Mudahan berguna
==================
Sikap Tidak Peduli
Oleh : Redaksi29 Jul 2008 - 2:30 am
Oleh Adian Husaini
Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold
Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and
socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest
danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim –baik secara individual maupun sosial
– terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari
eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit
pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil
ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut
oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in
its very essence).
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim –baik secara individual maupun sosial
– terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari
eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit
pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil
ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut
oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in
its very essence).
Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita
melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada
generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik
menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan
unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih
dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi
upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa
peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur,
ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A
memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking
tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada
majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka,
semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan
pornografi, tetapi ekspresi seni.
Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam
kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa
tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar
dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di
Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi
untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk
mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.
Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita
Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa?
Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara
Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?
Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang
menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang
sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa
ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini
memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan
besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu
kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu
dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut
dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang
melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes
tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur
homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetapi, protes itu pun dianggap angin lalu.
Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak,
hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang
penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar
tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai
angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting,
acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral
atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak.
Tidak peduli!
Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan
akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau
peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh.
Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan.
Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!
Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr
Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu.
Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja
paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita
tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan
kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali
kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan
mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak
peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan
perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak
peduli!
Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini,
baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan?
Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia
disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya,
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan
perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan
ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut
cendekiawan atau ulama?
Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan
kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal
yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka
tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi
dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau
kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu!
Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka
peduli.
Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab,
dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah
keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan
rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan
Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan
Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas,
bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar
ma’ruf nahi munkar.
Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar
kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum
Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih
adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan
pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak.
Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang
pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam
pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.
Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang
marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais
dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi
pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak
sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi
fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok
atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak
mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan
kelompoknya tidak jatuh martabat.
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali
tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa
diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu
tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru
bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin
sendiri.
Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus
Dur.” Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa :
”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi
masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang
demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan
yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki
perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.”
Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh
Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan
oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini.
Aqiel mengisahkan, bahwa :
Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui
seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”.
Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali
yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang
tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap sosok
waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri
dan Allah.”
Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini,
baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan?
Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia
disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya,
apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan
perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan
ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut
cendekiawan atau ulama?
Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan
kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal
yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka
tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi
dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau
kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu!
Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka
peduli.
Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab,
dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah
keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan
rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan
Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan
Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas,
bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar
ma’ruf nahi munkar.
Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar
kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum
Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih
adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan
pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak.
Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang
pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam
pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.
Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang
marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais
dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi
pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak
sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi
fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok
atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak
mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan
kelompoknya tidak jatuh martabat.
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali
tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa
diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu
tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru
bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin
sendiri.
Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus
Dur.” Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa
”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi
masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang
demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan
yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki
perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.”
Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh
Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan
oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini.
Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu
ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya
seorang ”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu
adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan
oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil
menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui
oleh diri sendiri dan Allah.”
Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang
waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu.
Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku
ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas
yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok
Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.
Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal
tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad
Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai
makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas
oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak
berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan
industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi
Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi Israel
atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon Peres?
Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan
yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan.
Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan
Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti
merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul ”9 Alasan Mengapa Kiai-kiai
tidak (lagi) bersama Gus Dur.”
Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah
Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa
yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan
mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun
demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau
menanggung dosa-dosa kita.
Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi
munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu
dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw,
barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia
bukan bagian dari umat Islam. Wallahu a’lam. [Depok, 21 Rajab 1429 H/24 Juli
2008/www.hidayatullah.com]