Mustahiq yang Bukan Mustahiq

Posted by Abah Zacky as-Samarani


Kali ini saya ingin berbagi dengan antum, khususnya yang biasa terlibat
dalam dunia ZIS. Kadang-kadang yang bergelut dengan dunia ZIS menghadapi
berbagai persoalan yang gampang tetapi juga sulit. Sebagai ilustrasi, saya
kutipkan pengalaman yang dituangkan di dalam Siwaks dot net

Sandhi, ketua layanan social, Al-Sofwa, menerima tamu "mustahiq zakat" dan
menerima selembar surat keterangan kepolisian darinya. Dilihatnya sekilas
surat kepolisian yang menyatakan kehilangan dompetnya, dan dipandangnya
Bapak "mustahiq" itu. Lalu, Pak Sandhi pun mulai bertanya:

"Ngapunten, Bapak? Bapak Badhe Kondur dateng pundi, Pak?" Tanya Sandhi. "Ee,
heeh, Iya Pak…." Jawabnya. "Anu Pak, Bapak Badhe kondur teng pundi?" Sandhi
mengulang pertanyaannya. "Eeeh, iya, Pak." Jawabnya lagi. "Bapak, Asmanipun
sinten?" Tanya Sandhi lagi. "Anu, saya buruh tukang kayu." Katanya. Bapak
namanya siapa dan mau kemana?" Tanya Sandhi, akhirnya, dalam bahasa
Indonesia. "Anu Saya mau pulang ke Jogja, saya Gt." Jawabnya. Jawabannya
kali ini benar (Begitu terfikir dalam benak Sandhi).

Ini adalah salah satu percakapan antara petugas Alsofwa dengan "calon
mustahiq zakat" yang datang ke Al-Sofwa. Ia mengaku dari Jogja dan sudah
lama tinggal di sana, dan ia kini pengen kembali setelah beberapa hari di
Jakarta. Ada yang aneh dari pengakuan dan hasil percakapan yang kita
tangkap. Ia mengaku dari Jogja, namun tidak tahu sama sekali bahasa Jawa,
bahkan dalam percakapan selanjutnya, ia tidak tahu mau turun di stasiun apa
atau di terminal apa?

Kejadian yang lain adalah datangnya "calon mustahiq" yang mengaku muallaf.
Ia mengaku baru 3 bulan masuk Islam, dan berharap bantuan zakat. Setelah
ditanya-tanya tentang agama sebelumnya, pernak-pernik agama sebelumnya, ia
tidak bisa menjawab sama sekali. Padahal, jika benar ia baru 3 bulan Islam,
maka sudah pasti masih hafal dalam fikirannya apa saja yang ia yakini dan
amalkan di agamanya yang lalu.

Dan "calon mustahiq" lainnya yang datang dengan berbagai modus yang berbeda.
Intinya adalah tentang keamanahan dalam menyalurkan harta zakat tepat kepada
mustahiqnya. Sebab, dana zakat tidak hanya cukup dengan transparan dan
akuntabel namun juga harus tepat mustahiq. Untuk itulah, petugas zakat harus
bisa memastikan bahwa yang datang kepadanya adalah benar-benar mustahiq dan
bukan orang yang sedang "berperan" sebagai mustahiq. Allah berfirman:
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk para fakir, miskin, … dst. "Q.S.
At-Taubah: 60. (abm).

Peristiwa itu bukan saja terjadi di ibu kota NKRI (Negara Kufur Republik
Indonesia) ini. Lembaga-lembaga Zakat di daerah pun tak jarang menghadapi
persoalan serupa.

Setiap menjelang hari raya Fitri, lembaga kita selalu mendapatkan surat
permohonan zakat dari lembaga cacat dan lembaga veteran. Pertama kali hanya
satu surat, datang. Tentu dengan segala senang hati kita memberikan bagian
mereka. Tahun kedua, pemohon dengan nama tersebut meningkat, menjadi sekitar
lima lembaga dengan alamat yang berbeda-beda. Kita pun masih husnudhon, dan
memberikan "hak" mereka. Tahun selanjutnya mereka memberikan surat sekitar
20 buah. Kita coba kumpulkan surat-surat serupa. Dan secara tidak sengaja,
kita temukan ada beberapa surat dengan alamat berbeda, nama lembaga yang
berbeda, ketua berbeda, tetapi tanda tangannya sangat mirip.

Temuan itu langsung saja ditindaklanjuti. Langkah pertama diadakan
pengecekan terhadap alamat-alamat. Hasilnya, beberapa kantor sekretariat
yang dicek ternyata tidak ada. Karena di dalam setiap surat ada tanda tangan
dan cap stempel pemerintah desa, maka dilakukan konfirmasi ke pemerintah
desa setempat. Ternyata, stempel yang digunakan sanagt mirip tetapi ASPAL,
alias asli tetapi palsu. Dengan segala temuan tersebut membuat kita harus
beristighfar, dan selanjatnya ketika salah satu lembaga "musthiq" itu
datang, kita tanya alamatnya yang benar. Dia jawab, seperti yang tertuang di
surat. Tetapi ketika tanyakan, kebenarannya, dia cuma bilang "Maaf, pak.
Saya ini cuma disuruh". Untuk menghentikan itu, kita pun hanya bisa
mengancam, "Bapak telah berbohong kepada kami, dengan memalsukan berbagai
data. Sekali lagi datang ke sini, akan kami bawa ke Polisi".

Pernah juga kita kadatangan musafir dari dunia timur (masyriq) yang hendak
pergi ke Maghrib. Menurut cerita "mustahiq" ini, dia mendapatkan ujian yang
berupa kecopetan di dalam bus yang ditumpanginya. Atas dasar inilah dia
mencoba mendatangi lembaga zakat, barangkali bisa memberikan bantuan.
Menimbang bahwa musafir memang salah satu mustahiq yang ditetapkan oleh
al-Qur'an, kita sepakat untuk membantu. Agar tidak memungkinkan
disalahgunakan, kita membantu dengan membelikan tiket dan sekedar uang saku.

Setelah peristiwa itu, lalu ada saja orang yang datang dengan alasan
kehabisan uang, kecopetan dan lain-lain. Setidaknya, dalam sebulan ada
seorang yang datang untuk meminta bantuan. Mereka pun datang dengan surat
dari kepolisian, sehingga menghilangkan kecurigaan. Ketika ditanya juga
cukup lancar menjawab. Dari mana mau ke mana dan lain-lain semua dijawab
secara konsisiten.

Setelah beberapa kali mengurus persoalan seperti ini, petugas kita mulai
kenal dengan petugas stasiun. Saat itulah petugas stasiun menyampaikan kalau
orang-orang yang pernah dibelikan tiket itu nantinya tiket akan dijual
kepada orang lain, atau dikembalikan ke petugas tiket di stasiun.

Berdasarkan informasi itu, kita putuskan tidak memberikan tiket kecuali
setelah "mustahiq" itu ada di atas kereta dan kereta siap berangkat. Dengan
cara seperti ini, mustahiq itu mulai gelisah dan beberapa kali menanyakan,
mana tiketnya? Ketika kita ditanya, nanti akan kita berikan tiketnya. Entah
karena apa, ketika kereta mulai tampak di kejauhan "mustahiq" itu bilang
akan ke wc dulu. "OK, kita tunggu di sini" jawab kami.
Eh, sampai kereta berangkat, "mustahiq" itu tak kunjung datang. Tahulah
kita, ternyata dia telah melarikan diri. Dengan cerita-cerita ini, para
pengelola zakat hendaklah bisa mengambil pelajaran, agar dalam pengelolaan
zakat bisa lebih amanah.


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke