Posted by: "Fakhruddin Halim" [EMAIL PROTECTED] 
Wed Jun 25, 2008 7:36 pm (PDT) 
dr Jose Rizal Jurnalis: "Kita dikadalin!" [image:
PDF]<http://www.suara- islam.com/ index2.php? option=com_ content&do_ pdf=1&id= 
1902>
[image:
Cetak]<http://www.suara- islam.com/ index2.php? option=com_ content&task= 
view&id=1902& pop=1&page= 0&Itemid= 86>
[image:
E-mail]<http://www.suara- islam.com/ index2.php? option=com_ content&task= 
emailform& id=1902&itemid= 86>
EDISI 43, Tanggal 2 - 15 Mei 2008 M/25 Rabiul Akhir - 9 Jumadil Awal
1429 H
Wednesday, 25 June 200 Tiga puluh tahun lebih NAMRU bekerja di
Indonesia. Sepanjang waktu itu tak ada yang mempersoalkannya. Padahal telah
banyak 'kekayaan' Indonesia yang disedot lembaga penelitian militer Amerika
Serikat itu. Tentu banyak pula rahasia Indonesia yang terbongkar melalui
kajian dan penelitiannya.

Sayangnya tidak banyak orang yang tahu bahwa NAMRU sangat berbahaya bagi
keamanan Indonesia. Selama ini orang-orang Amerika dengan cover diplomatik
yang disandangnya bisa dengan leluasa membawa keluar masuk berbagai spesimen
virus, bakteri, protozoa dan sejenisnya dari dan ke Indonesia. Mereka
mengambil banyak manfaat. Sementara Indonesia, hanya jadi ajang keculasan
mereka.

Sejauh mana bahaya aktivitas NAMRU bagi Indonesia, wartawan Suara Islam,
Mujiyanto, mewawancarai Joserizal Jurnalis, seorang dokter sekaligus aktivis
yang aktif bergerak di medan pertempuran. Berikut petikannya.
Apa sih itu NAMRU?
NAMRU itu kepanjangan Naval Medical Research Unit. Itu adalah sebuah lembaga
riset di bawah Departemen Pertahanan, Amerika Serikat. Pengelolanya adalah
Angkatan Laut AS. Mereka melakukan penelitian tentang penyakit-penyakit
menular. Jadi agak aneh fokusnya. Angkatan laut, militer, tapi interest
terhadap penyakit-penyakit menular. Kalau kita lihat sepertinya mereka itu
membajak WHO. Mereka juga meminta spesimen-spesimen yang ada di WHO. Lucunya
lagi, mereka minta kekebalan diplomatik. Nah, apa urusannya dengan peneliti?
Berarti kan ini suatu fasilitas yang mereka inginkan untuk membawa masuk dan
keluar segala sesuatu ke negara ini. Yang namanya bag (tas dan bagasi. red.)
diplomatik kan tidak boleh diutak-atik.

Apa kepentingan Indonesia sehingga NAMRU ada di sini?
Jadi memang tidak dipungkiri, mereka membantu itu ada. Tidak mungkin suatu
lembaga tidak memberikan suatu kontribusi positif. Tapi persoalannya, apakah
kontribusi positif ini hanya sebagai cover dari kegiatan yang sebenarnya.
Ini yang jadi masalah. Kalau saya baca Dino Pati Djalal di koran bilang
NAMRU bermanfaat bagi rakyat Indonesia, manfaat pasti ada. Tentu masalahnya,
kita harus bertanya. Lembaga riset militer di bawah Dephan, lalu bisa
mengakses WHO, lalu minta kekebalan diplomatik, ini apa-apaan? Jadi ada
sesuatu yang mereka kerjakan, yang orang lain tidak boleh tahu. Maka
semuanya harus di-cover dalam bag-bag diplomatic. Jadi mereka menghalangi
orang untuk mengakses kepada diri mereka. Dino sebagai seorang diplomat
tentu mengerti dengan persoalan ini. Tidak mungkin ini lembaga riset murni.
Dan yang menarik lagi, field (bidang) yang mereka kerjakan selalu
penyakit-penyakit menular. Kenapa tidak penyakit degeneratif misalnya,
jantung, kanker, dan sebagainya? Karena untuk senjata biologi, yang menarik
itu penyakit menular. Bukan penyakit degeneratif.

Sepengetahuan Anda, apa yang didapat Indo-nesia selama 30 tahun keberadaan
NAMRU?
Katanya banyak membantu program pemberantasan penyakit malaria, kemudian
pemberantasan penyakit TBC. Jadi mereka itu bekerja di Direktorat Pencegahan
dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Depkes. P2M ini, waktu saya di
Puskesmas, fokusnya adalah TBC, Jadi memang ada manfaatnya. Cuma
persoalannya, kuman-kuman (bakteri, virus, dan protozoa) itu diteliti oleh
mereka, apakah dibawa keluar dan disimpan oleh mereka kemudian diapakan?
Kita tidak tahu. Dan persoalan yang paling penting, tidak semua orang punya
akses.

Apa kerugian Indonesia?
Kerugiannya jelas, kita dikadalin. Ini ilmu kadal namanya. Kita diberi
sedikit bantuan, yang bantuan program itu tidak esensial sifatnya. Lipstick
aid, sifatnya kosmetik. Tapi dia mendapat untung luar biasa belajar mengenai
penyakit menular ini. Lalu pertanyaannya begini, penyakit menular ini kan
tidak ada di negara mereka? Lalu buat apa mereka pelajari? Kalau kita mau
bicara soal geololitik, banyak riset dilakukan di negara-negara yang
memiliki deposit kekayaan alam yang luar biasa, dan pasar yang besar seperti
Cina. Buat apa mereka pelajari? Kalau gampang-gampangnya, pasti mereka bikin
vaksin lalu dijual. Itu dari segi ekonomi. Covernya seperti itu. Itu saja
sudah tidak etis. Mereka tidak kena penyakit ini, tapi mereka ambil bahan
orang. Mereka bikin vaksin, kemudian jual sama orang. Tidak etis, bahkan
tidak manusiawi, jual vaksin dari penderitaan orang banyak.

Apakah unit seperti NAMRU ini ada di negara lain?
Ada kan. Pernah di Taiwan, Mesir, Filipina. Tapi sudah ditutup. Indonesia
saja yang sudah kelamaan 30 tahun. Eh mau diperpanjang lagi.

Dari sisi militer, sejauh mana pentingnya penelitian/riset tersebut?
Dari segi militer. Contoh malaria. Kalau mereka bisa merekayasa, plasmodium
makin lama makin ganas. Tentu ini tidak bisa di-handling dengan obat biasa.
Dan mereka bisa bikin vaksin anti malaria. Nah, kalau mereka menghadapi
perang gerilya dengan negara yang tidak suka dengan dominasinya, mereka
nggak perlu turun ke hutan. Cukup sebarkan saja nyamuk dengan plasmodium
falcivarum yang lebih ganas. Lalu gerilyawan mati karena kena malaria
tropikana.

Banyak yang menganggap laboratorium NAMRU sederhana sehingga tidak mungkin
melakukan riset militer yang canggih. Padahal sebenarnya masalahnya pada
keluar masuknya spesimen?
That's right. Yang paling penting itu keluar masuknya spesimen. Karena bagi
mereka yang penting mengambil spesimen, kemudian memeliharanya sebentar,
kemudian mentransfernya ke laboratorium definitif mereka.

Itu ada di Indonesia?
Itu pasti tidak di Indonesia. Itu yang paling krusial di sana, bagaimana
mereka itu memperoleh sesuatu. Makanya mereka minta kekebalan diplomatik
supaya barang-barang yang dikirim oleh mereka itu tidak dicek (di bandara).

Artinya secara militer vaksin itu penting?
Penting, untuk strategi perang. Karena kalau mereka bisa meng-create senjata
biologi yang negara lain tidak bisa meng-handling, maka tentaranya bisa
dikasih kekebalan dengan vaksin yang mereka punya. Dan mereka bisa masuk ke
daerah yang sudah mereka tebarkan virus atau bakteri tersebut.

Apa kecurigaan Anda terhadap keberadaan NAMRU di Indonesia?
Sudah jelas, mereka memiliki kepentingan untuk mempelajari penyakit-penyakit
menular yang ganas. Mempelajari itu bagaimana? Mengambil spesimen. Lalu
mereka proses, biakkan, seed (dibenihkan) , multiply (perbanyakan) dan
sebagainya untuk dibuat vaksin-vaksin. Mungkin laboratorium di sini itu
tidak ada teknologi yang canggih. Mungkin hanya teknologi penyimpanan saja.
Nah teknologi yang canggih untuk membuat senjata biologi bukan di sini
(Indonesia) tempatnya, tapi di suatu tempat. Lalu mereka memfokuskan lagi
untuk teknologi pengiriman bahan, spesimen. Makanya mereka minta kekebalan
diplomatik. Kalau militer yang melakukan ini pasti itu untuk kepentingan
militer.

NAMRU bisa bertahan sedemikian lama. Tentu ada pihak-pihak yang diuntungkan
di Indonesia. Menurut Anda?
Sebenarnya kalau orang itu merasa dia orang Indonesia, tentu dia akan
memahami ini sebagai suatu yang berbahaya, buat dia sendiri maupun buat
keluarganya yang ada di Indonesia. Tapi karena mentalnya mental antek, dia
mendukung ini. Dia tidak tahu betapa berbahayanya senjata biologi atau
laboratorium biologi yang berbahaya. Ini lebih berbahaya dari nuklir. Kalau
misalnya jelas kerja sama pembuatan senjata biologi antar militer, jelas
harus diproteksi. Tidak ada di tengah-tengah permukiman penduduk. Dan itu
harus diawasi PBB.

Pihak-pihak yang ambil untung itu kaki tangan mereka di Indonesia?
Antek.

Apakah senjata biologi ini pernah diterapkan dalam sebuah peperangan?
Kalau saya membaca sejarah, pernah diterapkan Belanda di Aceh. Belanda
pernah memasukkan kuman kolera ke air minum masyarakat Aceh. Akhirnya jadi
wabah, mencret, apalagi saat itu belum ada tetracycline. Kalau sekarang
amanlah.

Departemen pertahanan kita tidak tahu?
Di situlah persoalannya, dia itu bukan tidak tahu. Dia tahu, ini ada
persoalan. Tapi biasalah orang Indonesia, dia belum melihat ada sesuatu yang
membahayakan kalau belum ada kejadian. Kan aman-aman saja. Karier gue juga
naik. Nanti kalau laboratorium itu bocor, atau seperti sekarang ada flu
burung yang penyebarannya juga aneh, dan kemudian keluarga presiden kena,
baru mikir. Oh iya, betul.

Apakah dalam kasus flu burung, model seperti ini bisa berlaku?
Oh bisa. Ada yang dipertanyakan Menkes kita, kenapa spesimen virus H5N1
kita, dikirim ke WHO di Hongkong, lalu nasibnya tidak jelas. Lalu tiba-tiba
ada perusahaan yang mempunyai vaksinnya. Juga bisa dipastikan spesimen ada
di laboratorium militer Los Alamos Amerika. Setelah Los Alamos tutup lalu
dipindah lagi ke laboratorium di Washington DC. Contoh lagi, kenapa variola
yang berkembang tahun 1972, lalu WHO meminta tahun 1974 semua negara
memusnahkan semua virus variola. Eh tahun 2005 ada negara yang mempunyai
vaksin variola. Berarti dia kan membuat vaksin dari virus. Berarti dia
memelihara virus. Ini melanggar ketentuan internasional. Ini yang disebut
dominasi ketidakadilan dunia, paradoks dunia. Di satu sisi, mereka berjuang
untuk nilai-nilai peradaban yang baik, di sisi lain mereka membuat sesuatu
yang membayakan peradaban itu sendiri.

Persoalan NAMRU berarti sangat krusial?
Sangat penting dan krusial bagi negara ini. Banyak orang yang tidak
menyadari. Kalangan ilmuwan pun tidak menyadari. Kadang-kadang di antara
mereka merasa happy dimasukkan dalam society mereka sebagai peneliti tingkat
internasional. Inilah repotnya bangsa kita. Lalu orang-orang yang punya
otoritas untuk menghentikan ini lihat-lihat kiri kanan. Kalau yang lain
semangat, baru mereka ikutan semangat. Dia tahu bahayanya. Tapi untuk maju
ke depan sebagai pelopor dia gak punya keberanian.

Ada yang menuding ada intelijen dalam NAMRU. Pendapat Anda?
Intelijen itu artinya mematai-matai, tujuannya mempelajari penyakit menular
itu, lalu mereka ambil sample dan kemudian mereka kirim ke laboratorium
mereka. Tindakan mereka penelitian juga bisa sambil mengamati daerah-daerah
yang cocok untuk perang kuman. Kan untuk ini harus dipelajari virusnya,
geografinya, anginnya, cuacanya karena bersangkut paut dengan penyebaran dan
cara menghentikan penyebaran.

Mereka berdalih sebagian pekerja NAMRU adalah orang Indonesia?
Ah itu teknis banget. Mereka ngumpulin virus, terus disimpan. Itu kan
pekerjaan teknis banget. Bukan pekerjaan teknologi tingkat tinggi. Pekerjaan
tingkat tingginya dilakukan di laboratoritum mereka yang mungkin tidak ada
di Indonesia.

Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia?
Untuk jangka pendek, tutup dulu. Ke depannya, kalau tatanan dunia itu tidak
bisa berubah ke arah yang lebih baik, kita juga harus belajar mengenai
senjata biologi. Ini sebagai bentuk persiapan. Kan dalam Islam ada i'da'.
Kalau tidak bisa dikendalikan, negara besar culas, Indonesia harus
bersiap-siap karena ini menyangkut dominasi suatu negara terhadap negara
lain. Ini berimplikasi kepada masalah ekonomi, politik, budaya. Intinya
power.

Bisa gak sih kita seperti mereka?
Bisa. Bisa.

Nyatanya kita sekarang kok tidak bisa, kendalanya?
Kemauan. Kemauan politik dari seorang leader. Ahli-ahli Indonesia itu cakap
kok. Kita butuh seorang leader yang mempunyai visi yang jelas dalam memanage
negara ini. Kalau leadernya hanya sekadar mengejar 5 tahun berikutnya,
mengejar 5 tahun berikutnya, ya susah.

Bagaimana senjata biologi dalam konstelasi perang ke depan?
Yang jelas, negara-negara besar itu mempunyai laboratorium senjata-senjata
biologi. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah senjata kimia, ada
nuklir. Itu semuanya mereka punya. Kenapa? Karena mereka ingin bargaining
kekuatan. Implikasinya mereka melakukan dominasi terhadap dunia baik di
bidang politik, ekonomi, keamanan, kebudayaan dan sebagainya. Menekan suatu
negara untuk dieksplorasi. k. Celakanya negara dunia ketiga tidak boleh
melakukan empowering (penguatan) itu kan. Supaya tetap terjajah. Meskipun
secara de jure merdeka.

Pandangan Anda terhadap sikap pemerintah kita?
Lemah.

Apa alasannya?
Mereka nggak punya nyali jika berhadapan dengan kekuatan besar.

Tidak punya nyali atau sudah dikuasai?
Jadi begini, elit-elit ini eksis secara society maupun secara kekuasaan, dan
kekayaan. Untuk bisa eksis dalam tiga hal ini mereka butuh jaringan. Mereka
tidak percaya dengan bangsa sendiri maupun dengan negara-negara yang tidak
superpower. Mereka mau membangun jaringan dengan negara superpower dan mau
menjadi goyim-nya (dombanya). Itu intinya.

Apakah aparat keamanan kita juga begitu lemahnya sehingga tak mampu menolak?
Doktrin pertahanan kita persoalannya. Yang diajarkan di Lemhanas itu dari
dulu hingga sekarang yaitu musuh kita adalah ekstrim kiri dan ekstrim kanan.
Dan itu diperkuat oleh mentor-mentor mereka yang notabene dari luar negeri.
Intelijen dan tentara kita dicekoki terus dengan doktrin ini. Jadi tentara
kita belum ada visi bahwa virus ini bakal mengancam, spekulan ekonomi bisa
mengancam dan meruntuhkan negara.

Jadi sulit dong menghadapi hegemoni yang demikian besar?
Karena kendalanya ada di bangsa kita. Bukan rakyat tapi elit. Rakyat kita
ini punya daya tahan yang luar biasa. Tahun 1999, negara kita ini sudah
dianggap tidak ada secara ekonomi, tapi rakyat kita itu bertahan. Yang ngeri
hidup susah itu elit.

Bagaimana caranya meningkatkan nyali?
Kita harus yakin akan pertolongan Allah SWT. Kalau tidak yakin itu, nggak
mungkin nyali itu muncul. Sudah jelas (negara adidaya) itu senjatanya lebih
maju, teknologinya lebih maju. Dalam sejarah Rasulullah, yang dihadapi itu
juga begitu, Kerajaan Persia dan Romawi yang secara militer jauh lebih
maju. Tapi Rasulullah dan para sahabat yakin dengan kemenangan karena ada
pertolongan Allah. Tanpa itu frustasi kita. Senjata sudah kepret-kepret.
Alutsista sudah tua. Para komandan sudah hidup senang, nggak mau lagi diajak
masuk hutan untuk survival. Jadi ini persoalan mentalitas, yaitu bagaimana
kita itu pede. Nah pede sorang muslim itu akan timbul kalau kita yakin akan
pertolongan Allah.

Artinya kita harus bangkit dan menjadi pengimbang negara adidaya itu?
Jelas. Allah akan membantu kita. Bagaimana Allah membantu kita? Dengan
keridlaan-Nya. Bagaimana supaya Dia ridla? Ya kita harus menyesuaikan diri
dengan apa yang diinginkan oleh Allah. Kalau ada yang bilang, nggak ada tuh
Islam mengatur soal politik. Wah itu sudah kacau. Nggak ada itu Islam
mengatur soal hukum. Itu sudah kacau.

Jangan-jangan cara berpikir seperti ini merupakan hasil penjajahan negara
adidaya itu?
Betul sekali. Karena dia (negara adidaya) tahu Islam itu suatu ajaran yang
komprehensif. Kalau dipraktekkan secara komprehensif, mereka tak berdaya
melawan. Karena mereka tahu itu, mereka rusak pemikiran umat ini terlebih
dahulu.

Kalau kita yakin dengan janji Allah, sebenarnya kita bisa mengalahkan
mereka?
Bisa. Bisa banget. Saya alhamdulillah punya pengalaman berkali-kali
terkepung dalam jumlah sedikit oleh musuh yang jumlahnya lebih banyak, tapi
kemenangan ada di pihak yang lebih sedikit. Kenapa? Karena pertolongan Allah
SWT. Bukan karena kehebatan kita dalam berperang. Itu saya alami di Maluku,
Afganistan, hingga Lebanon. Kalau Allah ridla, nggak sulit bagi Allah
memberikan kemenangan. Masalahnya, bagaimana agar Allah ridla? Ini
perosalannya.

Jadi harus ada upaya menerapkan Islam secara kaffah?
Jelas. Islam yang komprehensif. []

  
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke