----- Original Message ----- 
From: Adi Wisaksono
Sent: Monday, August 04, 2008 7:55 PM
Subject: Artikel Brown Energy - Joko Sutrisno






---------- Forwarded message ----------
From: Wahyu IP



Nek iki po yo do ra percoyo, ayo priyayi Ngayoja, buktiken:

Artikel Brown Energy - Joko Sutrisno

 

Artikel yg menarik tentang Brown Energy.


Sumber :
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/30/Personal/per01.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Joko Sutrisno 
Menawarkan Alternatif Irit BBM


Setiap hari puluhan mobil dan motor antre di rumah Joko Sutrisno (50) di Jalan 
HOS Cokroaminoto Yogyakarta. Pemilik mobil dan motor itu mengantre untuk 
menjajal alat sederhana yang dikembangkan lelaki paruh baya itu, generator 
hidrogen, yang diklaim mampu menghemat 40 persen sampai 50 persen konsumsi 
bahan bakar.

Pada masa-masa seperti sekarang ini, setelah pemerintah menaikkan harga bahan 
bakar minyak, usaha apa pun akan ditempuh banyak orang untuk mengurangi 
pengeluaran. Upaya yang dilakukan Joko Sutrisno tentu menarik perhatian, ibarat 
"pengobatan alternatif" ketika biaya tindakan medis mencekik leher. Apalagi 
Joko tidak mematok biaya tinggi bagi pemasangan generator hidrogen karyanya. 
Konsumennya cukup membayar Rp 75 ribu untuk motor dan Rp 150 ribu untuk mobil.

Joko sendiri menegaskan teknologi karyanya itu bukanlah teknologi baru. Pada 
sekitar abad ke-18, Badan Antariksa Amerika (NASA) sudah menggunakan energi 
hidro untuk meluncurkan roket.

Apa yang dilakukannya tak lebih sama dengan yang dilakukan Joko Suprapto 
pencipta Blue Energy dari Jawa Timur dan "Banyugeni" yang dikembangkan 
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Bedanya, Joko Sutrisno bukanlah sosok "misterius" seperti Joko Suprapto. Bahkan 
pada saat tim peneliti dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) 
UMY sedang sibuk dengan proses hak paten teknologi Banyugeni atau Hidro-Kerosin 
dengan merek BanyugeniTM, Joko dengan enteng mengatakan tak mau berurusan 
dengan mekanisme hak paten. "Nanti malah paten-patenan," ujarnya bergurau. 
Dalam bahasa Jawa, kata-kata yang diucapkannya terakhir itu berarti saling 
bunuh.

"Yang pusing soal BBM ini orang kecil. Masak mereka yang datang kepada saya 
harus berhadapan dengan UU kepatenan. Semua boleh datang, belajar, dan pasang 
bareng-bareng. Semakin banyak orang menguasai, saya makin senang," katanya.

Apa sebenarnya alat yang dikembangkan bapak tiga anak, buah kasihnya dengan 
Maria Yacinta Melati (48) itu? Generator hidrogen yang dikembangkannya itu 
berupa sebuah tabung electrolyzer plastik berisi air murni atau aquades, 
dilengkapi dengan elektrode (berbahan stainless steel) dan diode atau relay 
(pada mobil), difungsikan sebagai pengubah molekul hidrogen menjadi energi.

Melalui proses elektrolisis pengatur tekanan menuju manifold (keran plastik), 
sistem pembakaran mesin akan mendekati sempurna. 

Tenaga mobil atau motor bahkan genset, meningkat. Mesin menjadi lebih halus, 
emisi gas buangnya minim. 

Alat itu bukan bertujuan untuk membuat irit bahan bakar, melainkan justru 
dijadikan bahan mengganti premium maupun solar. Ke depan, Joko Sutrisno akan 
memaksimalkan penggunaan air, sehingga motor akan 100 persen melaju dengan 
tenaga hidro. Proses pemasangannya pun tak berbelit-belit. Paling lama setengah 
jam.



Lulusan "S2" 

Kalau Joko Suprapto adalah seorang cerdik pandai dengan gelar insinyur, Joko 
Sutrisno mengaku hanya lulus "S2", SD dan SMP. Bukannya tak mampu melanjutkan 
sekolah ke jenjang SMA karena kurang biaya atau kurang cerdas, Joko mengaku 
sering ketiduran pada jam-jam pelajaran sekolah akibat keasyikan melakukan 
berbagai uji coba.

Meskipun tidak mengecap pendidikan menengah dengan lengkap, Joko bertekad 
menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Anak pertamanya, Diana (29), 
adalah sarjana lulusan Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 
Adiknya, Benjamin, juga sarjana Teknik Informatika lulusan salah satu 
universitas di Belanda. Mateo, anak bungsunya sedang menempuh pendidikan ilmu 
pariwisata di Bali.

Soal alat yang dikembangkannya itu, Joko mengakui bahwa untuk kendaraan 
bermotor masih memerlukan BBM sebagai bahan bakar utama. Namun setelah 
dipasangi generator hidrogen, konsumsi BBM bisa dihemat. Joko menyodorkan 
beberapa contoh, mulai dari motor hingga bus antarkota yang sudah dipasangi 
generator hidrogen yang dikembangkannya. 

"Saya melakukan uji coba dengan mobil sendiri dan sudah berlangsung dua tahun 
tanpa masalah, meski dulu saya sering dikatai orang gila," ujarnya, tertawa. 

Teknologi yang dikembangkan Joko itu sebenarnya terbilang sederhana. Kunci 
utamanya terletak pada hidrogen dalam air untuk dijadikan bahan bakar dengan 
proses pemisahan molekul gas yang memiliki nilai oktan pada angka 130. Hidrogen 
yang terurai tersebut kemudian diteruskan ke dalam ruang kompresi. 

"Karena kebodohan maka saya mengembangkan teknologi ini," Joko mengenang. Tiga 
tahun lalu, ia mencoba melihat isi air aki dengan menggunakan korek api. 
Terjadi ledakan ketika ia mencoba mendekatkan nyala api untuk dapat melihat 
lebih jelas. "Saya bertanya-tanya, bukankah air aki itu air murni. Kenapa bisa 
terbakar?"

Joko akhirnya menemukan jawabannya. Yang terbakar adalah unsur hidrogen dalam 
air aki yang terurai karena proses kimiawi.

Pengalaman karena kebodohan itu, meminjam istilahnya, mengusik Joko untuk mulai 
mengutak-atik, mencari cara memisahkan hidrogen (H2O) yang ada dalam air.

Lambat laun, ia menemukan bahan yang lebih mapan dari air aki, yakni aquades 
yang mudah ditemukan di apotek dan toko kimia, ditambah kalium hidroksida yang 
harganya sangat murah. Air kemudian dihubungkan dengan elektrode demi mengurai 
unsur oksigen dan hidrogen. Setelah itu, unsur hidrogen yang mudah terbakar 
dijebak dan diubah menjadi sumber tenaga.

"Semuanya sangat sederhana," komentarnya.



Tidak Ada Monopoli

Dalam keseharian, Joko dikenal rendah hati. Pria yang acap mengeluarkan 
kata-kata lucu itu menegaskan tidak berniat dan berminat mengeduk keuntungan 
dari alat yang dikembangkannya itu. 

Ia bahkan telah menyebarkan teknologi yang dikembangkannya itu lewat website 
www.egmca.org. Siapa pun bisa mengakses, mengunduh, menambahi, memprotes, 
membantah teknologi yang dikembangkannya. Dalam website itu, tampak juga 
diskusi bagaimana menerapkan ilmu Joko itu, dimoderatori Romo Vincentius 
Kirjito Pr.

Bagi Joko, semakin teknologi itu tersebar luas, diterapkan masyarakat, dan 
dikritik, semakin mendorongnya menyempurnakannya, bahkan mengembangkan 
teknologi yang lain. "Asal tidak ada monopoli, dan saya tidak akan mau menjual 
teknologi ini untuk perusahaan yang berniat monopoli. Saya justru ingin, 
masyarakat beramai-ramai menjadi montir sendiri," ia menegaskan. 

Belakangan ini, keramaian di rumahnya bertambah. Beberapa kru bus Damri datang 
bergelombang untuk belajar kepada Joko, membuat dan memasang generator 
hidrogen. "Biar kru bus itu jadi montir sendiri dan menyebarkannya kepada yang 
lain," ujarnya.

Soal media turut andil memasyarakatkan produknya, Joko lebih menganggapnya 
sebagai membantu menawarkan alternatif bagi masyarakat. "Bukan karena ingin 
dipublikasikan. BBM naik tidak bisa ditolak, tapi mari cari alternatifnya," 
ujar Joko, yang akan terus melanjutkan penelitiannya untuk menyempurnakan 
generator hidrogennya. [SP/Fuska Sani Evani]


--------------------------------------------------------------------------------



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke