Program-program Amerika untuk berhubungan dengan Dunia Islam (Part III)

Seperti pada Perang Dingin, usaha-usaha Amerika seharusnya menghindari daya 
tarik pusat dari lawan tapi kebalikannya seharusnya berkonsentrasi pada para 
partner dan program-programnya dan wilayah dimana dukungan Amerika tampaknya 
punya kecendrungan pengaruh pada perang pemikiran.
Dalam kaitannya dengan para partner, adalah penting untuk bisa mengidentifkasi 
sektor-sektor sosial  yang bisa merupakan batu sandungan bagi jaringan yang 
diajukan itu.
Prioritas seharusnya diberikan pada akademisi liberal dan sekuler dan 
cendekiawan muda muslim yang moderat. 
Aktivis masyarakat Kelompok-kelompok wanita yang terlibat dalam kampanye 
kesetaraan gender Para penulis dan wartawan yang moderat.
Amerika harus memastikan visi dan platform dari para individual itu. Sebagai 
contoh, para pejabat Amerika harus memastikan bahwa kelompok-kelompok itu 
terlibat pada kunjungan ke Konggres, sehingga membuat mereka lebih mengenal 
para pembuat kebijakan dan membantu mempertahankan dukungan Amerika dan sumber 
daya bagi usaha diplomasi publik.

Program-program bantuan harus diorganisir pada sektor-sektor yang tercantum di 
atas, dan akan memasukkan Pendidikan Demokratis, khususnya pada program-program 
yang memakai teks-teks dan tradisi-tradisi Islam untuk pengajaran yang 
berpengaruh yang mendukung nilai-nilai demokratis dan pluralistis.

Kesetaraan gender. Isu hak-hak wanita adalah merupakan 
sebuah medan tempur utama dalam perang pemikiran di dalam Islam, dan hak-hak 
wanita terdorong untuk berjalan dalam lingkungan-lingkungan yang berlawanan.
Promosi atas kesetaraan gender adalah sebuah komponen yang penting dari proyek 
apapun untuk memberdayakan muslim yang moderat.

Pembelaan advokasi. Kelompok Islam memiliki agenda-agenda politik, dan kaum 
moderat perlu untuk terlibat dalam pembelaan advokasi juga. Aktivitas advokasi 
adalah penting untuk membentuk lingkungan politik dan hukum di Dunia Islam.

Dalam kaitannya dengan fokus geografi, kami mengajukan sebuah perubahan 
prioritas dari Timur Tengah menuju wilayah-wilayah Dunia Islam di mana terdapat 
kemungkinan kebebasan bertindak, dimana lingkungannya lebih terbuka bagi 
aktivisme dan pengaruh, dan kesuksesan sepertinya lebih mungkin dan lebih 
tampak. Pendekatan yang dilakukan saat ini adalah pendekatan yang defensif dan 
reaktif.  Berdasarkan pada pengakuan bahwa ide-ide radikal adalah berasal dari 
Timur Tengah dan dari sana juga disebarkan ke selurug Dunia Islam, termasuk 
kaum muslim yang tersebar di Eropa dan Amerika Utara, maka pendekatan ini 
mengenali ide-ide dan usaha-usaha kaum ekstrimis di Timur Tengah dan berusaha 
melawannya. Berusaha untuk membalikkan arus pemikiran ini merupakan kebijakan 
yang jauh lebih baik.
Teks-teks yang penting yang berasal dari para pemikir, intelektual, aktivis, 
dan pemimpin pada kaum Muslim yang terdiaspora, di Turki, Indonesia, dan dimana 
saja harus diterjemahkan dalam bahasa Arab dan disebarkan secara luas. Hal ini 
tidak berarti bahwa inti masalahnya bisa diabaikan.
 

Malahan, sasarannya harus diteguhkan dengan harapan ada kesempatan bagi 
kemajuan, yang dapat meningkat kapan saja.
Ada beberapa ‘jaringan’ dari kaum moderat yang saat ini sedang berjalan, tapi 
hal ini berjalan acak dan dianggap tidak cukup. Jaringan individual dan 
kelompok yang kepastiannya sebagai kelompok moderat belum dipastikan atau 
jaringan yang berpura-pura moderat (networking pseudo-moderates) tidak saja 
hanya merupakan kesia-siaan sumber daya, tapi juga counter productive. Para 
Imam Denmark yang pernah menyebabkan kontroversi yang menyulut kemarahan 
internasional sudah dianggap menjadi moderat dan sudah menerima bantuan dana 
dari negara, termasuk biaya untuk bepergian dan mendapat kesempatan-kesempatan 
networking. Pengawasan yang lebih dekat atas kejadian ini menunjukkan bahwa 
para individual itu tidaklah benar-benar moderat sama sekali.

Diplomasi publik pada saat ini tertinggal di belakang media dan perlu 
memberikan perhatian lebih jauh pada keadaan-keadaan masa kini. Radio pernah 
menjadi media yang penting selama Perang Dingin, dengan membantu penduduk yang 
terisolir untuk mendapatkan akses informasi. Pada saat ini, penduduk perkotaan 
di Dunia Islam dibanjiri oleh begitu banyaknya informasi yang tidak akurat dan 
bias dan isi dan cara penyampaian yang jauh lebih menuntut adanya hubungan satu 
sama lain. Radio Sawa dan Al Hurra dianggap sebagai perpanjangan tangan bagi 
pemerintah AS dan, walaupun biayanya tinggi, belum bisa menyebabkan adanya 
perilaku positif terhadap Amerika Serikat.

Kami yakin bahwa dana yang dikeluarkan bagi Radio Sawa dan televisi Al Hurra 
akan lebih baik dibelanjakan untuk mendukung outlet-outlet media lokal dan para 
wartawan yang berpegang pada agenda demokratis dan pluralistis.
Kami menganjurkan untuk mulai dilakukannya inisiatif yang direkomendasikan 
dalam laporan ini dengan sebuah workshop, yang akan diadakan di Washington atau 
di tempat lain yang layak, yang bisa mengumpulkan sebuah perwakilan kecil 
kelompok muslim moderat. 
Workshop ini akan bertindak untuk memperoleh input dan dukungan mereka bagi 
suatu inisiatif dan mempersiapkan agenda dan suatu daftar peserta bagi 
dilakukannya sebuah konperensi internasional yang mencontoh Konggres Kebebasan 
Budaya (Conggress of Cultural Freedom). Jika acara ini sukses, kami kemudian 
akan bekerja dengan kelompok inti itu untuk mengadakan sebuah konperensi 
internasional yang diadakan di tempat yang merupakan simbol yang penting bagi 
kaum muslim, seperti di Cordoba Spanyol, untuk memulai sebuah organisasi yang 
kokoh untuk memerangi Islam radikal. 

(End)

Source : Rand Corp (Building Moderate Moslem) 


      

Kirim email ke