Amanah
Ust. DR H. Suhairy Ilyas. MA
www.nurulyaqin.org
Thursday, 26 June 2008
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, (QS..4:58)
Amanah, Iman dan Aman adalah tiga kata yang berasal dari akar
kata yang sama, yaitu kata Amina. Pada umumnya kata-kata yang berasal dari
akar kata yang sama masing-masing mempunyai kedekatan makna, disamping juga
mempunyai korelasi makna. Demikian juga dengan kata-kata : Amanah, Iman dan
Aman.
Amanah artinya adalah sesuatu yang dititipkan atau dipercayakan kepada
seseorang. Iman artinya adalah kepercayaan atau keyakinan.. Aman adalah
sesuatu yang dipercayai atau diyakini tidak ada gangguan sedikitpun. Lawan
dari aman adalah ketakutan atau kekacauan karena ada yang mengacau atau
mengganggu.
Adapun korelasi diantara ketiganya itu adalah bahwa Amanah itu tidak
akan terlaksana tanpa Iman, hanya dengan landasan Iman lah amanah itu akan
terlaksana. Sedangkan Aman adalah hasil daripada Amanah yang berlandaskan
Iman. Dengan artikata Amanah yang diserahkan kepada orang yang beriman pasti
akan menimbulkan rasa aman.
Demikialah, Amanah itu akan menjamin rasa Aman : Bila suatu negeri
dipimpin oleh pemimpin yang beriman maka negeri itu pasti akan aman, itulah
yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khulafaurrasyidin yang penuh
amanah. Sebaliknya bila suatu negeri rakyatnya tidak merasa aman, salah satu
penyebabnya ialah karena pemimpin negeri itu yang tidak amanah alias
khianat. Kenapa terjadi korupsi besar-besaran disuatu negeri sehingga negeri
itu menjadi terancam bangkrut karena dililit hutang, dan rakyat terancam
kemiskinan yang menyedihkan ? Jawabnya karena hilangnya amanah dari pemimpin
negeri tersebut.
Karena itulah Rasulullah SAW. Pernah mengingatkan: “Idza dhuyi’atil
amanah fantazhirissa’ah” artinya : Bila disia-siakan amanah maka tunggulah
kehancuran!. Lalu sahabat bertanya: “Wakaifa idha’atuha?” Rasulullah
menjawab : “Idza wusidal amru ila khairi ahlihi fantazhirissa’ah!”. Bila
diserahkan suatu urusan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah
kehancuran! Maksudnya, bila diserahkan kepemimpinan kepada orang yang bukan
ahlinya, ahlinya disini bukan hanya ahli dalam hal ilmu atau managemen, tapi
pengertian ahli disini adalah orang yang memenuhi syarat, berhak dan pantas
untuk memikul tanggung jawab. Orang yang tidak amanah seharusnya tidak
berhak untuk jadi pemimpin atau memegang keuangan; bila diserahkan juga
kepemimpin kepada orang yang tidak amanah tentulah dia akan khianat dalam
kepemimpinannya.
Rasulullah SAW sebelum menjadi Rasul mendapatkan gelar kehormatan dari
masyarakat Arab waktu itu dengan “Al-Amin” karena dikenal oleh masyarakat
sebagai seorang yang sangat dipercaya dalam menjaga Amanah. Setelah beliau
menjadi Rasul, maka salah satu sifat yang wajib beliau miliki adalah sifat
Amanah. Dalam kenyataanya memang beliau seumur hidupnya sangat berpegang
teguh pada Amanah, baik amanah yang beliau terima dari Allah secara lansung
untuk menegakkan Islam, maupun amanah yang diberikan masyarakat kepada
beliau. Karena itulah kepemimpinan beliau berhasil dengan
gemilang-gemilang, beliau berhasil menciptakan rasa aman yang merata,
padahal beliau mendapati masyarakat jahiliyah dalam keadaan kacau balau,
jauh dari rasa aman. Waktu prosesi Hijrah ke Madinah.
Ali bin Abi Thalib selain diperintah Rasulullah untuk mengelabui
orang-orang kafir yang mengepung rumah beliau dengan tidur ditempat tidur
dan memakai selimut beliau; Ali juga diperintahkan Rasulullah untuk
mengembalikan kunci-kunci kedai dan gudang yang diamanahkan masyarakat Arab
pada beliau.
Dengan demikian dapat difahami bahwa Amanah merupakan
salah satu tanda orang yang beriman. Apabila seorang tidak dapat memegang
amanah suatu pertanda dia bukan orang yang beriman, tepatnya orang munafiq.
Karena itulah dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW. Bersabda (yang
artinya) : ”Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga : Bila berbicara bohong,
bila berjanji mungkir, bila diberi amanah dia khianat (HR.Bukhari Muslim
dari Ibnu Mas’ud). Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda orang
munafiq ialah tidak dapat memegang amanah atau khianat terhadap amanah..
Dalam kenyataannya memang orang-orang munafiq sangat sering mengkhianati
Rasulullah dan para sahabat..
Amanah akan mudah dikhianati bila yang memegang amanah
merasakan bahwa amanah yang dipegangnya itu adalah amanah dari atasannya
atau dari seseorang manusia, karena orang yang memberi amanah itu tidak
selalu bersama dia dan mengawasinya. Akan tetapi bila yang memegang amanah
menyadari sepenuhnya bahwa hakikat semua amanah itu adalah perintah Allah
SWT, kepada hamba-Nya (QS.4:58), maka amanah itu tidak akan mudah
dikhianati, karena dia merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasi amanah
yang diamanahkan kepadanya..Bila dia berhasil menjaga amanah tersebut, dia
yakin bahwa Allah akan ridha kepadanya, dan bila dia khianat pada amanah
tersebut, maka Allah akan murka kepadanya.
Seorang mukmin sangat takut mengkhianati amanah, karena
mengkhianati amanah berarti melunturkan iman, bahkan melunturkan agamanya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW Bersabda : “Addinu amanah, la diina liman
la amanita lahu” Agama itu adalah amanah, tidak ada agama bagi orang yang
tidak amanah.
[Non-text portions of this message have been removed]