dan Buya Hamka.
Ayahku seorang PNS, di Kehutanan, bagian Pengukuran dan Perpetaan. Beliau
sangat pintar menggambar peta-peta Indonesia, juga pandai melukis, dan sangat
hafal seluk beluk daerah setiap propinsi yang ada di Indonesia, karena beliau
sering bertugas ke hutan-hutan yang menurut penuturan beliau, mengukur
batas-batas wilayah hutan, dllnya. Segala rintangan didalam hutan selama
berminggu-minggu sampai berbulan dihadapi beliau, yang juga akhirnya terbiasa
makan seadanya. Beliau seorang pekerja yang gigih, ulet dan jujur.
Dimulai dari karirnya yang dari Nol, sampai pada akhirnya beliau memiliki
jabatan sebagai kepala proyek seluruh wilayah Indonesia bagian kehutanan. Dulu
menjadi kepala proyek Kehutanan masih berpusat pada satu, tidak semacam
sekarang, dah berbagi-bagi, masing-masing propinsi ada kepala proyeknya.
Yang aku salutkan dari ayahku sebagai seorang PNS adalah, beliau luar biasa
kejujurannya. Setetes darah, tidak boleh masuk dari uang haram buat beliau,
anak-anak istrinya dan keluarganya. Sehingga, meskipun beliau seorang kepala
Proyek, yang disana sumber keuangan kelas tinggi untuk kehutanan, namun
kehidupan kami sangat sederhana, boleh dikatakan "miskin", nasi dijatah, bahkan
sampai makan jagung dan kacang ijo, karena tak ada beras untuk dibeli, padahal
beliau seorang kepala bidang proyek.
Namun, berapalah gaji seorang PNS, meskipun jabatannya tinggi, tetap tak
seberapa dan tak mencukupi. Makanya aku sering heran dengan para pejabat PNS
yang bisa kaya raya, tanpa ada bisnis tambahan atau istri juga sebagai PNS,
atau wirausaha?
Karena kehidupan yang serba kekurangan itu, makan senin khamis, bahkan dijatahi
oleh kesembilan anaknya, yang rata-rata perempuan lagi, hanya dua orang pria,
sehingga ibuku mengambil inisiatif untuk jualan kue.Benarlah kata orang,
seringnya anak-anak berhasil, bila melihat kekonsekwenan dan kegigihan dari
seorang Ibu yang berjiwa tegas, dan pandai juga mencari uang, membantu suami
dalam hal financial, dari keahliannya/skill yang dimilikinya.
Mulailah kehidupan dengan bisnis kue kecil-kecilan, sampai pada akhirnya
cathering makanan, karena ibuku asli Minangkabau, jadi memang masakannya sangat
enak, tak heran, kalau sering mendapatkan pesanan cathering dari teman-teman
ayahku, atau ketika ada acara di kantor, ibukulah yang memasaknya. Lumayan
penambah devisa keuangan RT.
Mulai bisnis kecilan kue, keliling kota, sampai akhirnya ibuku memiliki sebuah
kedai nasi ditempat yang lumayan ramai dan elit, maka bertambah majulah
kehidupan kami.
Meski kehidupan mulai maju, ayah dan ibuku tidak boros, kami anak-anaknya
diajarkan biasa hemat dan menabung serta prinsip, jangan pernah meminta sama
sekali, membiasakan hidup berbisnis, apapapun asalkan halal.
Sayang sekali, prinsip dagang ini, belum dimiliki oleh kesembilan anak-anak
ortu kami. Kakakku pernah berbisnis kain, pernah jadi tukang jahit, karena
meskipun beliau tammatan bahasa Inggris, beliau memiliki skill menjahit, dimana
memang orang tua kami, selalu mengajarkan kami skill menjahit, bagi anak
perempuan, dan skill bangunan bagi anak lelaki, sehingga lelaki bisa buat
lemari, kursi sendiri, minimal, pandai pegang obeng, palu, gergaji, dan
sebagainya.
Jiwa penyantun dan kasih sayang pada sesama, itu yang selalu bikin bisnis
dagang kakak-kakakku gagal, karena ketika melihat orang susah, dia tidak
sanggup meminta uang, bahkan sering diberikannya saja, apalagi bentuknya
makanan. Ayah/Ibu kami sejak kecil menanamkan sifat pemurah, tidak egois dalam
hal materian ini, namun sikap mempertahankan pendapat yang benar itu, juga
diajarkan, membela hak, serta harga diri jagan sampai diinjak-injak orang lain.
Mengalahnya kami hanya boleh dalam masalah material, namun sikap membela
kebenaran, sikap jujur, meski dipenjara sekalipun harus dipertahankan. Itu yang
masih melekat sampai sekarang dihatiku, juga mungkin sebahagian kakak-kakakku,
sehingga sulitlah untuk jualan kue, lihat anak yatim fakir miskin dah tak
sampai hati, bisa-bisa diberikan semua dagangan atau hasil jualan kue, makanan,
pakaian ke fakir miskin yang sedang lewat itu.
Namun, lain pada diriku, ketika aku duduk dibangku setingkatan SLTA, tepatnya
di Pesantren, kami diajarkan untuk pandai bisnis dan berdagang serta
mengeluarkan zakat dagang tersebut apabila telah sampai masanya, atau nisabnya.
Membiasakan diri bersedeqah meski dalam keadaan sulit sekalipun, memperhatikan
nasib orang lain juga, karena sadar diantara rezeki yang kita terima ada hak
orang lain yang berhak menerimanya didalam rezeki itu. Apa yang kita makan,
itulah yang sirna, apa yang kita berikan untuk orang lain, itulah yang kekal,
dan menjadi tabungan diakhirat kelak.
. Sejak di Pesantren, kami satu kelas, mulai semenjak kls 1 KMI, sudah mulai
menabung, niatnya untuk tour keliling Jakarta dan Jawa, apabila telah tammat
sekolah kelaknya. Kami bisa dagang bakso, dagang bross, yang kami buat
bersama-sama. Aku kebagian giliran membuat kaligrafi di Bros situ, teman-teman
lainnya ada bagian jualan bakso, bagian jualan kerupuk, dllnya, pokoknya sangat
mengasyikkan, bebisnis bersama, sehingga tidak ada rasa malu didada menjajakan
dagangan tersebut pada kakak kelas, atau adik kelas.
Setelah hampir tammat di kelas III KMI, uang lumayan banyak terkumpul selama 4
tahun itu. Maka bisalah kami tour keliling Jakarta dan Jawa, dengan biaya
tersebut, plus membiayai pamong dari guru dan sopir semuanya, hotel, makan
tempat-tempat wisata di candi Borobudur, Prambanan, serta berkunjung ke Istana
Ke Presidenan Merdeka, Taman Mini Indah, Ancol, kediaman kerajaan di Jawa,
istana Sultan Hamengubuwono, dan tempat-tempat wisata lainnya sekitar dua
propinsi tersebut. (Jakarta-Jawa/Barat, Tengah, Timur). Dan semua itu tanpa
sepesanpun keluar dari uang saku pribadi, murni uang keuntungan bisnis selama 4
tahun.
Ternyata, sikap berbisnis ini, berlanjut, dimulai aku menikah dengan suami
tercinta, dengan berangkat ke Mesir, bawa dagangan kain bordir, tidak sampai
berapa minggu, dagangan itu laris manis, karena prinsipnya jual murah, asal
perputaran uang dagang lancar.
Bisnis berhenti sampai disitu, karena tak ada lagi yang dibisniskan di kota
Kairo itu. Namun sempat juga suamiku jadi tukang jahit, akupun tukang masak,
karena kesulitan ekonomi dan kehidupan sebagai mahasiswa beberapa tahun,
sebelum beliau diterima bekerja dikedutaan sebagai kuli(local staff), yang
gajinya tak seberapa, tinggi bukan, kurang amat juga tidak, hanya cukup atau
pas-pasan, kalau untuk beli buku-buku, yah harus dagang atau dapat dari bea
siswa, diharapkan gaji, tidak mungkin juga, karena Allah memang juga
mentakdirkan aku mendapatkan seorang ayah dan suami yang super jujur dalam
masalah keuangan ini.
Aku bisa menilai suamiku sudah berapa tahun jadi bendahara di organisasi, luar
biasa jelimet dan teliti serta jujurnya dalam hal keuangan ini. Benar-benar
luar biasa. Bekerja dikantorpun begitu, barang-barang kantor, sering tak mau
diambilnya. Kertas-kertas, pencil, dan sebagainya, kalau mau bisa saja
dikorupsi buat anak-anaknya. Namun masalah sekecil ini saja sangat dijaganya,
makanya hiduppun yah pas-pasan begitulah. Ada kelebihan uang, kalau
pandai-pandai menghemat belanja, pandai-pandai berbisnis tambahan, juga kalau
ada tambahan tugas keluar kota dan lainnya.
Aku bisa berjalan-jalan ke luar negeri lainnya semacam Turky, Yordan, Kuwait,
Arab Saudi, Abu Dhabi, Malaysia, Singapore, Spanyol, dan lain-lainnya, hampir
rata-rata semua itu adalah uang hasil bisnis, atau ketiban rezeki, dapat tiket
gratis dari perusahaan penerbangan. Atau kebetulan aja transit pas pulang
kampung, yah sekaligus singgah kenegeri itu berapa hari. Kalau tidak bisnis,
tidak akan mungkin bisa tour kemana-mana dalam setahun itu.
Dalam setahun, memang program yang sudah biasa dilakukan oleh setiap organisasi
di Mesir ini, adalah Rihlah ketempat bersejarah Islam.
Mahasiswa di Kairopun sudah biasa bisnis. Kadang bisnis money changerlah,
jualan pulsa HPlah, jadi sopirlah, bisnis dagangan baju, makanan, travel,
pokonya benar-benar kreatif, hampir setiap mahasiswa memiliki jiwa dagang itu.
Mungkin ini dikarenakan awalnya karena kesulitan hidup, sehingga tanpa malu,
yang penting halal, mengais nasib dengan jualan atau bisnis apa saja, jualan
tempe, tahu, jadi tukang jahit, tukang angkat barang dan sebagainya, mulai dari
bisnis tingkat bawah sampai ketingkat tinggipun ada di Mesir ini bagi mahasiswa
Indonesia.
Asalkan tidak meminta dan menyusahkan orang lain, tidak memakan hak orang lain,
lebih memilih bisnis jualan es, kacang tojin, tahu tempe sekalipun.
Begitulah serba serbi kehidupanku juga sebahagian mahasiswa yang ada di Mesir,
dan serba serbi menjadi anak dari seorang Ayah yang PNS.Semoga Allah meridhai
dan merahmati Almarhum ayahku yang telah bersusah payah mendidikku menjadi anak
yang memegang prinsip KEJUJURAN.
Prinsip Mandiri, suka memandang nasib orang lain, Jangan pernah mendzalimi
orang lain, dan harus bersedeqah betapapun sulitnya kehidupan.Aku masih
menyimpan surat-surat almarhum ayahku sebelum beliau meninggal, selama setahun
aku di Kairo, yang selalu diucapkan beliau:
" Jangan Egois..jangan Egois
perhatikan nasib orang lain
mengalahlah selangkah
demi untuk mencapai beribu-ribu langkah kemenangan
.anak panah, bila ingin
melaju kencang, mundurkan dulu selangkah, baru lepaskan dia
perhatikan
sekeliling, diam dulu,..dengarkan..baru bicara
dan jujurlah dimana sajapun
Engkau berada wahai anakku".
Wassalamu'alaikum.Cairo, 24 Juni 2008. Rahima.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/