Ekses Terapan Pancasila di Masa Orla dan Orba

SOEKARNO

Seberapa besar pengaruh pola pemikiran Zionis atau Freemasonry terhadap
penerapan Pancasila di Indonesia, buku ini akan memaparkannya secara jelas
dan lengkap. Namun sebelum itu, akan sangat bermanfaat apabila dalam
pengantar ini, kita ilustrasikan bagaimana penerapan idiologi Panca-sila
selama dua periode pemerintahan di Indonesia.
Di zaman orla, atas nama Pancasila, Ir. Soekarno diangkat menjadi presiden
seumur hidup. Kekua-saan negara diselenggarakan dengan menganut sistem
Demokrasi Terpimpin, yang kemudian ternyata melahirkan prinsip-prinsip yang
mere-duksi Islam, dan pada saat yang sama mendukung komunisme. Dari sinilah
lahirnya Nasakom (Nasio-nalisme, Komunisme dan Agama) sebagai aplikasi
idiologi Pancasila.
Selama 20 tahun rezim Soekarno berkuasa, Indonesia menjadi lahan yang subur
bagi golongan-golongan anti Islam; seperti Zionisme, Free-masonry,
Salibisme, komunisme,3) paganisme, sekularisme serta kelompok Yes Man.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang bersikap kritis, taat ber-agama, dan
bercita-cita membangun masyarakat berdasarkan agama, Indonesia ketika itu
bagaikan neraka. Mereka yang dipandang tidak loyal pada pemerintah, dituduh
kontra revolusi dan menjadi mangsa penjara.
Sebagai akibatnya, kezaliman politik, kerun-tuhan akhlak, kebencian antar
warga masyarakat, serta kebiadaban kelompok yang kuat dalam menindas yang
lemah menjadi trade merk pemerintah orde lama.
Dan akibat selanjutnya, sepanjang kurun waktu orde lama, tidak pernah sepi
dari perlawanan rakyat kepada pemerintah, dan pemberontakan daerah terhadap
penguasa pusat.4)

Penerapan idiologi Pancasila dari masa ke masa, dan pada setiap periode
pemerintahan yang berbeda-beda, selalu menimbulkan korban yang tidak kecil.
Pembunuhan demokrasi, pemerkosaan hak asasi manusia, adalah di antara
ekses-ekses negatif penerapan Pancasila oleh penguasa. Di negara Pancasila,
seseorang bisa dipenjara bertahun-tahun lamanya tanpa proses pengadilan
dengan tuduhan menentang Pancasila atau merongrong wibawa pemerintah yang
sah. Dan bila penguasa menghendaki, atas nama Pancasila, seseorang bisa
kehilangan hak-hak sipil maupun politiknya sampai batas waktu yang tidak
bisa ditentukan.
Dalam hal ini, termasuk *dosa politik rezim Soekarno terhadap rakyat
Indonesia adalah dicoret-nya tujuh kata dalam Piagam Jakarta (Jakarta
Charter), yaitu Kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya
**, **lalu menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.* Tujuh kalimat yang
dicoret secara sepihak itu, pada mulanya dinilai sebagai perjanjian moral
antara umat Islam dan non Islam. Selain pencoretan itu, pengkhianatan
pemimpin-pemimpin republik terhadap janjinya, telah menyulut api
pemberontakan dan menyebab-kan kepercayaan rakyat mulai luntur terhadap
kredibilitas pemimpin pusat.

Di antara bentuk pengkhianatan rezim orla terhadap janji yang diucapkan atas
nama peme-rintah Pancasila, dan hingga kini membawa akibat buruk bagi bangsa
Indonesia, adalah kasus pemberontakan Darul Islam pimpinan Tengku Muhammad
Daud Beureueh, tokoh ulama seluruh Aceh (PUSA) berserta para pengikutnya.
Peng-khianatan pemerintah orde lama itu, dengan jelas terlihat dalam dialog
antara Tengku Daud Beureueh dan presiden Soekarno. Bagian terakhir dari
dialog tersebut, selengkapnya adalah sebagai berikut:5)

Presiden:

" Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam
perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan
Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada
tanggal 17 Agustus 1945".

Daud Beureueh:

" Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat
memenuhi permintaan presiden, asal saja perang yang akan kami kobarkan itu
berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama
Allah, sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka
berarti mati syahid".

Presiden:

"Kakak! Memang yang saya maksud-kan adalah perang yang seperti telah
dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di
Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang
ber-semboyan *"merdeka atau syahid"*.

Daud Beureueh:

"Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan
demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang
telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan
syari'at Islam di dalam daerahnya".

Presiden:

"Mengenai hal itu kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia
beragama Islam".

Daud Beureueh :

"Maafkan saya Sudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu
tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami meng-inginkan suatu kata ketentuan
dari Saudara Presiden".

Presiden :

"Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan kakak itu".

Daud Beureueh :

"Alhamdulillah, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terimakasih banyak
atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, (sambil menyodorkan secarik
kertas kepada Soekarno) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas
kertas ini".

Mendengar ucapan Tengku Muhammad Daud Beureueh itu langsung Presiden
Soekarno me-nangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah
membasahi bajunya. Dalam keadaan terisak-isak Presiden Soekarno
berkata,"Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa
gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya".

Langsung saja Tengku Daud Beureueh men-jawab: "Bukan kami tidak percaya,
Saudara Presiden. Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami
perlihatkan pada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang".

Lantas Presiden Soekarno, sambil menyeka air matanya berkata,"Wallahi,
Billahi,6) kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah
tangganya sendiri sesuai dengan syari'at Islam. Dan Wallah, saya akan
pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat
melaksanakan syari'at Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah kakak masih
ragu-ragu juga ?"Dijawab oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh:"Saya tidak ragu
lagi Saudara Presiden. Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan
banyak terimakasih atas kebaikan hati Saudara Presiden".

Menurut keterangan Tengku Muhammad Daud Beureueh, oleh karena iba hatinya
melihat Presiden menangis terisak-isak, beliau tidak sampai hati lagi
meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno itu".

Dari dialog di atas, kita bisa maklum bahwa, secara historis, dari sejak
awal masyarakat Aceh ketika bergabung dengan Indonesia, menginginkan otonomi
dengan penerapan hukum Islam. Orang Aceh siap membantu pemerintah Indonesia
me-lawan Belanda, dengan suatu syarat, supaya syari'at Islam berlaku
sepenuhnya di Aceh. Atau dengan kata lain, masyarakat ingin di Aceh berlaku
syari'at Islam dalam bingkai negara Kesatuan RI.

Akan tetapi, meski Soekarno telah berjanji dengan berurai air mata, ternyata
ia ingkar dan tidak konsekuen terhadap ucapannya sendiri. Melihat kenyataan
ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata:"*Sudah
ratusan tahun syari'at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun
bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan
pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari'at Islam di Aceh. Maka sejak itu
lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh*.7)

Soekarno termasuk pengagum Kemal Attaturk, presiden Turki keturunan Yahudi,
yang paling lantang menolak keterlibatan agama dalam urusan politik dan
pemerintahan. Demikian ekstrim pendiriannya dalam urusan ini, sehingga ia
menghapus sistem kekhalifahan Islam di Turki, mengganti lafadz adzan yang
berbahasa Arab menjadi bahasa nasional Turki. Dia berkata:"Agama hanyalah
hubungan pribadi dengan Tuhan, sedang negara adalah milik bersama". Slogan
ini adalah salah satu racun kolonial, tetapi sampai sekarang angin beracun
ini masih berhembus kencang.

Maka sebagaimana Kemal Attaturk, dalam suatu pidatonya di Amuntai Kalimantan
Selatan, 1954, Soekarno juga pernah menyatakan tidak menyukai lahirnya
Negara Islam dari Republik Indonesia.

Mengapa Soekarno ingkar janji terhadap rakyat Aceh, dan menolak berlakunya
syari'at Islam? Menurut pengakuannya sendiri, Soekarno pernah dikader oleh
seorang Belanda keturunan Yahudi, bernama A. Baars. *"Saya mengaku, pada
waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama
A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya,"jangan berfaham kebangsaan,
tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia", katanya. Pengakuan ini
diungkapkan di hadapan sidang BPUPKI.*
Selanjutnya, dalam pidatonya itu, Soekarno juga menyatakan: "Tetapi pada
tahun 1918, alham-dulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, yaitu
Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People's
Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmo-politisme yang
diajarkan oleh A. Baars itu. Di dalam hati saya, sejak itu tertanamlah rasa
kebangsaan, oleh pengaruh buku tersebut".

Berdasarkan tela'ah dari berbagai karya tulis, pidato serta riwayat hidup
Bungkarno, kita menjadi paham, bahwa prinsip idiologi yang dikem-bangkannya
merupakan kombinasi dari paham kebangsaan dan mulhid, yaitu Nasionalisme dan
Komunisme. Kombinasi dari keduanya, kemudian melahirkan ajaran Bungkarno,
yang terkenal dengan Marhaenisme, akronim dari Marxisme, Hegel dan
Nasionalisme. Semua ini sangat berpengaruh terhadap aplikasi idiologi
Pancasila selama masa kekuasaannya.

Setelah berkuasa lebih dari 20 tahun lamanya, kekuasaan Soekarno akhirnya
runtuh, dan riwayat hidupnya berakhir nista, terpuruk dari singgasana
kekuasaan dan mati dalam keadaan sakit parah serta merana.

bersambung Insya Alloh...........


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke