Minggu, 6 Juni 2004 16:37:41 WIB
METODE SALAF DALAM MENERIMA ILMU 
Oleh
Syaikh Abdul Adhim Badawi
 
 
 
 
"Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi 
perempuan yang mu'min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu 
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan 
barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, 
sesat yang nyata" [Al-Ahzab : 36]
Dari fenomena yang tampak pada saat ini, (kita menyaksikan) khutbah-khutbah, 
nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran banyak sekali, melebihi pada zaman para 
sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in (orang-orang yang berguru 
kepada para sahabat) serta tabiut tabiin (orang-orang yang berguru kepada 
tabi'in). Namun bersamaan itu pula, amal perbuatan sedikit. Sering kali kita 
mendengarkan (perintah Allah dan RasulNya) namun, sering juga kita tidak 
melihat 
ketaatan, dan sering kali kita mengetahuinya, namun seringkali juga kita tidak 
mengamalkan.
Inilah perbedaan antara kita dan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam tabiin dan tabiut tabiin yang mereka itu hidup pada masa yang mulia. 
Sungguh pada masa mereka nasehat-nasehat, khutbah-khutbah dan 
pelajaran-pelajaran sedikit, hingga berkata salah seorang sahabat.
"Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala memberikan 
nasehat mencari keadaan dimana kita giat, lantaran khawatir kita bosan" 
[Muttafaqun Alaihi]
Di zaman para sahabat dahulu sedikit perkataan tetapi banyak perbuatan, mereka 
mengetahui bahwa apa yang mereka dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam wajib diamalkan, sebagaimana keadaan tentara yang wajib melaksanakan 
komando atasannya di medan pertempuran, dan kalau tidak dilaksanakan kekalahan 
serta kehinaanlah yang akan dialami.
Para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu, menerima wahyu Allah 
'Azza wa Jalla dengan perantaraan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
dengan sikap mendengar, taat serta cepat mengamalkan. Tidaklah mereka terlambat 
sedikitpun dalam mengamalkan perintah dan larangan yang mereka dengar, dan juga 
tidak terlambat mengamalkan ilmu yang mereka pelajari dari Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Inilah contoh yang menerangkan bagaimana keadaan sahabat Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam tatkala mendapatkan wahyu dari Allah 'Azza wa Jalla. Para 
ahli 
tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 36 ini 
(dengan berbagai macam sebab) , saya merasa perlu untuk menukilnya, inilah 
sebab 
turunnya ayat itu :
Para ahli tafsir meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menginginkan untuk menghancurkan adanya perbedaan-perbedaan tingkatan (kasta) 
di 
antara manusia, dan melenyapkan penghalang antara fuqara (orang-orang fakir) 
dan 
orang-orang kaya. Dan juga antara orang-orang yang merdeka (yaitu bukan budak 
dan bukan pula keturunannya), dengan orang-orang yang (mendapatkan nikmat Allah 
'Azza wa Jalla) menjadi orang merdeka sesudah dulunya menjadi budak.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menerangkan kepada manusia bahwa 
mereka semua seperti gigi yang tersusun, tidak ada keutamaan bagi orang Arab 
terhadap selain orang Arab, dan tidak ada keutamaan atas orang yang berkulit 
putih terhadap yang berkulit hitam kecuali ketaqwaan (yang membedakan antara 
mereka). Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla.
"Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang 
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan 
bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling 
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara 
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" [Al-Hujurat : 13]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menanamkan dalam hati manusia mabda' 
(pondasi) ini. Dan barangkali, dalam keadaan seperti ini, perkataan sedikit 
faedah dan pengaruhnya, yang demikian itu disebabkan karena fitrah manusia 
ingin 
menonjol dan cinta popularitas. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
berpendapat untuk menanamkan pondasi ini dalam jiwa-jiwa manusia dalam bentuk 
amal perbuatan (yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam wujudkan) dalam 
lingkungan keluarga serta kerabat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini 
dikarenakan amal perbuatan lebih banyak memberi kesan dan pengaruh yang 
mendalam 
dalam hati manusia, dari hanya sekedar berbicara semata.
Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi kepada Zainab binti Jahsiy 
anak perempuan bibi beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (kakek Zainab dan 
kakek 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama yaitu Abdul Mutthalib seorang 
tokoh Quraisy) untuk meminangnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin 
mengawinkannya dengan budak beliau Zaid bin Haritsah yang telah diberi nikmat 
Allah menjadi orang merdeka (lantaran dibebaskan dari budak). Lalu tatkala 
beliau menyebutkan bahwa beliau akan menikahkan Zaid bin Haritsah dengan Zainab 
binti jahsiy, berkatalah Zainab binti Jahsiy : "Saya tidak mau menikah 
dengannya". Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : 
"Engkau 
harus menikah dengannya". Dijawab oleh Zainab : "Tidak, demi Allah, selamanya 
saya tidak akan menikahinya".
Ketika berlangsung dialog antara Zainab dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam, Zainab mendebat dan membantah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
kemudian turunlah wahyu yang memutuskan perkara itu :
"Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi 
perempuan yang mu'min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu 
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan 
barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, 
sesat yang nyata" [Al-Ahzab : 36]
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut 
kepada Zainab, maka berkatalah Zainab : "Ya Rasulullah ! apakah engkau ridha ia 
menjadi suamiku ?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : "Ya", 
maka Zainab berkata : "Jika demikian aku tidak akan mendurhakai Allah dan 
RasulNya, lalu akupun menikah dengan Zaid".
Demikianlah Zainab binti Jahsiy menyetujui perintah Allah dan RasulNya, dan 
hanyalah keadaannya tidak setuju pada awal kalinya, lantaran Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah menawarkan dan bermusyawarah dengannya. 
Maka tatkala turun wahyu, perkaranya bukan hanya perkara nikah atau meminang, 
setuju atau tidak setuju, tetapi (setelah turunnya wahyu), perkaranya berubah 
menjadi ketaatan atau bermaksiat kepada Allah dan RasulNya.
Tidak ada jalan lain didepan Zainab binti Jahsiy Radhiyallahu 'anha (semoga 
Allah meridhainya), melainkan harus mendengar dan taat kepada Allah dan 
RasulNya, dan kalau tidak taat maka berarti telah durhaka kepada Allah dan 
RasulNya, sedangkan Allah berfirman.
"Artinya : Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya maka sungguhlah dia 
telah sesat, sesat yang nyata" [Al-Ahzab : 36] 
Demikianlah , sikap para sahabat Nabi dahulu tatkala menerima wahyu dari Allah 
'Azza wa Jalla, adapun kita (berbeda sekali), tiap pagi dan petang telinga kita 
mendengarkan perintah-perintah serta larangan-larangan Allah dan RasulNya, akan 
tetapi seolah-olah kita tidak mendengarkannya sedikitpun. Dan Allah Jalla 
Jalaluhu telah menerangkan bahwa manusia yang paling celaka adalah manusia yang 
tidak dapat mengambil manfaat suatu nasehat, Allah berfirman.
"Artinya : Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu 
bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, 
orang-orang 
yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang 
besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup" 
[Al-A'la : 9-13]
Dan Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan keadaan orang munafik tatkala mereka hadir 
dalam majelis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka hadir dengan 
hati 
yang lalai.
"Artinya : Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu 
kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka 
adalah 
seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang 
keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka 
waspadalah terhadap mereka ; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah 
mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?" [Al-Munafiqun : 4]
Lalu tatkala bubar dari majelis, mereka tidak memahami sedikitpun, Allah 
berfirman.
"Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu 
sehingga 
apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang lebih diberi 
ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi) : 'Apakah yang dikatakan tadi ?' Mereka 
itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa 
nafsu mereka" [Muhammad : 16]
Takutlah terhadap diri-diri kalian ! (wahai hamba Allah), dari keadaan yang 
terjadi pada orang-orang munafik, berusaha dan bersemangatlah untuk bersikap 
sebagaimana para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketahuilah ! 
sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla telah mencela orang-orang yang berpaling dan 
lalai, sungguh Allah 'Azza wa Jalla memuji orang-orang yang mendengarkan 
perkataan lalu memahami seperti yang dimaksud oleh Allah 'Azza wa Jalla, lalu 
mengamalkannya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman.
"Artinya : Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu, yang 
mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka 
itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah 
orang-orang yang mempunyai akal" [Az-Zumar : 17-18]
Ketahuilah wahai hamba Allah yang muslim, bahwa tidak ada pilihan bagi kalian 
terhadap perintah Allah yang diperintahkan kepadamu ! tidak ada lagi pilihan 
bagimu ! baik engkau kerjakan ataupun tidak.
Tidak ada lagi pilihan bagimu terhadap larangan Allah 'Azza wa Jalla yang 
engkau 
dilarang darinya ! baik engkau tinggalkan ataupun tidak ! Engkau dan apa yang 
engkau miliki semuanya adalah milik Allah 'Azza wa Jalla engkau hamba Allah, 
dan 
Allah 'Azza wa Jalla adalah tuanmu. Bagi seorang hamba, hendaknya mencamkan 
dalam dirinya untuk mendengar dan taat kepada perintah tuannya, sekalipun 
perintah itu nampak berat atas dirinya. Dan kalau tidak taat, tentu akan 
mendapatkan murka dari majikannya.
Dan Allah 'Azza wa Jalla telah meniadakan keimanan dari orang-orang yang tidak 
ridha dengan hukumNya dan tidak tunduk kepada RasulNya dan perintah RasulNya, 
Allah berfirman.
"Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi 
perempuan yang mu'min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu 
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan 
barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, 
sesat yang nayata" [Al-Ahzab : 36]
Sesudah itu, hendaklah anda (wahai para pembaca yang mulia) bersama dengan saya 
memperhatikan perbandingan ini :
Kita tadi telah mengatakan : Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
pergi ke Zainab binti Jahsiy Radhiyallahu 'anha untuk meminangnya bagi Zaid bi 
Haritsah. Awalnya Zainab menolak, karena pinangan Rasulullah Shallallahu 
'alaihi 
wa sallam hanya bersifat menolong semata, (bukan perintah). Maka tatkala turun 
ayat, berubahlah perkaranya menjadi perintah untuk taat (kepada Allah dan 
RasulNya).
Tidak ada keleluasaan bagi zainab binti Jahsiy sesudah turunnya ayat itu, 
kecuali (harus) mendengar dan taat. Dan kalaulah perkaranya hanya menolong 
semata, tentu Zainab binti Jahsiy berhak menolak (jika tidak setuju), karena 
seorang wanita berhak memilih calon suami, sebagaimana lelaki memilih calon 
istri, dan inilah yang terjadi pada kisah Barirah :
Dan kisahnya Barirah adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari : "Bahwa 
'Aisyah Ummul Mu'minin Radhiyallahu 'anha membeli seorang budak bernama 
Barirah, 
lalu 'Aisyah memerdekakannya. Barirah ini mempunyai suami bernama Mughis (dan 
ia 
juga seorang budak). Maka tatkala dimerdekakan Barirah mempunyai hak untuk 
memilih, apakah ia tetap berdampingan dengan suaminya (yang seorang budak), 
atau 
bercerai. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan pilihan baginya. 
Ternyata Barirah memilih untuk bercerai dengan suaminya.
Adapun suaminya, sungguh sangat mencintainya dengan kecintaan yang sangat. 
Hingga tatkala Barirah memilih bercerai dengannya, ia berjalan-jalan di 
belakang 
Barirah di kampung-kampung kota Madinah dalam keadaan menangis. Maka tatkala 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat keadaannya itu, beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau Abbas : "Tidakkah 
engkau heran terhadap kecintaan Mughis kepada Barirah ? sedang Barirah tidak 
menyukai Mughis ?" Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada 
Barirah : "Wahai Barirah, mengapa engkau tidak kembali kepada sumimu?" 
sesungguhnya ia adalah suamimu dan ayah dari anak-anakmu!" Maka Barirah berkata 
: "Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintah atau hanya mengajurkan saja ?"
Allahu Akbar !! perhatikanlah wahai para pembaca pertanyaan Barirah ini !! 
Wahai 
Rasulullah, apakah engkau memerintah ? Sehingga aku tidak berhak menyelisihi 
perintahmu ? atau engkau hanya menganjurkan saja sehingga aku boleh berpendapat 
dengan pikiranku? Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku hanya 
mengajurkan saja !". Barirah berkata : "Aku tidak membutuhkan suamiku lagi !!"
Disini kami berkata : "Pertama kali Zainab binti Jahsiy menolak untuk menikah 
dengan Zaid bin Haritsah, karena masalahnya hanyalah anjuran semata, maka 
tatkala turun wahyu perkaranya berubah menjadi ketaatan atau maksiat.
Zainab binti Jahsiy berkata : "Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
apakah engkau meridhai aku menikah dengannya ?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam menjawab : "Ya". Jika demikian aku tidak akan mendurhakai Allah dan 
RasulNya.
Dan juga terhadap Barirah, tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menawarkan agar ia kembali kepada suaminya, ayah dari anak-anaknya yang tidak 
dapat bersabar untuk berpisah dengannya, Barirah meminta penjelasan : "Apakah 
engkau menyuruhku wahai Rasulullah ?" Sehingga tidak ada keleluasaan bagiku 
kecuali harus mendengar dan taat ? Maka tatkala Rasulullah bersabda : "Aku 
hanya 
menganjurkan" berkatalah Barirah : "Aku tidak membutuhkannya lagi".
Demikianlah adab para Sahabat terhadap Allah dan Rasulnya, serta beragama 
karena 
Allah dan RasulNya dengan sikap mendengar dan taat, maka Allah menguasakan 
kepada mereka dunia ini, dan masuklah manusia ditangan mereka kepada agama 
Allah 
secara berbondong-bondong. Adapun kita, tatkala tidak beradab kepada Allah dan 
RasulNya, kita bimbang dan menimbang-nimbang antara perintah dan 
larangan-laranganNya (kita kerjakan atau tidak kita kerjakan), maka jadilah 
keadaan kita ini sebagaimana yang kita saksikan saat ini, maka demi Allah, 
kepadaNya-lah kalian mohon pertolongan, wahai kaum muslimin !
"Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya 
sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)" 
[Az-Zumar : 54]
"Artinya : Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang 
beriman supaya kamu beruntung" [An-Nuur : 31]
 
[Disalin dari Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. 1/No. 04/ 2003 - 
1424H, terbitan Ma'had Ali Al-Irsyad Surabaya]
 
 
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=782&bagian=0


      

Kirim email ke