Apakah anda siap menerima fakta-fakta tentang Israel?

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/03/fakta-kejahatan-negara-israel/

oleh Paul Craig Roberts

(Antiwar.com; Jumat, 25 July 2008) 


Pada tanggal 21 Oktober (1948) Pemerintah Israel mengambil keputusan untuk 
melakukan tindakan yang mengakibatkan efek abadi dan memecah belah atas hak-hak 
dan status orang Orab yang tinggal di perbatasan yakni dengan dibangunnya 
secara resmi pemerintahan militer di wilayah dimana kebanyakan penduduknya 
adalah orang Arab.” - Martin Gilbert, Israel: A History 

Saya merasa putus asa melihat orang Amerika yang katanya memiliki nurani moral 
dan keberanian untuk melawan kekerasan dan hampir saja menjauhkan diri dari 
papan ketik sampai suatu hari saya bertemu dengan Pendeta. Thomas L. Are.

Sang pendeta itu adalah seorang pastor Presbiterian yang dulu biasa memberikan 
ceramah di depan jemaahnya di Atlanta, Georgia dengan berkata:” Saya adalah 
seorang Zionis.” Seperti kebanyakan orang Amerika, Pendeta Are telah terbujuk 
oleh propaganda Israel dan ikut menyebarkan propaganda itu kepada jemaahnya.

Sekitar tahun 1990, Pendeta Are mengalami kebangkitan dimana dia merasa 
berhutang pada seorang Kristen Kanon dari Katedral Saint George di Jerusalem 
dan pengarang Marc Ellis, seorang co-editor pada buku yang berjudul Beyond 
Occupation (Di Balik Pendudukan).

Menyadari bahwa ketidakpedulannya pada situasi membuatnya ikut merasa terlibat 
pada suatu tindakan kriminal, Pendeta Are menulis sebuah buku engan berharap 
dapat menolong orang lain dari kesalahannya dan mungkin saja dapat membayar 
kesalahannya. Bukunya itu berjudul Israeli Peace/Palestinian Justice,(Keadilan 
Perdamaian Israel-Palestina) yang diterbitkan di Kanada tahun 1994. 

Pendeta Are melakukan riset mengenai topik bahasannya itu dan menulis sebuah 
buku yang berani. Ingatlah bahwa sebelum tahun 1994 sebelumnya terbit buku yang 
terbaru dari Walt dan Mearsheimer , yang menyorot kekuatan Lobby Israel dan 
kemampuannya untuk mengkontrol penjelasan pada apa yang harus diterima oleh 
orang Amerika mengenai “Konflik Israel-Palestina.” 

Pendeta Are memulai penjelasannya dengan serangan terbuka yang dilakukan Israel 
pada bangsa Palestina, suatu peristiwa yang terjadi sebelum kebanyakan orang 
Amerika yang hidup pada saat ini dilahirkan. Dia mengutip seorang ahli 
sejarawan terkemuka dari Inggris, Arnold J. Toynbee: “Perlakuan yang diterima 
oleh penduduk Arab Palestina tahun 1947 (dan 1948) secara moral adalah tidak 
bisa diterima sebagaimana terjadinya pembantaian atas enam juta orang Yahudi 
oleh Nazi. Walaupun secara kuantitas hal itu tidak bisa dibandingkan dengan 
tindakan kriminal yang dilakukan oleh Nazi, tapi secara kualitas bisa 
dibandingkan.”

Golda Meir, yang dianggap oleh orang Israel sebagai seorang pemimpin yang besar 
sementara orang lain menganggapnya sebagai salah seorang pembunuh besar dalam 
sejarah, mengkesampingkan fakta-fakta itu: “Seolah-olah tidak ada orang 
Palestina di Palestina dan kami datang dan melempar mereka keluar dan merampas 
negara mereka. Mereka sama sekali tidak ada..”

Permintaan maaf Golda Meir pada tindakan kriminal Israel adalah sangat 
bertentangan dengan fakta sehingga berlawanan dengan akan sehat : Bangsa 
Palestina dan orang-orang keturunannya yang kota-kota, desa-desa, rumah-rumah, 
dan tanah-tanahnya dirampas oleh Israel tahun 1948. Pendeta Are memberikan para 
pembacanya gambaran yang dialami oleh Na’im Ateek atas apa yang terjadi pada 
dirinya, seorang anak berusia 11 tahun, ketika orang-orang Yahudi datang ke 
Beisan pada tanggal 12 May, 1948. Ketika itu seluruh penduduk Palestina lenyap 
begitu saja.

Tahun 1949 PBB menghitung ada 711,000 pengungsi Palestina.

Tahun 2005 Badan Bantuan PBB (United Nations Relief and Works) memperkirakan 
sekitar 4.25 juta penduduk Palestina dan keturunannya menjadi pengungsi di 
tanah air mereka sendiri.

Kebijakan Israel yang mengusir penduduk non-Yahudi berlanjut terus selama enam 
decade. Pada tanggal 19 Juni, 2008, Komite Laity di Tanah Suci melaporkan bahwa 
di Window ke Palestina bahwa Menteri Dalam Negeri Israel merampas hak bertempat 
tinggal atas penduduk Kristen Jerusalem yang telah diklasifikasikan sebagai 
“pengunjung atas kota mereka sendiri.” 

Pada tanggal 10 Desember , 2007, MK Ephraim Sneh sesumbar di harian Jerusalem 
Post bahwa Israel telah mencapai apa yang disebut sebagai “kemangan kaum Zionis 
yang sebenarnya” atas rencana pembagian yang dibuat PBB “yang ingin mendirikan 
dua negara di tanah milik Israel.” Rencana pembagian ini telah memberikan 
Israel 56 persen tanah Palestina, dan hanya meninggalkan 44 persen bagi 
penduduk setempat. Tapi Israel terus mengubah-ubah hal ini. Sneh dengan bangga 
menyatakan: “Ketika kami menyelesaikan persetujuan yang permanen, kami akan 
mendapatkan 78 persen tanah sementara orang Palestina hanya akan mendapat 22 
persen saja.”

Sneb sebenarnya dapat menambahkan bahwa 22 persen itu hanyalah sekumpulan 
kampung-kampung yang tidak berhubungan karena terpisah satu sama lain oleh 
jalan, air, perawatan medis, dan pekerjaan.

Pendeta Are membuktikan pelanggaran HAM atas penduduk Palestina adalah secara 
resmi merupakan kebijakan Israeli. Pembunuhan, penyiksaan, dan pemukulan 
menjadi hal yang rutin. Pada tanggal 17 Mei, 1990, Koran Washington Post 
melaporkan bahwa “Save the Children ” menunjukkan pemukulan yang dilakukan 
secara serampangan, penyemprotan dengan gas air mata dan penembakan atas 
anak-anak yang dilakukan di rumah atau di luar rumah ketika mereka sedang 
bermain di jalan, atau ketika mereka sedang duduk di ruang kelas dan pergi ke 
toko.”

Tanggal 19 Januari, 1988, Menteri Pertahanan Israel Yitzhak Rabin, mantan 
Perdana Menteri, mengumumkan kebijakan “hukuman dengan pemukulan” atas orang 
Palestina. Orang Israel menggambarkan tujuan hukuman dengan pemukulan ini 
sebagai berikut:: “Tugas kami adalah untuk menciptakan jurang pemisah dan 
sekali lagi menebarkan ketakutan atas orang Arab di wilayah itu.”

Menurut Save the Children, pemukulan atas anak-anak dan wanita adalah hal yang 
biasa. Pendeta Are, dengan mengutip laporan di Koran Washington Post, menulis: 
“Save the Children menyimpulkan bahwa sepertiga anak-anak yang dipukuli adalah 
anak-anak yang berusia dibawah lima tahun. Hampir sepertiga anak-anak yang 
dipukuli itu menderita patah tulang.”

Tanggal 8 February, 1988, majalah Newsweek mengutip ucapan seorang serdadu an 
Israel: “Kami mendapatkan perintah untuk mengetuk setiap pintu rumah, untuk 
masuk dan membawa pergi kaum lak-lakinya. Orang-orang yang lebih muda usianya 
kami perintahkan untuk berbaris dengan tangan dihadapkan ke tembok, dan para 
serdadu memukuli mereka di bagian perut dengan tongkat pemukul. Hal ini 
bukanlah inisiatif perseorangan, hal ini adalah perintah dari komandan kami…. 
Setelah seorang serdadu selesai memukuli seorang tawanan, serdadu lainnya akan 
berteriak padanya ‘kamu Nazi,’ dan orang yang pertama akan menyahutinya. Ketika 
seorang serdadu mencoba untuk menghentikan pemukulan atas orang Arab itu, 
perkelahian pun pecah”

Itu adalah hari-hari sebelum rasa belas kasihan dicabut dari jajaran militer 
Israel.

Pada tanggal 19 Juni 1977, di Koran London Sunday Times, Ralph Schoenman, 
executive director dari Yayasan Bertrand Russell, menulis: “interogator Israel 
secara rutin memperlakukan dengan kasar dan menyiksa para tawanan Arab. Para 
tawanan ditutup kepalanya dan matanya dan kemudian digantung dipergelangan 
tangannya untuk waktu yang lama. Kebanyakan dipukuli dibagian alat kelaminnya 
atau bagian lain untuk menyiksa secara seksual. Kebanyakan dari mereka juga 
diserang secara seksual. Sementara yang lainnya diberi sengatan listrik.”

Amnesty International menyimpulkan bahwa “tidak ada negara di dunia dimana 
penggunaan cara penyiksaan secara resmi yang berkelanjutan dilakukan sedemikian 
mapan dan mendapat dukungan sebagaimana kasus yang terjadi di Israel.”

Bahkan Koran yang pro-Israel Washington Post melaporkan: “Setelah ditahan, 
seorang tawanan mengalami masa kelaparan, kurang tidur yang dilakukan dengan 
metode-metode yang terorganisir dan memperpanjangnya dimana tawanan tadi 
diperintahkan untuk berdiri dengan tangan terbelenggu dan terangkat ke atas, 
selembar sarung sementara selembar karung yang kotor menutupi kepalanya. Para 
tawanan kemudian diseret ke tanah, dipukuli dengan benda-benda, ditendang, 
ditelanjangi dan ditempatkan dibawah pancuran dengan air sedingin es.”

Hal ini seperti yang terjadi di Abu Gharib. Ada laporan-laporan dimana para 
ahli penyiksaan Israel itu ikut serta dalam penyiksaan para tawanan yang 
dirancang oleh militer Amerika sebagai bagian dari propaganda pemerintah Bush 
untuk meyakinkan orang Amerika bahwa Irak dipenuhi oleh teroris al-Qaeda. 
Tanggal 23 July 23, 2008, Antiwar.com memposting sebuah berita dari Iraq yang 
melaporkan bahwa pemerintah Iraq telah melepaskan total tawanan sebanyak 
109,087 orang Irak yang telah “ditahan.” Oleh Amerika. Jelasnya, “para tawanan 
teroris” ini telah dipergunakan bagi kepentingan propaganda Rejim Bush. Tidak 
seorangpupn yang pernah tahu berapa banyak dari mereka yang telah disiksa oleh 
para penyiksa Israel yang diimpor oleh CIA.

Buku tulisan Pendeta Are memberikan gambaran yang masuk akal bagi penyelesaian 
konflik yang telah dimulai oleh Israel. Namun, masalahnya adalah bahwa 
pemerintah Israel hanya mengerti kekerasan. Kebijakan pemerintah Israel hanya 
akan selalu berupa pemukulan, pembunuhanm dan melakukan tindakan brutal atas 
orang Palestina hingga mereka tunduk dan mengungsi. Siapapun yang meragukan 
akan hal ini dapat membaca sebuah buku yang dikarang oleh seorang sejarawan 
terkemuka Israel Ilan Pappe, The Ethnic Cleansing of Palestine (Pembasmian 
Etnis Palestina )(2006) 

Orang Amerika adalah orang yang mudah ditipu dan naif. Mereka tidak percaya 
akan tindakan kriminal yang dilakukan Israel selama 60 tahun yang dalam 
kata-kata Arnold Toynbee digambarkan sebagai “tidak ada bandingannya dalam hal 
kualitas ” dengan tindakan kriminal oleh Nazi Jerman. Karena Toynbee menulis 
hal itu beberapa decade yang lalu, tindakan kriminal Israel telah menumpuk dan 
mungkin sekarang juga bisa dibandingkan dalam hal kuantitas. 

Amerika secara rutin memveto tindakan mengutuk PBB atas Israel karena tindakan 
kriminalnya yang brutal terhadap rakyat Palestina. Para pembayar pajak Amerika 
yang masa bodoh berlmuran darah selama setengah abad karena memberikan Israel 
dengan senjata milter yang canggih dimana negeri itu menyerang negara-negara 
tetangganya, sementara terus meyakinkan Amerika – yang pada dasarnya adalah 
negara yang tawanan – bahwa Israel adalah korban.

John F. Mahoney menulis: “Thomas Are mengingatkan akan Dietrich Bonhoeffer: 
seorang pastor yang aktif yang datang untuk meyakinkan bahwa dia dan para 
pendukungnya telah dicekoki dengan kedustaan bahwa pembunuhan dan penyiksaan 
ribuan orang laki-laki, wanita dan anak-anak. Karena tidak melakukan riset yang 
cukup pastor semacam Bonhoeffer hanya akan menganggu jemaahnya. Pendeta Are 
telah mengerjakan pekerjaan rumahnya dan, menurut saya, telah sering dan lama 
berdoa selama dia menulis buku yang berani itu.”

Bonhoeffer adalah seorang teolog Lutheran dan pastor yang telah dieksekusi 
karena partisipasi aktifnya dalam Kelompok Perlawanan Jerman melawan Nazi.

Professor Benjamin M. Weir, dari Seminari Teologi San Francisco, menulis: “Buku 
ini akan membuat pembacanya berontak. Buku itu menyeru anda untuk memberikan 
suara atas nama orang-orang yang tidak bisa bersuara.” 

Orang Amerika yang tidak dapat lagi berpikir buat diri mereka sendiri anda yang 
takut ditolak oleh kelompok-kelompok mereka menjadi tidak mampu untuk 
memberikan suaranya kepada siapapun kecuali mereka yang mengkontrol propaganda 
dunia di tempat dimana mereka tinggal. 

Orang Amerika yang tidak peduli dan tidak perhatian menjadi frustasi besar atas 
teman-teman saya di gerakan perdamaian Israel. Tanpa dukungan dari luar, 
orang-orang Israel yang percaya bahwa kebaikan akan menguap, karena dukungan 
Amerika bagi kebijakan pemerintahnya yang memakai kekerasan, atas segala 
resolusi damai atas konflik yang dimulai tahun 1947 oleh agresi Israeli atas 
penduduk Palestina.

Pendeta Are menulis bukunya itu dengan harapan untuk menjadikan pena nya 
menjadi lebih ditakuti daripada pedang nya dan bahwa kenyataan-kenyataan dapat 
memenuhi propaganda dan menciptakan sebuah kerangka kerja hanya bagi sebuah 
resolusi atas isu Palestina. Dalam bab penutupnya, “Apa yang tidak dapat 
dilakukan oleh orang Kristen,” Pendeta Are menulis: “Kami tidak dapat 
membiarkan orang lain untuk mendikte cara berpikir kita atas masalah apapun, 
khususnya atas sesuatu yang sama pentingnya seperti keimanan Kristiani, yang 
diuji oleh tindakan untuk mencari keadilan bagi orang-orang tertindas. Hal ini 
adalah tugas orang-orang Kristen untuk mengetahuinya.”

Kewajiban, tentu saja, ada harganya. Pendeta Are menulis: “Suarakan opini anda 
bagi bangsa Palestina dan anda akan mendapat banyak musuh. Namun, sebagai 
seorang Kristen, kita harus bersedia untuk mengangkat isu-isu ini yang hingga 
sekarang kita pilih untuk hindari .”

Lebih dari satu decade kemudian, Presiden Jimmy Carter, seorang sahabat 
terpercaya orang Israel, mencoba untuk membangkitkan nurani moral orang Amerika 
dengan bukunya, Palestine: Peace Not Apartheid (Palestina: Perdamaian Bukan 
Apartheid). Langsung saja Carter mendapat mendapat kecaman dari Lobi Israel. 

Enam puluh tahun usaha yang baik dan manusiawi untuk menjadikan Israel untuk 
bertanggung jawab sejauh ini telah gagal, tapi usaha-usaha semacam itu lebih 
penting pada hari ini daripada sebelumnya. Israel telah memiliki tawanannya 
yakni negara Amerika untuk melakukan serangan atas Iran, yang akibatnya 
merupakan kehancuran bagi semua orang yang peduli. Tujuan yang dikehendaki 
adalah untuk menghapus senjata-senjata nuklir Iran. Alasan yang sebenarnya 
adalah untuk menghilangkan segala dukungan bagi Hamas dan Hezbollah sehingga 
Israel dapat mencaplok seluruh Tepi Barat dan Libanon Selatan. Rezim Bush 
bernafsu untuk melakukan tawar menawar dengan Israel, dan media beserta 
gereja-gereka evangelis “Kristen” telah mempersiapkan orang-orang Amerika bagi 
peristiwa semacam itu. 

Adalah hal yang bertentangan jika Israel mempertunjukkan kepalsuan bukan pada 
keyakinan Kristen akan maksud baik tapi dalam doktrin Lenin bahwa kekerasan 
adalah tindakan efektif dalam sejarah dan bahwa gereja-gereja Zionis Kristen 
setuju akan hal itu. 






      

Kirim email ke