Kapitalisme dan Krisis Global 

Rokhmin Dahuri 
Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/24/news_id/672
Pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, Selasa (15/7), bahwa ekonomi 
AS yang rapuh kini semakin tertekan akibat skandal kredit perumahan, gejolak 
pasar uang, dan naiknya pengangguran, menegaskan AS tengah dilanda resesi 
ekonomi.  Sejumlah lembaga keuangan (seperti Goldman Sachs, Bear Stearns, 
Fannie Mae, dan Freddie Mac) bangkrut.
 
Penurunan lapangan kerja pun terjadi. Kondisi ekonomi AS memburuk dengan 
anjloknya tingkat konsumsi akibat meroketnya harga minyak dan bahan pangan. 
Banyak pula lembaga perbankan dunia seperti Duetsche Bank, Barclays Bank, UBS, 
Mitsubishi UFJ, dan Mizuho, yang memiliki investasi surat berharga kredit 
perumahan AS kena getahnya dan merugi sangat besar.  Kekacauan ekonomi juga 
memicu aksi jual secara massif di bursa saham global sehingga membuat indeks 
harga saham mencapai angka terendah dalam setahun terakhir. 
 
Gonjang-ganjing perekonomian AS telah membuat investor dunia menghindari 
aset-aset dalam denominasi dolar AS. Kemudian, investor spekulan ini berlomba 
menginvestasikan dananya di bursa komoditas sehingga menyebabkan melambungnya 
harga minyak, komoditas pangan, dan inflasi dunia. Ini semua mengakibatkan 
pertumbuhan ekonomi dunia melemah dan angka pengangguran kian meningkat 
(stagflasi).
 
Guncangan yang menghantam perekonomian AS dan dunia membuktikan betapa labil 
sistem ekonomi ini. Sejak depresi besar pada 1930-an, warga dunia hampir tidak 
pernah bisa tidur lelap karena berulangnya krisis ekonomi global. Krisis minyak 
1970-an, the Black Monday Oktober 1987, dan krisis moneter Asia 1997.
 
Sayangnya, terapi untuk meredam guncangan yang terjadi di sektor finansial 
supaya tidak menjadi krisis ekonomi hanya mengobati gejalanya, belum 
menyembuhkan penyebab penyakit. Paket terapi populer, tetapi tidak menyentuh 
akar masalah adalah pengendalian suku bunga acuan bank sentral, penyuntikan 
dana ke sistem perbankan, atau pengendalian harga melalui peningkatan suplai 
serta distribusi barang dan jasa. Padahal, krisis ekonomi global masalahnya 
ditengarai berakar pada beberapa faktor. Pertama, cacat bawaan sistem ekonomi 
kapitalis yang jadi acuan dalam mengatur tata ekonomi dunia. Kedua, laju 
permintaan manusia akan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan melampui daya 
dukung bumi untuk menyediakannya.
 
Cacat bawaan kapitalisme
Sedikitnya ada tiga kekeliruan paradigmatik ekonomi kapitalis yang tak mungkin 
lepas dari lingkaran setan krisis ekonomi. Pertama, tujuan ekonomi kapitalis 
bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga memuaskan keinginan 
manusia berupa kebutuhan sekunder dan tersier. Lain halnya dengan kebutuhan 
dasar, keinginan manusia yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai Illahiyah, 
sifatnya menjadi tak terbatas. Sementara itu, kapasitas alam dan teknologi 
dalam menghasilkan sejumlah alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia berupa 
barang dan jasa berbeda di setiap negara dan ada batasnya.
Di sinilah ekonomi kapitalis terkena batu sandungan pertama karena memandang 
kelangkaan alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia sebagai masalah pokok 
ekonomi. Padahal, sejatinya masalah ekonomi terletak pada distribusi alat 
pemuas di antara warga dunia yang selama ini tidak adil.
 
Para kapitalis hanya mengutamakan kepentingan individu atau kelompoknya dengan 
menindas pihak lain yang lemah. Filosofi hidup inilah yang mendasari perilaku 
liar, curang, dan jahat para investor keuangan dan korporasi multinasional AS, 
Eropa, dan negara-negara kapitalis lainnya (Soros, 2008).
 
Kedua, kehidupan kapitalisme modern digerakkan secara dominan oleh ekonomi 
berbasis sektor keuangan, bukan ekonomi berbasis sektor riil. Karena itu, 
keuntungan ekonomi diperoleh bukan dari aktivitas investasi dan usaha produktif 
dengan menghasilkan berbagai barang dan jasa, tetapi investasi spekulatif dan 
transaksi derivatif berisiko tinggi.
Dengan kata lain, kapitalisme menangguk keuntungan bukan melalui kreativitas 
dan kerja keras, melainkan melalui kegiatan ekonomi nonriil. Tak heran 
pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan pun tidak berkualitas, hanya sedikit 
menyerap tenaga kerja, dan menguntungkan kelompok atas yang umumnya tinggal di 
perkotaan.
 
Dalam buaian ekonomi berbasis moneter inilah, kapitalisme tak mungkin lepas 
dari praktik bunga (riba). Padahal perbedaan tingkat suku bunga yang signifikan 
antar negara itulah yang membuat para pialang keuangan dengan seenaknya 
mengeruk keuntungan melalui investasi uang panas. Aliran uang panas dari satu 
negara ke negara lain dalam jumlah yang luar biasa besarnya dan berlangsung 
sangat cepat, selama ini menjadi biang kerok terjadinya kepanikan finansial 
yang acap kali berujung pada krisis ekonomi.
Kalau kita pertahankan BI ratepada level konservatif (8,5 persen), investor 
sektor riil enggan meminjam uang dari bank untuk investasi di sektor riil. 
Sebaliknya, bila kita turunkan tingkat suku bunga, uang panas tersebut akan 
secepat kilat keluar dari Indonesia. Konsekuensinya bisa memicu krisis ekonomi 
jilid kedua.
 
Data Moody¢s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades (2006) memperlihatkan 
realisasi kredit di AS menurun tajam sejak 1995 hingga 2005. Tak kurang dari 
500 miliar dolar AS obligasi berbasis bunga di Negeri Paman Sam kini tidak bisa 
dibayar.Ketiga, uang kertas yang menjadi basis ekonomi kapitalis sangat rapuh 
karena selalu terkena inflasi permanen. Uang kertas terdepresiasi akibat 
inflasi permanen. Uang kertas juga jauh dari keadilan, lantaran nilai 
intrinsiknya jauh lebih kecil ketimbang nilai nominalnya.
Kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan bagi warga dunia secara berkeadilan. 
Selama tiga dekade terakhir, situasinya malah memburuk. Lebih dari separuh 
penduduk dunia masih miskin dengan pendapatan kurang dari dua dolar AS per hari 
dan 1,2 miliar orang tergolong miskin absolut dengan pendapatan kurang dari 
satu dolar AS per hari.
Pada 1960 ada 20 persen warga dunia terkaya berpenghasilan 30 kali lipat lebih 
besar daripada total penghasilan 20 persen penduduk dunia yang termiskin. Pada 
2005 kesenjangan tersebut melebar menjadi  95 kali lipat (Sachs, 2006).
 
Krisis lingkungan
Falsafah kapitalisme yang menafikan eksistensi Tuhan membuat gaya hidup 
kapitalis sangat konsumtif dan hedonis. Diperlukan produksi barang dan jasa 
dalam jumlah yang sangat besar dan cepat. Keseluruhan proses produksi, 
distribusi, dan konsumsi barang dan jasa untuk memenuhi segenap kebutuhan dan 
keinginan memacu laju konversi ekosistem alam menjadi ekosistem buatan, 
eksploitasi sumber daya alam (SDA), dan pembuangan limbah. 
Biaya hidup dan ongkos produksi barang dan jasa menjadi lebih mahal di negara 
yang daya dukung lingkungannya telah terlewati. Ini karena untuk proses 
produksi dan pemenuhan kebutuhan dalam negerinya harus mengimpor berbagai 
material dari negara lain.
Kondisi semacam inilah yang sejak akhir 1980-an terjadi di negara industri 
maju. AS, misalnya, saat ini mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhan 
nasionalnya dari berbagai pelosok dunia. Karena inflasi terjadi ketika 
permintaan agregat terhadap barang lebih besar daripada pasokannya, krisis 
lingkungan (terkurasnya SDA dan buruknya kualitas lingkungan) di suatu negara 
juga menjadi penyebab inflasi dan krisis ekonomi.
Kini saatnya kita menggalang kerja sama mondial mencari sistem ekonomi 
alternatif yang mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi setiap warga 
dunia serta terpenuhinya kebutuhan sekunder dan tersier sesuai kemampuan dan 
upaya individual, daya dukung lingkungan, dan norma keadilan. Suatu sistem 
ekonomi yang bebas dari jebakan inflasi permanen sehingga mampu menyediakan 
mekanisme kerja sama ekonomi global yang saling menguntungkan dan berkeadilan 
bagi seluruh bangsa di dunia.
Dengan kekayaan alam melimpah, posisi geoekonomi yang strategis, dan jumlah 
penduduk terbesar keempat di dunia;
Ikhtisar:
- Sistem kapitalisme terbukti membawa dampak yang lebih buruk.
- Indonesia termasuk yang terjebak dalam sistem yang hanya menguntungkan 
sekelompok golongan.(-) 

"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi." (Muhammad SAW). 

kampusku 

Blogku



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke