Sinopsis Film Sang Murabbi

Posted: 26 Jul 2008 10:11 PM CDT
http://feeds.feedburner.com/~r/duniapks/~3/347105072/sinopsis-film-sang-murabbi.html

Sinopsis
Film ini berkisah tentang perjalanan dakwah Ustadz Rahmat Abdullah. Berawal 
dari persepsi positif Ustadz Rahmat muda tentang profesi guru, yang merupakan 
rekfleksi cita-citanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali 
ditanya orang, apa cita-citanya, ia akan menjawab dengan mantap: menjadi guru!

Persepsi itu kemudian menjadi elan vital yang menggerakkan seluruh energi hidup 
Ustadz Rahmat, ketika ia menimba ilmu di pesantren Asy Syafiiyah di bawah 
asuhan KH Abdullah Syafii. Bakat besar dan pemikirannya yang brilian, 
menjadikan Ustadz Rahmat dikagumi oleh setiap orang, terutama gurunya, KH 
Abdullah Syafii, yang menjadikan Ustad Rahmat muda sebagai murid kesayangannya.

Ustadz Rahmat muda mulai merintis kariernya sebagai guru selulus dari Asy 
Syafiiyah. Selain di almamaternya, ia juga mengajar di sekolah dasar Islam 
lainnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan karier yang dipilihnya 
itu kemudian mempertemukannya dengan guru keduanya, Ustadz Bakir Said Abduh 
yang mengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI). Melalui ustadz lulusan pergururan 
tinggi di Mesir itu, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama 
Ikhwanul Muslimin, salah satunya adalah buku Da'watuna (Hasan Al-Bana) yang 
kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka 
Amanah).

Situasi ini, membuat potensi bakat Ustadz Rahmat Abdullah melejit dengan 
banyaknya referensi bacaan yang ia konsumsi, mulai dari kitab Arab klasik yang 
sudah sulit dicari, sampai buku-buku sastra dan budaya. Ia pun dikenal sebagai 
dai yang lengkap, karena tidak cuma menguasai ilmu-ilmu Islam yang "standard" 
tetapi juga persoalan-persoalan kontemporer.

Potret paripurna kedaian Ustadz Rahmat terlihat ketika ia membina para pemuda 
di lingkungan rumahnya di kawasan Kuningan. Ustadz Rahmat menggunakan 
pendekatan yang masih sangat langka di kalangan dai, yaitu dengan grup teater 
yang didirikannya. Para pemuda itu diasuhnya dalam organisasi bernama Pemuda 
Raudhatul Falah (PARAF) yang menghidupkan masjid Raudhatul Falah di bilangan 
Kuningan dengan kegiatan-kegiatan keislaman.

Pementasan grup teater binaan Ustadz Rahmat muda itu mendapat sambutan yang 
baik dari masyarakat. Salah satunya adalah pementasan berjudul Perang Yarmuk. 
Pada pementasan inilah, Ustadz Rahmat dan para pemuda PARAF harus berhadapan 
dengan aparat yang mencoba membubarkan pementasan.

Akibat pementasan itu, Ustadz Rahmat dikenai wajib lapor. Tapi, hingga hari 
ini, Ustadz Rahmat tidak pernah mau meladeni aturan yang menindas kebebasan itu.

"Saya tidak akan pernah datang ke kantor kalian," kata Ustadz Rahmat kepada 
Suryo, seorang aparat yang bertugas menyatroninya. "Kalau ibu saya yang 
memanggil, baru saya mau datang."

Keteguhan pada prinsip dan ketegasan sikapnya itulah yang membuat Suryo ngeper. 
Hingga bertahun kemudian keteguhan dan ketegasan itu tetap terpelihara dengan 
baik, meski Almarhum harus terlibat dalam wasilah (sarana) dakwah bernama 
partai. Ia tetap dikenal sebagai guru ngaji, inspirator kaum muda yang 
progresif dan berpikiran jauh ke depan. Undangan daurah satu ke daurah yang 
lain tetap disambanginya. Tak ada yang berubah, termasuk ciri khas yang menjadi 
warisan dari kedua orang tuanya yang mulia: kesederhanaan.

Ustadz Rahmat memang berada di jenjang tertinggi partai, serta terpilih pula 
sebagai wakil rakyat di DPR pusat. Namun, ia kerap dipergoki sedang menyetop 
bus kota untuk mendatangi sebuah undangan. Ia kerap terlihat jalan kaki untuk 
jarak yang cukup jauh. Tak ada yang berubah, karena ia sadar betul bahwa 
langkah itulah yang dimulainya dulu sebagai permulaan di jalan dakwah.

Hingga akhirnya, di sebuah hari yang sibuk dan berat, Ustadz Rahmat merasakah 
tanda-tanda kesehatannya terganggu. Namun, rasa tanggung jawabnya yang besar 
terhadap amanah dakwah, membuat ia tak begitu mempedulikan tanda-tanda itu.

Ia masih terlibat dalam sebuah syuro penting. Lalu, saat adzan berkumandang dan 
ia beranjak untuk memenuhi panggilan suci itu, ia berjalan ke tempat wudhu. 
Saat berwudhu, tanda-tanda itu makin kuat, menelikung pembuluh darah di bagian 
lehernya. Ia coba untuk menyempurnakan wudhunya, tapi rasa sakit yang 
merejam-rejam kepalanya membuatnya limbung.

Disaksikan oleh Ustadz Mahfudzi, salah seorang muridnya, Ustadz Rahmat nyaris 
terjatuh. Ustadz Mahfudzi cepat memapahnya, lalu mencoba menyelamatkan situasi. 
Tetapi Allah lebih sayang kepada Ustadz Rahmat Abdullah. Innalillahi wa 
innailaihi raaji'uun...Syaikhut Tarbiyah itu meninggalkan kita dengan senyum 
yang amat tulus...hujan air mata dari seluruh pelosok tempat mengiringi 
kepulangan beliau.
-------

Info lengkap film Sang Murabbi bisa dilihat di situs resminya: 
http://www.sangmurabbi.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke